Let See The True Love

Let See The True Love
Pesta Sambutan Pt 2



Riuh suara orang-orang yang sedang berbincang di lantai bawah, tidak terdengar sama sekali oleh dua orang yang saat ini berada di dalam sebuah kamar.


Meskipun dari luar suara mereka sangat jelas terdengar, tetapi tidak jika sudah masuk kedalam kamar kedap suara tersebut.


Meski di bawah sudah ramai tamu undangan yang berdatangan, nyatanya sampai sekarang bintang utamanya masih belum selesai mengenakan setelan pakaiannya, bahkan iapun belum tahu tentang acara hari ini.


Jhony hanya tahu bahwa, ia dan Joy sebentar lagi akan pergi keluar untuk merayakan kepulangan dirinya. Dan tentunya ia tidak menaruh curiga sama sekali untuk surprise hari ini.


Disaat sang bintang utama berganti pakaian, Joy sedari tadi masih betah memandangi pigora yang terpasang foto dirinya bersama Jhony dimasa SMA.


Dia kembali mengingat kenangan didalam foto tersebut yang memperlihatkan gambar dirinya sedang memegang permen kapas besar berbentuk panda, sedangkan Jhony berpose dengan lucunya sambil mengenakam bando telinga harimau. Keduanya tersenyum senang menatap ke arah kamera. Membuat siapa saja yang melihat foto tersebut akan ikut tersenyum, seperti Joy saat ini yang juga tersenyum manis hingga terlihatlah kedua lesung pipinya.


"Apa yang sedang kau lihat?" Tiba-tiba saja, suara Jhony terdengar begitu dekat.


Ya, lelaki itu berbicara tepat di sebelah telinga Joy.


"Aaa.. aku melihat foto kita" Dengan suara seperti orang yang sedang kaget, ia menjawab sambil menunjuk kearah pigora yang menampilkan wajah mereka berdua.


"Begitu!" Tangan Jhony terulur mengambil pigora tersebut, namun dengan posisi dia berdiri di belakang Joy. Membuat posisi keduanya tak berjarak bahkan dada bidang Jhony sudah menyentuh punggung Joy.


Joy terdiam ditempat.


"Lihatlah ini, tadi kau juga tersenyum seperti ini." Sambil menunjukkan foto mereka berdua, Jhony makin menempel dibelakang Joy.


Ini sungguh terlalu dekat, Joy merasa jantungnya tidak baik-baik dan itu membuatnya semakin tenggelam dalam diam.


Mendapati Joy yang masih terdiam, Jhony kembali bersuara.


"Kau tau, disini kau tersenyum begitu lepas dan terlihat imut." Jhony mencubit pipi gadis didepannya, hingga gadis kembali tersadar.


"Kak... jangan cubit pipiku." Joy mendengus kesal, dan menatap lelaki dibelakangnya yang wajahnya kini tepat berada di belakang bahu Joy.


Alhasil, wajah keduanya sekarang berada dalam jarak yang cukup dekat.


Dentuman jantung keduanya mulai nyaring, tak mau kehilangan kesempatan. Jhony langsung mengecup kening gadisnya dengan lembut. Hanya sebuah kecupan, namun mampu membuat gadis itu menutup matanya.


Jhony memutar tubuh Joy pelan untuk saling berhadapan.


Setelahnya, Jhony membelai lembut pipi gadisnya yang tampak merona indah. Sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan, gadis cantik yang beberapa tahun ia rindukan kini berada dekat dengannya lagi.


Dulu, ia berpikir hubungan mereka bisa saja terputus karena terpisah oleh jarak dan waktu. Namun, semakin lama ia justru semakin merindukan pujaan hatinya dan sekarang ia yakin untuk terus bersama sosok cantik dihadapannya itu.


"Cantik." Gumam Jhony


Kedua mata Joy terbuka, kedua pasang mata itu saling mengunci. Tatapan saling merindukan terpancar disana.


Joy menghambur masuk kedalam pelukan Jhony, ia seakan bermimpi. Memimpikan lelaki yang sejak dulu ia cintai dan terpisah beberapa tahun kini berdiri dan memeluknya dengan erat.


"Aku mencintaimu kak, sangat.!" Ada kelegaan mengetahui kekasihnya masih seperti dulu, tetap menjadikan dirinya sebagai kekasih hatinya.


"Aku juga sangat mencintaimu." kembali mengecup kening Joy.


"Oh iya, kita harus segera turun." Joy mendorong pelan tubuh Jhony. membuat lelaki itu mengernyit bingung.


"Ayo kak, aku hampir saja lupa..." Dengan agak terburu-buru, Joy menarik tangan Jhony keluar dari kamar dan menuruni anak tangga.


Meskipun merasa heran dengan tingkah Joy, tapi ia tetap diam dan terus mengikuti langkah kekasihnya tanpa curiga sedikit pun.


Sampai di bawah, ia juga mengikuti langkah Joy yang menuntunnya ke arah taman tanpa bertanya.


Dan ketika sudah berada di depan pintu pembatas...


"Surprise.."


Teriakan semua orang menyadarkan Jhony, ia menatap heran semua teman serta rekan bisnis sang ibu berada di taman. Ditambah dengan dekorasi dan makanan yang sudah tersedia membuatnya semakin bingung saja.


"Acara apa ini?" Tanya nya.


"Pesta sambutan untuk mu sayang." Ucap nyonya Riska.


"What!" Serunya, sambil menatap ke arah Joy.


Joy tersenyum manis, ia mengangguk dan bergumam.


"Hemm, ini ada pesta penyambutan untuk kakak." memberi jeda sejenak, kemudian ia melanjutkan "Mereka sudah menunggumu dari tadi kak, ayo kita bergabung." Joy kembali menggenggam pergelangan tangan Jhony untuk berjalan menghampiri para tamu undangan.


"Selamat datang kembali, dude.!" Harry adalah orang pertama yang menjabat tangan Jhony, ia juga berpelukan cara lelaki memberi tepukan di bahu sahabatnya itu. "Kau kelihatan semakin tampan dan mapan, bro." sambungnya.


Setelah mereka melerai pelukan itu, ucapan selamat datang juga di berikan oleh semua orang yang ada di tempat itu tanpa terkecuali. Hingga semuanya selesai memberikan ucapan, acara makan bersama pun dimulai.


Awalnya mereka semua berbaur antara anak muda dan orang tua, namun setelah selesai acara makan bersama anak muda segera memisahkan diri dengan orang tua. Mereka akan berbincang dengan sesamanya.


"Bagaiman studymu di luar negeri, apa ada hambatan?" Tanya Harry.


"Untungnya tidak, semua berjalan dengan lancar."


"Aku dengar, kau juga menjalankan bisnis yang dibangun tante di sana? Bagaimana perkembangannya?" Lanjutnya Harry.


"Begitulah, semua berjalan dengan lancar. Awalnya aku tidak yakin bisa membereskan masalah yang timbul akibat manajer keuangan terdahulu. Beruntungnya, dia tidak begitu hebat dalam menutupi kesalahannya." Jelas Jhony.


"Lalu, bagaimana dengan orang itu sekarang?" Tanya Doni.


"Dia sudah diadili, aku menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah setempat untuk menghukumnya."


Semua yang mendengarkan ikut mengangguk.


Setelah itu, Jhony dibawa nyonya Riska untuk dikenalkan dengan rekan bisnisnya. Sepanjang ia mengikuti perkenalan itu, matanya selalu saja mencari sosok gadis yang sedari tadi sibuk kesana kemari.


Gadis itu sepertinya sedang mengarahkan para pelayan untuk mengisi makanan yang sudah mulai habis, ia terlihat yang paling sibuk di sana.


Saat sedang berbicara dengan seorang pelayan, ia dihampiri oleh seorang lelaki. Mata Jhony tak melepaskan pandangannya, meski sesekali ia memandang kearah rekan bisnis yang ada di depannya. Namun ia masih memfokuskan matanya menelisik orang yang sedang bersama Joy.


"Hai Joy, apa kabar?"


"Eh, Hallo. Baik, bagaimana denganmu?"


"Seperti yang kau lihat."


"Sepertinya baik, bukan begitu?" Jawab Joy ramah.


"Ya, begitulah." berdehem sejenak ia melanjutkan. " Lama tidak berjumpa, kau semakin cantik." Pujinya tanpa basa basi.


Membuat yanh di puji menjadi salah tingkah.


"Kau memang pandai merayu wanita."


"Tidak semua gadis, hanya kau saja." Jelasnya.


"Kau sungguh tukang gombal ulung, haha.. " Joy tertawa namun tertahan, jujur ia bingung harus bereaksi seperti apa.


Sejak dulu ia memang tidak terlalu dekat dengan lelaki didepannya ini, tetapi ia juga tidak membencinya.


"Ehem." Suara deheman Jhony mengalihkan perhatian kedua orang tersebut. "Apa sedang kalian bicarakan, Sayang." sedikit penekanan di akhir kata, untuk menegaskan status mereka.


"Kakak.."


"Kami hanya saling menanyakan kabar masing-masing." Jawaban Joy terhenti, saat Erick lebih dulu menjelaskan kepada Jhony.


Ya, lelaki yang sejak tadi berbicara dengan Joy adalah Erick. Lelaki yang mengejar Joy di SMA, bahkan hingga kini ia masi mengagumi sosok cantik dihadapannya itu


"Benar, kami saling menanyakan kabar." Jhony menatap Erick tak percaya.


"Oh ya, selamat datang kembali Jhony!" Erick mengulurkan tangannya di depan Jhony, namun lelaki itu tidak langsung menyambutnya.


Joy, memegang lengan Jhony dengan lembut dan menatapnya meyakinkan.


Akhirnya Jhony menerima jabatan tangan dari Erick, meski masih dengan raut yang tidak enak dipandang.


Hanya sebentar, Jhony segera melepaskan jabatan ditangannya. Lalu ia menggenggam tangan Joy.


"Sepertinya mommy mau mengenalkan mu pada rekan bisnisnya, ayo." Ia segera membawa Joy menjauh dari tempat berdirinya Erick.


Erick menatap sepasang kekasih yang sudah menjauh itu dengan tatapan yang rumit, entah mengapa sejak dulu ia begitu sulit melupakan gadis yang sudah jelas memiliki seorang kekasih itu.


.


.


.


Jangan... ! jangan suka sama milik orang ya ^°~


See u💗