Let See The True Love

Let See The True Love
46.



Berjalanlah cerita Rina mulai dari awal Harry yang mengajak kan berbicara, bertanya tentang seminar tadi yang dimana Rina bertemu banyak teman dan juga anak lelaki dari sekolah lain yang cukup menggoda matanya.


Rina Bahkan memuji ketampanan beberapa lelaki yang di temui nya tadi, sehingga membuat Harry yang merasa kesal langsung pergi meninggalkan Rina.


"Kamu cerita tentang cowok yang kamu temui di seminar, Rin? Terus kamu puji-puji cowok itu di depan kak Harry?" Sentak Joy merasa kaget dengan pengakuan sahabatnya itu.


"Iya... Memangnya kenapa?" Tanya Rina yang merasa aneh dengan keterkejutan Joy saat ini.


"Kenapa bagaimana? Kamu beneran nggak tahu atau hanya pura-pura tidak tahu sih Rin?" Melihat Rina yang sepertinya tidak memperdulikan perasaan Harry membuat Joy ingin menanyakan hal tersebut.


"Apa...? Memangnya ada apa?" Rina tampak benar-benar tidak mengetahui perasaan Harry padanya, membuat Joy menghembuskan nafasnya panjang.


"Rina... Apa kamu memang tidak tahu perasaan kak Harry sama kamu? Kak Harry itu suka sama kamu selama ini, apa kamu benar-benar nggak menyadarinya?" Joy memegang kedua bahu Joy dan menatap kedua bola mata Rina yang kini tampak kebingungan.


"Kamu bercanda kan Joy, perasaan apa?" Rina tampak tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Joy kepada nya.


"Aku nggak mungkin bercanda untuk masalah seperti ini Rin, kak Harry selama ini suka sama kamu. Apa kamu nggak menyadari perhatiannya ke kamu selama ini?" Joy beralih menggenggam kedua tangan Rina untuk meyakinkan sahabatnya tersebut.


"Aku... " Bibir Rina terasa keluh dan tak bisa berkata apa-apa setelah mendengar perkataan Joy.


"Benar... Kak Harry suka sama kamu Rina" Rasanya Joy bingung harus bagaimana menjelaskan nya kepada Rina, sedang saat ini sahabatnya itu tampak sedang kebingungan.


"Dari mana kau mengetahuinya kalau dia memang menyukai ku, Joy?" Rina ingin memastikan bahwa yang dikatakan Joy adalah benar.


"Kak Jhony yang mengatakan nya padaku, itulah mengapa tadi kami meninggalkan kalian berdua. Agar kak Harry bisa dengan leluasa berbicara dengan mu Rin" Seketika Rina pun menundukkan kepalanya.


"Bagaimana ini... Aku sungguh tak tahu kalau dia... dia menyukai ku..." Seketika penyesalan pun menyeruak dalam pikiran Rina, bagaiman tadi dengan semangatnya dia menceritakan tentang bertemu dengan beberapa lelaki tampan dari sekolah lain.


"Tenang lah Rin, sekarang kamu udah tahu bagaimana perasaan kak Harry kepadamu. Maka kini tergantung dari kamu, mau terima perasaan nya atau tidak" Joy mengelus bahu Rina untuk menenangkan nya.


"Tapi... Joy... Kak Harry pasti merasa kesal dengan perkataan ku, karena sebelum dia di ajak pergi oleh seorang gadis aku mengatakan kalau kak Harry bukan siapa-siapa aku dan dia tidak berhak melarangku yang mengagumi seorang lelaki" Rina menjelaskan apa yang di ucapkan nya kepada kak Harry tadi, sebelum seorang gadis datang dan menggandeng tangan nya untuk pergi.


"Kamu bisa menjelaskan nya nanti sama kak Harry, ayo kita pulang dulu Rin. Kamu harus tenangin diri dan pikiran kamu dulu" Joy tersenyum sembari mengulurkan tangan untuk Rina pegang, keduanya pun akhirnya pulang bersama.


Jhony sedang menunggu Joy dan Rina di parkiran, sebelumnya Joy sudah memberi tahu kepada Jhony bahwa dia akan berbicara sejenak dengan Rina sebab dilihatnya Rina sedang ada masalah.


Jhony pun mengatakan bahwa dia akan menunggu di parkiran saja, dan kini Joy sudah keluar dari sekolah bersama dengan Rina.


Jhony dapat melihat Rina yang tampak murung, biasanya sahabat kekasihnya itu akan sangat bersemangat dan ceria. Sangat jarang melihat Rina yang diam dengan wajah yang di tekuk.


"Sudah selesai?" Jhony pun bertanya kepada Joy yang masih menghela kedua bahu Rina dan menuntunnya berjalan.


"Em... " Joy menanggapi pertanyaan Jhony dengan anggukan dan mengulas senyum.


"Ayo aku antar pulang" Ajakan Jhony di angguki Joy dan segera membawa Rina masuk ke dalam mobil.


Didalam mobil ketiga nya hanya diam saja, Joy duduk di belakang bersama Rina karena dia merasa harus menemani sahabatnya saat ini yang sedang galau.


Jhony bisa memaklumi apa yang di rasakan Rina, tidak ada salahnya jika Joy ingin menemani sahabatnya agar lebih tenang.


Sampai di rumah Rina, Joy menemani Rina hingga ke depan pintu rumah nya. Setelah Rina masuk ke dalam rumah barulah Joy kembali masuk ke dalam mobil dengan Jhony yang masih menunggunya di sana.


"Bagaimana?" Saat Joy masuk ke dalam mobil, suara Jhony terdengar menanyakan keadaan sahabatnya.


Joy mengedikkan bahu "Nggak tahu kak, kayaknya Rina masih kepikiran kak Harry" Joy berubah sambil membayangkan wajah sahabatnya yang sangat sedih.


Lalu mengalirlah cerita yang tadi di dengar dari Rina, kini Joy menceritakan kepada Jhony seperti yang tadi di ceritakan Rina kepadanya.


Jhony pun akhirnya mengerti, dan menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu ceritanya, mereka sudah salah paham" Jhony menarik sebuah kesimpulan dari cerita Joy tadi.


"Benar kak, mereka sudah salah paham. Tapi... aku juga ragu dengan perasaan Rina kak" Joy mengangguk dan mengutarakan keraguannya dengan perasaan Rina kepada Harry.


"Begitukah... Tetapi tidak mengapa, yang terpenting kini Rina sudah mengetahui perasaan Harry kepadanya" Dengan mata yang masih fokus pada jalanan di depan nya, Jhony pun mengungkapkan pendapatnya.


"Iya kak, semoga mereka bisa segera menyelesaikan masalah mereka. Sebenarnya... Aku sih mau nya mereka sama-sama suka, tapi kalau memang mereka cuma bisa berteman nggak masalah juga sih" Wajah Joy sedikit kecewa mengingat sikap sahabatnya yang sepertinya tak memiliki perasaan yang sama dengan Harry.


Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di rumah Joy. Jhony mengantarkan Joy hingga di depan pintu rumah nya, mama Silvi keluar membuka pintu kepada mereka.


"Sayang, sudah pulang?" mama Silvi langsung mencium pipi putrinya.


"Iya ma.." Jawab Joy.


"Selamat sore tante.." Sapa Jhony kepada mama Silvi.


"Sore nak Jhony, oh iya kamu buru-buru nggak? Kalau nggak, ayo masuk dulu. Tante ada buat makanan ke sukaan Joy, kalau nak Jhony sempat kita makan dulu yuk" Setelah mendapat anggukan kepala dari Jhony, mama Silvi mengajak Jhony dan Joy masuk dan mencicipi makanannya.


Jhony dan Joy sudah duduk manis di kursi meja makan, mama Silvi tampak sedang sibuk menyiapkan makanan yang telah di buatnya tadi.


Beberapa saat kemudian, mama Silvi berjalan menuju meja makan dengan membawa sebuah nampan berisi makanan yang telah di buatnya.


"Ini... Tante buat kolak kesukaan Joy, waktu kecil Joy sering banget meminta tante membuat makanan ini bahkan hampir setiap minggu tante membuatkannya.


"Wahh... Kalau ini sih Jhony juga suka tante..." Jhony berujar dengan penuh semangat, pasalnya makanan kolak yang di buat mama Silvi juga salah satu makanan kesukaan nya sejak dulu.


"Benarkah.. Bagus kalau begitu, ayo cepat di makan mumpung masih hangat" Mama Silvi tampak sangat senang mendengar appa yang di katakan Jhony barusan.


Ketiga nya pun menikmati suasana sore dengan di temani kolak buatan mama Silvi. tak hanya itu saja, mereka menikmati makanan sambil bercerita.


Mama Silvi menceritakan apa saja makanan kesukaan Joy, dan makanan yang di sukai suaminya bahkan keluarga nya sering memasak masakan apa juga di ceritakan nya kepada Jhony.


Begitu pula dengan Jhony yang menceritakan makanan kesukaan nya, namun terkadang terkendala pada mama nya yang sangat sibuk sehingga sangat jarang mamanya memasak di rumah.


Biasanya hanya asisten rumah tangga nya yang memasak untuk nya dan sang mama.


.


.


.


Stay Save Readers..


Semoga sehat sllu


Semangat ya..


Thanks😉