
Masa yang indah saat jadwal ujian tengah semester telah usai, ya tentu saja liburan pastinya.
Semua siswa bersorak gembira saat hari terakhir dan di jam terakhir ujian selesai, mereka semua merayakan selesainya masa ujian tengah semester ini dengan hati yang bahagia.
Entah hasilnya memuaskan atau tidak, bukan hal yang penting lagi. Karena mereka kini sudah bebas dari jadwal belajar untuk sementara waktu.
"Apa rencanamu hari ini Jhon?" saat berada di lorong sekolah, Harry mulai bertanya kepada Jhony.
"Kenapa memangnya? Sepertinya aku akan mengunjungi kantor untuk beberapa hari kedepan" Jawaban yang membuat Harry tercengang, dia merasa bingung apakah dirinya sedang berbicara dengan salah seorang karyawan kantor, dan bukan seorang siswa?
"Come on bro, apa aku tidak salah dengar?"
"..." Jhony hanya mengangkat bahu acuh dengan pertanyaan Harry.
"Ayolah Jhon, bagaimana kau bisa menggunakan waktu libur sekolah untuk bekerja?" tampak ada kekesalan didalam tatapan Harry kepada Jhony.
"Maaf, tapi aku benar-benar tidak bisa bermain dengan kalian untuk masa liburan kali ini teman. Di perusahaan memerlukanku, dan aku juga tidak masalah dengan itu. Karena sebagai satu-satunya anak didalam keluargaku, aku juga punya kewajiban dan tanggung jawab. Lagi pula .. kau kan sudah tahu, hanya aku yang bisa momy ku andalkan" Jhony tersenyum getir, bukannya dia tidak memiliki keinginan untuk bersenang-senang saat liburan sekolah. Namun dia juga tidak bisa membiarkan ibunya bekerja kerasa sendiri, meskipun nyonya Riska tidak pernah memintanya untuk membantu pekerjaan di kantor.
"Kau mulai lagi Jhon ... hah.. maafkan aku sudah menyinggung masalah liburan. Kalau begitu, semoga pekerjaanmu lancar bro" Harry merangkulkan tangannya di bahu Jhony.
Mereka tampak berjalan bersama, namun Jhony akan menyempatkan diri untuk mengantarkan Joy pulang ke rumah terlebih dahulu.
Beberapa saat kemudian, Jhony tersadar bahwa Harry mengikutinya hingga hampir sampai di ruang kelas tempat Joy melaksanakan ujian.
"Tunggu sebentar" Jhony berhenti berjalan di ikuti oleh Harry yang merasa bingung, kenapa sahabatnya ini tiba-tiba berhenti.
"Ada apa? Apa ada yang tertinggal? Kalau iya, ayo kita kembali lagi ke ruang kelas tadi pasti blm ada yang beres-beres di sana!" ujar Harry sekaligus hendak menarik tangan Jhony untuk kembali.
"Bukan, bukan itu. Aku hanya heran, kenapa kau masih mengikutiku Harry?" Pertanyaan Jhony sontak mengundang tawa dari orang yang di tanyai.
"Apa kau hilang ingatan karena terlalu banyak belajar? Aku ingin bertemu dengan Rina, jika kau lupa, pacarku kan juga adalah sahabat kekasihmu itu, Jhony!" melihat Jhony yang masih mematung di tempatnya berdiri, Harry segera berjalan melewatinya dan menuju keruang kelas dimana Joy dan Rina berada.
Jhony menggelengkan kepalanya sejenak, dan akhirnya mengikuti langkah sahabatnya itu untuk menemui Joy.
*****
Dalam perjalanan mengantarkan Joy pulang, mereka baru saja keluar dari gerbang sekolah menuju jalan raya.
"Bagaiman ujiannya tadi? Mudah nggak?" memulai percakapan yang selalu saja mereka katakan, namun itu juga menjadi kebiasaan yang harus mereka lakukan untuk membangun komunikasi.
"Tentu, rasanya aku mau ujian lagi kalau soalnya seperti itu terus" senyum terkembang di wajah cantik Joy, meski tatapannya masih tertuju ke jalanan.
"Benarkah, wahh.. sepertinya pacarku bisa jadi juara umum dong!" seru Jhony, setengah meledek Joy.
"Ngarep haha.. ngak remedial aja uda syukur"
"Kenapa bisa remedial, kan tadi kamu yang bilang kalau ujiannya mudah!"
"Tapi yang lain juga masih ada yang lebih baik, jadi aku enggak kepikiran aja"
"Apapun nilai yang kami dapat harus di syukuri hm.." Jhony mengelus kepala Joy dengan lembut, sambil sesekali melihat kearahnya.
"Pastinya.." Joy malah menangkap tangan Jhony dan menggenggamnya dengan erat.
Hening sejenak, ketika mobil menghadapi jalanan yang sedikit macet. Jhony terlebih dulu memfokuskan dirinya untuk mengemudi, karena ia takut jika sampai membahayakan mereka dan juga pengendara lainnya.
"Oh iya, setelah ini kan liburan. Kamu ada planing enggak Jhon?" Joy mulai terbiasa memanggil Jhony dengan namanya, karena Jhony selalu memintanya untuk mengganti panggilan untuknya jika sudah tidak berada di sekolah. Bukan Jhony tidak membolehkannya untuk memanggil namanya di sekolah, hanya saja, Joy merasa aneh jika memanggil dengan nama Jhony di sekolah.
"Kenapa kamu bercerita seperti itu?" Joy menatap Jhony menantikan jawaban Jhony selanjutnya.
"Karena... aku pikir kamu akan bertanya dengan pertanyaan yang sama dengan Harry" Joy tampak berpikir, dia sebenarnya tidak mempermasalahkan tantang Jhony yang akan bekerja di perusahaan mamanya. Namun pikiran Joy lebih kepada cemas jika Jhony akan kelelahan, dia sudah merasa khawatir apakah Jhony bisa menangani aktifitasnya yang padat itu dengan baik.
"Tidak... aku tahu semua keputusan yang kamu buat tentu sudah kamu pikirkan, tapi aku hanya mau meminta kamu untuk menjaga kesehatan dengan segala kegiatan kamu saat liburan nanti. Karena setelah itu, kamu juga akan segera menghadapi ujian kelulusan" Joy memberi jeda sejenak "Aku senang kamu bisa membantu momy, karena terkadang aku kasian melihat momy yang kelelahan di rumah. Bahkan sesekali membawa berkas dari kantor dan mengerjakannya di rumah, itu adalah jam istirahat yang seharusnya di gunakan dengan baik untuk menjaga kesehatan"
Tatapan Joy seketika menjadi sendu, ia seakan mengingat kembali pertemuan dengan nyonya Riska yang adalah ibu dari Jhony yang tampak kelelahan saat pulang dari kantor. Bahkan membawa paper bag yang isinya adalah berkas-berkas yang belum selesai di kerjakan saat di kantor, dan dari yang ia dengar dari cerita nyonya Riska bahwa ia harus menyelesaikan pekerjaannya dengan segera.
Jhony menarik kedua sudut bibirnya, membentuk lengkungan senyum yang indah. Sungguh dia sangat senang mendengar kalimat demi kalimat yang di ucapkan oleh Joy, dia kini sungguh benar-benar percaya bahwa dia tidak salah memilih pacar.
"Ah benar, kamu harus membeli vitamin untukmu dan juga momy. Terkadang momy jadi terlambat makan dan juga dengan keadaan sibuk pasti sangat sulit untuk makan dengan tenang, jadi kamu harus lebih perhatian sama momy, mengerti?!" Joy memberi penekanan di akhir kalimatnya, sontak saja Jhony tertawa cukup keras.
"Kenapa tertawa? Apa ada yang lucu dari kata-kata yang aku ucapkan?" kini Joy mengalihkan pandangannya untuk melihat ke arah Jhony sepenuhnya.
"Tidak, tidak ada yang lucu. Hanya saja... aku seperti mempunyai seorang istri sekarang, dan dia sedang memberi nasehat kepadaku" ejek Jhony.
"Hei... bagaimana bisa kamu menertawakan ku begitu" Joy mencebikkan bibirnya, namun rona merah tidak dapat di tahan olehnya yang muncul menghiasi wajah putihnya.
Seketika dia merasa ada yang aneh, panas tidak dapat terkendali dan ia segera memegang kedua pipinya.
Jhony yang melihat Joy dengan wajah merah merona, ia tahu bahwa kekasihnya itu sedang sangat malu.
"Hemm... Terima kasih sayang, kamu selalu memberi perhatian seperti ini kepadaku dan juga momy. Dan juga... jika kamu merindukanku, datanglah ke kantor untuk bertemu denganku kapan saja kamu mau" Wajah cantik Joy seketika berubah menjadi senyuman yang begitu manis terlihat oleh Jhony, dia tampak begitu senang dengan apa yang barusan di katakan oleh Jhony.
"Sungguh? Apa boleh aku kesana? Tapi bagaiman jika momy tidak memberi ijin?"
"Momy pasti senang bila kamu sesekali mengunjungi perusahaan, dan yang pastinya.. momy akan sangat senang melihat kamu datang untuk menemuinya" Jhony mengangguk pasti, bukan tanpa sebab Jhony mengatakan demikian. Karena sudah beberapa kali nyonya Riska memintanya membawa Joy untuk sekedar datang untuk melihat-lihat perusahaan yang nantinya akan menjadi milik Jhony, nyonya Riska juga ingin sedikit menekan rumor yang pernah ia dengar tentang perjodohan Jhony dan Siska bahkan ada yang mengatakan jika dirinya akan berbesan dengan tuan Ferry, ayah dari Siska.
Meski Jhony tidak tahu pasti mengapa ibunya selalu meminta Jhony mengajak Joy untuk berkunjung ke perusahaan, tetapi kali ini mungkin ia bisa mencoba mengajak Joy, itu juga jika Joy tidak keberatan untuk datang.
"Baiklah, kalau ada waktu nanti aku akan ke sana. Sebenarnya sudah lama juga aku enggak ketemu sama momy, kangen rasanya"
"Apa hanya momy saja yang kamu kangenin?"
"Apa an sih kamu, kita saja masih dalam satu mobil. Kenapa harus kangen sama kamu" aneh mendengar pertanyaan Jhony.
"Masa sih, kalau gitu kamu lebih suka sama momy dong daripada aku?" Joy memutar kedua bola matanya, malas dengan pertanyaan Jhony yang di balut sedikit candaan lagi.
"Tau ah... aku kangen aja sama momy, sama kamu belum tuh.." dengan sengaja Joy membalas ucapan dari Jhony dan jawaban Joy berhasil membuat Jhony mengulas senyum kembali.
'Pacarku memang beda, andai kamu tahu.. aku selalu merindukanmu Joy, meski kita duduk dalam satu mobil seperti ini.. tetap saja pikiranku selalu tertuju padamu. ck.. kenapa aku merasa jadi orang mesum gini yah.. hahaha... sudahlah.. toh dia juga nggak tahu kan!' Jhony berucap dalam hati. dan melirik sekilas ke arah Joy
.
.
.
Ahh... aku bukan orang yang romantis nih, nggak bisa buat yang lebih.. nggak apa.. aku akan berusaha😋
stay save readers
yuk bantu like dan komennya, buat aku makin semangat..
thanks😉