
Di sebuah cafe yang terletak di seberang sekolah, Joy dan Rina masih duduk berhadapan. Joy kini tengah memandangi Rina yang tampak melamun, Joy mengalihkan perhatian Rina yang menatapnya dengan pandangan kosong.
"Rin... Kok malah melamun sih?" Ucap Joy, tak terima saat mengetahui Rina mengabaikan nya dan malah melamun.
"Ah... Sorry Joy" Rina mengambil gelas minumannya yang masih penuh, karena sedari tadi dia belum meminum nya sama sekali.
"Kamu udah tahu tentang kak Harry yang menerima perjodohan dari orang tuanya?" Sekali lagi Joy bertanya, dan berharap mendapat jawaban yang ingin di dengarnya dari sahabatnya itu.
Rina masih menundukkan kepalanya sembari menjawab pertanyaan dari Joy "Aku nggak tahu soal itu, lagi pula apa urusan nya dengan ku?" Sesaat kemudian dia mengangkat kepalanya dan melihat Joy yang sedang memandangi nya penuh selidik, ada keraguan dari gerak bibir nya saat mengucapkan kalimatnya tadi.
"Memang ini bukan urusan kita, aku cuma penasaran saja Rin. Kira-kira gadis yang di jodohkan orang tuanya itu cantik nggak ya? Kok aku jadi penasaran dan kepengen liat wajahnya ya" Joy menampilkan mata yang berbinar saat mengatakan ingin melihat gadis yang di jodohkan kepada Harry.
"Cantik... Dia sangat cantik.." Rina bergumam pelan, namun Joy masih bisa mendengar nya.
"Apa..? Kamu udah pernah lihat orangnya ya Rin? Kok nggak kasi tahu aku sih Rin, aku kan juga mau lihat orang nya yang mana?" Rajuk Joy, dia hanya mencoba mencair kan suasana yang cukup canggung tadi.
"Ng.." Kata yang tidak sempat Rina selesaikan, karena Joy sudah memotong perkataannya itu.
"Jangan bohong ya.." Joy memandang Rina dengan tatapan mata yang tajam, agar Rina tidak kembali membohongi nya.
Rina kembali menunduk "Sebenarnya aku sudah tahu kalau kak Harry di jodohkan dan gadis itu.. Aku juga tahu kalau gadis itu satu sekolah dengan kita" Rina mengucapkan kalimatnya dengan perlahan, begitu pula Joy mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Jadi kamu udah tahu orangnya? Kapan?"
"Saat kita pulang dari seminar, kita langsung menuju ke kantin tapi aku singgah ke toilet sebentar. Di sana aku mendengar seorang gadis mengatakan kepada teman-temannya bahwa dia minta di pindah kan ke sekolah kita karena di sini ada laki-laki yang sudah di jodohkan orang tuanya dan namanya Harry, awalnya aku tidak berfikir kalau itu adalah kak Harry. Sampai saat keluar dari toilet dan melihat gadis tersebut berjalan menggandeng tangan kak Harry ke arah taman, tanpa sepengetahuan mereka aku mengikuti hingga di sebuah bangku taman. Dari situ lah aku baru percaya bahwa Harry yang di katakannya adalah kak Harry sahabat kak Jhony" Rina terdiam sejenak "Tak ingin mendengarkan pembicaraan mereka terlalu banyak, lalu aku kembali ke kantin menemukan kamu dan kak Jhony sudah bersamamu juga. Sebenarnya aku merasa kesal karena itu... Aku rasa aku memang terlalu egois, setelah selesai makan kalian meninggalkan aku dan kak Harry disana. Tapi aku malah kesal dengan kak Harry yang sepertinya mencoba mendekati aku, aku marah-marah tidak jelas dan memakinya hingga dia pergi dari sana. Saat sudah sendiri, tiba-tiba aku menyesal dan pergi mengejar nya. Aku mencari ke kelas dan taman tapi tidak ada, aku juga sudah bertanya kepada kak siska dan teman lainnya tapi mereka juga tidak tahu dimana kak Harry. Akhirnya aku mencari nya ke lapangan basket, di sana juga tidak terlihat kak Harry nya. Seseorang yang aku tahu adalah teman basketnya, dia mengatakan bahwa Harry berjalan ke lorong ujung lab fisika" Kini Rina menarik nafasnya dan menahan cairan bening di pelupuk matanya yang saat ini hampir terjatuh, namun dengan segera tangan nya menghalau cairan tersebut. Joy yang melihat Rina mulai berkaca-kaca pun mengerti perasaan sahabatnya sekarang, ternyata Rina memang menyimpan perasaan kepada Harry.
"Aku mengikuti perkataan orang itu, dan aku berjalan menyusuri lorong hingga di depan lab fisika aku berhenti karena mendengar suara. Setelah kudengar kembali, ternyata suara itu berasal dari dalam lab. Karena merasa penasaran aku mendengar nya dari luar, ternyata.. Kak Harry yang sedang berbicara dengan gadis yang di jodohkan dengannya" Rina kembali menghembuskan nafasnya kasar.
"Apa yang di bicarakan oleh mereka?" Joy mencoba mencari tahu apa yang di bicarakan oleh Harry bersama gadis yang dijodohkan padanya.
"Aku tidak mendengar dengan jelas, aku hanya mendengar gadis itu mengatakan kalau mereka sudah di jodohkan oleh orang tua mereka. Makanya aku nggak berani itberdekatanberdekatan lagi dengan kak Harry, Joy" Rina mencoba menjelaskan mengapa akhir-akhir ini Rina memilih menghindari Harry.
Joy menganggukkan kepalanya, menandakan dia mengerti apa yang di rasakan oleh Rina saat ini.
Tanpa Rina sadari, di belakang nya kini sudah ada Harry dan Jhony yang juga duduk membelakanginya.
Setelah Joy membuat janji dengan Rina tadi, dia segera memberi tahu kempada Jhony untuk mengajak Harry ke cafe yang berada di seberang sekolah mereka.
Mereka berharap dengan begitu keduanya bisa meluruskan masalah yang sedang mereka hadapi, dengan adanya keterbukaan maka semua masalah dapat di selesaikan.
Joy sudah menghabiskan makanan dan minuman nya, dia sedang melihat Rina yang tampak tak berselera sama sekali.
Selesai makan, Joy mengajak Rina untuk pulang. Harry dan Jhony sudah menunggu di depan, Jhony mengendarai mobilnya dengan Harry yang duduk di belakang. Tak lama Joy tampak berjalan keluar dengan menggandeng tangan Rina yang wajahnya masih tampak kusut, rasanya Rina benar-benar menyukai Harry hingga dia masih kepikiran dengan ucapan gadis yang mengaku sebagai wanita yang di jodohkan kepada Harry.
Joy menuntun Rina berjalan menghampiri mobil Jhony yang sudah terparkir di halaman parkir cafe, Rina tidak menaruh rasa curiga kepada Joy dan Jhony. Sebab sudah biasa Jhony akan menjemput Joy saat sesi jalan-jalan mereka selesai, Joy membawa Rina masuk ke dalam mobil di kursi penumpang di belakang. Betapa kagetnya Rina saat mendapati Harry yang juga sudah duduk di sana, dia dengan segera akan keluar namun pintu mobil sudah terkunci dengan rapat.
Joy segera masuk dan duduk dengan manis di sebelah Jhony, sehingga membuat Rina membulatkan matanya.
"Buka kunci nya Joy, biar aku pulang naik bus saja" Ucap Rina dengan nada suara yang sedikit tinggi.
"Kita harus meluruskan masalah sebentar Rin, aku mohon ikut sebentar" Harry yang berada di sebelah Rina mencoba menenangkan gadis itu.
"Tidak ada kak, kita tidak pernah ada masalah jadi tidak perlu merasa terbebani" Rina berucap tanpa melihat ke arah Harry yang kini tengah memandang nya tak percaya, sebab saat ini wajah Rina sungguh terlihat sangat kesal.
"Kak Jhony, ayo kita jalan" Joy meminta Jhony untuk segera menjalan kan mobilnya, sesaat kemudian mobil Jhony pun sudah melaju di jalan raya.
Kini mereka bukan sedang menuju ke rumah, melainkan saat ini mereka sedang menuju ke sebuah tempat untuk menenangkan Rina yang tampak sangat kesal. Menurutnya ini tidak benar, dia kini berada di dalam satu mobil dengan seorang lelaki yang sudah di jodohkan.
"Sebenarnya kita mau kemana sih Joy, aku mau pulang ini udah sore nanti mama ku cemas" Mengatas namakan ibunya yang cemas, Rina mencoba membuat alasan yang mungkin membuat Joy mengurungkan niat nya untuk membawanya serta dengan Harry sekarang ini.
"Tidak akan, aku sudah mengabari tante dan tante sudah memberi ijin kepada kita" Joy berbalik ke arah Rina dengan senyum manisnya, dia merasa senang karena sekarang Rina tidak lunya alasan lagi karena satu-satunya alasan Rina adalah ibunya.
.
.
.
Stay Save Readers, Happy Weekend from Me😘
Thanks😉