
Makan siang berlangsung cukup lama, karena hari ini Jhony sengaja meminta bibi memasak kepiting saus padang yang menjadi menu favorit Joy. Keduanya makan sambil sedikit bercerita, membuat suasana semakin ramai.
"Wah.. kalian tampak bahagia sekali, suara tertawa Jhony terdengar sampai di luar. Momy mengira ada teman-teman Jhony, ternyata Joy sudah datang." nyonya Riska hari ini pulang ke rumah untuk makan siang, jika Jhony berada di rumah makan ia akan sering pulang dan makan di rumah bersama anaknya itu.
Nyonya Riska sudah berdiri ditengah-tengah Jhony dan Joy, dimana keduanya duduk bersebelahan.
"Momy, selamat siang.. mari makan mom." Joy sudah berdiri dan hendak mengambil peralatan makan untuk nyonya Riska, namun nyonya Riska menahannya agar tetap duduk di tempatnya.
"Kamu mau kemana sayang?"
"Mengambil alat makan untuk momy."
"Tidak usah, biar bibi yang ambilkan saja. Kamu duduk lagi dan lanjut makannya." setelah Joy sudah kembali duduk, nyonya Riska berjalan ke wastafel untuk mencuci tangan.
Sedangkan sang bibi sudah menyiapkan peralatan makan untuk nyonya Riska.
Ketiganya pun makan bersama, sambil sesekali terdengar suara tawa mereka hingga di depan. Seluruh orang yang berada di sana pun ikut tersenyum saat mendengar suara sang nyonya, anak beserta kekasih sang anak bercengkrama begitu akrab dan bahagia.
Seusai makan, nyonya Riska kembali ke kantor dengan di antar sang supir. Meski ia masih ingin berkumpul bersama Jhony dan Joy, namun ia tidak bisa se egois itu meninggalkan kewajiban dan malah bersenang-senang bersama keluarganya.
Itulah prinsip nyonya Riska dan membuat seluruh karyawan sangat menghormatinya.
Tinggallah Jhony dan Joy berdua saat ini, setelah selesai makan siang mereka berdua mengisi waktu dengan membantu bibi mencuci piring yang mereka pakai tadi. Ada juga beberapa yang dipakai untuk sayur, bi Ina merasa tidak enak kepada keduanya namun mereka tetap tidak mau mendengarkan malah meminta bi Ina untuk istirahat di kamar.
Setelah bi Ina meninggalkan mereka dengan perasaan tidak enak, mereka mulai mencuci piring yang sudah menumpuk.
Sebelum itu mereka membuang sisa makanan yang masih ada di dalam piring. barulah mulai mencuci yang dilakukan oleh Joy sedangkan Jhony membantunya membilasnya. Sungguh kerja tim yang sangatlah baik, diam-diam didepan pintu dapur bi Ina masih memperhatikan keduanya. Sesekali mereka saling menggoda dengan busa sabun yang memutih, kembali bi Ina tersenyum melihat keduanya bekerja dengan sungguh-sungguh. Setelah itu barulah ia tenang dan pergi kekamarnya untuk istirahat.
"Selesai.. semua jadi ringan kalau di kerjakan bersama. Iya kan?" suara Joy menyeruak ketika mereka baru saja selesai membilas bersih tangan mereka.
"Iya, tentu saja cepat. Kan dikerjakan kita berdua." Jhony menaik turunkan kedua alisnya, tawa pun seketika pecah diruangan tersebut.
Joy begitu terhibur dengan banyolan dari Jhony, sejak mencuci piring hingga selesai pun ia tetap memberi hiburan yang menyenangkan bagi Joy.
"Ayo kita ke balkon lantai atas, bersantai di sana cukup nyaman di siang hari." ajak Jhony.
"Ok, tapi aku mau ke toilet dulu sebentar. Kamu naik aja duluan nanti aku nyusul ke atas."
"Baiklah."
Jhony mengambil cemilan di dalam lemari penyimpanan dan juga minuman dingin yang sudah di buat bi Ina sebelumnya dan di simpan di lemari pendingin, tidak lupa buah-buahan yang sudah di potong juga menjadi targetnya untuk di bawa.
Sedikit kerepotan membawa beberapa jenis barang di tangannya sekaligus, namun ia tetap berusaha agar tidak menjatuhkannya dan membuat keributan nantinya.
Balkon lantai dua rumahnya memang tempat yang nyaman untuk bersantai, selain tempatnya yang sejuk di sana juga menyajikan pemandangan kolam renang serta taman bunga milik mamanya Jhony.
Diatas meja sudah Jhony tata dengan rapih makanan dan minuman yang ia bawa, dua gelas minuman dingin beserta satu pitcher air putih sudah ada di sana. Karena tidak dapat membawanya sekaligus, akhirnya Jhony kembali lagi kebawah dan membawa sisa barang yang hendak ia bawa ke balkon.
Setelah beberapa saat kemudian, Joy pun menghampiri Jhony yang sudah duduk santai di sana.
"Ehm... di sini memang paling sejuk, dan juga bunga-bunga momy tampak cantik. Iya kan?" Joy berjalan ke pagar balkon, sambil melihat ke taman bunga matanya tampak berkilat senang.
"Tapi tidak secantik kamu." ucap Jhony, ia berdiri tepat di belakang Joy dan kedua tangannya melingkar di pinggang kekasihnya itu.
Jhony menjatuhkan dagu nya di bahu Joy, matanya juga melihat kemana mata Joy tertuju.
"Aku tidak sedang menggombal, aku hanya ingin mengungkapkan perasaan ku saja sayang. Apa tidak boleh?" nada suara Jhony terdengar berat, Joy menolehkan kepala sehingga wajah mereka saat ini sangatlah dekat.
Joy menatap lekat kedua bola mata Jhony yang juga menatap balik padanya, entah apa yang sedang lelaki itu pikirkan namun Joy bisa melihat adanya jejak kerinduan didalam mata itu.
"Tidak.. kau hanya boleh mengatakannya kepadaku saja, dan tidak kepada wanita lain." senyum tipis terlukis di wajah Jhony, namun itulah yang membuat Joy takut. Joy takut tidak bisa mengontrol dirinya dengan baik.
Jhony seketika kembalikan tubuh Joy agar mereka saling berhadapan, kedua tangan Jhony terangkat memegang pipi Joy yang begitu menggemaskan untuknya.
"Tentu saja aku hanya akan mengatakan kata-kata, kau cantik, kau manis, kau baik, kau pengertian, kau kekasihku dan aku mencintaimu." di akhir kalimat Jhony bahkan mencium kening Joy, membuat gadis itu tidak bisa berkata-kata lagi.
Wajah kebingungan Joy tergambar jelas, Jhony terkekeh melihat kekasihnya. Ia pun menuntunnya untuk duduk di sebuah kursi santai yang terletak di seberang kursi yang dia duduki tadi, sampai di sana ia pun masih terdiam tanpa kata.
"Bernafas sayang dan minumlah ini, kenapa kau jadi seperti ini? apa aku terlalu berlebihan?" gelengan kepala Joy menandakan bahwa ia sudah kembali sadar.
"Hah.. aku.. "
"Sudah sayang, jangan dibahas lagi. Tidak apa, aku hanya ingin kau mengetahui bahwa hanya dirimu yang ada di hatiku." untuk kali ini, Joy hanya menampilkan wajah merah merona mendapat pengakuan Jhony.
Jhony sudah berdiri dan akan berjalan ke kursinya untuk duduk, namun tangan Joy menariknya untuk duduk kembali disampingnya.
Tanpa kata-kata Joy mendekat dan menarik kaos yang dikenakan Jhony, dengan gerakan cepat Joy menautkan bibirnya ke bibir Jhony. Keterkejutanlah yang terlihat selanjutnya di wajah Jhony, kedua matanya terbelalak melihat keberanian Joy. Gadis yang sudah berani menautkan bibirnya malah terepejam, Jhony tidak ingin merusak suasana saat ini jadi dia mulai menuntun Joy dengan perlahan. Akhirnya keduanya mulai bekerja sama, dari yang awalnya hanya Jhony yang berusaha menuntun Joy sehingga kini gadis itu sudah mulai berani menggerakkan bibirnya perlahan.
Perlahan Jhony melepas tautan mereka, ia merasa Joy butuh oksigen karena dia mulai terengah di tengah ciuman mereka tadi. Lelaki itu mengecup kening Joy dan ikut menyatukan keningnya di kening Joy yang masih menutup matanya.
"Aku sangat menyayangimu, jadi tunggulah aku sayang." kesungguhan terdengar jelas dari suara Jhony kali ini, keyakinan Joy semakin kuat dan kepercayaannya tumbuh bersamaan dengan pengakuan Jhony kepadanya.
Berkali-kali ia dibuat jatuh hati pada Jhony, perlahan mata Joy terbuka namun air mata juga jatuh bersama dengan terbukanya mata Joy.
"Kenapa kau menangis?" menghapusnya dengan kedua ibu jarinya.
"Aku bahagia, sangat bahagia karena Tuhan menghadirkanmu dalam hidupku. Aku juga akan selalu menjaga hatiku untukmu, saat di luar negeri nanti jangan mencari wanita lain mengerti!" begitu cepat wajah sedihnya menjadi galak dan melotot kepada Jhony.
"Haha... baiklah sayang, aku akan selalu memberi kabar dan menelponmu saat ada waktu luang." Jhony mengelus kepala Joy dengan gemas, gadis ini benar-benar sudah mencuri seluruh perhatiannya.
Tidak pernah ada kata kesal dari Jhony untuk Joy, yang ada hanyalah menggemaskan juga rindu dengan segala ocehannya.
.
.
.
Hai. hai.. readersππ»ππ»
yuk bantu aku yuk, dengan like, komen, vote atau fav kan novel aku..
terima kasih yang sudah memberi like komen dan fvnya ya, yang sudah membaca juga Me ucapkan banyak terima kasih..π€π
stay save yaπ