
Di dalam kantor ceo PT. Terbit Surya.
"Apakah Siska sudah memutuskan universitas mana yang akan dia pilih?" sejak dulu mereka sudah membicarakan tentang universitas yang akan di pilih oleh anak mereka, pasalnya nyonya Riska sudah berjanji akan membiayai pendidikan Siska, putri sahabat mendiang suaminya.
"Saya sudah bertanya kepadanya, namun dia masih belum memberi jawaban nyonya" beberapa waktu lalu, tuan Ferry dan Siska sudah membicarakan tentang universitas yang akan di pilih oleh putri satu-satunya, Siska. Namun Siska tidak juga memberi jawaban, karena dia sudah pernah menolak tawaran untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Dia tidak ingin meninggalkan ayahnya sendiri di sini, sebab ia satu-satunya keluarga yang dimiliki oleh papanya.
"Apa dia tidak berniat untuk melanjutkan study keluar negeri?" tebak nyonya Riska.
"Begitulah, dia mengatakan bahwa tidak ingin meninggalkan saya sendiri disni" pandangan tuan Ferry tampak menerawang, entah apa yang dipikirkan pria paruh baya tersebut "Hah... saya tidak bisa memaksanya nyonya, semua saya serahkan kepada Siska. Apapun keputusannya, saya akan mengikutinya" mengulas senyuman kepada istri sahabatnya yanh juga sebagai pemilik perusahaan di mana dia bekerja saat ini.
"Baiklah, kita memang tidak boleh memaksa kehendak anak-anak. Asal dia merasa bahagia, itu juga adalah kebahagiaan bagi kita, bukan begitu?" dengan pemikiran yang sama, yaitu tidak ingin mengekang keinginan anak dan menjadi egois sebagai orang tua.
"Benar.. oh iya, bagaimana dengan Jhony? Apa dia benar-benar akan ke universitas yang ada di Amerika?"
"Ya, dia akan melakukan nya. Karena itu adalah janjinya kepada mendiang ayahnya. Ayahnya dulu selalu mengatakan akan membanggakan anaknya jika bisa masuk ke salah satu universitas terpopuler di sana" sambil mengucapkan kalimatnya, nyonya Riska seakan menerawang membayangkan wajah sang suami yang tersenyum.
"Tentu dia akan sangat bangga, apalagi saat ini Jhony sudah mulai membantu bisnisnya. Surya sungguh beruntung memiliki anda dan juga Jhony, sekarang beliau bisa tenang di sana" sebagai sahabat sekaligus partner dalam merintis usaha sahabatnya itu, tuan Ferry tentu tahu bagaimana sahabatnya itu sangat menyayangi dan menjaga keluarganya.
Tidak hanya keluarganya, bahkan dia juga kerap kali membantu tuan Ferry saat dalam kesulitan seperti saat sang istri hendak menjalani operasi, ayah Jhony lah yang membantu membiayai semua administrasi rumah sakit.
"Sekarang aku hanya ingin melihat putra kami dapat menjalani kehidupannya dengan bahagia, tanpa perlu mengkhawatirkan apapun"
"Itu juga yang saya rasakan nyonya, saya ingin Siska memilih sendiri universitas yang di inginkan bahkan untuk bidang yang dipilih pun saya akan selalu mendukungnya. Sebab, hal yang dipaksakan biasanya akan membuat mereka tertekan" jelas tuan Ferry.
"Kau benar tuan Ferry, mereka bukan lagi anak kecil yang selalu harus kita bimbing. Malah terkadang aku merasa Jhony lebih dewasa dari dugaanku, sungguh waktu berlalu begitu cepat"
saat mereka masih dalam suasana mengenang pasangan masing-masing, dan juga anak mereka yang kini sudah beranjak dewasa, suara ketukan di pintu membawa mereka kembali.
tok tok tok setelahnya pintu pun terbuka.
"Mom, om Ferry, apa Jhony mengganggu pembicaraan kalian?" Jhony terlihat tak enak karena berfikir telah mengganggu pembicaraan ibunya bersama direktur kepercayaannya yang tidak lain adalah ayah Siska.
"Tidak sama sekali, kami hanya sedikit bercerinta tentang masa lalu. Ada apa kau kemari sayang?" sebenarnya Jhony datang tanpa sepengetahuan ibunya, selain dari bagian program sendiri yang meminta dia datang, sebenarnya dia juga ingin memberi kejutan kepada ibunya.
"Oh iya, aku kemari karena ada pemberitahuan bahwa program kita ada yang harus di perbaiki mom"
"Oh ya, kenapa mereka tidak mengabari momy dan malah mengabarimu, nak?" menunggu jawaban Jhony dengan sejumlah rasa penasarannya.
"Sungguh kau tidak perlu sampai seperti ini sayang, tugasmu adalah belajar dan untuk masalah di kantor momy bisa menghubungi orang yang memang ahli di bidangnya yang sudah sering kita minta bantuannya"
"Apa momy merasa aku tidak ahli dalam hal program? momy berbicara seakan aku tidak bisa menanganinya" kali ini ibu Jhony tidak bisa membantah ucapan Jhony, karena memang benar Jhony ahli dalam program dan dia juga sudah banyak mempelajari program khususnya yang di gunakan di perusahaannya ini.
"Bukan seperti itu nak, momy hanya ingin kamu fokus dengan pelajaranmu. Kamu tidak harus mengurusi perusahaan juga, masih ada momy yang mengurusnya tenang saja sayang" nyonya Riska berujar demikian, meski ia tahu jika Jhony sudah memulai sesuatu dia enggan meninggalkannya tanpa menyelesaikannya.
"Aku juga sudah fokus dengan pelajaran ku mom, momy tahu sendiri bagaimana nilaiku bukan? Aku tidak bermaksud menyombongkan diri, hanya saja aku merasa keahlian yang ku punya akan sia-sia jika tidak di manfaatkan, benarkan om Ferry?" tuan Ferry yang sedari tadi hanya mendengarkan percakapan sepasang ibu dan anak itu pun di minta pendapatnya oleh Jhony, lelaki paruh baya itu bingung harus menjawab apa. Jika dia membenarkan perkataan Jhony, nyonya Riska mungkin saja akan merasa kesal kepadanya. Namun sebaliknya jika tuan Ferry menolak keinginan Jhony itu sama saja dengan memutuskan harapan atas cita-cita anak bosnya ini.
Kemudian tuan Ferry memganggukkan kepalanya, pertanda bahwa ia setuju terhadap Jhony.
"Benar katamu nak Jhony, kamu memang berbakat di bidang program dan saya rasa nak Jhony akan menjadi programer yang hebat di kemudian hari" tidak di ragukan lagi bahwa Jhony adalah murid yang teladan dan juga cerdas, dia selalu masuk sepuluh besar setiap tahunnya.
"Hah ... bagus, sekarang kau mulai mencari dukungan di belakang momy yah.." meski sedikit kesal, namun nyonya Riska tetap menampilkan senyuman di wajahnya yang masih tetap cantik dan segar di usianya yang sudah tidaklah muda iti.
"Hehe.. tenang saja mom, aku akan selalu mengutamakan pendidikan. Jadi momy tidak perlu khawatir, oke!" seru Jhony sambil mengedipkan sebelah matanya kepada sang mama "Ah ini ada kue yang ku beli bersama Joy saat singgah di cafe, momy bisa menikmatinya bersama om Ferry. Kalau begitu aku akan segera ke ruangan pemprograman, sampai jumpa om Ferry. Mom nanti kita pulang bersama, tunggu aku oke!" setelah menyelesaikan kalimatnya, ia pun berjalan menuju pintu ruangan sang mama dan membukanya kemudian ia pun kembali menutupnya setelah ia keluar dari ruangan tersebut.
"Benarkan yang saya katakan nyonya, anda dan tuan Surya sungguh memiliki anak yang hebat dan membanggakan"
"Kau benar tuan Ferry, aku sungguh bangga padanya. Jika saja mas Surya tidak meninggalkan seorang putra sepertinya bersamaku, mungkin sekarang aku sudah terpuruk dan.. perusahaan ini mungkin saja tidak akan berkembang atau malah akan bangkrut.."
"Benar nyonya, kini tuan Surya pasti tengah tersenyum memperhatikan putranya yang sudah tumbuh menjadi lelaki yang begitu hebat"
"Istrimu juga pasti akan senang melihat putri kalian yang begitu menyayangi ayahnya"
Setelah saling memuji satu dengan lainnya, mereka pun tersenyum dan mulai menikmati kue yang sudah di bawakan oleh Jhony.
.
.
.
hai readers maaf ya lama ngak update, karena ada sedikit kendala. Semoga nanti nya sy bisa lebih baik lagi dalam berkarya, terima ksih
stay save ya thanks😉