Let See The True Love

Let See The True Love
74.



Perjalanan udara yang memakan kurang lebih satu jam sudah mereka lewati, kini mereka sudah berjalan keluar untuk mencari jemputan masing-masing. Sebelum menaiki pesawat, semua sudah menghubungi keluarga masing-masing untuk menjemput mereka terkecuali Joy. Jhony memaksa untuk mengantarkannya pulang ke rumah terlebih dahulu, jadilah kini Joy naik ke mobil jemputan bersama Jhony.


Sebelum berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing, mereka berpamitan dahulu sejenak. Di depan bandara sudah terparkir beberapa mobil diantaranya mobil Jhony, mobil Harry, mobil Erick dan mobil Siska.


Sudah dapat dipastikan bahwa Joy dan Rina ikut dalam mobil pacar mereka, Jhony dan Harry, sedangkan Siska dan Erick di jemput oleh supir masing-masing. Sebenarnya saat masih di Bali, Erick sudah menawarkan kepada Siska untuk pulang bersamanya tetapi Siska menolak dan lebih memilih untuk di jemput oleh supir ayahnya.


"Kalau begitu, sampai jumpa lagi kawan-kawan.." tukas Jhony.


"Ah.. benar, sampai jumpa bro. Thank you yah liburannya di villa lo" ucap Erick sambil menepuk bahu Jhony.


"Santai aja bro.. hehe" balas Jhony.


Setelah semuanya selesai saling berpamitan, mereka berjalan ke mobil masing-masing. Terlihat Joy berjalan berdampingan dengan Jhony yang merangkul bahunya, semua barang-barang mereka sudah di masukkan kedalam mobil oleh supir pribadi Jhony.


"Apa kamu enggak capek antarin aku pulang dulu?" Suara Joy terdengar saat mereka hampir sampai di mobil.


"Ya enggak lah, memangnya capek kenapa? Lagian tadi aku juga sempat terlelap sebentar di pesawat, lagian kalau sama kamu aku enggak akan merasa lelah" Jhony mengedipkan sebelah matanya kepada Joy, menggoda gadisnya yang tadi tampak serius.


"Ih.. gombal deh" cubitan yang cukup keras mendarat di kulit perut Jhony.


"Auhhh.. sayang sakit.." sambil menggosok bekas cubitan Joy, Jhony berucap lirih dengan wajah yang memelas kepada Joy.


"Sorry..sorry.. aku terlalu kuat ya cubitnya?" merasa tak tega, Joy mengelus perut Jhony yang tadi sudah di cubit. Namun Jhony malah menahan tawa melihat tingkah Joy, dia hanya mengerjai gadisnya dan mengatakan 'sakit'.


"Haha.. kamu lucu banget sih sayang, aku nggak kenapa napa kok. Aku cuma bercanda, cubitan kamu sama sekali nggak buat aku sakit!" Jhony mengelus kepala Joy dengan lembut.


"Huhh... ku kira kamu benaran kesakitan tahu!" Joy memukul pelan bahu Jhony, namun yang di pukul malah tersenyum lalu menggenggam tangan Joy dan menuntunnya masuk ke dalam mobil.


Siska yang melihat keduanya menaiki mobil yang sama menjadi semakin tak suka, kekesalan kembali memuncak di ubun-ubun nya.


Brakk.. suara pintu mobil di tutup dengan kencang sehingga mengagetkan sang supir.


"Cepat jalan pak" perintahnya kemudian.


"Baik non" ucap sang supir yang terkejut melihat sikap Siska yang tidak seperti biasanya.


'Mau sampai kapan kamu bersikap seperti itu terus Sis, hahhh...'


Erick yang juga melihat Siska yang memperhatikan Jhony dan Joy hanya bisa bergumam dalam hati.


*****


Mobil sudah berhenti sejak sepulu menit yang lalu di depan rumah Joy, tetapi tidak juga keduanya turun dari mobil.


Melihat kedalam, ternyata Joy sedang tertidur dengan bersandar di bahu Jhony.


Tak ingin mengganggu tidur Joy, Jhony sengaja tidak membangunkan gadis yang kini bersandar di bahunya itu. Gadis tersebut tampak lelah sehingga baru beberapa menit mobil keluar dari bandara saja ia sudah terlelap.


Saat sampai di depan rumahnya dan mobil berhenti pun Joy masih tertidur lelap.


Akhirnya Jhony meminta supirnya untuk menunggu hingga Joy terbangun, sang supir pun mengerti karena kekasih tuan mudanya masih tertidur jadi mereka akan menunggu hingga ia terbangun.


Supirnya pun tahu situasi, ia tak ingin mengganggu keduanya dan memilih keluar dari mobil dengan alasan ingin merokok.


Ia berjalan sampai di sebuah pohon yang kebetulan dibawahnya terdapat kursi kayu tidak jauh dari mobil.


Cukup lama Jhony memperhatikan Joy yang tertidur, setelah supirnya keluar dia sama sekali tidak bergerak dan hanya memandangi wajah polos Joy yang tertidur pulas.


Jhony memperhatikan keseluruhan wajah Joy, namun seketika dia terhenti di satu titik. Dimana lagi kalau bukan di area bibir Joy, bibir itu sudah pernah di rasakannya namun entah mengapa, saat ini dia kembali teringat ketika bibir mereka saling bertemu.


'Mengapa rasanya aku seperti orang bejat, hanya menatap bibirnya saja sudah membuatku berdebar dan ingin merasakannya lagi. Sungguh bodoh.." Didalam diri Jhony seakan ada iblis yang berteriak meminta untuk m*****m kembali kekasihnya yang kini tertidur, namun tentu saja dia menahan dengan semua tenaga bisikan iblis yang selalu berdengung di telinganya.


Saat Jhony mulai gusar dengan suara-suara iblis tadi, bersamaan itu pula Joy terbangun dari tidurnya.


"Mmmm... " Joy melenguh dan melihat sekeliling "Aku ketiduran ya, apa kita sudah lama sampainya?" Tanpa rasa bersalah sedikitpun Joy menatap Jhony yang sepertinya kebingungan sekarang.


"Ah.. i-ya.. kita sudah sampai, baru, baru saja sampai dan... baru saja akan aku bangunkan" Dengan tergagap Jhony menjawab pertanyaan Joy.


"Begitu yah, aku turun dulu ya. Sampai nanti" Joy baru saja hendak membuka pintu mobil, namun Jhony meraih tangan Joy tadi terulur di bagian dalam pintu mobil.


Dari arah belakang terlihat Jhony seperti hendak memeluk Joy, namun posisi mereka saat ini semakin membuat Jhony semakin salah tingkah.


"So, sorry Joy.. " dengan cepat Jhony membanting tubuhnya ke belakang dan dukkk..." Akhhh.... sshhhhh" Kepalanya akhirnya terbentur ke dinding mobil dengan cukup keras, dia pun dengan reflek memegang kepalanya dengan kedua tangannya.


"Kak Jhony.. " Joy yang kaget melihat wajah Jhony yang sudah memerah menahan sakit langsung mendekat dan memegang kepala Jhony "Sakit sekali ya? Kenapa kakak nggak hati-hati sih?" Joy tampak sedih melihat Jhony yang menahan sakit akibat terbentur tadi.


"Eng, gak tahu juga Joy. Ahh... sakit sekali" keluh Jhony.


"Sini biar aku bantu gosok bagian yang sakit" Joy tanpa sadar mengalihkan kepala Jhony untuk bersandar di bahunya dengan posisi telungkup.


Apa yang dilakukan Joy saat ini membuat jantung Jhony tak dapat di kendalikan lagi, matanya melotot saat melihat apa yang ada di hadapannya saat ini.


Wajah Jhony saat ini tepat berada di atas d**a Joy, yang tertutup oleh baju kaos berwarna hijau muda.


Jhony seketika menahan nafasnya yang mulai tak menentu, diiringi dengan gerakan Joy yang menggosok bagian belakang kepalanya Jhony semakin dibuat merinding. Rasa aneh mulai menghinggapi dirinya, sekuat tenaga Jhony menahan gejolak batinnya yang sedikit demi sedikit mulai goyah.


"Sudah, sudah Joy.. sudah tidak terlalu sakit"


Elaknya, sambil membenarkan duduknya kembali.


"Apanya yang tidak sakit, ini ada benjolan di belakang kepala kamu!" tukas Joy.


"Biar nanti pulang baru ku oleskan balsem saja, besok juga hilang benjolnya" Jhony mencoba tersenyum, namun masih terlihat sedikit kaku.


"Tidak tidak, ayo kita masuk ke dalam. Aku akan meminta mama mengambilkan balsemnya" dengan gerakan cepat, Joy sudah membuka pintu dan keluar dari mobil.


Melihat kembali ke dalam mobil, Jhony masih duduk dan terbengong di sana.


"Ayo Jhon, kita masuk dan oleskan balsem dulu di kepala kamu!" ujar Joy kemudian.


'Bagaimana aku bisa menghindarinya lagi, hah... semoga mama bisa membantuku keluar dari situasi sulit ini'


Jhony mendesah dan turun dari mobil, ia pun berjalan mengikuti Joy yang sudah mendahuluinya.


Sebelumnya dia meminta kepada supirnya untuk membawakan koper Joy dan menunggunya di dalam mobil.


.


.


.


stay save readers


thanks yang sudah singgah untuk membaca karya aku yach😉