Let See The True Love

Let See The True Love
52.



Satu minggu kemudian...


Joy sudah masuk sekolah, karena tangannya yang sudah sembuh dan hanya menyisakan bekas putih dengan warna yang tidak senada di sana.


Joy tak mempermasalahkan nya, yang terpenting sekarang dia sudah bisa menggunakan tangan nya untuk mengerjakan sesuatu. Dia sangat bersyukur tidak ada kendala dalam penyembuhan tangan nya, perbedaan warna kulit di sekitar punggung telapak tangan nya tidak menjadi masalah baginya.


Di parkiran sekolah saat ini sudah terlihat mobil Jhony di sana, Joy dan Jhony pun turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam sekolah. Beberapa teman Joy yang melihat pun langsung menemuinya, mendapat perhatian dari beberapa teman nya, Joy merasa senang ternyata mereka peduli padanya.


Jhony yang melihat kebahagiaan Joy pun ikut senang, rasanya dia ingin terus melihat senyuman di wajah gadisnya itu.


Baru saja Joy akan memulai melangkah, tampak Dina baru saja datang dan berjalan ke tempat Joy saat ini berdiri.


"Ha-halo Joy... Apa.. kabar mu?" Dina mengangkat tangan menyapa Joy yang kini tengah menatapnya, merasa aneh dengan sikap Dina saat ini.


"Hai Din, aku baik" Menjawab sapaan Dina sambil tersenyum, Joy tak mau memikirkan hal lain dan yang terpenting saat ini adalah dia sudah masuk sekolah serta dia merasa senang sudah di sambut oleh teman-temannya di depan sekolah.


"Selamat kembali ke sekolah Joy" Gerakan Dina dengan cepat menyalami Joy, namun Dina tertegun sejenak saat melihat tangan Joy yang sedang di di genggam. Hatinya tiba-tiba terenyuh, muncul penyesalan saat melihat tangan Joy yang belum sepenuhnya kembali seperti semula.


"Terima kasih Dina" Joy memberikan senyuman manis kepada Dina, seakan sebelumnya mereka memanglah berteman baik.


Tak lama kemudian Andre ketua kelas Joy dan Dina menghampiri ketiganya, sedari tadi sia sudah melihat Dina yang berjalan ke arah Joy. Dia pun sengaja melihat dari kejauhan apa yang akan dilakukan oleh Dina, namun sikap Dina kepada Joy diluar dugaan Andre. Dina rupanya memberi ucapan selamat kepada Joy, dia pun tersenyum melihat Dina yang mulai menganggap Joy sebagai teman dan bukan sebagai musuh atau saingannya lagi.


"Hai Joy, senang bisa bertemu lagi" Andre ikut menyapa Joy yang masih mengulas senyuman kepada Dina.


"Hai Andre, terima kasih" balas Joy.


"Ayo kita masuk, keburu bel berbunyi" Ucap Andre kembali.


"Kalau begitu, aku ke kelas dulu ya Joy. Kalau tangan kamu masih susah untuk menulis, pinjam catatan Rina saja biar aku yang catatkan" Ujar Jhony sesaat sebelum melangkah meninggal kan mereka bertiga, Dina yang menyaksikan perhatian yang Jhony berikan Kepada Joy merasa dirinya sangatlah bodoh dan tidak tahu malu untuk memisahkan keduanya.


Mereka akhirnya berjalan masuk ke kelas, beberapa saat kemudian bel tanda masuk kelas berbunyi. Tampak siswa siswi mulai memasuki kelas, setelahnya guru mata pelajaran juga mulai memasuki kelas.


Saat guru memberikan catatan, Joy mulai mengeluarkan bukunya juga. Namun Dina dengan cepat berbalik ke arah Joy, dan mengambil buku catatan di atas mejanya. Karena Dina yang duduk di depan Joy, membuat Dina dengan mudah mengambil buku yang baru saja di keluarkan oleh Joy tadi.


"Dina balikin buku catatan aku, kenapa kamu mengambilnya?" Dengan perlahan dan sedikit berbisik, Joy bertanya kepada Dina.


"Biar aku yang catat aja Joy, tangan kamu kan masih sakit apalagi ini catatan pasti banyak" Dina berbalik sejenak dan menjawab pertanyaan Joy.


"Tangan aku udah nggak sakit Din, balikin buku aku nanti aku ketinggalan nyatet nya" Joy semakin kebingungan melihat tingkah Dina sekarang.


"Pasti masih nggak enak dan rasanya kaku untuk menulis, jadi sementara biar aku yang mencatat" Dina masih bersi keras untuk mencatat pelajaran dari guru di buku catatan Joy, percakapan keduanya terdengar seperti bisikan-bisikan yang membuat guru yang mengajar merasa terganggu.


"Joy, Dina tolong diam dan cepat di catat apa yang saya tulis di papan tulis" Ujar guru yang sedang mengajar, membuat Dina dan Joy langsung terdiam.


Akhirnya jam istirahat pun tiba, kini Joy dan Rina berjalan ke arah kantin. Mereka hari ini akan makan bersama karena mengingat Joy yang baru masuk kembali setelah satu minggu absen sakit.


"Oh iya Joy, aku mau tanya. Kenapa tadi Dina ambil buku kamu?" Selidik Rina kepada Joy, dia masih sangat penasaran kepada Dina.


"Ah... Nggak kenapa-napa Rin, dia cuma bantuin aku buat catat pelajaran" Jawab Joy masih sambil berjalan ke arah kantin.


"Masa sih Joy? Kamu nggak bohong kan?" Merasa bingung dengan sikap Dina yang tidak seperti biasanya, Rina pun kembali bertanya kepada Joy.


"Beneran Rina, Dina cuma mau bantu aku buat catat pelajaran. Kok kamu malah nggak percaya, entar udah di kelas aku tunjukin deh hasil catatan nya" Merasa Rina tidak percaya dengan perkataan nya, Joy kini meyakinkan Rina bahwa dia akan menunjukkan bukunya yang tadi di pakai Dina mencatat.


"Kok bisa dia catatin kamu pelajaran sih Joy?" Kembali Rina mencecar Joy dengan pertanyaan nya.


"Ya.. Nggak tahu juga ya Rin, katanya tangan aku masih sakit dan pasti juga kaku untuk menulis catatan yang banyak gitu"


Mereka sudah duduk di salah satu kursi dengan kaca di samping meja mereka. Rina meminta Joy untuk menunggu di sana, sedangkan Rina pergi untuk memesan makanan mereka. Seperti biasa mereka akan memesan bakso kesukaan mereka dab juga teh es, setelah selesai memesan makanan Rina tampak berjalan kembali di tempat Joy sedang menunggunya.


"Ngomong-ngomong soal Dina, aku masih curiga sama dia loh Joy. Pasti dia yang dorong kamu pas kita di lab minggu lalu, hah... Nyesel aku nggak lihat dia di belakang kamu hari itu, coba aja kalau aku lihat habis pokoknya dia" Perkataan Rina membuat Joy tercekat, dia bingung entah harus mengatakan bahwa dia sudah tahu yang sebenarnya atau tidak.


"Sudah lah Rina, nggak usah di bahas lagi. Itu memang kesalahan aku sendiri kok, aku yang nggak hati-hati aja" Joy mencoba meyakinkan Rina yang masih berpikir bahwa Rina yang mendorong Joy waktu itu.


"Tau ah Joy, aku nggak bisa lupa kalau dia sebelumnya ada disana tepat di belakang kamu. Tapi..." Kalimat Rina seketika terhenti oleh panggilan Jhony


"Hai... sudah lama tunggu nya?" Untunglah Jhony cepat datang, jika tidak, mungkin Joy terpaksa mengatakan bahwa Dina sudah mendorongnya.


"Kami baru aja sampai kak, kak Jhony udah pesan?" Tanya Joy kepada Jhony, mencoba mengalihkan perhatian Rina saat ini yang tampak masih berpikir.


"Baguslah, aku juga udah pesan Joy. Jadi tinggal tunggu ibu anterin" Ucap Jhony seraya duduk disamping Joy.


"Oh iya, dimana kak Harry kenapa nggak datang sama kak Jhony?" Joy merasa heran melihat Jhony hanya datang sendirian, padahal biasanya dia akan datang bersama dengan Jhony. Namun kali ini Jhony hanya datang sendiri tanpa ada bodyguard yang satu itu, Joy pun memandangi Rina yang tampak cuek dan pura-pura tidak mendengar pembicaraan Joy dan Jhony saat ini.


.


.


.


Hai Readers Me kembali, selamat membacara guys semoga suka. Yukk bantu komen dan like nya, terus vote atau fav juga ya, kalau ada koi. lebih boleh kasi aku hadiah😘😘


Thanks n stay save readers😉🤗