Let See The True Love

Let See The True Love
57.



Sesuai dengan rencana, mereka hari ini akan berangkat liburan. Mereka memutuskan berangkat di pagi hari, Joy tampak sudah siap dan turun ke bawah untuk menemui orang tuanya.


"Pagi ma, pa..." Sapa Joy saat sudah sampai di dapur, setelah itu Joy juga menciumi pipi kedua orang tuanya.


"Pagi sayang.. " Ucap mama dan papa berbarengan.


"Kompakan banget" Balas Joy kemudian.


"Iya dong.. " Ucap sang mama.


"Kamu sudah siap nak?" Tanya papa.


"Em.. Joy uda siap pa, tinggal tunggu jemputan" Ucapnya senang sambil menggigit roti lapis yang sudah di siapkan oleh mama Silvi.


"Sayang, ingat pesan mama ya. Jangan melakukan hal yang tidak boleh di lakukan pasangan remaja, dan jangan berkelakuan aneh di sana nak" Mama Silvi merasa khawatir, karena baru sekarang putrinya pergi berlibur tidak bersama mereka.


Memang baru kali inilah Joy berlibur bersama teman2 nya, mengingat Joy yang sudah remaja mereka pun tidak ingin terus mengekangnya. Joy beralih memandangi sang papa, seolah dia tahu bahwa papa nya akan memberi nasehat untuk nya.


"Papa yakin anak papa sudah besar dan pasti tahu apa yang baik dan apa yang tidak baik" Papa memberi senyuman hagat kepada Joy yang saat ini sangat tersentuh dengan ucapan papanya, seolah memberi kebebasan tapi masih dalam batas wajar padanya.


"Tentu pa, Joy akan ingat pesan papa dan mama" Lalu mereka meneruskan sarapan nya.


Tak lama kemudian mobil yang di tumoangi Jhony sudah sampai di depan rumah Joy, Jhony meminta supirnya untuk mengantar mereka ke bandara.


Jhony sudah turun dari mobil dan berjalan menuju pintu utama rumah Joy, sampai si depan pintu Jhony segera mengetuk nya hingga beberapa saat kemudian pintu terbuka. Terlihat Joy yang sudah bersiap dan di ikuti oleh papa dan mamanya di belakang, mereka berjalan mendekati pintu dimana Joy dan Jhony sedang berdiri.


"Selamat pagi om, tante" Jhony menyalami kedua orang tua Joy.


"Pagi nak, kalian sudah mau berangkat?" Tanya mama Silvi.


"Iya tante, kita booking tiket pesawat pagi"


"Hallo Joy.." Dari dalam mobil Rina memanggil Joy seraya melambaikan tangannya.


"Hai... " Joy membalas lambaian tangan Rina.


"Ya sudah berangkatlah nak, nanti keburu di tinggal sama pesawatnya" Papa Joy memerintahkan mereka untuk segera berangkat agar tidak terlambat menuju bandara, sambil mengelus kepala putrinya papa Joy tersenyum kepada putrinya.


"Baiklah pa, kalau begitu kami berangkat ya pa" Joy menciumi kedua pipi papa nya.


"Ma, Joy berangkat ya" Joy kembali melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan kepada papanya.


"Iya sayang, jaga makan kalian di sana ya! Jangan jajan sembarangan" Mama Silvi berpesan kepada mereka "Joy.. Ingat pesan mama dan papa ya!" Mama Silvi mencubit gemas hidung mancung putrinya, serta menyampaikan kalimat untuk mengingatkan Joy.


"Nak Jhony, tolong jaga putri kami. Meski om tahu kamu pasti akan menjaganya, tapi tetap saja om merasa harus mengatakannya langsung" Tatapan mata papa Joy menyiratkan sebuah harapan kepada Jhony untuk menjaga putri semata wayangnya itu, meskipun ada sedikit rasa kekhawatiran namun ia mencoba untuk menepisnya dan meyakinkan dirinya bahwa lelaki yang kini berstatus pacar putrinya akan selalu menjaga putri mereka.


"Tentu saja om, om dan tante tidak perlu khawatir dengan Joy. Saya akan menjaga Joy agar selalu aman" Jhony mengucapkan kalimatnya sambil menautkan tangannya kepada Joy.


"Baiklah kalau begitu kami berangkat dulu ya om, tante" Jhony kembali berpamitan kepada kedua orang tua Joy, di ikuti Joy yang sama berpamitan kepada orang tuanya.


Jhony membantu Joy untuk membawa koper milik Joy yang tak begitu besar, namun isinya cukup berat untuk di angkat oleh wanita. Jhony menggeret koper tersebut hingga di depan bagasi mobil dimana supirnya sudah menunggu untuk memasukkan nya.


Setelah selesai menyimpan koper, mereka segera masuk ke dalam mobil dimana teman-teman mereka sudah menunggu.


Kini mereka semua sudah berada di dalam mobil yang di kendarai oleh supir Jhony, mereka terdiri dari Jhony, Joy, Rina, Harry, Siska juga Erick.


Suasana didalam mobil pun menjadi riuh tatkala Harry dan Erick menjahili Siska dan Rina, begitulah tingkah mereka berdua yang selalu kocak dan banyak akal untuk mengganggu gadisnya.


Jhony dan Joy hanya bisa tertawa melihat keduanya yang tak henti-hentinya mengganggu Siska dan Rina hingga keduanya menjadi kesal, Jhony sendiri duduk di samping supir, Harry dan Erick duduk di jok paling belakang. Sedangkan Joy, Rina dan Siska duduk di jok tengah.


Kurang lebih empat puluh lima menit mobil pun sampai di bandara, sang supir dengan cekatan menurunkan koper-koper mereka ke troli yang sudah tersedia di sana.


"Terima kasih pak Hasan, kami masuk dulu" Ucap Jhony sambil memeluk sejenak lelaki paruh baya yang sudah menjadi supir keluarganya bahkan sebelum Jhony lahir.


"Sama-sama tuan muda, selamat berlibur untuk tuan dan teman-teman nya" Pak Hasan pun mengulas senyum kepada anak majikannya, mereka memang sudah sangat dekat bahkan istri pak Hasan selalu menitipkan makanan jika dia memasak hidangan spesial di rumah nya.


Setelah nya mereka segera chek in karena memang waktu yang sudah mendekati penerbangan mereka, setelah beberapa saat di loket pemeriksaan akhirnya selesai. Kini mereka berjalan menuju pesawat yang akan mereka tumpangi, Jhony menggenggam tangan Joy dengan posesif. Apalagi saat ada lelaki yang mulai memandangi Joy, Jhony akan berusaha menutupi Joy agar tak dicuri pandang oleh laki-laki lain. Tingkah Jhony berhasil membuat Erick dan Harry tertawa, mereka tidak percaya dengan sikap Jhony saat ini.


"Hei bro.. Hanya dengan melihat nya, pacarmu tak akan hilang" Erick dengan jahil menepuk bahu Jhony yang kini berdiri di samping Joy dan merangkul bahu nya dengan erat.


"Benar kata Erick, apa yang kau takutkan. Pacarmu saja tidak menggubris pandangan mereka, kenapa kau jadi positif begini, apa jangan-jangan ini bukan kau" Harry menimpali perkataan Erick, bahkan sekarang dia berjalan mundur di hadapan Jhony dan meneliti wajah sahabatnya itu.


"Shit... Pergi sana, jangan menghalangi jalanku" Jhony mendorong Harry agar menyingkir dari hadapannya, namun keduanya kembali tertawa lebih keras dari yang tadi dan menimbulkan perhatian bagi penumpang lainnya yang juga akan menaiki pesawat yang sama dengan mereka.


"Kenapa kak?" Joy yang merasa kebingungan dengan candaan sahabat Jhony pun bertanya.


"Tidak ada, jangan hiraukan mereka. Kamu tahu kan mereka selalu jahil, hah... " Jhony tak ingin melihat ke belakang nya yang sudah pasti banyak pasang mata yang memperhatikan nya juga Joy.


Semua nya sudah sampai di dalam pesawat hanya tinggal menunggu waktu take off, di dalam pesawat Jhony masih saja menggenggam tangan Joy bahkan sesekali mencium punggung tangannya.


Mendapati Jhony yang memperlakukan nya begitu lembut, membuat Joy merasa di cintai dan di hargai. Jhony memang sering memegang tangannya, namun dia tidak pernah melewati batas bahkan untuk me***um bibir Joy dia belum pernah melakukan nya. Hanya sebatas mengecup kening Joy, dan membelai kepala Joy dengan lembut. Joy semakin yakin dengan kasih sayang yang di berikan Jhony, Jhony tak pernah mengeluh saat Joy bersikap manja padanya.


.


.


.


Stay Save readers


Thanks😉