
Malam hari di villa neneknya Jhony, semua sudah berkumpul di halaman dekat kolam renang yang cukup luas. Sebuah meja berukuran besar serta beberapa kursi yang cukup banyak sudah ada di sana.
Semua orang tampak sibuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk acara malam ini, rencananya mereka ada mengadakan barbeque bersama.
Tidak hanya keluarga mereka saja, pengurus villa juga sudah berkumpul bersama mereka. Meski para pengurus villa lebih memilih memanggang makanan sendiri, tetapi makanan mereka sama saja tidak ada perbedaan di sana.
Mereka bersenang-senang bersama seperti keluarga besar karena ramainya orang-orang, sesekali canda tawa terdengar di sana. Mereka saling melempar candaan, tidak ada majikan atau pekerja. Semua seakan sama, tidak ada perbedaan yang memisahkan mereka.
"Sepertinya ada yang kurang, mungkin... sedikit lagi bumbu barbeque nya." Joy memperhatikan hasil daging yang di bumbui oleh Jhony.
Mereka mendapat tugas untuk membumbui daging-daging yang tersedia, agar saat di panggang bumbu nya sudah meresap sempurna.
Nenek, nyonya Riska dan mama Silvi sedang menyiapkan beberapa sayuran yang akan di pasangkan dengan daging yang di bumbui Jhony dan Joy.
Sedang papanya Joy sedang menyiapkan alat panggangan di bantu oleh beberapa pekerja lainnya, karena mereka memanggang cukup banyak makanan jadilah mereka menyiapkan tempat panggang cukup banyak.
"Apa perlu aku ambil lagi?" sambil melihat sesekali mengaduk daging nya, Jhony merasa memang masih kurang bumbu barbeque nya.
"Biar aku saja yang mengambilnya di dapur, kau tunggulah di sini." akhirnya Joy memutuskan bahwa dialah yang akan mengambil bumbu barbeque di dapur.
"Baiklah, jangan berlari..." Jhony sedikit berteriak karena Joy sudah berhamburan lari menuju dapur, layaknya anak kecil yang sedang bermain dengan temannya.
"Melihatnya berlari begitu sungguh menggemaskan." Jhony memperhatikan Joy hingga ia hilang di balik pintu samping kolam renang.
Setelah itu ia menghampiri papa Joy dan bermaksud membantunya.
"Biar aku bantu pa."
"Apa kau sudah selesai dengan tugasmu?"
"Belum, aku menunggu Joy mengambil bumbu barbeque di dapur. Sepertinya masih kurang."
"Begitu, jadi kau tidak usah membantu di sini. Nanti tanganmu terkontaminasi dan kotor, kau harus membumbui daging lagi bukan? Lagi pula di sini sudah banyak bantuan, lihatlah mereka begitu sigap membantu papa!"Jhony mengangguk mengiyakan.
"Baiklah, kalau begitu aku ke nenek dan yang lainnya dulu pa."
"Benar, kau kesana saja. Sepertinya mereka tidak akan selesai dengan cepat, karena mulut mereka sedari tadi hanya mengoceh saja. Haha..."
Mengarahkan pandangannya, Jhony dan papa Joy tersenyum melihat ketiga wanita yang sedang tertawa dan sesekali memotong sayur yang ada di hadapan mereka.
"Sepertinya begitu pa, baiklah Jhony kesana dulu." sambil berlari kecil Jhony menghampiri ketiga wanita yang sedang asyik ngobrol.
"Halo, para mama. Ada yang bisa Jhony bantu?"
"Eh, kenapa kamu malah kemari? Apa kau juga mau ikut bergosip bersama kami?" nyonya Riska langsung membalas ucapan Jhony.
Belum juga tawa mereka mereda, malah kali ini Jhony yang menjadi target merek untuk candai.
"Apa kau di tinggal pasangan mu?" nenek mengejek Jhony karena tadi ia melihat Joy berlari masuk kedalam rumah, dan meninggalkan Jhony sendirian di tempatnya tadi membumbui daging.
"Haha... baru juga di tinggal sebentar sudah keluyuran kamu nak, sudah sana tunggu saja di tempatmu tadi. Kami tidak perlu bantuanmu, kami bertiga sudah lebih dari cukup untuk menyelesaikan kerjaan sepele ini." nyonya Riska kembali berseru.
"Memangnya Joy kemana nak, Jhony?" mama Silvi yang kini bersuara.
"Joy mengambil bumbu barbeque lagi ma, soalnya yang tadi tidak cukup."
"Oh... " ketiga wanita itu serempak menyerukan kata oh.
Jhony mendengarkan dengan baik arahan sang nenek.
"Baiklah kalau begitu, Jhony tinggal dulu ya nek." nenek mengangguk, dan setelahnya Jhony meninggalkan ketiga wanita tersebut untuk kembali bergosip.
Karen tampak mama Silvi dan juga nyonya Riska tidak bisa berhenti bercerita, meski sang nenek sedang berbicara bersama Jhony.
Benar saja apa yang dikatakan oleh nenek, semua lemari tampak terbuka dan Joy kini entah berada di mana. Jhony mengira Joy sedang mencari tangga untuk menjangkau lemari yang memang lebih tunggi dari tubuh gadis mungil itu.
Jhony tersenyum melihat beberapa barang yang terjatuh berserakan di lantai, menurut Jhony itu pasti ulah Joy yang tanpa sengaja menjatuhkannya.
Tak berapa lama, terdengar suara sedikit berisik dari arah pintu dapur. Jhony berjalan mendekati pintu, tapi belum juga langkah Jhony mencapai pintu ia kemudian di kagetkan oleh Joy yang membawa tangga yang begitu besar masuk kedalam dapur.
"Joy... " panggil Jhony dengan suara sedikit tinggi.
"Ahh.... " brakkk tangga pun terlepas dari tangan Joy seiring dengan suara teriakannya. "Jhony... kami kok ada di sini, ngagetin aja tahu ngak sih." Joy mendengus kesal kepada Jhony yang tanpa sengaja sudah mengagetkannya.
"Lagian kenapa kamu bawa-bawa tangga segala sih, Joy?"
"Buat apa lagi kalau bukan untuk mencari bumbu barbequenya Jhon, sejak tadi aku tidak bisa menemukannya. Makanya aku cari tangga untuk memeriksa isi lemari-lemari yang ada di atas."
"Kenapa tidak kembali dan memintaku untuk membantumu sayang?"
"Ku pikir akan mudah mencarinya tadi, tapi ternyata tidak."
Jhony merapihkan tangga yang tadi jatuh dari tangan Joy, membawa tangga itu keluar dari ruang dapur yang menjadi sempit karena benda besat itu.
"Kau tidak apa-apa kan?" Jhony sudah kembali kedalam dapur dan memeriksa adakah luka du tangan dan kaki Joy.
"Aku tidak apa-apa Jhon, aku hanya sedikit kaget tadi!" Joy meresa laki-laki di depannya ini sudah bertingkah berlebihan, sungguh kejadian tadi sama sekali tidak melukai fisiknya hanya saja jiwanya sedikit terkejut karena kemunculan tiba-tiba dari Jhony.
"Syukurlah kalau begitu, aku sangat khawatir. Bagaimana bisa tubuh sekecil ini membawa tangga sebesar itu. Hahh... seharusnya aku yang datang untuk mengambilnya, maaf kan aku ya Joy kau jadi bersusah payah untuk menemukannya."
"Sudahlah Jhon, kenapa masih di ungkit lagi. Lebih baik sekarang kita cari bumbu barbeque nya dan cepat kembali, bisa-bisa nenek dan yang lainnya sudah menunggu kita untuk memulai memanggang dagingnya."
"Iya, benar juga. Kau di sini saja, aku akan mencarinya." Jhony sudah berjalan menuju lemari menyimpan barang. "Sebenarnya nenek sudah memberitahukan padaku dimana letak benda yang kita cari, hanya saja mungkin itu tertutupi bahan lainnya." Sambil mencari dan membuka pintu lemari menyimpan satu per satu.
"Ini dia... akhirnya ketemu juga, ayo kita kembali. Waktu akan semakin malam nanti."
"Iya, ayo..."
Keduanya kemudian berjalan kembali ketempat dimana mereka tadi meninggalkan daging yang masih setengah di lumuri bumbu barbequnya.
.
.
.
readers yang tercinta, tolong bantu like love komen dan fav yang untuk dukung karya aku.🤗
Terima kasih banyak😘
stay save😉