
“Kenapa kau terus menangis? Apa kau begitu tidak ingin aku pulang?”
“Apa yang kau katakan? Ini semua salahmu, kenapa pulang tidak memberi kabar? Kenapa membuat orang cemas? Apa kau tahu aku begitu kebingungan untuk menghubungimu? Apa kau tahu betapa aku khawatir disini?” Joy masih menangis dalam pelukan Jhony, kemeja yang dikenakan lelaki itu bahkan sudah basah dibagian depannya.
“Maafkan aku, aku hanya mau memberikan kejutan padamu sayang. Aku tidak berfikir panjang bahwa akan membuatmu begitu mencemaskanku.”
Jhony dengan lembut membelai kepala Joy, seperti yang ia lakukan dulu saat membujuk Joy untuk berhenti menangis. Sesekali ia mengecup puncak kepala Joy dengan penuh kasih sayang, wanita yang ia cintai sejak SMA ini selalu bisa membuat hidupnya lebih berwarna. Dengan setiap tingkah manjanya, dan kadang juga bisa menjadi wanita yang begitu dewasa untuknya.
“Maaf? Ini rasakan maaf dariku, rasakan ini. Dasar jahat, jahat, jahat... Ahh...”
Melepaskan pelukannya, Joy beralih mengambil bantal dan terus memukulkan bantal itu ketubuh Jhony. Tanpa sengaja Jhony terjatuh diatas kasur Joy dan tangannya menarik lengan Joy hingga ikut terjatuh di atasnya, kini keduanya sudah berada pada posisi yang sangat dekat dan hampir tidak berjarak.
“Maaf sayang.” Jhony mengecup bibir Joy dengan lembut, gadis itu hanya bisa memejamkan mata dengan nafas yang masih memburu. Semakin lama, kecupan itu menjadi ******* dan cukup lama mereka dalam posisinya tadi. Akhirnya Joy tersadar dan segera mengangkat tubuhnya untuk menjauh dari Jhony, ia melirik kearah pintu kamar yang terbuka lebar.
“A, aku mau mandi dulu. Tunggulah di luar, aku akan segera turun.” Jhony tersenyum melihat tingkah Joy yang menjadi begitu canggung.
“Benar, kau harus mandi. Pantas saja aku mencium bau aneh tadi, haha...” Jhony mengecup kening Joy setelah membisikkan kalimatnya di telinga Joy, saat hendak berjalan kepintu kamar Joy melempar bantal kearah Jhony namun terlambat. Pintu kamar sudah di tutup oleh Jhony sebelum berhasil menabrak tubuh lelaki itu.
“Dasar laki – laki menyebalkan!” Teriak Joy, dibarengi dengan senyum simpul dan pipi merona. Ia memegang bibirnya kembali, ia masih meraskan lembut dan hangat sentuhan dibibirnya tadi. “Ini bukan mimpi, ini nyata. Dia pulang, Akhhhh...” Joy menutup wajahnya dengan bantal agar suaranya tidak terdengar oleh kedua orang tuanya, namun gadis itu tidak tahu bahwa Jhony masih berdiri di depan pintu kamarnya dan mendengar semua yang ia ucapkan tadi bahkan teriakannya juga begitu jelas terdengar oleh Jhony.
“Ya... Aku pulang sayang, dan tidak akan meninggalkanmu lagi.” Kedua sudut bibir Jhony tersungging sempurna, ia juga mengelus dengan perlahan bibirnya dan berjalan menuruni anak tangga menuju keruang keluarga dimana papa dan mama Joy sedang menunggu keduanya untuk turun dan berbincang.
Jhony yang yang sejak dari atas tersenyum sambil menuruni anak tak menyadari bahwa tingkahnya diperhatikan oleh kedua orang tua Joy, ia masih saja tersenyum dan sesekali memegang bibirnya.
“Lihat pa, kenapa dia begitu bahagia sekarang.”
“Hushh mama, jangan diperhatikan terus. Nanti dia jadi salah tingkah, pura – pura aja enggak tahu. Mereka masih muda, tentu harus ada pemanisnya.” Papa Joy begitu pengertian, dan menyenggol bahu sang istri untuk mengalihkan perhatiannya agar tidak mengganggu Jhony yang sedang di mabuk cinta.
Tidak begitu lama Joy sudah turun keruang keluarga dengan pakaian rumahan, wajahnya sudah tampak begitu segar tidak seperti saat pulang tadi.
“Eh, sayang kamu kok pakai pakaian rumah? Enggang pergi jalan keluar?” Mama Silvi penasaran.
“Em, enggak ma. Jhony pasti capek karena baru sampai tadi, besok – besok kan bisa ma.”
“Benar ma, jangankan Jhony. Joy aja tadi kelihatan capek banget, iya kan sayang?”
“Ehem, iya sih pa hehe.” Joy teringat dengan kondisinya tadi saat pulang kerumah dengan wajah lelah dan lesu.
“Ahhh... Begitu ya, benar juga. Lain kali kalian bisa jalan – jalan sepuasnya.”
Cukup lama mereka berbincang, sampai kedua orang tua Joy memilih untuk kembali kekamar untuk beristirahat dan meninggalkan Jhony dan Joy diruang keluarga sambil menonton tv.
“Bagaimana pekerjaan kamu di kantor yang dijalan oleh Harry? Apa ada kendala?”
“Terus, kenapa tadi muka kamu di tekuk begitu? Seperti pasukan yang kalah berperang gitu.”
“Ini semua tuh gara – gara kamu yang udah bikin aku kepikiran seharian sama kamu. Aku jadi enggak fokus kerja, jadinya aku lembur selesaikan pekerjaan dikantor.”Joy mencebikkan bibirnya, kesal dengan pertanyaan yang sudah pasti diketahui oleh Jhony.
“Sayang maafin aku, aku enggak bermaksud membuat kamu cemas.”
“Aku udah maafin kamu, tapi jangan seperti itu lagi. Aku rasanya hampir gila mikiran kamu, takut kamu kenapa – napa.”
“Iya, iya. Aku janji.” Jhony mencium gemas kepala Joy yang sudah keramas, wangi yang selalu ia rindukan saat tinggal di luar negeri.
“Momy udah tahu kamu pulang hari ini?” Joy meletakkan kepalanya dibahu Jhony, sikap manja yang selalu ia lakukan didepan kekasihnya itu.
“Udah, tadi pas sampai di bandara juga udah hubungi momy kalau aku kesini dulu.” Sebelah tangan Jhony mengelus bahu Joy.
“Begitu...” Setelah itu Joy terdiam cukup lama, Jhony yang menyadari jika Joy sudah diam terlalu lama menoleh kan kepala memandangi Joy.
Benar saja dugaannya, kekasihnya itu sudah tertidur dengan bersandar dibahunya seakan itu adalah tempat paling nyaman untuk Joy.
“Kamu ini, bisa – bisanya tidur di samping aku. Aku udah menahan diri sejak tadi, kamu malah enak nempel dan tidur disamping aku. Kenapa kamu begitu tidak waspada kepadaku, aku bukan Jhony yang dulu sayang.” Jhony mencubit dengan gemas hidung mancung Joy, menempelkan pipinya dikening Joy ia menghela nafas dengan kasar. Memendam keinginannya untuk memeluk kekasihnya, namun yang ia dapat malah menjadi bantal yang empuk untuk Joy. “Aku enggak bisa berlama – lama lagi seperti ini, aku harus segera melakukannya.” Jhony mengusap dengan kasar wajahnya, dan mulai menggendong Joy kekamarnya.
Setelah selesai meletakkan Joy di tempat tidur, tidak lupa Jhony mencium kening Joy dan bibir gadis itu sekilas. Ia mengangkat kopernya keluar kamar Joy dengan perlahan, takut membangunkan gadisnya yang sudah tertidur.
Lalu ia sendiri segera pulang karea jemputannya sudah datang, ia pun pulang bersama pak supir yang biasa selalu mengantar jemput ibunya.
Sampai dirumah, Jhony disambut oleh ibunya yang terlihat begitu bahagia. Wanita paruh baya itu masih tetap terlihat begitu cantik, gurat halus diwajahnya memang sedikit lebih jelas terlihat. Namun tidak mengalahkan cantiknya paras wanita yang sudah hampir lima puluh lima tahun itu.
“Sayang, akhirnya kamu sampai dirumah.” Menempelkan kedua pipinya di pipi putranya, nyonya Riska memeluk erat tubuh anak laki – laki satu –satunya yang kini sudah begitu tinggi.
“Momy, apa kabar? Sehat?” Jhony memeluk erat orang tua tunggalnya, rasa rindu kepada sang ibu juga begitu ia rasakan. Karena sejak kecil ia selalu bersama dengan wanita yang menjadi ibunya selama dua puluh tujuh tahun, dan tidak pernah jauh darinya.
“Momy sehat sayang, sangat, sangat sehat.” Nyonya Riska mengusap punggung kokoh putranya, air matanya mengalir disela – sela pelukan dengan putranya. Kebahagiaan terbesar orang tua adalah dapat melihat anaknya sukses, dan tumbuh dengan baik oleh didikan mereka.
Hai.. hai readers...
semangat bekerja, dirumah atau di kantor..
hari ini up 2. Semoga suka ya...
selamat membaca, stay save😉