
Seperti yang disampaikan Jhony saat sebelum liburan, kini Joy sudah berada di perusahaan PT. Terbit Surya. Dia datang sendiri dengan di antar oleh supir, saat ini waktu baru menunjukkan pukul sepuluh lewat lima menit.
Saat dia sampai di bagian resepsionis, ia mengatakan jika akan menemui nyonya Riska. Karena belum membuat janji, dia pun di minta untuk menunggu sebentar karena bagian resepsionis akan menghubungi sekretaris CEO nya terlebih dahulu.
Karena jadwal yang begitu padat, mereka tidak bisa langsung membolehkan tamu yang datang tanpa membuat janji terlebih dahulu. Maka dari itu, Joy di mintai nama dan hubungan dengan CEO terlebih dahulu dan mengkonfirmasikannya kepada atasan mereka.
Joy di minta untuk duduk di sofa sambil menunggu konfirmasi dari atasan mereka, namun tidak lama menunggu, seorang laki-laki paruh baya mendekati Joy.
Sebenarnya laki-laki itu tampak ragu untuk mendekati Joy yang sedang duduk di sofa sambil sesekali memandangi ponselnya, namun laki-laki itu juga kasihan melihatnya duduk sendiri di lobi.
"Nona Joy..!"
Joy mengarahkan pandangannya pada suara laki-laki yang baru saja di dengarnya.
"Bapak" Joy tidak menyebutkan nama laki-laki yang ia tahu adalah supir pribadi keluarga Jhony, karena dia pun lupa dengan nama laki-laki paruh baya itu.
"Non datang kesini cari tuan muda?" pertanyaannya segera di angguki oleh Joy.
"Kenapa tidak langsung menelpon tuan muda?"
"Tidak perlu pak, saya mau kasih kejutan. Lagi pula, saya mau bertemu momy dulu" jawab Joy sambil menjelaskan.
"Kalau begitu ikut saya saja non, sekalian saya mau antar makanan untuk nyonya"
"Apa boleh pak?"
"Tentu saja, biar saya yang kasih tahu bagian resepsionis. Nyonya mungkin sibuk, jadi tunggu di atas saja non"
"Baiklah.." Joy berjalan mengikuti supir Jhony, sebelumnya laki-laki paruh baya itu pun berbicara kepada resepsionis tadi setelahnya ia segera mengajak Joy untuk menaiki lift yang akan membawa mereka ke lantai dimana ruangan nyonya Riska berada.
Tidak ada pembicaraan setelah mereka menaiki lift, karena di dalam lift tidak hanya mereka berdua saja sebab ada karyawan lain yang juga sedang bekerja entah itu untuk mengantarkan laporan atau lain sebagainya.
Tak lama kemudian, lift sudah sampai pada lantai yang mereka tuju. Supir pribadi nyonya Riska mempersilahkan Joy untuk keluar dari lift dan di ikuti oleh nya.
Mereka berjalan di sebuah lorong yang di yakini Joy itu adalah lorong dimana ruangan nyonya Riska berada, dan benar saja tidak jauh dari sana dia bisa melihat ada sebuah meja dan kursi yang ada seorang wanita duduk di sana.
Sampai di depan meja, sekretaris nyonya Riska sigap langsung berdiri.
"Nona sekretaris, dia adalah kenalan nyonya Riska. Lebih tepatnya... emm.. calon menantu nyonya Riska" laki-laki tersebut tiba-tiba mengatakan bahwa Joy adalah calon menantu nyonya Riska, membuat Joy dan sekretaris nyonya Riska membulatkan matanya.
"Be, begitukah pak? Tapi saat ini nyonya Riska sedang tidak bisa di ganggu, tapi nona..." sang sekretaris memandangi Joy berharap ia menyembutkan namanya sendiri.
"Joy.. nama saya Joy"
"Ah... iya, anda bisa menunggu di ruang tunggu dahulu. Setelah tamu dari nyonya Riska keluar, saya akan memberitahukan kepada anda. Tentu anda juga pak" nona sekretaris tadi tampak tersenyum kepada laki-laki paruh baya yang berdiri di samping nya itu.
"Begitukah? Baiklah saya akan menunggu nyonya Riska saja!"
Setelah itu, Joy kemudian di antar ke sebuah ruang tunggu yang lebih mirip dengan ruangan meeting di mata Joy. Karena ruangan tersebut cukup besar, dan terdapat beberapa meja dan dengan di tata sedemikian rupa.
"Terima kasih nona sekretaris" ucap sang supir dari nyonya Riska kepada sekretaris yang sangat ramah itu.
"Sama-sama pak" membalas dengan senyuman yang termanis, setelahnya ia pun segera keluar dari ruangan tersebut.
Setelah beberapa saat kemudian, laki-laki paruh baya tersebut mulai berbicara kepada Joy.
"Baik, saya akan panggil bapak Sastro" Joy tersenyum ke arah pak Sastro.
"Yang tadi itu putri saya non, anak perempuan satu-satunya yang saya punya. Ia sudah bekerja di sini sejam dari lulus sekolah menengah atas, dan nyonya Riska bahkan melonggarkan nya untuk berkuliah sambil kerja" Tampak mata pak Sastro menerawang memikirkan ucapannya "Nyonya Riska dan almarhum tuan Surya sudah seperti malaikat bagi kami, mereka begitu baik kepada kami" pak Sastro kemudian melirik sekilas kepada Joy.
"Tidak hanya itu, tuan muda yang di usianya sekarang pun memiliki sifat yang sama seperti dengan mereka. Tuan muda juga tumbuh menjadi anak yang sangat perhatian kepada sesama, ia sering menjadi donatur dengan tidak menunjukkan siapa dirinya" pak Sastro terkekeh sejenak "Saya yang selalu membawakan sumbangan yang mereka berikan, sehingga panti malah mencatat nama saya sebagai penyalur donaturnya" Joy yang sudah fokus kepada pak Sastro pun menganggukkan kepalanya.
Baru saja Joy akan menyahuti kalimat yang di ucapkan oleh pak Sastro, tiba-tiba pintu terbuka dengan nada tergesa-gesa seseorang masuk ke dalam.
Saat Joy menoleh ke asar suara pintu, mata mereka bertemu.
"Joy... kamu datang kemari.. "Jhony menghentikan ucapan nya saat melihat supirnya juga berada di sana.
"Siang tuan muda, saya sedang menemani nona Joy. Karena nyonya Riska sedang ada tamu, dan juga.. saya mau membawa ini untuk nyonya dan tuan muda" pak Sastro mengangkat goodie bag yang isinya bekal untuk nyonya serta tuan muda yang ia layani.
"Ah.. begitukah? Se, sebenarnya tadi mbak wulan yang bilang kalau Joy ada di sini" Jhony sedikit malu dengan sikapnya tadi yang seakan tidak melihat sang supir dan hanya memperhatikan Joy saja.
"Sudah ada tuan muda, jadi saya tinggal dulu ya non" Joy menganggukan kepalanya sembari tersenyum "Saya keluar dulu tuan muda, sampai nanti" pamit pak Sastro kepada Jhony dan Joy.
"Baik pak Sastro, sampai nanti. Terima kasih sudah menemani Joy tadi!"
"Hehehe.. tidak masalah tuan muda" pak Sastro kemudian keluar dari ruangan tersebut, setelah itu Jhony sigap mengunci pintu ruangan dan kemudian menghampiri Joy.
"Aku kangen sama kamu Joy..." Jhony berhambur memeluk Joy yang masih berdiri di belakang salah satu kursi yang tadi sempat ia duduki, lama dalam pelukan Jhony kemudian ia pun membalas pelukan tersebut dengan senyum yang tidak dapat lagi ia tahan.
Begitu senang melihat kekasihnya ini yang sudah beberapa hari tidak bertemu dengannya.
"Aku seperti punya pacar kantoran sekarang, kamu ganteng banget dengan setelan ini" Joy mengeratkan pelukannya saat kalimat yang diucapkan tadi setengah berbisik, membuat Jhony tersenyum begitu lebarnya.
"Coba katakan lagi kalimat terakhir tadi, sepertinya aku baru pertama kali mendengar kalimat itu" ucap Jhony yang sudah berhasil membuat rona merah di wajah Joy muncul.
"Kamu ganteng dengan setelan seperti ini, aku.. rasanya makin cinta sama kamu" setelan kemeja putih dan dasi serta celana bahan dan sepatu santai yang di kenakan oleh Jhony adalah rekomendasi dari Joy, karena mereka telfonan semalam dan membahas pakaian yang bisa di gunakan Jhony, Joy pun menyarankannya mengenakan pakaian yang kini di kenakan oleh Jhony.
"Ini seperti apa yang di sarankan seseorang yang sangat spesial untukku, apa ini sudah sesuai dengan yang kamu harapkan?" Jhony malah balas berbisik di telinga Joy.
"Malahan ini lebih dari harapanku, apakah ini Jhony yang aku kenal" ucapan Joy membuat Jhony terkekeh, ia melonggarkan pelukan mereka dan memberi sedikit jarak agar ia bisa melihat wajah Joy yang pasti sudah memerah.
"Itu berlebihan, tapi sepertinya rinduku yang sudah berlebihan sekarang" dengan gerakan cepat Jhony mencium kening Joy dan kemudian mencium bibir yang sejak tadi dia inginkan, lalu mengecup ringan di sana. baru di lepaskan.
"Ayo duduk, kita tunggu momy bersama-sama"
Akhirnya keduanya duduk di dalam ruangan tersebut yang sudah di buka kuncinya oleh Jhony sebelum mereka duduk disana dan menunggu nyonya Riska menyelesaikan pekerjaan nya.
.
.
.
stay save readers
jangan lupa like dan komennya ya
thanks😉