Let See The True Love

Let See The True Love
68.



Kali ini kecupan Jhony bertahan cukup lama, ia kembali merasakan maninya bibir gadis yang berstatus pacarnya itu. Joy hanya bisa diam menerima perlakuan Jhony yang begitu lembut, kedua matanya saat ini sudah tertutup rapat untuk menikmati momen yang di ciptakan oleh Jhony. Ini adalah pertama kalinya untuk Joy dan juga Jhony, kadang Jhony hanya mengecup kening Joy saja.


Keduanya seakan hanyut dalam c****n yang hanya sekedar kecupan yang cukup lama, namun mereka seakan mendapatkan sesuatu yang sangat berharga. Perlahan Jhony menjauhkan wajah Joy, saat membuka matanya Joy mendapati kedua manik mata yang Jhony yang juga sedang menatapnya.


Jhony mengelus perlahan pipi Joy dan menyelipkan sedikit rambut yang terjuntai menutupi wajahnya.


"Maaf ... membuatmu terkejut" dengan susah payah Jhony berusaha berbicara dengan tenang, meski jantungnya kini berdetak dengan kencang karena merasa takut Joy akan marah padanya.


Lama Joy hanya memandang Jhony dan terdiam, dia sedang menetralkan detak jantungnya yang bernada tak beraturan.


Tak mendapati jawaban dari Joy, Jhony menjadi gelisah dan berpikir jika Joy sedang marah padanya saat melihat wajah Joy yang datar.


"Maaf Joy, sungguh aku tidak bermaksud membuatmu marah. Aku... aku mencintaimu, sungguh maafkan aku..." Jhony menggenggam kedua tangan Joy yang terasa dingin, sehingga Joy kembali tersadar dan segera mengeluarkan suaranya yang sedikit serak.


"Jho, ny... a..aku tidak marah. Ee.. itu.. a..aku hanya.. kaget saja" Jhony bernafas lega mendengar penjelasan Joy, tadinya ia sangat kebingungan mendapati Joy yang mendiamkannya cukup lama.


"Benarkah?"


"Tentu.. aku tidak marah sama sekali, aku.. " Kalimat Joy menggantung bersamaan dengan kepalanya yang menunduk "Merasa kaget dan juga malu mengingat kita sedang di tempat umum" Joy melanjutkan kalimatnya dengan nada lirih.


Jhony tersenyum mendapati jawaban ambigu dari Joy, selanjutnya dia memeluk Joy dengan erat dan membisikkan sesuatu.


"Kamu lucu sekali, asal kamu tahu.. itu adalah ciuman pertamaku" Joy memegang kedua lengan Besar Jhony dan tersenyum.


"Sungguh?" Joy merasakan Jhony mengangguk "Itu juga ciuman pertama ku, kamu mencuri nya dengan tiba-tiba" Balas Joy tak kalah berbisik nya, di atas bahu Jhony.


"Sayang... aku sangat mencintaimu, ingatlah itu... apapun yang kamu ingin tahu dariku, bertanyalah langsung padaku dan aku akan menjelaskan semua tentangku langsung kepadamu. Ok!" Jhony menepuk pelan punggung Joy di dalam pelukannya, ia sangat senang mendapatkan gadis yang sangat pengertian dan sangat perhatian padanya.


Selama ini, Joy sangat jarang atau bahkan belum pernah kesal kepada Jhony yang terkadang sibuk dengan kegiatannya. Namun Joy malah tidak lupa untuk memberi dukungan dan selalu mengingatkan Jhony untuk menjaga kesehatan saat banyaknya kegiatan di sekolah atau saat membantu ibunya di kantor.


Joy juga merasa beruntung memiliki Jhony sebagai pacarnya, karena Jhony tidak pernah macam-macam dalam arti Jhony tidak pernah melakukan hal yang melebihi hubungan pacaran.


Untuk kali ini adalah yang pertama Jhony m*****m bibir Joy, namun masih dalam batas wajah menurut Joy.


"Sudah mulai gelap, ayo kita makan malam dulu baru pulang" Joy mengangguk tanda setuju.


Jhony menggandeng tangan Joy dengan begitu mesra nya, sesekali mereka saling pandang dan menuai senyum yang begitu manisnya. Tampak sekali bahwa mereka sedang kasmaran, Jhony melepas Jaketnya untuk di pakaikan kepada Joy yang mengenakan dress dengan bahan sejuk. Dia tak ingin Joy masuk angin akibat terpaan angin pantai, mereka berjalan menuju sebuah restoran di tepi pantai untuk makan malam.


*****


Suasana villa


Saat ini keadaan villa masih sepi, Siska, Rina, Erick dan Harry baru saja sampai di villa dan saat ini mereka sedang membersihkan diri di kamar masing-masing.


Rina saat ini sedang menunggu giliran mandi, Siska meminta untuk menggunakan kamar mandi terlebih dahulu saat mereka sudah di dalam kamar.


Saat sedang sendirian menunggu Siska yang sedang mandi, Rina teringat pada sahabatnya Joy. Ia ingin sekali menanyakan kabarnya saat ini dengan menghubungi ponsel Joy, dengan terburu-buru ia menekan tombol panggil di layar ponsel nya sambil melihat ke arah pintu kamar mandi, ia takut saat menelpon Joy tiba-tiba Siska keluar dari sana.


Tetapi Rina tidak mendapatkan hasil, karena ponsel Joy berbunyi di sekitar kamar. Dengan cepat Rina mencari sumber suara dari ponsel Joy, ternyata ponsel milik Joy terbawa bersamaan dengan tas dan barang-barang Joy yang tadi tertinggal di pantai.


Rina mendengus kesal "Hah... kenapa aku bisa lupa kalau sudah membawa pulang barang-barang milik Joy, bagaimana caranya aku mengetahui kondisi mereka yah.." Rina berjalan ke arah balkon dan melihat ke arah kolam renang yang airnya saat ini memancarkan cahaya yang begitu indah, matanya memandangi sekitar villa yang sudah gelap dengan lampu sekitar villa yang mulai menyala.


"Semoga saja mereka berdua bisa berdamai dengan masalah yang muncul tiba-tiba, dan tidak akan terjadi sesuatu dengan hubungan mereka..." Rina tidak menyadari bahwa saat ini Siska sedang menguping dialog yang dia gumamkan, sangat jelas terdengar oleh Siska yang kini mulai menampilkan senyum jahatnya.


Sejak kemarin, saat acara ulang tahun Joy sebenarnya Siska sengaja memarahi Joy dengan sangat keras. Itu bukan hanya sekedar gurauan untuk mengerjai Joy, tetapi ia sengaja melampiaskan nya dengan dalih untuk mengerjai Joy.


Senyum Siska terus mengembang membayangkan hubungan Joy dan Jhony akan berakhir, ia pun segera berganti pakaian dan turun kebawah untuk makan malam.


"Baiklah, tunggu aku sebentar"


Setelah Siska memastikan Rina masuk ke kamar mandi, ia pun berbicara sendiri 'Bagus... kamu memang enggak pantas biat Jhony, Joy..Joy.. bisa-bisanya Jhony suka sama anak kecil kayak kamu. Pemikiran yang sempit dan kekanakan, apa hebatnya kamu? Anak manja yang enggak tau tempatnya, kamu enggak layak sama sekali buat Jhony. Aku yang pantas, pasti..'


*****


Di sebuah restoran terkenal di tepi pantai, Joy dan Jhony sudah selesai makan malam romantis yang tak terduga.


Saat masuk ke dalam restoran tersebut, ternyata ada seorang lelaki yang akan melamar kekasihnya. Dengan alunan musik dan makanan yang begitu enak, mereka sungguh terlena dengan suasana dan ikut kaget saat seorang laki-laki berlutut di hadapan sang kekasih yang sedang duduk di kursi. Lelaki itu mengeluarkan sebuah kotak bludru dengan warna merah dan berbentuk love, lelaki itu membuka kotak tersebut dan menampilkan sebuah cincin dengan sebuah mata berlian yang tampak berkelap kelip oleh pancaran lampu yang ada di restoran tersebut.


Tangan Jhony menggenggam erat tangan Joy yang tergeletak di samping piring makanan, Joy mengalihkan perhatiannya kepada Jhony.


"Mereka terlihat bahagia ya?" Jhony berucap sambil memandang Joy dengan mata yang begitu teduh.


"Em.. sangat" Joy kembali memandangi pasangan yang berbahagia itu, saat ini wanita yang mendapat lamaran telah berdiri sambil mengulurkan tangan agar sang lelaki menyematkan cincin di jari sang wanita.


"Aku akan melakukannya untukmu suatu saat nanti, jadi bersabarlah menungguku" Jhony mengecup punggung tangan Joy yang di pegangnya dengan lembut.


Mata Joy berbinar mendengar ucapan Jhony, apa boleh Joy menaruh harapan itu kepada Jhony. Ia sangat takut bahwa ini hanya mimpi, dan saat ia tersadar dari mimpinya semua akan menghilang.


Bagaimanapun Joy ingin bahagia walau ini hanya mimpi, ia ingin merasakan hal yang di rasakan wanita yang sedang di pandangi saat ini.


*****


Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan, Jhony dan Joy sudah sampai di depan villa namun keduanya masih enggan untuk keluar dari mobil.


Saat Joy hendak turun dari mobil, Jhony menahannya dan mengatakan ingin bicara. Namun yang terjadi adalah, Jhony malah memandangi Joy dan tersenyum. Itulah yang di lakukan nya selama beberapa saat di dalam mobil, jika ada yang melihat kelakuan mereka pasti akan mengira jika mereka adalah pasangan gila.


"Jhony.. ayo masuk ke dalam, ini sudah malam.."


"Sebentar Joy, aku masih mau melihat wajahmu... sebentar lagi ya.." Jhony menyanggah kepala nya dengan tangan nya yang berada diatas setir mobil sambil memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Joy sepenuhnya.


"Besok kita akan bertemu lagi kan? Jadi besok baru lihat lagi, nanti kamu akan bosan jika melihatku terus.." Joy menundukkan kepada mendapati tatapan mata Jhony yang begitu intens dan tak berkedip untuk beberapa saat.


"Tidak akan, aku tak akan pernah bosan melihat wajahmu sayang" Panggilan Jhony kembali berhasil menggelitik Joy, jantungnya kembali berdebar tak beraturan dan seisi perutnya begitu geli seakan ada yang menggelitik.


Rasa bahagianya saat ini tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, Joy tersenyum dan sedikit menunduk.


"Sayang... kenapa menunduk, aku masih ing..."


"Cup... Selamat malam sayang, i love you.." dengan gerakan yang begitu cepat, Joy mengecup bibir Jhony setelah nya ia membuka pintu mobil dan keluar. Ia memandangi Jhony yang mematung di sana sekali lagi, dengan senyum merekah ia berlari masuk kedalam villa meninggalkan Jhony yang tampak 'Speechless'.


.


.


.


Aww.. Me juga speechless lho, Joy dan Jhony mulai nakal nih guys..


yuk bantu komenin mereka, biar balik ngak nakal" an lagi...


stay save ya readers..


thanks😉