Let See The True Love

Let See The True Love
75.



Sampai di depan pintu rumahnya, Joy menoleh kebelakang dan mendapati Jhony yang berjalan sangat lambat sambil memegang kepala bagian belakangnya.


Joy semakin cemas melihat tingkah Jhony, pasalnya suara benturan kepala Jhony cukup keras sehingga Joy meyakini itu sangat menyakitkan.


Dengan segera Joy mengetuk pintu, berharap sang mama atau siapapun yang berada didalam segera membukakan pintu untuknya.


Tak membutuhkan waktu yang lama, saat tangan Joy hendak mengetuk lagi pintu yang ada di hadapannya, pintu itu pun segera terbuka.


"Joy.. Sudah sampai ya, mama kangen sayang" Suara mama Silvi terdengar begitu senang, ia segera memeluk putri satu-satunya yang sudah satu minggu ini pergi berlibur bersama teman-temannya.


"Iya ma.." Joy tersenyum mendapati mama


Silvi yang memeluknya begitu erat, bukan hanya kedua orang tuanya, dia pun begitu merindukan mereka sekarang.


"Oh iya ma, bisakah kita masuk dulu. Dan tolong mama ambilkan balsem untuk memar ya ma" Ucapan Joy membuat sang mama mengurai pelukan mereka.


"Ada apa memangnya sayang? Apa ada yang sakit? dimana?" mama Silvi mencecar Joy dengan banyak pertanyaan, sambil memperhatikan putrinya dari atas hingga ke bawah.


"Bukan, bukan Joy ma, tapi kak Jhony. Kepalanya terbentur saat di mobil dan juga ada benjolan di kepala bagian belakang yang terkena benturan"


"Sungguh? Dimana nak? Sini mama lihat!" Pas sekali Jhony yang baru menghampiri keduanya, langsung di layangkan pertanyaan oleh mama Silvi.


"Ti, tidak begitu sakit kok ma. Joy terlalu membesar-besarkan hehe.." tiba-tiba saja Jhony menjadi gelagapan menjawab pertanyaan dari mama Silvi.


"Benarkah? Sini biar mama periksa!" Belum juga mereka masuk ke dalam rumah dan masih berada di depan pintu, mama Silvi sudah maju dan membalikkan tubuh Jhony untuk melihat dimana benjolan akibat benturan di kepala Jhony.


Supirnya yang baru selesai membawa koper milik Joy ke dalam rumah merasa heran, ia juga berhenti sejenak di sana dan memperhatikan apa yang mereka ributkan.


"Oh tidak, ini lumayan menyakitkan nak. Ayo masuklah kedalam dulu, biar mama ambilkan balsem untuk mu. Ok!" Mama Silvi menggelengkan kepalanya sambil berjalan masuk kedalam rumah.


"Bagaimana kepalanya bisa terbentur sekeras itu, dari benjolannya sudah dapat dipastikan itu bukan benturan biasa ck.." Sambil berjalan kedalam, mama Silvi sambil bergumam yang masih dapat didengar oleh keduanya.


"Ayo kita masuk dulu, aku bilang juga apa. Ini udah enggak biasa benturannya, pasti sakit banget kan?" Joy menatap tajam kepada Jhony yang mulanya ingin mengelak lagi "Jangan bohong, itu pasti sakit banget kan huhhh.. " Joy langsung menarik tangan Jhony untuk masuk ke dalam, sang supir yang sudah mengetahui apa yang terjadi dengan tuan mudanya pun hanya menggeleng. Ia segera berjalan kembali kedalam mobil.


"Kenapa bisa tuan muda terbentur? Bukannya tadi nona Joy tertidur di bahunya" Sang supir juga tidak kalah bingungnya mendapati tuan muda nya yang baru di ketahui terbentur dan cukup keras.


*****


Setelah di buatkan minuman oleh bibi di dapur, kini Jhony dan Joy sudah duduk berdampingan di sebuah sofa yang cukup panjang sambil menunggu mama Silvi yang sedang mengambil balsem yang entah dimana letaknya.


Jhony sehari tadi hanya diam bergeming, Joy tidak tahu apa yang sedang di pikirkan oleh pacarnya itu sehingga tampak kebingungan.


Tidak begitu lama mereka dalam keadaan canggung lebih tepatnya Jhony yang terus berdiam diri, mama Silvi kembali dengan membawa sebuah kotak yang di yakini itu adalah tempat dimana balsem di simpan.


Mama Silvi duduk di samping Jhony dan mulai membuka kotak tersebut.


"Mama masih heran bagaimana kamu bisa terbentur separah ini nak?"


"Iya benar, aku juga bingung ma. Tadi tiba-tiba saja kak Jhony seperti kaget dan mundur mmenabrak dinding mobil dengan suara yang cukup keras ma" Joy yang juga merasa heran menatap tajam kepada Jhony.


"Ahh~ itu.. emm .. sebenarnya aku melihat.. kecoa, iya benar ada kecoa di bawah jok mobil. Karena terlalu kaget, aku sampai tidak terkendali memundurkan diri hehe.." Jhony menapilkam senyum yang di paksakan agar tidak ketahuan berbohong.


"Kecoa.. bagaimana bisa ada kecoa di mobil?" Joy berucap lirih sambil memikirkan ucapan Jhony.


"Oh.. bisa saja itu terjadi Joy, karena mobil juga seperti rumah kalau ada sampah dan tidak di bersihkan, ya.. pastinya kecoa juga suka" ucap mama Silvi membenarkan penjelasan Jhony.


"Tapi mobil kak Jhony sangat bersih, malah di dalam juga wangi dan masih terasa habis dipoles" Joy bergumam sambil mengingat kembali bagaimana isi didalam mobil Jhony.


'Kenapa dia malah repot memikirkan kondisi mobil sih, harusnya yang ada di pikirannya kan aku'


"Maaf nak, ah.. ini harus di gosok agar aliran darahnya kembali lancar" ucap mama Silvi.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah duduk sambil bercerita tentang liburan. Hari sudah mulai beranjak sore, Jhony akhirnya pamit pulang ke rumahnya.


Sebenarnya dia masih tetap ingin berada di sana, namun dia merasa tercekik jika terus berdekatan dengan Joy. Dia masih saja memikirkan soal di dalam mobil, karena itulah dia bisa di sini sekarang dan mendapat pertanyaan dari Joy dan mama Silvi.


"Kalau begitu Jhony pamit pulang dulu ma, sudah sore juga" putus Jhony.


"Apa tidak mau sekalian makam malam di sini nak?"


"Lain kali saja Jhony datang ke sini makan malam nya ma" Sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal, Jhony sedikit sungkan menolak ajakan mama Silvi yang biasanya akan dia ikuti.


"Baiklah kalau begitu, salam untuk mama kamu ya nak"


"Baiklah ma.. sampai nanti ma"


Setelah berpamitan, Jhony berjalan menuju pintu di ikuti Joy dari belakang.


"Aku pulang dulu ya, Dah.. " Jhony berbalik dan berpamitan kepada Joy sejenak.


"Iya, hati-hati di jalan. Sampai jumpa lagi" Joy tersenyum kepada Jhony, entah mengapa membuat tatapan Jhony tertahan cukup lama menatap Joy.


Joy melambaikan tangannya di depan Jhony saat tidak mendapat balasan, Jhony akhirnya tersadar saat tangan Joy menepuk bahunya.


"Ya..?" Jhony menatap Joy salah tingkah.


"Kamu kenapa sih, dari tadi aku perhatikan kamu melamun terus! Apa ada kamu sedang ada masalah?" Jhony menggeleng dengan cepat.


"Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya merasa tidak enak badan" Alasan Jhony.


"Benarkah, mungkin karena kelelahan" Joy memegang kening mengecek suhu tubuh Jhony, Jhony segera meraih tangan Joy.


"Aku hanya perlu istirahat, Joy.. Kalau begitu aku pulang dulu ya, sampai nanti" Jhony mengangkat tangan Joy yang di pegang dan mengecupnya perlahan, lalu ia segera berjalan menuju mobil dan masuk ke dalam.


Jhony merasa ada yang lain dalam dirinya, ia semakin tidak ingin melepaskan Joy walau hanya sebentar saja. Jika saat ini dia tidak segera masuk ke dalam mobil, atau dia berbalik melihat Joy kembali, mungkin dia akan kembali menghampiri Joy dan melakukan hal yang tidak seharusnya ia lakukan secara terang-terangan saat mereka berada di depan rumah.


saat sudah berada di dalam mobil, Jhony mendesah begitu keras sambil bersandar di sandaran jok mobil untuk melepaskan segala rasa aneh yang tertahan sejak tadi siang.


"Ayo jalan, kita langsung pulang.."


"Baik tuan muda"


Setelah itu Jhony langsung memejamkan matanya, berharap ia bisa menyegarkan kembali pikirannya yang kusut.


.


.


.


stay save readers


yuk bantu dukung Me, like & komen di tunggu ya!!


thanks😉