
Lama Joy duduk di atas kasur setelah tangan nya selesai di perban, Andre meminta waktu untuk berbicara kepadanya. Rina sudah kembali ke kelas setelah Joy menyuruh nya kembali dan mengatakan dia tidak apa-apa, jadilah sekarang Joy hanya berdua bersama Andre.
Joy duduk di atas kasur dengan tangan yang sudah di bungkus perban, menurut dokter yang ada di sekolah luka Joy cukup serius dan harus segera di bawa berobat ke dokter agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan.
"Andre mau bicara apa?" Joy tampak menunggu ketua kelasnya untuk bicara.
"Begini Joy... Di sini hanya kita berdua, aku.. aku mau minta maaf atas nama Dina. Sebenarnya aku tahu kalau dia lah yang menabrak mu Joy, tapi dia tidak sengaja makanya aku yang akan meminta maaf atas namanya" Andre sang ketua kelas sedang meminta maaf kepada Joy, entah mengapa dia melakukan itu untuk Dina. Joy merasa heran dengan yang di lakukan Andre saat ini, Joy terdiam sejenak.
"Jadi kamu sudah tahu, kalau Dina yang menabrak ku tadi?" Joy melirik Andre yang menundukkan kepalanya, rasanya dia tidak berani menatap Joy saat ini.
"Ya... Aku tahu dia yang melakukan nya, tapi maaf kan aku tak bisa mencegahnya berbuat seperti itu padamu" Andre tampak mengepalkan kedua tangannya untuk menahan agar tidak gemetaran.
Ucapan Andre di dengar oleh Dina yang berada di luar, Dina yang hendak ke kantin berhenti di depan uks karena mendengar suara Andre dan Joy yang sedang berbicara.
Dina sangat kesal atas tindakan Andre yang meminta maaf kepada Joy untuk nya, entah mengapa Andre harus ikut campur dengan urusannya kali ini. Dina sungguh-sungguh kesal dan berjalan masuk kedalam.
"Jangan dengarkan dia, semua salahku jadi akulah yang harus meminta maaf. Tolong maaf kan aku, aku... aku... " Melihat Dina tergagap Joy pun segera turun dari kasur dan memegang tangan Dina, dan melihat Andre bergantian.
"Sudahlah, tidak usah di bahas lagi. Aku anggap ini hanya kecelakaan yang tidak di sengaja, jadi lebih hati-hati lain kali. Aku akan memberi tahu bapak Tito bahwa masalah ini sudah selesai, aku pergi dulu" Selesai mengucapkan kalimat nya, Joy pun segera keluar dari ruang uks dan menuju ke ruang guru untuk menemui bapak Tito.
"Joy... " panggil sebuah suara yang tak asing di telinga Joy, Jhony sudah berjalan ke arahnya saat ini.
"Kak Jhony?" Bingung melihat Jhony yang sedang berada di sana, karena ini masih jam pelajaran.
"Kamu... Bagaimana bisa.. Tangan kamu... Apa kata dokter?" Jhony merasa sulid untuk bertanya kepada Joy, dia begitu cemas saat mendapat pesan dari Rina yang mengatakan bahwa tangan Joy terkena cair zat kimia dan terbakar.
Dia pun segera meminta ijin saat pergantian jam pelajaran tadi, dan segera menemui Joy.Tangan nya memegang tangan Joy yang sedang di perban, memandang nanar tangan kekasihnya yang pasti sangat lah sakit.
"Aku nggak apa-apa kak... Cuma dari dokter tadi bilang harus periksa ke rumah sakit aja, buat mastiin ini nggak parah" Joy mengulas senyum menenangkan Jhony yang terlihat sangat mencemaskannya.
"Kalau gitu aku antar ya, kamu tunggu di sini aku ke kelas ambil kunci mobil dan tas ku dulu" Jhony hendak berlari kembali ke kelasnya, namun tangan nya di tahan oleh Joy.
"Kak... Nggak apa-apa, aku minta papa jemput saja ya. Kakak kan ada mata pelajaran lagi" Ucap Joy.
"Nggak Joy, biar aku antar aja ok. Aku nggak bisa tenang kalau belum lihat hasil pemeriksaan nya, hah..." Jhony memegang kedua bahu Joy dan menatap dalam mata wanita yang sangat di khawatirkannya saat ini.
Joy pun melunak, rasanya dia tidak bisa membantah Jhony "Baiklah kalau begitu, tapi aku juga mau ke ruang guru sebentar kak. Biar nanti kita ketemu di parkiran aja kak" Putus Joy menjelaskan kepada Jhony untuk menunggu di parkiran.
"Baiklah... Hati-hati" Jhony mengelus kepala Joy dan berlalu meninggalkan Joy yang juga segera berjalan ke arah ruang guru.
Di dalam uks kini ada dua orang yang tadi memperhatikan pembicaraan Joy dan Jhony, mereka adalah Dina dan Andre yang tadi di tinggalkan Joy di dalam ruang uks. Mereka berjalan ke arah jendela saat mendengar seseorang memanggil nama Joy dengan suara yang terdengar gusar, ternyata itu adalah Jhony yang tampak sangat cemas kepada Joy.
"Bagaimana sekarang? Apa kamu masih berpikir kalau Joy adalah musuh kamu? Dan apa kamu masih berpikir bahwa Joy sudah merebut kak Jhony dari kamu? Dia bahkan bersedia untuk tidak mempermasalahkan kesalahan kamu dan malah menutupi dari anak-anak lain. Kamu udah salah, Joy nggak merebut kak Jhony dari kamu Din, Kak Jhony benar-benar suka sama Joy dan kalau aku lihat kak Jhony udah jatuh cinta sama Joy" suara Andre terdengar setelah cukup lama mereka terdiam.
"Aku... Aku... nggak tahu..." Dina terduduk di lantai ruang uks, dia rasanya tak mampu lagi berdiri setelah merasa ketakutan dengan kesalahan nya dan juga merasa bersalah kepada Joy.
"Andre, kita di sini dulu. Aku... Tidak berani bertemu dengan Joy dan yang lainnya, di sini dulu sampai jam istirahat.
Melihat wajah Dina yang tampak pucat, Andre pun mengiyakan permintaan Dina untuk menunggu di uks sampai jam istirahat.
Di ruang guru, Joy sedang berbicara dengan bapak Tito. Dia sudah mengatakan bahwa sudah ada yang meminta maaf kepadanya, dan dia enggan untuk mengatakan nama murid tersebut sehingga bapak Tito pun tak bisa memaksanya. Dia meminta untuk tidak lagi mengusut masalah tadi dengan melihat rekaman cctv, dia mengatakan semua hanya ketidak sengajaan dari murid tersebut.
Bapak Tito menghargai keputusan Joy, bagaimana pun itu adalah murid nya juga. Namun bapak Tito sangat bangga kepada Joy yang berhati besar dan bijak dalam menanggapi masalah yang sudah menimpanya.
Joy kembali ke kelas mengambil tasnya, Rina sudah membereskan tas Joy sehingga dia hanya perlu membawanya saja.
"Aku pulang dulu ya Rin, terima kasih sudah membereskan alat tulis ku. Dah.." Joy melambaikan tangan nya yang masih di perban dengan perlahan.
"Iya Joy, nggak usah di pikirin. Nanti pulang aku antarin buku catatan ya, hati-hati ya Joy" Rina balas melambaikan tangan kepada Joy.
"Bu, saya pamit pulang dulu" Joy berpamitan kepada guru yang sedang mengajar di kelasnya.
"Baiklah, semoga lekas sembuh Joy" Ucap guru.
Joy berjalan menuju ke arah parkiran, saat di depan sekolah sudah terlihat Jhony yang sedang berdiri sedang menunggu nya. Jhony yang melihat Joy berjalan mendekati nya pun segera meraih tas yang sedang di papah Joy.
"Sini biar aku yang bawa" Jhony tersenyum kepada Joy, mereka pun berjalan ke arah mobil Jhony.
Mendapat perhatian lebih dari Jhony, membuat Joy bisa merasakan kasih sayang yang di berikan Jhony sangat lah tulus.
Jhony membukakan pintu kepada Joy di samping kursi kemudi, setelahnya Jhony pun berjalan ke arah sebaliknya.
Jhony segera mengantar Joy ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi tangan Joy saat ini, di sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Jhony tak hentinya menanyakan bagaimana perasaan Joy sekarang dengan tangan yang masih di perban.
Sungguh perhatian yang manis, Joy hanya bisa tersenyum mendapati pertanyaan dari Jhony kepadanya.
.
.
.
Halo... Me balik lagi, 2 bab untuk hari ini...
Selamat membaca
Thanks😉