Let See The True Love

Let See The True Love
89.



Melewati semua perdebatan saat di jalan, alhasil saat ini keduanya sudah sampai di rumah Joy. Kemenangan tentunya di tangan Jhony saat ini, karena mereka jadi singgah ke toko buah untuk membeli buah yang sudah di pikirkan oleh Jhony tadi.


Tidak hanya itu, curahan hati dari Joy juga mengiringi perjalanan mereka. Joy akhirnya bisa bernafas lega, karena Jhony dengan tegas memberi keyakinan padanya untuk tidak meragukan cintanya.


"Ayo sayang" Jhony mengulurkan tangannya untuk Joy yang masih duduk manis di dalam mobi.


"Terima kasih" Joy berucap dengan senyuman manis menghiasi wajahnya.


"Mama dan papa pasti sudah menunggu, apa kita sudah terlalu lama di toko buah?"


Melangkah bersama menuju pintu rumah, Jhony melihat kembali jam yang melingkar di pergelangan tangannya dan mendapati waktu yang sudah menunjukkan jam tujuh malam.


"Kurasa mereka pasti akan menunggu kita, kan sudah ku bilang tidak usah membeli apapun. Kau seperti mau menemui orang lain saja Jhon" Joy berdecak kesal.


"Maaf, tapi aku merasa aneh jika datang ke rumah pacar tapi tidak membawa apa-apa. Hehehe" Jhony terkekeh sambil menggaruk belakang lehernya.


Baru saja Jhony mengangkat tangan di udara bermaksud untuk mengetuk pintu, namun tiba-tiba pintu sudah di bukakan seseorang, yang adalah bibi di rumah Joy.


"Nona Joy dan nak Jhony sudah tiba, bibi baru saja mau mengecek. Ayo masuk non, nak Jhony. Nyonya dan tuan sudah menunggu di ruang keluarga, ayo..." bibi tampak senang melihat kedatangan Joy dan Jhony.


"Malam ma, pa" Joy langsung menghampiri mama dan papanya yang sedang berbincang di ruang keluarga.


"Malam sayang, dimana nak Jhony? Apa dia tidak mampir?"


"Aku di sini ma, selamat malam ma, pa" Jhony berjalan mendekati ketig orang yang sudah duduk di sofa.


"Kenapa lama sekali sayang, apa jalanan sangat macet?" tanya mama Silvi.


"Tuh.. mama tanya aja sama anak laki-laki mama" mata mama Silvi melirik bergantian Jhony dan juga Joy.


"Ini ma, tadi... kami singgah dulu beli buah-buahan!" Jhony tampak tidak enak kepada kedua orang tua Joy karena sudah membuat mereka berdua menunggu begitu lama.


"Tidak perlu repot-repot, Jhon. Kita itu keluarga, kenapa pakai singgah beli buah segala" bantah mama Silvi.


"Enggak tahu tuh ma, udah di bilangin juga masih aja enggak mau dengar" Joy masih merengut di depan mama Silvi, kedua orang tuanya hanya bisa senyum-senyum melihat tingkah keduanya.


"Ya sudah, ayo kita ke ruang makan. Ini sudah malam" akhirnya papa Joy memutus perdebatan yang entah sampai kapan, jika terus dibiarkan.


Kemudian papa Joy berjalan dahulu ke ruang makan, di ikuti mama Silvi, Joy dan Jhony.


*****


Selesai makan malam, mereka menahan Jhony sebentar dan kini mereka sudah duduk di ruang tamu.


Sementara Jhony sedang berbincang dengan orang tua Joy, Joy malah sudah ke kekamar nya untuk membersihkan diri.


"Saya dengar kamu mulai bantu kerja di kantor mama mu ya?" mama Silvi baru saja meninggalkan Jhony bersama dengan suaminya.


"Benar pa, hanya mengisi waktu liburan"


"Apa tidak mengganggu masa belajar kamu nak, jika kamu membantu pekerjaan di kantor juga?"


"Sebenarnya ini keinginan saya sendiri, karena menurut saya praktek lebih penting dari pada hanya teori saja"


"Begitu.. benar katamu, saya setuju. Memang begitulah jika sudah masuk kedunia bisnis, mungkin karena darah yang mengalir di tubuh kamu sudah terpatri darah pebisnis. Jadi akan semakin memudahkanmu untuk menjalaninya, kedua orang tuamu ada orang-orang hebat!"


"Oh iya, saya dengar dari Joy kamu akan melanjutkan sekolah perguruan tinggi di luar negeri. Benarkah itu?"


"Iya, itu benar pa"


"Bagus nak, tuntutlah ilmu setinggi mungkin saat kita masih mampu untuk belajar dan juga dalam keadaan materi. Karena... masih banyak yang ingin bersekolah namun terkendala dengan segala hal dan salah satunya adalah materi, bukan begitu?"


"Emm... menurutku juga begitu pa. Ini juga sebagai janjiku kepada daddy, karena sejak dulu daddy sudah memiliki cita-cita agar aku kuliah dimana dulu beliau belum mampu untuk kuliah di sana pa"


Tampak Jhony mengenang bagaimana kasih sayang ayahnya yang tidak terbatas itu, ia selalu mengingat pesan-pesan yang di berikan sang ayah kepadanya.


"Kamu benar-benar anak yang berbakti. Semoga ayahmu kini berbahagia melihat kamu yang tumbuh dengan baik bersama ibumu sekarang" papa Joy tersenyum, ia cukup senang bisa berbincang banyak dengan Jhony.


"Ayo di minum dulu teh nya" mama Silvi menyuguhkan dua cangkir teh untuk mereka, sebenarnya sedari tadi dia sudah selesai membuat teh. Tetapi dia juga sengaja tidak cepat-cepat keluar dari dapur, dan malah mendengarkan percakapan suaminya bersama Jhony yang menurutnya belum bisa di ganggu.


"Terima kasih ma, saya minum dulu pa, ma" ucap Jhony sambil mengangkat cangkir yang ada di hadapannya.


Keduanya pun mengangguk, tak lama papa Joy juga mulai mengambil cangkir teh di depannya dan meminum teh yang sudah di suguhkan oleh istrinya itu.


Selesai berbincang, Jhony pamit pulang karena waktu yang sudah cukup larut. Sebenarnya, Jhony tampak enggan untuk pulang tetapi bagaimana pun besok dia harus kembali kekantor.


Joy juga merasa khawatir jika Jhony pulang terlalu larut, akan sangat bahaya mengandarai mobil jika sudah larut malam. Dan juga sudah dapat di pastikan, kelelahan dan kantuk pasti menghinggapi Jhony saat berkendara sendiri. Joy rasanya tidak ingin memikirkan hal buruk apapun kepada Jhony.


"Aku pulang dulu ya, istirahatlah setelah aku pulang hmm..." Jhony merapihkan rambut Joy yang sedikit berantakan akibat di acak olehnya tadi.


"Jangan khawatirkan aku, malah dirimulah yang membuat aku khawatir. Kau jadi pulang sendiri dan selarut ini karena mengantarkan ku pulang, tapi ini semua salah mu... kenapa juga menahanku di kantor tadi..." Joy mencebikkan bibirnya.


"Aku tidak lelah sayang, baterai ku sudah penuh karena melihatmu seharian"


"Jangan bercanda, aku sedang serius.."


"Haha... ok, ok. Aku pulang dulu ya sayang, selamat malam" Jhony mengecup kening Joy cepat, dan hendak berjalan menuju mobilnya.


"Selamat malam, i love you.." ucapan Joy membuat Jhony tersenyum lebar, hingga deretan giginya yang putih terlihat sempurna sekarang.


"I love you to baby" kini tangan Joy yang menjadi objek kecupan dari Jhony, setelah nya dia benar-benar masuk ke dalam mobil dan menurunkan kaca jendela mobil dengan cepat.


"Aku akan langsung mengabarimu saat aku sampai di rumah" Joy mengangguk dan kemudian ia juga bersuara.


"Hati-hati di jalan" lambaian tangan mengiringi laju kendaraan Jhony yang tampak normal meninggalkan halaman rumah Joy.


'Sepertinya aku sudah merindukanmu saja, padahal dia baru saja pulang...ada apa denganku" Joy mendengus dan dengan perlahan berjalan masuk ke dalan rumah.


.


.


.


stay save readers


semangat terus ya, selamat malam mingguan. Jangan lupa bantu like ya dan komennya, vote juga.


terima kasih😉