
Suara dentingan alat makan mengisi ruangan dapur yang cukup luas dengan meja panjang yang mengisi hingga sepuluh orang. Katiganya makan dengan lahap, sebenarnya sejak dalam perjalanan Joy sudah merasakan lapar hanya saja ia enggan meminta Jhony berhenti di supermarket dua puluh empat jam untuk membeli makanan yang dapat mengganjal rasa laparnya.
Jadilah sekarang ia makan dengan tanpa berbicara, sedangkan Jhony dan neneknya sesekali membahas masalah sekolah dan juga perusahaan.
Sebelum memilih tinggal di luar kota, nenek Jhony sempat mengambil peran penting didalam perusahaan. Jadi sedikit banyak ia tahu masalah pekerjaan di kantor.
"Apa ibumu masih sibuk di kantor?"
"Ya, nek."
"Kasihan dia, masa muda nya berlalu begitu saja bersama pekerjaan yang ia tangani."
"Begitulah nek, aku ingin bisa segera membantu momy. Maka dari itu, aku akan secepatnya menyelesaikan pendidikan diluar negeri."
"Bagus nak, jadilah anak yang berbakti kepada orang tuamu. Nenek sudah tua dan tidak mampu lagi membantu dia, aku hanya bisa mendoakan kalian dari sini." Nenek Jhony tersenyum kepada sang cucu.
"Nenek tidak perlu khawatir tentang itu, aku akan memperhatikan momy."
"Tidak sayang, kau harus fokus pada pendidikanmu. Nenek akan mengunjunginya sesekali, nenek masih kuat untuk melakukan perjalanan jauh sayang."
"Terima kasih nek."
"Apa ini? Ibumu adalah putriku juga, kau tidak perlu berterima kasih."
"Tidak, aku hanya berterima kasih karena nenek mau memperhatikan momy."
"Tidak ada kata terima kasih untuk hal seperti itu, itu sebuah keharusan!"
"Aku tetap berterima kasih, nek. Terima saja!"
"Dasar kau ini, keras kepala mu seperti ayahmu."
"Aku kan anak ayah juga, tentu aku mirip dengannya bukan?"
Joy tersenyum melihat pemandangan yang sangat langka ini, kedua orang yang berbeda usia itu beradu mulut sekarang.
"Lihatlah kekasihmu itu, dia menertawakan kita Jhony.. "
"Itu karena nenek yang mulai duluan, haha... "
"Anak ini benar-benar... ah... kau memiliki kelemahanku nak, aku tidak bisa marah jika kai tertawa lepas seperti ini. Awas saja Jhon... "
"Aku sayang padamu nek, muah... "
Akhirnya sang nenek kalah oleh rayuan Jhony, ketiga nya tertawa dengan lepas membuat suasana di ruang makan begitu hidup dan heboh. Kebahagiaan itu tidak hanya milik mereka bertiga, pasalnya saat ini semua pengurus villa sedang mengintip kebersamaan sang majikan dan menahan tawa mereka yang hampir pecah saat keduanya terlibat adu mulut.
Jika tidak ada yabg mengunjungi mereka, maka suasana akan terasa sangat sepi. Wanita paruh baya yang mereka layani hanya bisa mengurusi taman bunga yang di buat oleh mendiang ayah Jhony untuknya.
Sang nenek memang senang melihat bunga yang berwarna-warni, keinginannya untuk memiliki taman bunga dihalaman rumahnya memang sudah ada sejak beliau menikah dengan sang suami. Namun karena ekonomi mereka yang hanya pas-pasan, jadilah beliau menekan keinginan tersebut. Saat siaminya meninggal, ia bahkan harus bekerja mati-matian untuk membiayai kehidupannya bersama anaknya yang adalah ayah Jhony. Barulah setelah ayah Jhony selesai kuliah, ia dapat sedikit bernafas lega karena ayah Jhony sudah bisa membiayai dirinya sendiri bahkan tak jarang ia juga memberikan uang kepada nenek Jhony. Setelah ayah Jhony bertemu nyonya Riska, jadilah mereka merintis usaha bersama sahabatnya yaitu tuan Ferry yang adalah ayah dari Siska. Diawal usaha mereka mendapat sedikit kendala, yaitu modal. Untuk mendukung anaknya, nenek Jhony memberikan tabungannya yang juga sebagian adalah pemberian dari ayah Jhony.
Perlahan usaha merek mulai berkembang, bantuan dari nenek Jhony ternyata sangatlah bermanfaat bagi usaha mereka. Tidak lama kemudian, usaha mereka berkembang cukup pesat dan penghasilan juga meningkat. Ayah Jhony kemudian menikah dengan nyonya Riska, perlahan mereka mulai mendirikan anak perusahaan di kota-kota besar dan maju. Beberapa bulan setelah pernikahan kedua orang tua Jhony, sang nenek mendapat kabar gembira bahwa nyonya Riska sedang hamil dan itulah Jhony.
Setelah Jhony lahir ke dunia, usaha kedua orang tuanya semakin meluas dan berkembang. Ayahnya kemudian membeli beberapa villa sebagai aset, tidak hanya di ibu kota bahkan villa mereka juga ada diwilayah sekitar anak perusahaan. Ia mempunyai prinsip yang teguh agar keluarganya tidak susah setelah ia tidak ada, itulah alasannya membeli beberapa villa yang bisa di sewakan sewaktu-waktu ada yang berminat.
Disalah satu villa yang kini di tempati oleh nenek Jhony sekarang adalah villa pertama yang di beli oleh ayah Jhony, dan ini di khususkan untuk ibunya dan di hias sesuai dengan impiannya sewaktu muda dulu.
***
"Apa semua bunga di sini nenek yang merawatnya sendiri?"
Joy yang penasaran pun, langsung menyampaikan keintahuannya tentang taman bunga yang kini mereka lihat.
Ia dan juga Jhony sedang duduk di sebuah kursi santai yang ada di tengah-tengah taman. Tempat yang cukup menyenangkan untuk bersantai, dengan pemandangan hamparan bunga warna warni. Terlihat beberapa kupu-kupu yang menghinggapi bunga-bunga di taman untuk menghisap madunya.
"Nenek yang memilih bibitnya, untuk perawatan beliau di bantu beberapa tukang kebun yang sengaja di pekerjakan untuk itu."
"Begitu rupanya, semua bunga disini sangatlah indah. Nenek memang wanita hebat, ia masih tampak elegan di usianya sekarang. Aku sangat senang bisa mengenal dekat dengannya." Joy menatap jauh ke taman bunga, kedua matanya seperti sedang membayangkan sesuatu.
"Nenek memang wanita yang hebat, momy banyak belajar dari nenek setidaknya itu yang aku tahu."
"Benarkah?" selidik Joy, ia kembali menatap Jhony.
"Ya, momy pernah bercerita kepadaku sedikit kisah tentang nenek yang harus berjuang membesarkan daddy sendiri tanpa kakek. Aku cukup terkejut mendengar kegigihan dan kesabaran nenek dalam menjalani kesulitan dalam hidupnya, aku bahkan tidak bisa membayangkan jika aku yang berada di posisinya. Mungkin saja... aku akan menyerah pada keadaan, dan hanya bisa pasrah menerima pahitnya kenyataan." kesedihan terlihat jelas di wajah Jhony saat ini.
Satu tangan Joy terulur menggenggam tang Jhony, ia hendak memberikan kekuatan agar Jhony tidak merasakan kesedihan yang mendalam. Saat Jhony melihat ke arah Joy, gadis itu malah memberikan senyum terbaiknya.
"Joy... " kini Jhony mengubah posisi tubuhnya menghdap ke arah Joy sepenuhnya, kedua tangannya menggenggam kedua tangan Joy. "Saat aku memintamu menungguku kembali, aku serius untuk itu. Aku harap kita bisa bersama selamanya, memang terdengar sedikit ambigu. Tetapi ini sudah menjadi prinsipku, saat menyukai seseorang maka aku tidak akan main-main dengan hatinya. Aku akan segera kembali setelah menyelesaikan pendidikan di sana, ingatlah ini. Aku tidak akan pernah mencari wanita lain, karena bagiku kau satu-satunya gadis yang aku cintai." mata Joy sudah berkaca-kaca mendengar kalimat demi kalimat yang di ucapkan oleh Jhony.
Tangan Jhony berpindah kepipi Joy, ia mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Joy cukup lama. Joy memejamkan matanya untuk meresapi kecupan lam dari Jhony, air matanya pun ikut luruh membasahi pipinya.
Ini merupakan hal yang membahagiakan, namun ia tidak menahan air mata kebahagiaanmya itu.
"Kau tahu Jhony... sampai beberapa hari yang lalu, aku selalu meragukan hatiku. Entah hati ini bisa bertahan di sini untuk menunggu atau tidak, tetapi sekarang. Aku lebih percaya diri, bahwa aku bisa menunggumu untuk waktu yang belum di tentukan sekalipun. Aku yakinkan hatiku untuk bisa menjaganya untukmu." selesai dengan kalimat yang ingin di ucapankannya, gadis itu pun langsung masuk kedalam pelukan Jhony.
Sungguh sekarang kebahagiaan keduanya tidak dapat digambarkan, mereka sekarang memiliki tujuan dan memegang janji pasangannya dengan teguh.
Segala keraguan yang bermunculan akhirnya terpatahkan, dengan saling mengungkapkan apa yang ada di hati mereka dengan baik dan benar.
"Aku akan selalu menghubungimu saat aku berada di sana, jadi mungkin kau akan sedikit terganggu karena perbedaan waktunya."
"Tentu, aku akan selalu menunggu kau menghubungi ku."
"Gadis pintar." taman bunga itu kini di hiasi tawa antara Jhony dan Joy, keduanya kembali pada posisi sebelumnya.
Sesekali mereka bercanda karena saling menggoda, tangan mereka terpaut erat. Joy membaringkan kepalanya di bahu Jhony, mata mereka menatap hamparan taman bunga di depan mereka dengan wajah yang berseri seindah bunga-bunga yang tumbuh indah di taman sang nenek.
.
.
.
Hai.. hai ..hai...
Me kembali readers, tolong bantu like komen vote fav dll ya...
Terima kasih bagi yang sudah mampir, tetap semangat menjalani kesehariannya ya manteman..🤗
stay save😉