
Keduanya kini salah tingkah setelah Harry kembali, ditangannya kini sudah memegang plester yang entah dimana dia mencarinya. Joy akhirnya membuka suara untuk menghindari kecanggungan yang semakin larut.
"Di pakai kan dulu kak plester nya, takutnya nanti berdarah lagi sama infeksi" Joy kemudian mundur dan kembali menyibukkan diri, sekaligus memberi waktu kepada mereka berdua yang terlihat tidak nyaman.
"Emm, baiklah.." berjalan mendekati Rina dengan sedikit ragu, Harry takut bila Rina akan bersikap menghidarinya nanti jika dia ketahuan menyukai Rina.
"Boleh aku pakai kan ini" Harry bertanya kepada Rina seraya menunjukkan plester yang di bawanya, Rina menatap Harry tak berkedip namun bagai di hipnotis oleh kedua mata Harry, Rina menganggukkan kepalanya perlahan dan membuat Harry seketika tersenyum dan kemudian berjongkok di depan Rina.
Setelah itu Rina hanya memperhatikan Harry yang begitu serius memakaikan plester ke tangan nya itu, lekat dia menatap Harry sehingga jantung nya kini terasa berdebar tak karuan dan wajah nya memanas seketika dia menghindari tatapan Harry yang telah selesai memasangkan plester di jarinya. Harry bingung kenapa Rina menoleh ke arah lain menghindari tatapan nya, namun dia juga tak mau membuat Rina semakin tak nyaman sehingga dia segera bangkit dan kembali membatu menata barang bawaan mereka.
"Sudah selesai, lebih berhati hatilah jangan sampai menyakiti tangan mu lagi" pesan Harry kepada Rina yang masih terdiam menatap ke sembarang arah
Ketiga nya pun kini mulai menyibukkan diri, karena sudah mulai ramai karyawan yang datang untuk mengunjungi stand yang di buat khusus di hari ulang tahun perusahaan mereka. Ada beberapa karyawan yang anaknya juga membuka stand di sana, Jhony tampak berjalan menuju ke stand Joy dan Rina sesekali dia tampak menyapa karyawan yang berpapasan Dengan nya.
"Apa sudah siap semua, karyawan kantor sudah mulai ramai kita harus bersiap" sapa Jhony saat ia sampai di stand
"Em, sudah kak semua sudah beres jadi tinggal tunggu pembeli datang" Joy mengangguk sambil menjawab pertanyaan Jhony sembari tersenyum
"Wahh pasti seru ya bisa bertemu langsung karyawan di tempat ini, gedung nya besar ya lihatlah basement nya saja luas banget" Rina berucap sambil mengedarkan pandangan nya, begitu juga dengan Joy yang sudah terkesan saat mereka baru saja sampai.
"Oh iya kak Jhony, nanti pemiliknya bakalan berkunjung nggak ya?" tanya Rina dengan tiba tiba
"Emm.. bisa jadi" jawab Jhony singkat dia juga tidak tahu jadwal ibunya, apakah beliau akan datang mengunjungi stand yang sudah ada atau tidak.
"Semoga saja beliau datang melihat lihat, kalau orang nya tampan kan bisa di ajak selvi. Iya nggak Joy?" Rina menyenggol lengan Joy yang hanya diam memperhatikan percakapan Rina dan Jhony
"Ahh..Ehh.. kamu aja Rin aku nggak deh" jawab Joy bingung dengan pertanyaan sahabatnya yang aneh itu
"Yah kamu nggak seru deh Joy.." Rina mencebikkan bibirnya "Oh iya kak Jhony udah pernah ketemu sama pemiliknya belum? Kan kakak jadi panitia, pastinya sudah kan? Gimana tampang bos nya? Ganteng nggak kak?" Rina mencecar Jhony dengan pertanyaan yang bertubi tubi, sehingga membuat Jhony bingung untuk menjawabnya
"Emm..itu..orang nya bukan laki laki, tapi perempuan Rin hehe" tertawa aneh
"Wahh perempuan? Masih muda atau sudah berumur?" kembali melayangkan pertanyaan kepada Jhony
"Beliau sudah berumur Rin, nanti kamu lihat sendiri saja orang nya. Kalau tidak nanti kamu bisa lihat di panggung di ujung sana, sepertinya ada fotonya di banner itu" jawaban Jhony membuat Rina bersemangat ingin melihat foto pemilik perusahaan
"Benarkah? Kalau gitu aku mau lihat dulu ah, kan masih sepi juga jadi masih bisa di tinggal" ucap Rina semangat
"Ya udah kamu pergi aja Rin, biar aku jaga di sini" putus Joy
"Kamu nggak penasaran Joy, nggak mau ikutan aku lihat lihat sekalian?" tanya Rina kepada Joy
"Nggak deh Rin, kamu aja yang jalan gih"
"Ya udah deh, aku pergi dulu Joy" Rina hendak keluar dari stand mereka, namun tiba tiba Harry menghentikannya
"Aku ikut ya Rin.. Jhony aku tinggal dulu ya" ucap hari yang namun tak meminta persetejuan dari Rina, dia kemudian berjalan mendekati Rina dan mengajak nya pergi
"Sepertinya Harry suka sama teman kamu, lihat nggak tadi.. dia perhatiin Rina terus loh waktu di mobil" Jhony berucap sambil menatap lekat wajah Joy
"Aku juga suka sama kamu, Joy" ungkapan suka Jhony yang begitu tiba tiba membuat Joy menghentikan tawanya, dan kemudian menatap lekat wajah Jhony yang kini duduk di sebelahnya.
"A..apa kakak bilang.." tergagap Joy bertanya
"Kamu nggak salah dengar, aku suka sama kamu, Joy" Jhony kini tersenyum melihat wajah Joy yang pias dan kebingungan dengan mata melotot sesekali berkedip, dan dengan seketika Joy mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Ia tak mampu menatap wajah Jhony saat ini karena wajahnya pasti sudah memerah tak karuan
Jhony membelai rambut Joy dan kemudian berucap "Nggak perlu di jawab sekarang Joy, aku cuma mau kamu tahu kalau aku suka sama kamu dan semua perhatian yang aku berikan itu tulus kamu juga nggak perlu buru buru jawabnya hmm.." Jhony berdiri dari duduk nya dan mencari kesibukan di stand itu, Joy kemudian menetralkan kondisi wajah dan juga debaran jantungnya yang sungguh tak beraturan. menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, Joy kemudian tersenyum sendiri mengingat ungkapan Jhony serta tingkah konyol nya setelah mendapat pengakuan cinta dari Jhony, sesekali ia pun melirik ke arah Jhony yang sekarang sedang merapihkan barang di etalase nya.
Di dalam kantor nyonya Riska sedang bersiap untuk turun ke basement, dengan beberapa orang kepercayaannya yang membantu memegang perusahaan termasuk papa Siska juga ada di sana. Mereka berjalan ke arah lift yang akan mengantarkan mereka langsung ke basement, keluar dari lift rombongan nyonya Riska berjalan mengunjungi setiap stand yang ada di sana melihat lihat barang barang yang di jual siswa siswi dari sekolah putra nya itu. Dia juga tak lupa membeli beberapa barang yang menurutnya unik dan bisa di pakai olehnya.
Jhony tak menyadari ibu nya yang sudah mulai mengunjungi stand stand yang ada di sana, Joy sudah bergantian dengan Jhony menata barang ke etalase nya, sedang kan Jhony membongkar barang yang masih tersisa di dalam karton. Sebenarnya Joy tadi masih canggung berhadapan dengan Jhony, namun Jhony meminta nya untuk bersikap biasa karena dia pun akan bersikap seolah tidak terjadi apa apa tadi. Namun tetap Jhony menanti jawaban dari Joy pastinya, sesekali saat berpapasan mereka sama sama memberikan senyuman seperti biasanya.
"Sayang,, kau disini rupanya, momy mencarimu dari tadi" nyonya Riska berjalan sendiri ke standnya Joy, karena tadi tanpa sengaja dia melihat Jhony sedang sibuk memindahkan barang
"Momy,, kenapa ada di sini?" Jhony tampak ragu ragu menyebutkan kata momy, sementara itu Joy tampak memperhatikan interaksi keduanya saat ini
"Momy sedang berkunjung dan melihat lihat apa saja yang di jual siswa siswi hebat dari sekolah mu ini nak, apa kau juga membuka stand? Apa ada yang bisa momy pakai sayang?" tanya nyonya Riska sembari melihat lihat di etalase, namun Jhony hanya diam tak bergeming
"Silahkan di lihat lihat tante, kami menjual aksesoris di sini ada bross, pita, pulpen jam tangan dan lain sebagainya tante" Joy dengan sigap menjawab pertanyaan dari nyonya Riska, dengan tersenyum senang karena mendapat pengunjung pertama yang spesial. Nyonya Riska memperhatikan Joy yang dengan ramah menawarkan barang kepadanya dan tersenyum melihat sang anak yang terdiam.
"Ah anak manis, siapa namamu nak?" tanya nyonya Riska kepada Joy
"Nama saya Joy, tante" jawab Joy
"Joy? Jhony apa dia orangnya nak?" tanya nyonya Riska kepada Jhony yang masih diam, namun setelah suara ibunya terdengar dia pun kembali sadar dan berjalan mendekati Joy dan juga ibunya.
"Emm..itu.."
"Baiklah kalau begitu, tidak perlu di jawab. Momy sudah tau sekarang hhmm.. anak yang cantik dan manis, momy suka dengan pilihan mu nak" mendapati anak nya yang tak dapat menjawab pertanyaan nya, nyonya Riska kini tahu bahwa anaknya menyukai gadis yang ada di hadapannya ini.
"Mom.." Jhony tak bisa berkata kata lagi mendapati ibunya yang justru langsung menyukai Joy, meski mereka masih belum mempunyai status sekarang.
"Nak, tolong carikan tante bross yang pantas tante pakai ok" nyonya Riska meminta Joy memilih bross untuk nya lalu Joy pun mulai mengeluarkan barang yang di minta oleh nyonya Riska dengan penuh semangat, dia pun dengan telaten mencocokkan bross dengan pakaian yang di kenakan oleh nyonya Riska saat ini. Nyonya Riska memandang anaknya yang tampak memperhatikan mereka, nyonya Riska kembali menggoda sang anak dan tersenyum melihat sang anak yang tampak tersenyum malu malu.
Tak berapa lama beberapa orang yang bersama dengan nyonya Riska tadi pun berjalan ke stand nya Joy, mereka kemudian ikut melihat lihat bahkan ada pula yang membeli dagangan mereka. Jangan di tanya soal nyonya Riska, dia sudah memborong bross dan aksesoris lainnya yang di jual di stand Joy.
"Nyonya sudah waktunya untuk memberi pidato, mari kita ke panggung sekarang" ucap seorang pria paruh baya yang bekerja sebagai asisten nyonya Riska, baiklah tunggu sebentar saya akan segera kesana.
"Terima kasih nak Joy, tante senang dengan barang yang kamu dagang. semua nya bagus bagus, oh iya tante harus pergi dulu ya. Sampai jumpa" ucap nyonya Riska
"Saya yang terima kasih tante sudah memborong barang yang saya jual, semoga tante suka. Sampai jumpa juga tante" setelah Joy selesai berucap, nyonya Riska kemudian hendak keluar dari stand. Namun dia menahan langkahnya dan melihat ke arah Jhony
"Jaga Joy sayang, momy pergi dulu. Nanti bawalah Joy jalan jalan ke atas hmm" nyonya Riska berpesan kepada sang anak
"Baik mom, terima kasih" jawab Jhony memutar pembicaraan mereka
Joy tampak bingung siapa sebenarnya nyonya Riska, apa dia juga bekerja di sini atau dia salah satu direktur. Karena melihat penampilannya yang sangat elegan, membuat Joy yakin bahwa nyonya Riska punya peran penting di perusahaan ini.