
Masih dalam situasi kagum nya dengan apa yang sedang di lihatnya itu, Joy pun masih terpaku di tempat nya berdiri. Rina sudah sampai di kantin dan kini ia sedang mencari Joy, sama seperti sahabatnya tadi. Dia pun mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Joy, namun matanya melihat sahabatnya berdiri membelakanginya.
Rina pun berjalan mendekati Joy, namun Rina bingung kenapa sahabatnya masih terdiam di tempat nya berdiri saat ini.
"Hei... kok bengong?" tanya Rina setelah sudah berada di samping Joy.
"Eh... Rina udah selesai ke toilet nya?" Joy malah balik bertanya.
"Ye... aku duluan yang tanya, ngapain kamu bengong di sini Joy?" tanya Rina lagi.
"Oh... itu... " mengarahkan pandangan nya dimana Jhony sedang sibuk membantu menyiapkan pesanan siswa siswi di salah satu warung langganan Joy dan Rina.
"Pantesannnn... ya ampun Joy, mau dapat di mana lagi cowok yang beginian mah" ucap Rina, dia pun tak bisa menutupi ke kaguman nya terhadap kekasih sahabatnya itu.
"Sembarangan... " di cubitnya perut sahabatnya itu "Emang kak Jhony apa an bisa di dapat dengan gampang?" Joy berpura pura kesal.
"Haha... iye iye sorry, yuk ke sana" Rina mengajak Joy untuk ke warung langganan mereka.
"Em... " Joy mengangguk dan mengikuti langkah Rina.
Sampai di warung langganannya, mereka di sambut oleh sang pemilik warung yang super heboh.
"Halo neng cantik dan manis, mau pesan apa?" mendengar kehebohan sang pemilik kantin, Jhony pun menengadah dan melihat dua orang gadis yang sangat ia kenal sehingga membuatnya tersenyum.
"Halo bi, pesan bakso lengkap dua porsi ya bi" Rina yang menjawab pertanyaan bibi penjual.
"Oke.. siap neng" bibi pun mengangkat jempolnya ke depan.
"Hai... Joy baru sampai ya?" Jhony tampak malu melihat Joy yang kini melihat nya dengan senyuman terukir di Wajahnya.
"Hai... Kak, iya kami baru aja sampai" jawab Joy sambil mengangguk.
"Nak Jhony kenal sama neng cantik dan manis ya?" bibi penjual pun bertanya kepada Jhony karena melihat keduanya yang tampak mengobrol.
"Kenal lah bi" jawab Jhony.
"Mereka bukan hanya kenal bi... tapi mereka itu pacaran bi" Rina pun berbisik kepada bibi kantin, yang tampak angguk-angguk saja mendengar bisikan Rina.
"Oh... sudah pacaran?" tanya bibi setengah berbisik di depan Joy dan Jhony, sehingga membuat keduanya menampilkan senyum malu-malu.
"Iya bi, lihat aja muka mereka berdua udah merah gitu hehe..." Rina menambahkan kalimatnya.
"Iya... ya udah sana duduk sama neng cantik dan manis ini nak, nggak usah bantu lagi. Lagian udah sepi" bibi penjual pun menyuruh Jhony untuk duduk dan di buatkan nya tiga porsi bakso untuk Joy, Rina dan Jhony.
Ketiganya pun berjalan ke sebuah meja yang tak ada orang di sana, mereka kini sudah duduk di kursi masing masing dengan posisi Rina duduk sendiri berhadapan dengan Joy dan Jhony di samping Joy.
Rina melihat Jhony berbicara dengan Joy dan sesekali merapihkan rambut Joy yang tampak sedikit terurai ke depan, pemandangan tersebut membuat Rina mendengus melihat gelagat keduanya yang menuai keromantisan yang sewajarnya.
Mau bagaimana lagi, jika punya sahabat yang sedang jatuh cinta. Rina pun tak bisa menyangkal jika suatu saat dia bertemu dengan seseorang yang di sukai dan menjalin hubungan pacaran di sekolah, bukan tidak mungkin dia juga akan berkelakuan sama dengan seperti Joy dan Jhony saat ini.
"Gimana tadi seminar nya? Keren nggak?" Tanya Jhony di sela sela menunggu makanan mereka datang.
"Seru dong kak, banget malahan..." Ucap Joy dengan penuh semangat.
"Iya..? Coba ceritain apa aja yang di dapat dari seminar tadi?" Jhony semakin penasaran dengan seminar yang di ikuti Joy tadi, dia pun memiringkan tubuhnya agar sepenuhnya menghadap ke arah Joy dan menanti Joy bercerita.
Sedang asyik sendirian, Rina pun di kejutkan dengan kedatangan Harry.
"Hayo... melamun apa" Rina yang tadinya sedang melamun pun tersentak dengan suara Harry yang sedikit keras di pendengaran nya.
"Kagetin aja deh kamu..." Saking kagetnya Rina langsung memukul bahu Harry beberapa kali dan cukup keras, membuat si empunya bahu mengaduh kesakitan.
"Ampun.. Ampunn... Awhh... Nggak lagi deh" Menaikkan kedua tangan nya di atas, seperti seorang penjahat yang menyerah kan diri kepada polisi.
"Iya..Iya.. Sorry" Menjatuhkan bokong nya di atas kursi di samping Rina, Harry lalu mengangkat tangan nya dengan jari membentuk v yang berarti untuk berdamai dengan Rina.
"Dari mana aja kamu baru datang ke sini? Habis ketemu sama cewek?" Jhony bertanya kepada Harry, pasalnya saat bel istirahat berbunyi Harry langsung keluar dari kelas. Setahu Jhony tadi Harry bertemu dengan seorang siswi di dekat lapangan basket, ia melihat nya saat hendak ke kantin namun dia tak mau mengganggu sahabatnya itu.
"Tahu aja kamu Jhony" Ucap Harry cuek.
"Haha... Sorry bro, tadi aku nggak sengaja lewat di lapangan dann lihat kalian sedang ngobrol. Tapi aku nggak denger kok apa yang kalian omongin" Jhony kembali menimpali.
"Ehmm... Lagian juga bukan pembicaraan yang serius juga bro, santai aja kali haha..." Harry menjawab dengan sedikit menjelaskan.
Rina yang sedang menikmati minuman nya pun sedikit terkejut mendengar Harry bertemu dengan seorang cewek, tanpa sadar segelas teh es yang di pesan tadi pun sudah hampir habis diminum oleh nya.
Joy yang melihat sahabatnya sudah hampir menghabiskan teh es nya pun merasa aneh, biasanya mereka tak akan menghabiskan minuman dulu hingga makanan datang.
Joy tak sempat mengutarakan rasa penasaran nya, karena sesaat kemudian bibi kantin sudah datang membawa pesanan mereka bertiga tapi tidak dengan Harry.
"Kak Harry nggak pesan?" Tanya Joy, karena tak melihat bibi kantin membawa makanan untuk Harry.
"Nggak Joy, kalau ada yang mau ngasi sih aku terima" Melirik ke arah Rina yang mulai menikmati makanannya, Harry pun tersenyum sejenak kepada Joy.
Joy pun menyadari tingkah Harry, dia tahu jika kakak kelas nya itu menyinggung Rina sahabatnya.
Namun yang di singgung tak ada respon sama sekali malah terkesan cuek, membuat Joy menggelengkan kepalanya melihat sikap Rina yang begitu dingin terhadap Harry. Tak ada kesal yang terlihat di wajah Harry, dia tetap tersenyum melihat Rina yang sedang makan dengan lahap tanpa memperdulikan seseorang yang kini berada di samping nya.
Harry pun memesan minuman dan tetap duduk di sebelah Rina, dia merasa cukup hanya dengan memperhatikan gadis di samping nya ini makan dengan lahap.
Selesai makan, Jhony bersiap untuk membayar makanan mereka namun Rina dan Harry juga berdiri bersamaan.
"Kalian mau kemana?" Tanya Jhony yang melihat Rina dan Harry yang juga ikut berdiri.
"Aku mau bayar makanan aku kak" Ucap Rina.
"Aku juga mau bayar minum aku Jhon" Ujar Harry.
"Kalian duduk aja lagi, kan belum habis tuh... Nggak usah khawatir biar aku yanh traktir, udah lanjut lagi sana" Jhony menyuruh keduanya untuk duduk kembali dan menghabiskan makanan dan minuman mereka.
"Kak aku ikut... " Ucap Joy yang memang sudah selesai dengan makan nya.
Rina yang melihat keduanya sudah pergi meninggalkan dirinya dan Harry merasa canggung, seketika dia menjadi kebingungan dan sedikit gugup. Rina menyayangkan perasaan nya yang aneh ini, entah mengapa dia malah merasa deg deg an sekarang.
"Ehemm... Rina, gimana tadi seminar nya?" Tanya Harry membuka percakapan mereka.
"Ehm... Seru kok, jadi dapat banyak pengetahuan juga" Tidak tahu mengapa mulutnya terasa keluh dan sulit untuk mengucapkan kata-kata.
"Em.. Bagus deh kalai begitu, jadi tidak sia-sia kamu mengikuti seminar"
"He em... "Rina hanya mengangguk.
Keduanya tiba-tiba saja terdiam, dan hanya bisa tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Harry yang dari tadi sangat ingin berbicara dengan Rina pun, jadi tak bisa berubah dengan benar bahkan terkesan gugup saat sudah berdua seperti ini. Sungguh pemikiran yang aneh.
.
.
.
Hai..hai... Stay Save Readers
yuk bantu like and komen nya ya guys 😘
Thanks😉