Let See The True Love

Let See The True Love
70.



Setelah menyelesaikan sarapannya, kini mereka mulai bersiap untuk menjelajahi tempat oleh-oleh, mereka bermaksud untuk membeli buah tangan khas bali yang sangat diminati oleh wisatawan layaknya mereka.


"Aduh yang sedang kasmaran senyam senyum teruss..." Rina menghampiri Joy yang sedang sibuk merapihkan tempat tidur mereka.


"Apaan sih kamu Rin, ngaco aja deh"


"Kok ngaco sih, emang beneran kok sini lihat nih.." Rina menarik Joy hingga ke depan cermin meja rias yang cukup besar menampakkan pantulan keduanya di sana.


"...?" Joy bingung dengan apa yang di lakukan oleh Rina padanya.


"Coba lihatlah wajah kamu Joy, di sini terlihat dengan jelas bahwa kamu memang sedang memikirkan dirinya.." Rina menunjuk kedua pipi Joy yang sudah berwarna kemerahan "Mulut kamu bisa berbohong, tapi wajah kami enggak Joy" Rina menambahkan kalimatnya.


Joy tersenyum melihat Rina yang juga tersenyum padanya lewat pantulan cermin. Di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Siska mendengar percakapan dua orang sahabat tersebut dan merasa kesal.


*****


Berjalan-jalan di salah satu pasar seni yang cukup terkenal di kawasan Bali, mereka berencana membeli oleh-oleh yang dibuat oleh tangan-tangan terampil yang sebagian besar adalah penduduk setempat.


Mereka memanjakan mata menyinggahi setiap kios yang ada di sana untuk sekedar bertanya-tanya atau hingga membeli beberapa pernak-pernik yang cukup menarik minat mereka.


"Apa kamu mau yang ini, sepertinya cocok untuk mu" Jhony memegang sebuah kalung yang terbuat dari mutiara dan batu permata yang sangat cantik.


"Benarkah?"


"Sungguh, aku akan memakaikannya untukmu" Jhony membuka pengait kalung dan mengalungkannya di leher Joy, kedua orang sahabatnya serta Rina mencoba meledek mereka.


"Ahhh.. kesempatan aja bro" ejek Erick.


"Tau nih Mr. Jhon bisa aja nyari kesempatan" timpal Harry.


"So sweet banget kak Jhony..." Rina berseru, iri dengan keromantisan keduanya.


Sedangkan Siska, dia sudah mengepalkan kedua tangannya yang kini tertutupi dres pantai yang cukup panjang dan lebar kebawah.


Dia sengaja mengenakan dres yang begitu cantik untuk memikat hati Jhony hari ini, namun dia sama sekali tidak memiliki kesempatan itu sejak pagi karena Jhony selalu menghindar saat mereka berpapasan.


Joy sudah tersipu malu mendengar kalimat yang menggoda dia dan juga Jhony, dia pun menunduk untuk melihat kalung yang sudah di pakaikan oleh Jhony tadi.


"Cantik.." ucap Jhony sedikit berbisik namun masih jelas terdengar oleh Joy saat ini.


"Benar, kalungnya sangat cantik kak"


"Bukan kalungnya, tapi yang sedang memakai kalungnya yang cantik.." Bagai terhipnotis Jhony menatap kedua mata Joy dalam dan enggan berpaling dari sana,kegiatan keduanya semakin menyulut kekesalan Siska.


"Permisi pak, saya mau beli yang ini yang pak" Suara Siska menghentikan kegiatan saling pandang antara Joy dan Jhony, lalu mereka pun segera bergeser karena yang di tunjuk Siska tepat berada di samping mereka.


Sikap Siska mengundang kecurigaan dari Erick 'Mengapa lagi dengan Siska, bukankah kamu mengatakan bahwa sudah melepaskan Jhony untuk Joy. Lalu apa ini, ini sangat jelas Sis kamu enggak bisa mengelak lagi kalau kamu masih suka sama Jhony' kekecewaan terlihat di raut wajah Erick saat ini, bukan hanya Erick yang menyadari sikap Siska, Harry dan Rina juga sama sepertinya mengerti dengan sikap yang di tunjukkan oleh Siska.


"Ini cantik, saya mau yang ini dan juga ini..." Siska kemudian bersikap seolah tidak mengetahui apa-apa dan melanjutkan memilih apa yang di sukainya.


Begitu juga dengan Jhony, ia tidak mau menghiraukan Siska dan malah semakin ingin menyulut kecemburuan Siska. Jhony menyelipkan untaian anak rambut yang terurai ke belakang telinga Joy, Joy memang sangat cantik hari ini entah karna efek dari dres yang di pakai saat ini atau memang Joy sangatlah cantik jika memakai dres tersebut.


Joy mengenakan dres pantai berwarna merah muda dengan topi pantai yang berwarna cream dengan pita merah muda yang sangat serasi dengan dresnya, ia juga membawa sebuah tas jinjing hasil anyaman tangan yang tadi baru saja di belikan oleh Jhony karena melihat Joy kesusahan membawa ponsel dan dompetnya. Penampilannya sungguhlah manis sampai-sampai Rina beberapa kali mengabadikan momen itua dengan sebuah foto yang diambil dengan diam-diam, didalam foto tersebut terlihat pula Jhony yang sesekali tersenyum melihat ke arah Joy dan mengelus kepala dengan penuh lembu kepala Joy.


"Kak, kita kan mau cari oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman. Kenapa kakak jadi menanyakan kepada ku terus, aku juga akan membelinya sendiri. Lagi pula... ini sudah sangat banyak, nanti koperku bisa tidak muat menampung bajuku lagi kak..." Joy mencebikkan bibirnya, karena sedari tadi Jhony selalu menanyakan apa yang di inginkan oleh Joy dan membeli semua yang sudah di pegang oleh Joy.


"Ah.. sorry haha... aku lupa. Kalau begitu ayo kita cari untuk mama dan papa" putus Jhony, mereka kini sudah berjalan dipotong pasar.


"Em.. untuk momy juga" Joy menggeleng dan membenarkan kalimat Jhony.


"Oh iya, terima kasih sudah mengingatkan aku" Jhony mencubit gemas hidung Joy.


"Ayo kita jalan lagi kak" Joy menggenggam tangan Jhony dan hendak berjalan, namun tiba-tiba langkahnya terhenti karena Jhony tidak juga berjalan mengikutinya.


"Kenapa kak? Apa ada yang tertinggal?" Penasaran kenapa Jhony hanya diam, Joy pun bertanya kepadanya.


"Iya, harusnya kamu panggil aku sayang kalau nggak ada yang lainnya benar kan?" Jhony tersenyum jahil ke arah Joy yang seketika menjadi gugup dan salah tingkah.


"Kenapa tiba-tiba dan di tempat umum, kan malu kalau di dengar orang-orang kak" Joy mengedarkan pandangannya kekiri dan kanan, melihat keadaan sekitar yang cukup ramai namun tidak ada yang melihat kearah mereka.


"Eitsss... apa tadi?" Jhony menjepit kedua pipi Joy agar melihat ke arah nya.


"Kak.." Joy mencoba melepas tangan Jhony, tetapi Jhony menggeleng dan tetap ingin mendengar panggilan 'sayang' dari Joy.


"Baiklah, sa, yang.. huf.." Joy menghela nafas beratnya, karena sampai sekarang dia masih saja gugup jika sudah saling menatap dengan Jhony dari jarak yang begitu dekat.


"Pintar.. ayo jalan lagi" Jhony mengelus perlahan pipi Joy sebelum melepaskannya, dan kembali menggenggam tangan Joy dan membawanya berkeliling pasar lagi.


*****


Selesai berbelanja, mereka kini kembali berkumpul di sebuah restoran di dekat pasar. Melihat Joy yang sudah kelaparan, Jhony tak ingin mengambil resiko untuk pergi ke restoran terkenal yang cukup jauh dari lokasi mereka saat ini. Jadilah saat ini mereka menikmati makanan sederhana namun tetap dengan rasa yang begitu enak.


"Rasanya enak, apa kamu suka?" Tanya Jhony kepada Joy di sela-sela makan siang mereka.


"Benar, ini sangat enak"


"Baguslah kalau kamu suka, karena tadinya aku berencana mengajak kamu makan di tempat favorit aku sama momy kalau sedang kemari!" ujar Jhony sebelum menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


"Maaf kak, karena aku sudah sangat lapar jadi kita ke tempat ini untuk makannya" Joy merasa tidak enak kepada Jhony dan yang lainnya.


"Eyyy... ini bukan tempat yang buruk Joy, di sini makanan nya juga udah kayak bintang lima kali!" Seru Rina.


"Benar.. ini nggak juga udah enak kok, kita bisa ke tempat yang Jhony bilang lain waktu. Lagian masih beberapa hari lagi sebelum kembali ke Jakarta bukan?" Harry ikut menimpali pembicaraan Joy dan juga Jhony.


Lalu mereka pun melanjutkan makan makanan mereka dengan lahap agar cepat selesai dan melanjutkan mengelilingi Bali.


.


.


.


stay save readers😉