
Membantu memperbaiki program adalah hal yang sudah sering Jhony lakukan, sejak dulu kedua orang tuanya sudah sering membawanya ke perusahaan. Hampir setiap minggu Jhony di bawa mengunjungi kantor, berkat orang tuanya yang sering membawa Jhony ke perusahaan, ia pun menjadi begitu dekat dengan karyawan yang bekerja di sana.
Sekarang, Jhony tidak lagi merasa canggung saat berada di tengah-tengah mereka untuk membantu mengerjakan pekerjaan sang ibu atau bahkan sekedar membantu memperbaiki program seperti saat ini.
"Sejak kapan programnya tidak bekerja, mas?" tanya Jhony di sela-sela memperbaiki program yang berkendala tersebut.
"Sekitar dua hari yang lalu, Jhon"
"Dua hari yang lalu? Pasti banyak pekerjaan yang tertunda! Lain kali, jika programnya beekendala seperti ini langsung hubungi saya saja mas! Kalau sudah seperti ini, pekerjaan akan menumpuk dan pasti akan mengganggu jadwal pencetakan?!"
"Saya tidak enak Jhon, takut ganggu sekolah kamu" jelasnya.
"Tidak mas Rendy, saya bisa mengaturnya. Seperti saat ini, saya bisa datang di saat jam pulang sekolah. Kalau hanya seperti ini juga tidak akan memakan waktu yang lama, jadi mas jangan sungkan untuk menghubungi saya jika ada kendala di program dan masalah lain yang memang saya bisa, saya pasti akan bantu" menjelaskan dengan sopan, Jhony berharap karyawan mamanya tidak merasa tidak enak untuk meminta bantuannya yang memang banyak keahliannya.
"Baiklah kalau memang tidak mengganggu dan merepotkan kamu, saya akan meminta bantuan saat di butuhkan" dia pun tersenyum senang, mendapati anak pemilik perusahaan yang begitu baik dan tidak begitu pemilih dalam bekerja.
Karyawan tersebut pun berpikir, mungkin karena sifat seperti inilah yang dimiliki oleh almarhum tuan Surya, pemilik perusahaan yang merupakan ayah dari Jhony. Sehingga perusahaan bisa maju dan berkembang dengan luas, bahkan karyawan di sini pun sangatlah jarang meminta untuk mengundurkan diri jika tidak ada kepentingan lain. Sebab, dari gaji yang diberikan kepada karyawan tidaklah kecil. Sungguh perusahaan yang memperhitungkan kebutuhan karyawannya dengan baik, sehingga tidak ada keluhan sama sekali tentang gaji yang kecil bahkan jam kerja yang sesuai juga menjadi salah satu faktor yang menjadikan karyawan betah bekerja di perusahaan tersebut.
"Tentu saja tidak mas, mas Rendy bisa menghubungiku kapan saja jika butuh bantuan ku"
"Oke Jhon, terima kasih" karyawan tersebut pun menepuk bahu Jhony, mereka memang sudah dekat namun dia tidak memanfaatkan kedekatannya dengan anak pemilik perusahaan yang begitu baik kepadanya.
Di tempat lain, masih di perusahaan. Siska berjalan menghampiri bagian resepsionis.
"Selamat sore kak, apa papa masih di kantor?" tanya Siska kepada salah seorang wanita yang duduk di kursi resepsionis.
"Sore Siska, pak Ferry masih di kantor"
"Baiklah kak, terima kasih. Saya naik dulu" setelah berterima kasih sembari memberikan senyum sopan kepada kakak resepsionis tersebut, Siska pun berjalan menyusuri lobi ke arah lift.
Saat menunggu lift terbuka, tanpa sengaja dia pun bertemu dengan seorang laki-laki yang juga karyawan di sana. Dia adalah Rendy, yang tadi berada di ruang programer bersama Jhony.
"Hai Sis.." sapa Rendy.
"Halo kak Rendy" balasnya.
"Ada urusan dengan pak Ferry ya?"
"Iya kak" Siska melihat Rendy membawa dua gelas kopi di tangannya.
Setelah jawaban Siska selesai di ucapkan, pintu lift terbuka.
"Ayo.." ajak Rendy berjalan mendahului Siska, Siska mengangguk dan berjalan mengikuti Rendy.
Mereka tidak hanya berdua, karena ada beberapa customer yang datang untuk mengambil pesanan di lantai dua. Sedangkan mereka menuju ke lantai tiga, dimana ruangan tuan Ferry dan bagian penting lainnya berada.
"Oh iya, Jhony juga ada di atas. Sedang memperbaiki program" jelas Rendy tanpa di tanya, karena dia tahu Siska adalah teman Jhony dan mereka juga cukup dekat.
"Begitu.." Siska berucap lirih.
"Oh benar, kenapa kalian tidak datang bersama? Bukannya biasanya kalian datang bersama kemari?" pertanyaan Rendy membuat Siska bingung harus menjawab apa, sebenarnya Siska juga tidak tahu jika Jhony akan kemari bahkan seharian ini Jhony selalu menghindarinya.
"Emm.. tadi aku ada urusan dan sepertinya Jhony sedang terburu-buru juga" menampakkan senyum namun terkesan di paksakan.
"Emm.." Rendy mengangguk mengerti yang di katakan Siska, dia akhirnya tidak bertanya lagi yang membuat Siska bernafas lega.
Rendy adalah laki-laki muda yang masih berumur di bawah dua puluh lima tahun, Rendy menyelesaikan pendidikan diploma selama tiga tahun. Awalnya dia ingin menyelesaikan pendidikan sampai strata, namun karena terkendala di biaya, akhirnya dia hanya bisa menyelesaikan pendidikan diploma saja dan langsung lanjut bekerja di perusahaan PT. Terbit Surya milik orang tua Jhony. Dia cukup bersyukur perusahaan ini menerima karyawan meski pendidikan terakhir hanya SMA/SMK saja, jadi dirinya juga bisa di terima dengan baik.
Dia berniat untuk melanjutkan pendidikannya suatu saat nanti, karena dia sudah memiliki tabungan yang cukup bahkan sudah lebih dari cukup untuk masuk ke perguruan tinggi lagi. Selama kurang lebih tiga tahun bekerja di perusahaan ini, dia sudah mendapat kenaikan pangkat dua kali. Itu semua berkat kerja kerasnya dan juga ketekunannya dalam bekerja, dia tidak pernah bolos sama sekali jika tidak sakit hingga membuatnya tidak bisa bangun, dia akan tetap bekerja jika menurutnya sakitnya bisa di bawa untuk bekerja.
Hasil yang memuaskan baginya, kini dia menjadi manager di bagian produksi. Tidak sedikit wanita yang menyukainya, bukan hanya karena dia pandai bekerja dan juga perilaku yang baik. Dia bahkan memiliki fisik yang cukup menunjang segala yang dimilikinya, perusahaan akan memberi kelonggaran untuknya jika ia ingin melanjutkan pendidikannya.
Kembali lagi di dalam lift.
Lift berhenti di lantai tiga setelah mereka berhenti di lantai dua dan beberapa orang telah turun di sana, kini mereka berjalan melewati lorong menuju ke ruangan yang biasa Siska datangi, yaitu ruang kerja ayahnya, tuan Ferry.
"Aku masuk dulu ya kak, sampai ketemu lagi.." menoleh ke arah Rendy sejenak dan tersenyum, Siska mengetuk pintu ayahnya dan masuk ke dalam setelah mendapat anggukan dari Rendy.
Rendy masih mematung sejenak di depan ruangan tuan Ferry, dia hanya bisa tersenyum melihat bayang Siska yang sudah mengilang dibalik pintu ruangan yang ada di hadapannya.
"Apa yang aku pikirkan.." menggeleng sebentar dan berjalan pergi, dia hendak kembali ke ruangan programer dan mengecek apakan Jhony membutuhkan bantuannya.
Sebenarnya Rendy menyukai Siska yang dia ketahui adalah anak dari salah satu direktur kepercayaan nyonya Riska, namun dia tahu bahwa itu bukan hal yang bisa langsung ia sampaikan. Siska masih sekolah dan lagi dia juga akan melanjutkan pendidikan nya kembali, tidak mungkin mereka bisa berjalan beriringan nantinya. Apalagi status Siska yang adalah anak direktur perusahaan di tempat nya bekerja, membuat nya semakin merasa tidak sepadan dengan Siska.
Didalam ruangan tuan Ferry, Siska duduk di sofa yang ada di sana. Ia tahu pasti ayahnya sedang ada urusan di ruangan lain, jadi dia akan menunggu dengan tenang di ruang kantor ayahnya.
Kembali keruangan programer, Rendy sudah duduk kembali di samping Jhony.
"Ehemm.. ini kopi buat kamu Jhon..." menyerah kah segelas kopi yang tadi dia beli di cafe di seberang kantor.
"Terima kasih mas, jadi repotin"
"Enggak lah Jhon, oh iya tadi aku bertemu dengan Siska saat sedang di lobi dan hendak naik ke atas Jhon" penasaran bagaimana reaksi Jhony, ia pun memperhatikan raut wajahnya.
"Oh ya!?" menjawab, namun masih tetap fokus ke layar komputer.
"Iya, katanya dia ada urusan dengan pak Ferry dan akan menemuinya"
"Oh.." kali ini Rendy di buat kebingungan karena sikap Jhony yang tampak biasa saat mendengar nama Siska di sebutkan.
"Biasanya kamu kan datang sama dia, kenapa hari ini kalian datang terpisah?" Rendy yang penasaran, akhirnya mengemukakan pertanyaan nya "Bukan nya mau mencampuri utusan kamu, aku hanya bertanya. Tapi kalau kamu ngak mau jawab juga ngak apa Jhon, hehe.." Rendy garuk-garuk kepala sendiri, merasa tidak enak sudah lancang menanyai urusan pribadi anak bos nya itu.
"Ah.. itu tadi aku pergi membeli kue dulu dan mengantar Joy pulang barulah aku kemari" jelas Jhony.
"Oh... begitu... eh.. siapa Joy?" kembali memperhatikan Jhony, kali ini Jhony menatap Rendy dengan raut wajah yang sulit diartikan oleh Rendy.
Tersenyum sesaat "Mas Rendy kepo ya?!" Jhony terkekeh akhirnya.
"Haha.. iya, aku jadi penasaran. Maaf Jhon, kalau kamu ngak mau jawab juga ngak apa" Rendy tertawa sumbang di hadapan Jhony, karena merasa sudah lancang bertanya masalah pribadi anak bos nya ini, akhirnya dia kembali fokus ke layar komputernya.
"Joy adalah pacarku mas.." tiba-tiba suara Jhony terdengar dan membuat Rendy menoleh ke arah Jhony.
"Hah!? Aku ngak salah dengar?"
"Iya, Joy adalah pacarku" menampilkan wajahnya yang penuh senyum ke arah Rendy, ini membuktikan bahwa anak bosnya ini tidaklah berbohong.
Melihat wajah Rendy yang kebingungan, Jhony yakin bahwa dia sudah salah paham mengenai hubungannya dengan Siska.
"Jadi.. "
"Aku sama Siska hanya teman aja mas" Jhony kembali fokus ke layar komputer.
"Oohh... " dengan mulut menganga.
"Tutup mulutnya mas, nanti kemasukan lalat baru tahu. Hahaha.." canda Jhony saat melihat Rendy yang masih tercengang melihat ke arahnya.
Yang dicandai dengan sigap menutup mulutnya dan menggaruk belakang lehernya mengusir kecanggungan. Didalam batinnya merasa senang mendapati Siska yang tidak punya hubungan dengan Jhony, satu sudut bibir terangkat namun tidak ketara menampilkan senyumnya.
Rendy tidak sadar bahwa dirinya mulai di perhatikan kembali oleh Jhony, dan mendapatinya yang tersenyum samar Jhony tidak dapat menahan rasa penasarannya.
"Apa... mas Rendy suka sama Siska?" ragu, namun berhasil ia ucapkan pertanyaannya.
"Ya?!" terkejut dan seketika memalingkan wajahnya ke arah Jhony "Mak, maksud ku..."
"Ternyata benar, kalau begitu perlu mas ketahui bahwa Siska sepertinya belum punya pacar" kembali Jhony tersenyum geli melihat Rendy bertambah bahagia dengan senyuman di wajahnya.
'Apakah aku boleh sedikit berharap...'
Tuan Ferry sudah kembali dari ruangan nyonya Riska, dia kini berjalan menuju ke ruangan nya.
Siska masih menunggu ayahnya kembali, waktu kini sudah menunjukkan pukul lima lebih lima menit. Kurang lebih sudah setengah jam Siska menunggu ayahnya, dia memilih membaca buku pelajaran yang dibawanya ketimbang hanya duduk dan bermalas-malasan saja.
Meski dia adalah anak seorang direktur kepercayaan di perusahaan ini, tidak membuat dirinya besar kepala. Dia memilih menunggu dengan tenang di ruang ayahnya, dari pada harus menghubungi sang ayah dan memintanya untuk segera menemuinya.
Ceklek.. pintu terbuka, dan menampilkan tuan Ferry masuk dan menutup kembali pintu tersebut.
"Nak.. rupanya kau sudah di sini" sapa tuan Ferry sambil berjalan mendekati sofa yabg diduduki Siska.
"Iya pa" Siska bangkit dari duduknya dan menyambut tangan ayahnya untuk memberikan salam.
"Apa kau sudah lama, kenapa tidak menghubungi papa?" tuan Ferry mengelus kepala putri semata wayangnya dengan lembut.
"Belum pa, kira-kira baru setengah jam" sambil melihat jam yang melingkar di tangannya, Siska menebak waktu kedatangan belum lah lama.
"Begitukah, ayo duduk" keduanya duduk bersebelahan di sofa yang cukup panjang.
"Ada apa kau kemari nak?" tanya tuan Ferry.
"Begini pa, Siska mau membahas tentang perguruan tinggi yang waktu itu papa tawarkan. Sebenarnya.. Siska sudah memilih universitas yang Siska inginkan" memberi jeda kepada sang ayah untuk berbicara.
"Benarkah? Coba katakan kepada papa!" perhatian penuh sudah di berikan tuan Ferry untuk putrinya.
"Siska ingin kuliah di sini pa, Siska tidak mau keluar negeri" suara lirihnya masih bisa di dengarkan oleh tuan Ferry, entah mengapa tuan Ferry tidak terkejut dengan pilihan Siska.
"Sungguh? Kau yakin tidak akan menyesali keputusan mu?" Siska mengangguk pasti.
"Baiklah kalau begitu, papa tidak akan memaksamu nak bahkan papa akan mendukung pilihan mu" memegang kedua bahu putrinya, tuan Ferry seperti memberi kekuatan dan kepercayaan penuh kepada Siska.
"Terima kasih pa, papa memang yang terbaik" mereka pun saling berpelukan, rasa kasih sayang di antara keduanya sungguh kuat sehingga itu juga yang menjadi salah satu faktor Siska memilih kuliah di dalam negeri. Karena ia tidak ingin jauh dari orang tua tunggalnya saat ini.
"Oh iya... Jhony tadi juga kemari, mengapa kalian tidak datang bersama?" Pertanyaan yang sepertinya sudah di dengar oleh Siska.
"Ah.. itu.. tadi Siska ada urusan lain pa, jadi kita tidak bisa pergi bersama" tuan Ferry sebenarnya belum mengetahui tentang Jhony yang sudah berpacaran dengan Joy, yang dia ketahui Joy memang tampak dekat dengan Jhony namun tidak mengira mereka sudah berpacaran.
"Begitu, baiklah papa akan segera menyelesaikan pekerjaan. Jadi tunggulah di sini dulu, ok" Siska langsung mengangguk senang, bukan hal sulit untuk menunggu ayahnya bekerja. Karena dia sudah terbiasa sejak kecil, dia selalu menunggu ayahnya selesai bekerja dan pulang bersama.
\*\*\*\*\*
Selesai memperbaiki program, Jhony pamit kepada Rendy untuk keruangan nyonya Riska.
"Mom, apa sudah selesai? Ayo pulang bersama!?" suara Jhony yang tiba-tiba, mengalihkan perhatian nyonya Riska dari berkas-berkas yang ada di atas mejanya.
"Hai.. apa kerjaan mu sudah selesai?"
"Tentu, itu bukan masalah besar untukku mom!" menyombongkan dirinya.
"Haha.. kau bisa saja nak. Momy sudah selesai, dan ini hanya selingan sambil menunggumu"
"Kalau begitu, ayo kita pulang mom. Biar mom ikut di mobilku saja, minta supir momy pulang terlebih dahulu" mendekati meja nyonya Riska, Jhony sudah mulai merapihkan berkas-berkas yang ada di atas meja ibunya.
Nyonya Riska tersenyum melihat perlakuan putranya yang begitu perhatian kepadanya, kasih sayang Jhony kepadanya memberi kekuatan mana kala ia teringat almarhum suaminya.
.
.
.
halo semua, Me kembali lagi...
semoga suka ceritanya ya..
jangan lupa like dan komen dan tap love nya ya..
terima kasih
stay save😉