Let See The True Love

Let See The True Love
60.



Cukup lama keduanya saling menatap seolah berbicara dari hati ke hati, sebelum kemudian Jhony tersadar saat air laut menerpa kakinya.


Saat melihat ke belakang, ternyata air laut nya mulai pasang. Lalu Jhony segera mengajak Joy untuk berjalan-jalan.


"Sepertinya air laut nya mulai pasang, ayo kita jalan-jalan nanti akan aku tunjukkan surprisenya" Sebelum mulai berjalan menyusuri pantai, ia pun tak lupa mengambil topi yang tadi sempat terjatuh dari kepala Joy.


"Emm..." Joy segera mengang-anggukkan kepalanya menyetujui ajakan Jhony.


Jhony dan Joy berjalan menyusuri tepian pantai, sesekali ombak membawa air laut menyapu kekaki mereka. Keduanya tampak sangat bahagia, terlihat dari senyuman yang di tampilkan di wajah keduanya saat ini.


"Duduk di sana sebentar ya" Menunjuk sebuah saung kecil di tepian pantai, Jhony membawa Joy berjalan ke sana untuk duduk bersantai sejenak.


Joy mengangguk dan mengikuti Jhony berjalan ke arah saung tersebut.


Mereka berdua kini menikmati suasana pantai yang begitu indah, belum lagi angin nya yang bertiup perlahan menerpa tubuh keduanya sehingga segala lelah yang dirasa saat perjalanan pun seolah hilang.


"Duduk lah di sini" Setelah Jhony duduk lesehan di saung itu, ia pun menepuk tepat di samping nya agar Joy duduk di sana.


"Iya.." Berjalan mendekati Jhony dan duduk di samping nya.


"Apa kau senang?" Jhony berucap seraya menyelipkan beberapa helai rambut Joy yang tertiup angin pantai.


"Tidak, aku tidak hanya senang. Tapi sangat-sangat senang" Joy memejamkan matanya untuk mengungkapkan betapa bahagianya ia saat ini.


"Benarkah?" Tanya Jhony, sambil menghadapkan wajahnya ke arah Joy.


"Iya, tentu saja benar. Aku sangat menyukai hal-hal yang berhubungan dengan alam, terutama pantai" Joy menarik pandangannya di antara deburan ombak yang berkejaran, senyum tak lepas dari wajahnya yang sangatlah manis menurut Jhony.


"Pantai ini memang indah, tapi tak seindah gadis yang kulihat sekarang ini.." Lirih Jhony menatap Joy dengan tatapan memuja, seakan tak ingin melepas tatapannya barang sejenak saja.


"Kak Jhony bisa aja gombalnya" Rona merah kini mulai muncul dari wajah Joy yang memang sudah sedikit memerah akibat panasnya sinat matahari yang menerpa nya.


"Aku sungguh-sungguh mengatakan nya, bagiku.. kamu adalah keindahan yang tak ternilai yanh di berikan Tuhan untukku" Perasaan Joy kini melambung tinggi, kalimat Jhony barusan sangat ampuh membuat dirinya begitu bahagia sampai-sampai ia tak ingin waktu cepat berlalu meskipun ia tahu itu tak mungkin.


Sang waktu memang tidak bisa di hentikan, ia akan terus berjalan sesuai dengan aturannya. Sore mulai menjemput dikala keduanya masih tengah bermain di tempian pantai, langit jingga yang begitu elok mulai merambat sehingga seisi lautan terpias akan warna nya yang begitu indah.


"Lihatlah di sebelah sana!" Seru Jhony sambil menunjuk ke tengah lautan, dimana matahari mulai bersembunyi di balik air laut.


"Wahhh... Sungguh indah... " Joy tak dapat berkata-kata lagi selain kata pujian itu.


Jhony tersenyum melihat expresi yang di tunjukkan Joy, rasa bahagia nya sungguh tak dapat di ungkapkan dengan kata-kata.


"Itu surprise buat kamu, sayang" Jhony merangkul bahu Joy dari belakang mengingat hari yang mulai senja dan semilir angin yang semakin sejuk, ia takut nantinya Joy bisa masuk angin.


"Benarkah?" Tany Joy penasaran.


"Ya.. Ini surprise ku untukmu, seperti janjiku dulu, suatu saat aku akan membawa orang yang spesial kemari dan mengungkapkan perasaanku dengan sungguh-sungguh. Joy, kamu adalah wanita spesial bagiku selain momy. Aku mencintaimu!" Ungkap Jhony.


"Aku sungguh menyukai surprise nya kak, terima kasih banyak. Dan.. aku juga mencintaimu... Sayang" Melepas rangkulan Jhony, Joy berbalik menghadap Jhony dan memeluknya.


Jhony tersenyum mendapati Joy memanggil dirinya dengan sebutan 'sayang' karena ia hampir tak pernah mendengar Joy merubah panggilan untuknya.


Sekarang pelukan Jhony akan menjadi candu baginya, karena entah bagaimana pelukan kekasihnya itu bisa menenangkan karena ada rasa aman di sana, menyejukkan dan ada kenyamanan dalam sandaran dadanya.


*****


"Apa kau senang?" Tanya Jhony kembali di saat mereka sedang menuju ke tepat dimana ia memarkirkan mobilnya.


"Sangat senang tepatnya" Jawab Joy sambil tersenyum kepada Jhony.


"Baguslah kalau kau senang, aku suka melihat senyum bahagiamu ini" Jhony mencubit pipi gembul Joy.


Jhony tengah mengendarai mobil nya ke arah villa, sepanjang perjalanan ia tak melepaskan genggaman tangan nya pada tangan Joy. Rasa bahagia nya kini semakin nyata, apalagi setelah kehadiran Joy dalam hidupnya.


Sampai di villa semua orang sudah menunggu mereka, tak hanya sahabat-sahabat mereka, seluruh pengurus villa juga sedang menunggu Jhony. Pasalnya mereka semua cemas setengah mati karena Jhony atau pun Joy tidak memberi tahu kemana mereka pergi.


"Jhony, Joy dari mana saja kalian. Kalian membuat kami khawatir saja, kenapa tidak memberi tahu jika ingin pergi keluar" Sergap Siska di depan pintu utama villa, di sana juga sudah berdiri Rina, Harry dan Erick.


"Ma..." perkataan Joy terhenti saat tiba-tiba Jhony menyela.


"Kami pergi jalan-jalan, maaf membuat kalian khawatir" Tangan Jhony dan Joy masih saling menggenggam, dan Jhony nampaknya enggan untuk melepas tangan Joy.


"Lain kali harus kasi tahu kalau mau jalan-jalan Jhon, jangan bikin orang panik kayak gini" Oceh Siska semakin panjang.


"Iya nih, tau Jhony bawa anak gadis orang lagi. Gimana kita nggak khawatir" timpal Erick.


"Ya sudah, yang terpenting sekarang mereka sudah pulang. Ayo sekarang kita masuk dulu" Putus Harry sambil merangkul Jhony untuk masuk ke dalam.


"Joy di sini dul, aku mau ngomong sebentar" Tangan Siska menahan lengan Joy, agar tetap di tempat.


"Ada apa lagi Sis, dia udah lelah berjalan biar dia istirahat dulu" Sambung Jhony seakan tak terima jika Siska ingin mengomeli Joy.


"Jangan mulai membelanya Jhon, ini gara-gara kamu juga. Aku harus omelin dia juga biar lain kali nggak bikin kita panik seperti sekarang ini" Siska kekeh menahan lengan Joy agar tetap di tempat.


"Tapi... " Jhony ingin menyela kembali.


"Nggak apa-apa kak.." Joy meyakinkan Jhony san mengangguk kecil, menenangkan pacarnya.


"Ayo kita masuk Jhon sudah mulai gelap" Ucap Harry.


Namun rasanya Jhony masih enggan untuk beranjak dari tempat nya berdiri saat ini, ia merasa kasihan kepada Joy yang tampak kelelahan.


Tetapi Harry dan Erick menyeretnya, dan membawa nya masuk kedalam rumah.


Setelah Jhony masuk ke dalam rumah, Siska mulai melancarkan aksinya untuk mengomeli Joy.


"Kamu habis dari mana dengan Jhony?" Tanya Siska, Rina masih senantiasa berdiri di sampingnya.


"Kami... pergi ke pantai kak" Ucap Joy lemah, sungguh saat ini dia sudah merasa sangat lelah.


"Bagus ya, kalian pergi jalan-jalan nggak ngajak kita-kita. Kalian liburan bersama kami atau cuma berdua sih sebenarnya? Kenapa kalian malah asyik-asyikan pergi berdua aja? Apa kalian nggak senang liburan nya bersama kami?" Siska mencecar Joy dengan beberapa pertanyaan, membuat Joy bingung harus menjawab yang mana dulu.


"Tidak, bukan begitu kak. Kami hanya pergi sebentar, dan kata kak Jhony besok kita akan pergi bersama-sama. Lagi pula... " Joy merasa mulai panik karena Pertanyaan Siska yang tampak sedikit marah karena tidak di ajak jalan-jalan, padahal sebelum pergi dia sudah mengajak mereka namun tidak ada yang mau pergi bersama dengannya.


"Sudahlah Joy, kalian alasan saja. Kalau memang ingin libur berdua saja kami akan segera pergi dari villa ini, dan akan mencari hotel di dekat pantai" putus Siska, membuat Joy semakin tidak enak hati. Rina yang melihat Joy hampir menangis merasa kasihan, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.


'kenapa jadi begini, tadi siang mereka bilang tidak ingin ikut karena lelah kan? tapi sekarang mereka marah karena tidak ikut jalan-jalan hiks..hiks..' batin Joy mulai merasa sedih dan air mata nya pun jatuh dari pelupuk matanya.


.


.


.


Stay Save readers


Me come back, selamat membaca ya guys.


Thanks😉