Let See The True Love

Let See The True Love
24.



Setelah kepergian nyonya Riska, Joy menatap Jhony untuk meminta penjelasan dari nya. Namun Jhony tersenyum dan menggaruk belakang kepala nya yang tidak lah gatal, dia berharap bisa mengusir kecanggungan dengan sikap nya itu. Namun saat tak juga mendapat penjelasan dari Jhony, Joy terhenyak sesaat ketika di panggung mengatakan bahwa pemilik perusahaan akan segera memberikan pidato, Joy pun seketika mengalihkan pandangannya ke arah panggung dan menunggu sang pemilik naik ke atas panggung dan memberi kan pidato.


Setelah pemandu acara nya berhenti berbicara dan berjalan ke sudut panggung, sesosok wanita paruh baya yang masih cantik dan tampak berwibawa naik ke atas panggung dan akan memulai pidatonya. Betapa terkejutnya Joy saat dia melihat bahwa ibu Jhony lah yang melakukan pidato di atas panggung, Joy pun menatap lekat nyonya Riska dengan rasa kagum yang begitu besar. Sosok nyonya Riska yang tadi berada di stand nya sungguh seorang pengusaha yang mengesankan bagi Joy, bahkan beliau juga sangat ramah dan baik hati.


"Kak..jadi tante adalah pemilik perusahaan ini, berarti kak Jhony tuan muda perusa.." kalimat Joy terhenti saat Jhony menghentikan nya dengan jari telunjuknya.


"Sstt.. jangan kencang kencang suara nya, tolong rahasiakan ini ok" Jhony tidak ingin di ketahui oleh yang lainnya, kecuali beberapa teman sekelasnya yang memang satu sekolah dengan nya dari kecil.


"Ehmm.." Joy menganggukkan kepala nya, kemudian dengan cepat ia berbalik membelakangi Jhony yang saat ini bingung mengapa Joy langsung membelakanginya.


Joy memegang kedua pipinya yang memanas akibat tatapan dari Jhony tadi, wajah mereka sangat dekat tadi dan hampir membuat jantung Joy berdendang ria di dalam sana. Jhony kemudian melihat Joy dari arah belakang dan mengetahui bahwa gadis itu sedang memegang kedua pipinya yang tampak memerah, Jhony tersenyum dan kembali sibuk dengan kerjaan nya tak ingin mengganggu sang gadis yang menggemaskan tersebut.


Tak berapa lama kemudian, Harry dan Rina sudah kembali ke stand. Mereka memperhatikan Joy dan Jhony yang tampak sibuk sendiri, Rina dan Harry saling melirik sejenak dan tersenyum lalu ikut membantu Joy dan Jhony.


Pengunjung mulai berdatangan di area basement yang sudah di sulap seperti pasar tradisional itu, karyawan kantor juga siswa siswi sudah memadati tempat tersebut. Mereka juga membawa serta saudara, keluarga bahkan ada juga yang membawa teman untuk menikmati kuliner juga berbelanja barang barang unik yang di jual saat ini.


Joy dan Rina tampak sibuk melayani pengunjung yang datang untuk melihat lihat serta menawarkan barang barang yang mereka jual, sampai pada jam istirahat mereka pun makan bersama di dalam stand. Sebelumnya, Rina dan Harry yang pergi membeli makanan di stand yang ada di sana. Setelah berjalan bersama tadi, sekarang Harry dan Rina pun makin akrab dan tidak canggung lagi saat mereka terlihat berduaan. Joy dan Jhony pun saling melirik melihat mereka yang malah menawarkan diri untuk pergi berdua, namun Joy dan Jhony tak ingin ambil pusing malah mereka ikut senang melihat teman nya yang juga tampak bahagia.


"Oh iya, ini makanan dari stand kak Siska loh. Aku baru tahu kalau kak Siska itu jago masak juga ternyata" Rina berucap di sela sela waktu makan mereka


"Siska memang hebat memasak, karena mama nya yang sudah meninggal sejak dia masih kecil. Jadi dia lebih mandiri dan memasak makanan untuk papa nya" Jhony menjelaskan alasan Siska bisa pandai memasak, membuat Joy memandang nya penasaran.


"Iya bener tuh, dia juga dewasa dan keibuan. Beruntung banget tuh yang jadi suaminya nanti" sambung Harry yang langsung mendapat tatapan tak suka dari Rina


"Oh, begitu rupanya.." Joy kembali menikmati makanan nya, sebenarnya dia ingin bertanya bagaimana kak Jhony tahu bahwa ibu Siska sudah meninggal sejak Siska masih kecil tapi dia enggan untuk bertanya. Tapi Joy tak mau dianggap terlalu mencampuri urusan Jhony lebih jauh, dia pun memilih diam san melanjutkan makan nya


"Oh soal itu, kami satu sekolah mulai dari SD. Jadi sudah pasti kami tahu bagaimana keluarga masing masing" Harry yang menjawab pertanyaan dari Rina


"Kak Harry.. kan aku tanya sama kak Jhony, kenapa kak Harry yang jawab" Rina yang memang sudah kesal kepada Harry malah tambah tidak suka dengan jawaban yang di berikan, entah mengapa Rina merasa Harry lebih ingin membahas masalah Siska di banding Jhony.


"Kenapa memangnya, nggak boleh?" Harry yang bingung karena Rina yang tiba tiba marah malahan balik bertanya


"Nggak.." ketus Rina


"Udah udah makan dulu yuk, makanan nya nanti enggak enak lagi kalau udah dingin" putus Joy tak mau ambil pusing lagi masalah Siska, dia merasa tak pantas merasa cemburu kepada Jhony karena dia belum membalas perasaan nya. Saat dia memikirkan kata cemburu dia malah tersenyum, sebab mungkin perasaan nya sekarang ini sama dengan Jhony namun dia masih ragu untuk menerima perasaan Jhony.


Jhony melihat Joy intens, menyadari sisi lain dari Joy yang tampak tenang dan tidak gegabah mengambil kepustusan membuat Jhony semakin mengagumi sosok Joy saat ini. Jhony tersenyum sembari memandangi Joy, seseorang di depan stand melihat Jhony yang terus memperhatikan Joy yang masih menikmati makanan nya saat ini. Dia adalah Dina yang sedang memperhatikan Jhony yang tengah memandangi Joy. orang yang di anggap nya sebagai rival untuk mendapatkan Jhony. Dina pun mengepalkan tangan nya dengan kesal, namun dia akhirnya dia memikirkan cara untuk mendekati Jhony.


"Permisi..ehh maaf, aku ganggu ya?" berpura pura mengunjungi stand Joy secara tidak sengaja adalah awal misi nya kali ini


"Udah tau ganggu masih aja di sono" gumam Rina yang merasa kesal dengan kedatangan Dina 'mau apa sih nih nenek lampir ke sini, pasti mau cari gara gara lagi deh' Rina membatin


"Nggak apa apa Din, ini kami juga uda selesai makan nya. Yuk masuk lihat lihat dulu" ajak Joy segera beranjak berdiri, namun karena terlalu lama duduk dan tiba tiba berdiri diapun kehilangan keseimbangan yang membuat nya hampir terjatuh. Dengan sigap Jhony menahan kedua bahu Joy dari belakang, sehingga Joy pun terjatuh dan merasakan kerasnya lantai basement. Lama Jhony memandang Joy yang berada dalam pegangannya begitu pula dengan Joy.


"Ehemm.. aduh jangan bikin adegan drakor di sini dong, baper nih aku jadi nya" Rina berdeham dan menggoda Joy dan Jhony, Jhony segera memperbaiki posisi tubuh mereka saat ini sehingga Joy sudah berdiri dan dia pun jadi salah tingkah.


"Rina.. apa an sih kamu" pipi Joy langsung merah merona, namun dengan segera dia mengatur wajahnya agar kembali normal


Jangan di tanya dengan wajah Dina saat inj, dia sudah sangat kesal dan rasanya mau meledak saat ini juga. namun dia juga tetap menjaga agar tidak melakukan hal yang sangat di inginkan nya saat ini, yaitu menjambak rambut Joy habis habisan.