
Kebahagiaan selalu di inginkan oleh siapa saja, tidak terkecuali untuk siapa pun itu. Tidak ada seorang pun yang tidak menginginkan untuk hidup bahagia.
Namun kali ini kebahagiaan tersebut sangatlah di rasakan oleh sepasang kekasih yang kini sedang dalam perjalanan pulang, sore tadi sebuah janji untuk selalu setia dan tetap bersama walau jarak memisahkan nantinya akan mereka lalui. Dan janji itu tidak dapat hilang dari benar sang gadis yang sejak tadi tersenyum dan sesekali memegang cincin yang kini melingkar di jari manis tangan nya, memainkan nya dengan perlahan sambil pandangannya menerawang.
Flashback
"Dengarkan aku baik-baik Joy, aku ingin kau akan selalu mengingat hari ini. Tidak... sebenarnya juga untuk hari-hari sebelumnya saat kita bersama, meski aku lebih ingin kau mengingat ini dengan jelas. Aku... akan selalu mencintaimu, meski aku jauh darimu. Cincin ini akan menjadi pengikat hati kita, lihat lah ini" sambil menunjukkan bagian dalam cincin dengan satu permata di atasnya itu, Jhony juga mengeluarkan sebuah kalung yang telah di pakai dan berliontinkan sebuah cincin.
Joy memperhatikan kedua cincin yang di tunjukkan oleh Jhony kepadanya, di dalam cincin yang akan di berikan kepadanya terdapat nama Jhony di dalam nya dan tanggal hari ini begitu pula di dalam cincin yang dijadikan liontin kalung oleh Jhony. Disana tertera tanggal yang juga sama dengan tanggal di cincin untuk Joy, hanya nama nya lah yang berbeda karena didalam cincin Jhony ada nama Joy di sana.
"Apa kau sendiri yang menyiapkan ini semua?" mata Joy menatap penuh selidik kepada Jhony, menurutnya Jhony tidak ada waktu untuk menyiapkan semua ini karena kesibukan akhir-akhir ini. Namun ini semua cukup mengesankan bagi Joy, karena semua tampak begitu rapih dan juga terencana.
"Bagaimana menurutmu? Apa ini cukup membuatmu terkesan?"
"Ini lebih dari terkesan, aku sangat-sangat terkesan dengan surprise mu kali ini"
"Benarkah?" Jhony memandangi wajah Joy dengan teliti, mencari adakah kebohongan dari ucapannya di sana.
Namun Jhony malah melihat kesungguhan dari pancaran sinar mata Joy yang menatapnya dalam.
"Tentu, mana mungkin aku berbohong. Ini pertama kali nya seorang laki-laki memberiku cincin sebagai janji cintanya, bagaimana aku bisa menolaknya" Joy tersenyum senang sambil melihat ke arah cincin yang sudah di sematkan Jhony di jari manisnya itu.
Matanya kembali berkaca-kaca, entah mengapa dia begitu terharu dengan perlakuan Jhony kepadanya. Setiap saat, Jhony selalu bisa memberi keyakinan kepada Joy untuk tetap bertahan dengan cintanya. Jhony mendekat kearah Joy dan mengecup kening gadis itu cukup lama, dan memberi pelukan sekilas.
Flashback off
"Apa jalanan itu ada wajahku, sehingga kau tersenyum sambil memandang ke sana?" sindir Jhony yang sejak tadi memperhatikan kelakuan kekasihnya yang tersenyum ke arah jalanan, seolah ada sesuatu yang membuatnya senang di sana.
"Em.. begitulah, rasanya... dimana-mana aku melihat wajahmu, dan semua tampak bahagia" Joy terkekeh sambil sesekali melihat ke arah Jhony yang masih sibuk menyetir.
"Aku sangat bahagia dengan ini, apa ini seperti cincin tunangan? Apa sekarang aku adalah tunanganmu?" kali ini Jhony yang di buat tertawa oleh Joy, sungguh kalimat-kalimat luar biasa yang selalu bisa membuat Jhony tertawa saat bersama nya.
"Kau boleh menganggap itu adalah cincin tunangan, jadi aku sudah mengikatmu dan kau adalah milikku sekarang sampai selamanya hm...?
"Aku tidak percaya kita tunangan, kita masih terlalu muda Jhon, bahkan kita belum lulus SMA"
"Tidak apa-apa, kan tidak ada larangan untuk tidak boleh tunangan saat sekolah. Yang ada hanya larangan untuk menikah" sedikit mengerjai kekasihnya ini memang menjadi hal yang menyenangkan untuknya.
"Kau serius?"
"Aku sangat serius Joy, bahkan aku sudah sangat serius. Aku bahkan sudah bermimpi kita akan menikah ketika kesuksesan sudah kuraih, tak hanya itu aku juga sudah merencanakan masa depan seperti kita akan punya anak-anak yang lucu mengajak mereka bermain dan masih banyak lagi" Jhony menoleh sejenak ke ara Joy untuk meyakinkan bahwa kata-kata yang sudah diucapkannya bulan lah main-main.
Joy tersenyum dengan rona merah di wajahnya yang menandakan ia merasa malu. Melihat keseriusan yang di berikan Jhony, dia tidak menyangka bahwa Jhony sudah memikirkan masa depan mereka sejauh itu. Dia bahkan tidak berani berpikir jauh untuk saat ini, karena Jhony yang akan berangkat keluar negeri dalam waktu dekat.
Sampai di depan rumah, Joy masih tampak enggan untuk keluar dari dalam mobil. Dia merasa tak ingin berpisah dengan Jhony untuk saat ini, namun itu bukan hal yang mungkin mengingat mereka masih berstatua pelajar bukan suami istri.
"Bisakah kita di dalam dulu sebentar? Aku belum mau berpisah!" Joy mengapit lengan Jhony dengan begitu posesifnya, namun Jhony hanya tersenyum mendapati sikap menggemaskan dari Joy yang muncul secara tiba-tiba itu.
Dia memang sering dibuat takjub dengan tingkah Joy yang selalu tiba-tiba, namun ia juga menyukai setiap perubahan yang terjadi dengan Joy. Entah mengapa itu malah membuat suasana hatinya nyaman, hidupnya juga terasa lebih berwarna ketika adanya perubahan dari sifat Joy.
"Apa kau tau, sikapmu saat ini seperti seorang istri yang sedang ingin bermesraan dengan suami nya" bisik Jhony, ketika ia menundukkan kepala nya tepat di atas kepala Joy.
Bisikan itu sontak membuat Joy merenggangkan pegangannya di lengan Jhony, sehingga membuat Jhony terkekeh melihat reaksi Joy yang berlebihan dengan menatapnya tak suka.
"Apa kau ingin kita segera berpisah, ya sudah kalau begitu aku keluar.." tangan Joy sudah meraih gagang pintu mobil yang sudah di buka, namun tangan Jhony dengan cepat meraih tangan Joy di sana dan menutup kembali pintu mobilnya.
Satu tangannya bahkan sudah memeluk erat di perut Joy, menahan gadis itu untuk beranjak dari duduknya.
"Kenapa menahanku, aku akan keluar.." suara Joy terdengar lirih, namun ia senang mendapati perlakuan Jhony seperti ini.
"Aku hanya bercanda tadi, seandainya bisa.. aku ingin kita terus bersama untuk waktu yang sangat lama..." kecupan demi kecupan terasa di atas kepala Joy, yang kini di belakangnya ada Jhony yang sedang memeluknya.
Keduanya berada dalan posisi yang sama untuk waktu yang cukup lama, sampai Jhony yang mengakhiri kedekatan keduanya. Ia semakin tidak tahan jika harus tetap berdekatan seperti itu, mungkin saja ia akan melakukan lebih dari pelukan.
"Ayo kita masuk" melihat jam di pergelangan tangannya "Sudah cukup larut, mama dan papa akan cemas jika kita tidak masuk sekarang" Jhony mengarahkan Joy untuk melihat ke arah nya, merapihkan rambut Joy yang berantakan karena ulahnya.
Joy hanya mengangguk, mengiyakan ucapan Jhony tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Jhony kembali mengecup kening Joy, seketika Joy memejamkan matanya merasakan hangat yang mengalir hingga keseluruh tubuhnya itu.
Ia selalu merasakan kasih sayang yang begitu besar, dari setiap perlakuan Jhony kepadanya. Tidak pernah Jhony melakukan hal yang melebihi batas yang tidak sewajarnya mereka lakukan, namun masih bisa ia rasakan betapa Jhony mencintai dirinya.
Akhirnya Jhony turun dari dalam mobil dan berjalan ke arah sebaliknya, membukakan pintu mobil untuk Joy serta mengulurkan tangannya untuk membantu Joy keluar dari mobil. Keduanya pun berjalan masuk bersamaan.
.
.
.
Hai, hai, readers
maaf br up lagi ya, karena ada sedikit hal penting jadi agak tertunda kegiatannya.
Yuk tetap semangatin aku ya. dengan like komen fav bisa juga beri hadiah❤🌹dll🤗
terima kasih ya😉
tetap stay save and healthy ya😘