
Joy dan Rina sedang menunggu bus yang biasa mereka naik untuk menuju rumah mereka, mereka menunggu dengan beberapa orang lainnya. Ada beberapa siswa dan beberapa penumpang umum. Tak lama bus yang mereka tunggu pun datang menjemput mereka, di dalam bus tampak begitu ramai beberapa karyawan sudah pulang dari kantor mengingat sekarang sudah sore jadi mereka sedikit berdesak desakan. Joy dan Rina pun tak mendapatkan kursi untuk duduk, mereka harus berdiri hingga ada penumpang yang turun barulah mereka bisa duduk.
Joy tak yakin jika hari ini mereka dapat duduk, karena tak seperti biasa hari ini sungguh ramai penumpang di dalam bus. Mau tak mau dia harus berdiri hingga sampai di tujuan nya, Joy dan Rina akhirnya turun dari bus. Mereka harus berjalan kaki setelahnya, karena bus tak mengantar mereka hingga di komplek perumahan mereka. Mereka berjalan bersisian dengan Joy berada di sisi luar, mereka pun berjalan sambil bercerita hingga tak menyadari dari belakang ada yang mengikuti dan dengan tiba tiba menarik tas yang di gunakan oleh Joy. Joy akhirnya jatuh tersungkur akibat tarikan dari orang yang menjambret nya itu, Rina yang terkejut dengan cepat membantu Joy yang terjatuh hampir di tengah jalan.
Seseorang dari belakang mereka juga ikut mengejar penjambret tersebut, orang itu juga mengendarai sepeda motor melaju dengan kecepatan tinggi.
"Joy kamu nggak apa apa kan?" memperhatikan sahabatnya yang kini wajahnya pucat pasih, seperti tak teraliri oleh darah.
"Ng, nggak apa Rin, aku cu, cuma kaget" menahan diri nya agar tak menangis akibat dari jambretan tadi
"Gimana nih Joy, tas kamu di jambret orang tadi. ponsel kamu di dalam kan?" Rina tak kalah paniknya melihat kondisi sahabatnya sekarang, barang barang sahabatnya hilang bersama dengan tas yang di ambil tadi.
"Udah lah Rin, ng,ngak apa lah. Ahh.." Joy tak ingin ambil pusing dengan tas nya, dia hanya ingin segera pulang sekarang karena masih syok dengan kejadian barusan. Saat hendak berdiri dia merasa sangat kesakitan di lututnya, dan membuat nya mengaduh kesakitan.
"Ya Tuhan Joy, kaki kamu berdarah banyak banget lagi. Ahh,, bagaimana ini..." kepanikan kini semakin menjalar Rina, memandang sekitar untuk mencari bantuan. Namun jalanan tampak sepi dan tak ada siapapun di sana, namun tiba tiba saja sebuah mobil berhenti di samping mereka dan orang yang berada di dalam mobil itu pun keluar.
"Joy,,, ada apa ini? Kenapa kalian bisa di sini?" Jhony terlihat panik berjalan mendekati Joy dan Rina
"Kak Jhony, syukurlah kakak di sini. Tolong bantu antar Joy ke rumah kak, tadi dia di jambret orang dan dia terjatuh di jalan. Lihat kakinya Joy sampe berdarah kayak gitu kak!" Rina menceritakan apa yang baru saja terjadi kepada Joy, Jhony langsung mengambil alih memapah Joy untuk masuk ke dalam mobilnya.
Namun belum sampai pada mobil Jhony, ada sebuah motor berhenti di depan mereka. Orang yang mengendarai motor tersebut turun dan berjalan mendekati mereka, dia membawa tas yang di kenali oleh Joy.
"Itu tas ku, kau siapa..?" menatap dengan heran orang yang baru saja datang dan menenteng tas milik Joy, dari pakaian nya tampak dia memakai seragam sekolah.
"Erick,, " Jhony yang lebih dahulu mengetahui bahwa orang yang memakai helm fullface itu adalah Erick temannya, serta dari motor yang di gunakan nya juga Jhony yakin bahwa itu Erick.
Rina melihat dengan penuh kebingungan, bagaimana Jhony bisa tahu jika itu Erick. Namun saat orang itu sudah berada di hadapan mereka, diapun membuka helm nya dan menyerahkan tas yang di pegang. Rina dengan cepat mengambil tas yang di sodorkan Erick, agar Jhony tak perlu melepaskan papahan nya dari Joy.
"Lain kali lebih hati hati lah jika berjalan kaki, jangan hanya mengobrol yang tidak penting!" memberi kan peringatan kepada Joy dan Rina yang mash menatap dalam kebingungan, tak mendapat jawaban Erick pun akhirnya berbalik.
"Te, terima kasih Kak Erick.." mengatakan kalimatnya dengan sedikit tergagap, masih belum hilang rasa takutnya akan kejadian tadi.
Sejenak berbalik melihat ke arah Joy, namun dia tak menjawab juga dan dia pun berlalu pergi dengan mengendarai sepeda motornya itu. Jhony menggerakkan tangannya yang memegang lengan Joy agar gadis itu tersadar.
"Ayo, aku antar pulang" menghela bahu Joy dan menuntun nya masuk ke dalam mobil, di ikuti oleh Rina yang membawa tas Joy. Mereka menuju ke rumah Joy.
*****
"Sayang, ada apa?" mama Joy tampak kaget melihat anaknya yang di papah oleh laki laki yang dia kenal dan juga Rina sahabat anaknya itu, dia pun memperhatikan Joy dari atas hingga ke bawah hingga menemukan luka di lutut anaknya yang berdarah cukup banyak "Kenapa kaki mu sayang, kamu kecelakaan?" kembali mama Joy menatap anaknya, namun mata Joy malah berkaca kaca dan menangis sesegukan. Dengan perlahan Jhony mengelus pundak Joy, mama Joy pun meminta Jhony membawa Joy ke sofa ruang tamu.
"Kenapa menangis sayang, tidak apa apa sayang jangan menangis. Kita obati lukamu dulu ya, nak Jhony tolong bawa Joy duduk di sofa dulu. Tante akan ambil kota obat sebentar, Rina duduk dulu sayang hubungi orang tuamu juga nak. Ini sudah sangat sore, mereka pasti akan cemas menunggu mu di rumah" mama Joy dengan sigap pergikedalam mengambil kotak obat, Jhony sudah membawa Joy duduk di sofa dan berlalu ke dapur sejenak mengambil air minum dan memberikannya kepada Joy.
"Sudah kak, terima kasih sudah mengantar ku pulang" Joy menghela air matanya yang masih keluar beberapa tetes di pipinya, dia sebenarnya agak malu menangis di hadapan Jhony. Namun dia tak dapat menahan rasa syok dan ingin menangis sejak tadi.
"Tidak masalah Joy" Jhony membenarkan rambut Joy yang sedikit berantakan dan berakhir menepuk pelan bahu Joy, Rina telah kembali dari teras yang tadinya dia sedang menelpon orang tuanya untuk memberi kabar kepada mereka sesuai perintah mama Joy. Rina tak ingin mengganggu suasana antara Joy dan Jhony, dia pun memilih ke dapur dan meminta air minum kepada bibi pengurus rumah yang di pekerjakan oleh keluarga Joy.
Jhony kini berjongkok di depan Joy dan masih menepuk pelan bahu gadis itu, dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Akhirnya mama Joy kembali dengan kotak obat di tangannya, dia pun duduk di samping anak nya dan dengan perlahan mengangkat kaki Joy ke atas paha nya. setelah merapihkan rok yang dipakai Joy, mama Joy pun langsung mengobati luka di kaki anaknya.
"Sebenarnya apa yang terjadi, hmm?" mama Joy mengedarkan pandangannya, bergantian melihat ke arah Joy yang tertunduk, Rina dan Jhony
"Tadi pas pulang sekolah saat turun dari bus tidak lama Joy di jambret tante, tasnya di tarik penjambret dan membuat Joy jatuh tersungkur di jalan raya. Lalu kakinya jadi begini" Jawab Rina
"Pantesan saja, kamu pasti ketakutan ya sayang" mama Joy membelai pipi sang anak, dan menghapus air mata yang menetes kembali.
"Tapi tas nya kembali tante, tadi juga ada murid sekolah kami yang mengejar jambret nya dan mengambil tas Joy kembali" menunjukkan tas Joy yang di jambret tadi
"Baik sekali orang itu mau membantu, itu kan hal yang berbahaya. Bagaimana kalau dia yang celaka, kamu sudah ucapin terima kasih ?" mama Joy menatap anaknya yang mengangguk kan kepalanya
"Oh iya, nak Jhony juga koq bisa barengan akhirnya dengan mereka?"
"Saya kebetulan baru pulang tante"
"Iya, untung ada kak Jhony juga. Joy udah pucat tadi tan, Rina juga uda bingung harus gimana. Nggak ada orang di sekitar" Rina menimpali
"Ya sudah sayang, kamu bersihkan diri dan istirahat dulu nak" Joy mengangguk
"Kalau begitu, saya permisi pulang dulu ya tante" Jhony berpamitan dan pulang ke rumah
Rina masih di rumah Joy, dan masih menemani nya di kamar. Orang tua Joy dan Rina memang sangat dekat, karena mereka sudah bersahabat dari Joy dan Rina masih kecil. Mereka mengatakan akan datang menjemput Rina sekaligus melihat Joy yang katanya terluka.
.
.
.
.
stay save readers jangan lupa dukung karya ku ya guysss...
terima kasih😉