Let See The True Love

Let See The True Love
114.



Tujuh Tahun Kemudian


Waktu yang di perkirakan hanya lima tahun untuk menyelesaikan pendidikan menjadi lebih panjang, sebenarnya lima tahun sudah cukup baginya untuk menyelesaikan study di sana. Namun dikarenakan adanya masalah dengan perusahaannya yang da di luar negeri, Jhony harus menetap untuk waktu yang tidak dapat ditentukan.


Mau tidak mau, ia dan Joy harus menghadapi hubungan jarak jauh lagi. Meski hatinya sudah begitu rindu untuk pulang, tetapi keadaan tidak bisa dielak olehnya.


Selain dirinya, nyonya Riska tidak percaya pada yang lainnya. Menurut pengalaman, orang yang dianggap sudah sangat tepat yang memegang kendali di perusahaan luar negeri dan diberikan kepercayaan penuh malah menyelewengkan uang perusahaan dan kabur begitu saja. Alhasil, Jhony lah yang harus membereskan semua kekacauan yang terjadi didalam perusahaan.


Meski dengan berat hati, Jhony tidak bekerja dengan bersungut - sungut. Ia benar - benar menggunakan waktunya untuk meningkatkan kembali kinerja perusahaan. Buktinya, perusahaan yang semula sudah hampir colaps kembali berjaya. Terbukti dari beberapa tawaran kerja sama dari perusahaan setempat yang lumayan besar dan terkenal, sehingga Jhony menjadi lebih sibuk menangani pekerjaannya sebagai CEO muda yang sangat berbakat dalam bidangnya.


Beberapa tahun menetap disana, tidak sedikit kenalannya yang juga pebisnis. Satu dari sekian banyak teman yang ia kenal disana, ia menemukan seseorang yang dapat ia percayakan untuk mengambil alih pekerjaannya saat ini.


"Semuanya sudah beres bukan?" Tanya Jhony kepada Aldo, seorang teman yang ia kenal ketika belajar di salah satu universitas disana.


"Tentu saja boss, semua sesuai selesai sesuai rencana. Anda bisa pulang ke Indonesia tanpa beban lagi." Aldo menganggukkan kepalanya, dan menyerahkan secarik kertas diatas meja kerj Jhony.


Lelaki itu sebenarnya adalah pelajar dari Indonesia seperti Jhony, dan kebetulan saat di asrama mereka juga teman sekamar


"Baiklah, sebentar lagi aku akan kesana. Kau boleh keluar Aldo." Jhony tersenyum kepada asistennya itu.


"Baik tuan, saya permisi."


Setelah menganggukkan kepalanya sekali, Aldo keluar dari ruangan Jhony untuk kembali keruangannya sendiri.


Sambil berjalan keruangannya, Aldo tampak sedang memikirkan sesuatu. Wajahnya dengan jelas menampakkan raut kebingungan, dan itu membuatnya sedikit tidak fokus saat berjalan.


"So, sorry... " Akhirnya ia menabrak seseorang, dan menjatuhkan berkas yang sedang dipegang oleh orang tersebut.


"Ada apa denganmu Aldo? Apa kau tidak melihatku sama sekali?"


Orang berjongkok untuk membereskan berkas - berkasnya diikuti Aldo, ia merasa tidak enak sudah membuat berkas yang semula rapih menjadi berserakan di lantai.


"Sungguh maafkan aku Mary, aku tidak sadar jika ada kau didepanku."


Wanita yang dipanggil Mary mengernyitkan dahinya, bingung dengan ucapan Aldo yang mengatakan tidak melihatnya. Mereka sudah selesai membereskan berkas Mary, dan saat ini keduanya saling bertatapan dengan Aldo yang mencoba menjelaskan ketidaksengajaannya menabrak Mary.


"Aku bahkan dari jauh sudah memanggilmu untuk menyerahkan berkas ini, kenapa wajahmu terlihat di tekuk begitu? Apa Jhony memarahimu?"


"Tidak, bukan begitu. Hanya saja... ada hal lain yang sedang aku pikirkan, tapi ini bukan tentang Jhony."


"Lalu?"


Aldo terlihat ragu dan tidak berniat menceritakannya kepada Mary.


"Bukan apa -apa." Aldo mengibaskan tangannya bermaksud memutus percakapan mereka, tetapi Mary masih menampakkan tatapan penasaran. "Ah... Bukankah kau mau menyerahkan ini, aku ambil sekarang. Aku ingat, aku harus mengerjakan laporan yang diminta oleh Jhony. Sampai nanti Mary, kita pulang bersama. Ok!" Aldo terburu - buru kabur dari Mary, karena wajah gadis itu masih dipenuhi rasa penasaran yang besar.


"Apa yang disembunyikan oleh Aldo? Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya." mary menggelengkan kepalanya, namun ia tidak mau berfikir banyak tentang sahabatnya itu.


Aldo dan Mary adalah dua orang teman Jhony selain Harry yang selalu bersama saat di kampus, mereka selalu akrab dan tidak pernah bertengkar. Meski seorang wanita, Mary tidak pernah menaruh perasaan kepada ketiganya.


Pernah sekali Mary terlibat hubungan pacaran dengan seorang lelaki yang tidak baik, namun ketiganya yang turun tangan untuk memberi pelajaran kepada lelaki tersebut.


Alhasil, ketiganya sudah seperti bodyguard bagi Mary. Ia yang sebenarnya juga berasal dari negara yang sama merasa lebih aman dengan adanya ketiga lelaki yang menjadi teman sekampusnya.


Banyak yang merasa iri kepadanya, karena kemanapun ia pergi tiga lelaki tampan selalu bersamanya. Namun itu menjadi satu batu sandungannya untuk mencari kekasih, karena lelaki yang menaruh perhatian padanya tidak mudah untuk mendekat.


*****


Berbeda dengan situasi diluar negeri, di sebuah tempat makan di ibu kota. Joy sedang menikmati makan siang bersama teman sekantornya, Rina. Mereka sedang asyik bercerita tentang putra pimpinan yang baru saja pulang dari luar negeri, khayalan demi khayalan muncul dari ucapan teman sebelahnya, Rina.


"Kamu udah tahu belum namanya?" Tanya Rina kepada Joy yang sedang asyik menikmati makanannya.


"Enggak tuh Rin, aku belum tahu siapa namanya. Lagian juga enggak penting sih." Joy menjawab pertanyaan Rina dengan cuek.


"Ah kamu mah udah punya Jhony yang dari awal seorang CEO muda. Hah... aku juga pengen kayak kamu Joy." Joy melengos, ia hendak membayar makanan yang td mereka pesan.


"Joy ... Mau kemana?"


"Aku yang bayar Rin, lain kali kamu yang traktir ya." Masih berjalan ke kasir.


"Shutt ... Jangan kenceng - kenceng ngomongnya, malu tahu."


"Kok malu sih, kan kamu emang ibu manager."


"Bukan gitu, nanti dikira pamer Rin."


"Biarin aja Joy, kan kamu juga naik pangkatnya karena kemampuan kamu bukan karena kamu mengenal orang dalam."


"Iya, cuma aku enggak mau dikatain sombong."


Keduanya sudah berada dijalan raya, mereka berjalan menyusuri jalur pejalan kaki.


Karena lokasi tempat makan yang dekat dengan kantor, mereka memilih untuk berjalan kaki kesana.


"Siapa bilang kamu sombong, kalau ada yang berani bilang begitu sini biar dia aku hajar nanti." Rina mengangkat tangannya seperti seorang bina ragawan yang memperlihatkan ototnya.


"Haha ... Iya, iya. Jalan yang bener tuh, tar di tabrak lagi." Joy mencoba memperbaiki cara berjalan Rina yang kini membelakangi jalanan.


"Enggak akan, kan ada kamu hehe..."


Masih melakukan aksinya dengan berjalan mundur, tiba - tiba sebuah mobil muncul dari arah depan. Joy yang panik karena Rina sudah cukup jauh di depannya hanya bisa berteriak.


"Rina awas... "


Rina berbalik dan melihat sebuah mobil sedang melaju ke arahnya, kakinya seakan terpaku di tempatnya berdiri.


Wajah Rina berubah memucat, tubuhnya pun kaku tak bisa digerakkan. Akhirnya ia hanya bisa pasrah dengan apa yang akan menimpa dirinya, ia mengangkat kedua tangannya menutup telinganya dengan kuat.


Suara decitan mobil begitu keras, Joy hanya bisa menutup kedua matanya erat - erat. Takut untuk melihat apa yang terjadi.


"Ahh ... " Teriakan Rina menyadarkan Joy, ia kembali membuka matanya dan melihat bagaimana keadaan sahabatnya itu.


Mobil berhenti tepat di depan sahabatnya, dan terlihat Rina sudah tersungkur dijalan. Tidak jauh dari tempatnya berdiri tadi.


"Rina ... " Joy membopong Rina "Kamu enggak apa - apa?"


Seorang laki - laki bergegas turun dari mobil dan menghampiri mereka, lelaki itu tampak mengenakan setelan kantoran yang rapih. Dengan kaca mata hitam yang ia kenakan semakin membuat lelaki itu tampak gagah.


"Ma, maaf kan aku. Bagaimana keadaannya?"


"Kau lihat kakinya berdarah, tolong bawa dia kerumah sakit." Keduanya tampak begitu panik, tetapi tidak dengan Rina.


Ia tampak bengong melihat laki - laki yang ada di depannya, tidak lama kemudian laki - laki itu tersadar jika gadis yang ada di depannya sedang memperhatikan dirinya.


Betapa terkejutnya lelaki itu saat melihat Rina, gadis yang selama ini selalu ada dalam pikirannya.


"Rina ... " Lirihnya.


Joy memandangi lelaki itu, ia terlihat kebingungan mendapati nama sahabatnya dipanggil oleh laki - laki yang tadi menabrak Rina. Melihat ke arah sahabatnya, Joy semakin bertambah bingung karena mata gadis itu sudah berkaca - kaca.


"A, ada apa ini. Kenapa kau menangis Rin? Dimana yang sakit, ayo bilang."


Gadis itu masih diam dengan air mata yang sudah mengalir deras.


"Maafkan aku." Lelaki itu kemudian membuka kaca matanya, dan membuat Joy menutup mulutnya dengan tangan karena kaget dengan apa yang ia lihat saat ini.


"Harry, kau ... " Laki - laki itu menganggukkan kepalanya.


"Rina ... " Panggil Harry.


"Rin, tunggu." Ucap Joy.


Rina mencoba untuk berdiri dengan kondisinya sekarang, kedua lututnya berdarah karena ia mengenakan rok hitam di atas lutut. Ia segera berlari menyeberangi jalan raya yang masih tampak ramai, sehingga membuat beberapa mobil membunyikan klakson memperingatkan gadis itu.


Ia seakan tidak mendengar suara - suara tersebut dan terus berjalan pergi.


Stay Save Readers😘😘