
Ujian yang di nanti-nanti sudah di depan mata, hanya menghitung hari untuk menghadapi ujian akhir sekolah mereka. Seluruh siswa-siswi yang hendak mengikutinya pun semakin gencar untuk belajar.
Hari-hari yang mereka lalui sekarang akan menjadi penentu saat mereka menghadapi ujian, keberhasilan atau kegagalan yang mungkin terjadi saat ini lah usaha mereka di nilai.
Test demi test di berikan kepada mereka, agar pada saat menghadapi ujian mereka sudah memiliki bekal. Mungkin tidak sama persis, tapi setidaknya mereka sudah ada bayangan bagaimana soalnya kelak.
Kembali di sekolah, siswa siswi sedang berada di luar kelas dan menikmati waktu istirahat mereka. Beberapa anak laki-laki tampak bermain dilapangan basket, tidak sedikit siswi berkerumun di sana untuk melihat permainan mereka. Ada yang hanya menonton, ada pula yang memberi dukungan kepada idola mereka. Sungguh waktu yang menyenangkan saat sekolah adalah ketika kita menemukan seseorang yang sepantaran atau kakak kelas yang bisa di idolakan, baik dalam hal pelajaran atau bisa juga dalam kegiatan ekskul.
Hal yang tidak biasa terjadi hari ini, Jhony, Harry dan Erick serta beberapa teman sekelas mereka saat ini tengah berada di lapangan basket. Mereka sedang bermain basket bersama dengan junior mereka, padahal sebagian murid seangkatan mereka masih di kelas untuk belajar.
"Bagaimana? Sekarang otak kalian sudah lebih segar bukan?" suara Erick terdengar sedikit berteriak di tengah lapangan.
"Tidak buruk kawan, tapi cukup melelahkan juga" ketiganya tampak lelah, karena cukup lama tidak bermain basket.
"Ayo kita istirahat dulu, jangan bermain berlebihan dulu" Jhony sudah berjalan ketepi lapangan, tanpa di ketahui olehnya Joy sudah menunggu di sana.
Joy tahu bahwa Jhony sedang bermain basket, karena sebelum istirahat Jhony sudah memberitahukan kepadanya. Meski jarang bertemu, mereka masih saja memberitahukan setiap kegiatan mereka saat di sekolah atau di luar sekolah.
"Ini minumlah, cuaca cukup terik. Mengapa tiba-tiba bermain basket?" mengambil beberapa tisu dari bungkusnya dan mengelap keringat yang bercucuran.
"Terima kasih" mengambil minuman yang di sodorkan Joy, dan langsung meminumnya hingga beberapa teguk. Setelah merasa tenggotokannya lebih lega, ia kembali menjawab pertanyaan Joy "Erick mengatakan ini bisa menghilangkan stress saat belajar, kami mencoba idenya saja. Ternyata tidak buruk!" tersenyum melihat wajah Joy yang menunjukkan tidak suka dengan kegiatan di siang yang terik ini.
"Hah... lain halnya jika di jam istirahat pertama, karena cuaca tidak sepanas ini. Lihatlah wajah dan lenganmu bahkan sampai memerah seperti ini, bagaimana bisa di katakan tidak buruk" kekhawatiran Joy memuncak.
"Ayolah sayang, aku tidak akan kenapa-napa" ucapnya pelan, menenangkan Joy yang masih terlihat gusar.
"Berjanjilah ini yang terakhirnya kalian main basket di siang bolong seperti ini, aku tidak mau mendengar bahwa kalian bermain basket di terik panas begini lagi!" ancam Joy.
"Baiklah, aku janji" mengangkat kedua tangannya keatas, menandakan ia sudah berjanji kepada kekasihnya itu bahwa ia tidak akan melakukan hal yang tidak baik ini.
Tentu saja siapa pun selain Joy, mereka akan marah jika melihat tingkah beberapa siswa yang bermain basket di saat cuaca sepanas ini. Bukan kebugaran tubuh yang akan di dapat, malah mereka bisa saja terserang penyakit atau kelelahan akibat sengatan panas matahari.
"Apa kau sudah makan?" Jhony bertanya kepada Joy yang masih sibuk mengelap wajah dan juga lengannya yang basah karena keringat, di tengah kesibukannya itu Joy menggeleng pelan kepalanya.
"Kenapa tidak makan? Kau bisa sakit nanti, pagi tadi kau hanya sarapan roti kan?" Joy mengangguk.
"Hah... kau memperhatikan ku tapi tidak dengan dirimu sendiri. Ayo kita kekantin sekarang!" Jhony sudah menarik pelan tangan Joy untuk ke kantin, namun Joy tidak juga berjalan.
"Tunggu, sebentar lagi bel akan berbunyi. Biar aku makan sendiri saja, kau... kembalilah ke kelas" tolak Joy, meski ia sangat ingin di temani makan siang di kantin tapi ia tidak bisa egois karena Jhony lebih memerlukan belajar saat ini.
"Aku sudah berjanji padamu tadi, jadi sekarang dengarkan aku. Oke!" tidak ingin mendapat penolakan lagi dari Joy, Jhony meraih kedua bahu Joy dan mendorongnya perlahan.
Mau tidak mau Joy mengikuti arahan Jhony, sebenarnya ia juga sudah tidak dapat menahan lapar tapi juga tidak ingin membuang waktu Jhony yang sangat berharga menurutnya.
Keduanya sudah sampai di kantin, di sana sudah terlihat sepi. Beberapa stand makanan bahkan sudah tutup, untung saja stand makanan yang biasa mereka pesan masih buka.
"Hai cantik, pesan yang kayak biasa dua ya!" Jhony menyapa bibi kantin yang biasa di pesan Joy.
"Ah... aden, tumben biaa barengan pacarnya. Si mba cantik" bibi menggoda keduanya.
"Awas nanti kelilipan loh!" balas Joy dengan raut judesnya, namun tidak lama ekspresinya berubah menjadi tersenyum.
"Aden bisa aja godain neng cantik,sebentar ya bibi buatkan makanannya dulu." bibi mulai sibuk menyiapkan pesanan mereka, keduanya pun segera duduk di kursi yang dekat dengan stand agar si bibi tidak perlu berjalan jauh.
Tidak lama mereka menunggu makanan sudah siap, bibi kantin mengantarkan makanan kepada mereka. Kedua mulai menikmati makanan setelah sang bibi berjalan kembali ke stand makanannya.
"Pelan-pelan makannya sayang, aku enggak akan rebut makanan kamu!"
"Bukan begitu, sebentar lagi bel berbunyi. Kita harus cepat habisin makanannya"
"Ijin dulu untuk satu jam pelajaran, kalau kamu makannya seperti ini pencernaan mu akan terganggu" Jhony menahan tangan Joy yang hendak menyendokkan makanan kedalam mulutnya.
"Kau akan terlambat masuk kelas juga nanti, bukankah waktumu sudah banyak terbuang? Tadi kau habis bermain basket bersama teman-temanmu, sekarang menemaniku makan siang. Sayang jika waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk belajar malah terbuang sia-sia!"
"Siapa bilang waktuku terbuang sia-sia? Aku merasa bahagia sekarang, dan stress karena belajar ku juga hilang saat bermain basket tadi. Dan sekarang, aku bahkan sangat siap untuk belajar bahkan aku juga yakin pelajaran akan terpatri dalam ingatanku dengan cepat nanti."
"Kau.." ucapan Joy terhenti tatkala bel tanda masuk kelas berbunyi.
"Ayo makan dengan tenang sekarang, aku akan menemanimu hingga selesai. Maka dari itu, makanlah perlahan."
"Kau sungguh pemaksa, baiklah aku makan. Kau... jangan menyesalinya." Joy mengerucutkan bibirnya, dan setelah kembali memakan makanan yang masih cukup banyak dalam mangkuknya.
Beberapa waktu kemudian, keduanya sudah selesai makan. Namun mereka masih saja berada di kantin, sepertinya mereka benar-benar akan membolos selama satu jam pelajaran.
"Jadi bagaimana sekarang?" Joy tampak tidak tenang, kedua matanya melirik ke arah Jhony seakan bertanya apa yang harus mereka lakukan sekarang.
"Kita ke uks saja bagaimana? Kita bisa istirahat di sana, dari pada di sini mungkin saja guru piket akan patroli nanti."
"Baiklah kalau begitu, kita ke sana sekarang. Dan pada jam selanjutnya kita baru ke kelas"
"Ok, ayo.." Jhony begitu senang bisa menghabiskan waktu berdua dengan Joy, saking semangatnya ia pun buru-buru menarik tangan Joy.
'Semoga saja tidak ketahuan bohongnya, kenapa dia bisa sesenang itu.' Joy menggeleng pelan kepalanya, sambil bergumam dalam hatinya.
.
.
.
hai readers... masih ingat kan sama Me, oh iya agak terlambat up nya ya. Karena ada sedikit kegiatan baru, dan semoga bisa cepat kelar dan lebih cepat selesaikan novel ini.
Tetap kasi dukungan ya ke aku, mulai dari like fav komen dll. Aku tunggu ya
stay save readers sekalian🤗🤗
thanks😉