
Malam nya Joy tampak memperhatikan layar ponselnya, terus melihat layar yang menampilkan nomor telepon seseorang. Tentu saja orang itu adalah Jhony. Sejak selesai makan dan masuk kekamar nya dia terus memandangi ponselnya sambil tersenyum.
"Ahhh~~ senang nya, yess besok mau aku pamer ke Rina" Joy berseru girang karena mendapat nomor telepon Jhony
Di tempat lain, Jhony sudah selesai mandi dan berjalan keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk. Dia kembali memikirkan Joy yang baru saja di antar pulang olehnya dan tampak senang saat dia meminta nomor teleponnya tadi. Mengingat itu semua membuat Jhony tersenyum, namun lamunan nya terhenti ketika terdengar suara ketukan di depan pintu kamarnya.
"Jhony,, kamu sudah selesai mandinya?" suara bertanya seorang wanita di luar sana " Kalau sudah, ayo turun kebawah kita makan malam bersama nak..!" seru nya kembali, dan di jawab cepat oleh Jhony
"Sudah ma, sebentar lagi aku turun" balas Jhony dan segera memakai pakaian nya
"Mama dengar tadi kamu agak sore ya pulang nya? Sibuk ya ikut keanggotaan Osis di sekolah?" Tanya mama Riska penasaran dengan yang di katakan oleh ART nya tadi, bahwa putra satu satu nya Jhony terlihat pulang lebih sore dari biasanya.
Sebagai seorang pengusaha, mama Riska tidak mempunyai banyak waktu untuk anaknya itu. Namun dengan keadaan seperti ini, tidak membuat Jhony berkelakuan buruk. Malah Jhony sangat mudah di atur, tidak terjerumus dalam pergaulan bebas yang sekarang sering terdengar.
"Eh,, iya ma. tadi aku habis anterin teman dulu ma" Jawab Jhony sambil melanjut kan lagi makannya
"Ohh,, kamu anterin teman. Siapa? Siska ya?" tanya mama kembali dengan penasaran
"Bukan ma, teman lain?" jawab nya ragu
"Teman lain? Hary, atau Doni?" mama bertanya dengan penuh selidik kepada Jhony
"Hmmm,, bu~kan..." Jhony kembali menjawab, namun kali ini mama Riska sangat penasaran dan menatap ke arah anaknya. Berharap Jhony memberitahu siapa yang di antar nya tadi.
"I, itu.. adik kelas ma, kebetulan aja ketemu di jalan tadi dan memang juga searah. Ya,, aku sekalian antar saja" jelas Jhony berbohong, mama Riska masih memandang curiga kepada Jhony.
"Ok, jika memang begitu. Mama senang kalau kamu membantu teman. Asal kamu nggak ikut yang aneh aneh aja ya sayang!" Pinta mama Riska kepada Jhony
"Siapp Boss,," mengangkat tangan nya seraya memberi hormat kepada mama Riska.
Di depan gerbang sekolah, tampak siswa siswi berdatangan. Ada yang datang dengan diantar oleh orang tuanya adapun yabg datang sendiri menggunakan angkutan umum. Joy berjalan diantara keramaian murid, di dalam gerbang Jhony sedang menunggu nya datang.
"Selamat pagi,, Joy" Sapa Jhony saat menghampiri Joy
Merasa kaget saat melihat Jhony berjalan mendekat, Joy melihat sekeliling nya mengira Jhony ingin menghampiri orang lain. Namun Joy tersadar di dekat mereka, tidak ada orang lain lagi. Joy kembali tersadar saat Jhony sudah di hadapannya 'mimpi apa ya aku tadi malam, pagi pagi gini udah di samperin sang pangeran hati wuahhh...'
"Selamat pagi kak.." Joy menyapa balik
Di sudut lain di depan sekolah, seseorang sedang memperhatikan mereka. Dia tampak kesal saat melihat keakraban Joy dan Jhony, mengepalkan tangan nya serta menghentakkan kaki nya sekuat tenaga. Siska sedang memperhatikan mereka sejak Joy berjalan masuk, saat Jhony menyapa Joy tadipun Siska berada di belakang Joy dan bersembunyi di sudut pos penjaga ketika Joy berbalik melihat sekitar.
"Awas aja kamu Joy, bisa bisa nya kamu anak baru sudah mau rebut perhatian Jhony" Geram Siska yang merasa Joy merebut perhatian Jhony dari nya.
Saat sedang menggeram, seseorang menabraknya hampir terjatuh.
"Uwahh,, untung nggak jatuh. Kalau jalan hati hati dong, nggak lihat apa aku di sini" kesal Siska, kemudian saat mengangkat wajahnya Siska membelalak.
"Maaf, sengaja" Jawab Erick santai dan tersenyum manis, namun sesaat kemudian dia berbalik dan berjalan meninggalkan Siska dan kekesalannya.
"Apaan sih dia, main nabrak aja. Nggak minta maaf pergi gitu aja, kurang kerjaan" Siska mendumel seraya berjalan masuk.
Joy dan teman teman sekelas nya telah selesai mengikuti pelajaran olahraga, anak anak perempuan sedang berganti pakaian di ruang ganti sekolah. Tampak Dina dan geng nya masuk kedalam, Dina mendekati Joy dan berkata "Gue lihat, akhir akhir ini elo suka deketin kak Jhony! Elo suka sama dia?" Tanya Dina, namun dari raut wajahnya menyiratkan ketidaksukaan nya kepada Joy.
Joy terdiam, bingung harus berkata apa. Rina yang melihat Joy tampak tak bisa menjawab, mencoba menyelamatkan Joy. "Kalau iya, kenapa memangnya?" Ketus Rina, ingin maju namun Joy menahan lengannya.
"Gue ingetin sekali lagi nih ya.. Kak Jhony itu bakal jadi cowok gue, jadi elo nggak usah ngarep deh" dengan kasar Dina menunjuk ke bahu Joy, Joy sedikit menghindar dan menyulut emosi Dina kembali "Berani elo sama gue?" tanya Dina kembali kepada Joy.
"Kenapa kalau aku mau berteman sama kak Jhony, dia aja nggak pernah nolak diajak berteman" Sahut Joy membuat Dina semakin kesal dan bersiap untuk menarik rambut Joy, namun pergerakan nya terhenti saat bel pergantian pelajaran berbunyi.
"Kali ini gue lepasin elo, awas aja kalau gue lihat lo deketin kak Jhony lagi" Ancam Dina, membuat Rina membalas nya dengan kesal
"Coba aja lo berani macam macam sama Joy, lo bakal hadapin gue" geram Rina seraya berteriak
"Udah Rin, malu tau di liatin yang lain" Joy menenangkan Rina sedikit berbisik.
mereka pun kembali pada kegiatan nya yang tertunda, mengganti pakaian seragam dan segera masuk ke kelas.
.
.
.
.
selamat membaca readers, semoga suka ya
stay save all