Let See The True Love

Let See The True Love
87.



Sepanjang perjalanan pulang, Joy duduk dengan mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil. Hal tersebut membuat Jhony merasa bersalah, sebab dialah yang membuat Joy seperti itu. Alhasil sekarang dia kebingungan bagaimana cara untuk meminta maaf kepada Joy.


Jhony berpikir keras bagaimana caranya meminta maaf kepada Joy, karena saat keluar dari cafe Joy mengatakan akan pulang dengan taksi. Namun Jhony tidak mengijinkannya, dan memaksa untuk mengantar Joy hingga ke rumah.


Namun sekarang Jhony kembali berpikir, jika Joy langsung diantar pulang maka dia tidak bisa meminta maaf lagi nanti.


Mau tidak mau, dia memilih membawanya kekantor. Setidaknya dia harus meluruskan masalahnya dulu, sebelum mengantar Joy pulang ke rumahnya.


"Kenapa kembali ke perusahaan? Aku mau pulang Jhony!" Joy melihat ke arah Jhony dengan kesalnya.


"Maaf, tapi aku lupa kalau aku masih ada pekerjaan penting yang belum ku selesaikan. Aku mohon tunggu aku, kita akan pulang bersama nanti"


"Kau seenaknya saja menahanku untuk pulang, aku sudah bilang kalau aku akan pulang dengan taksi" Joy mencoba membuka pintu mobil, namun sayangnya masih terkunci dan Jhony tampak enggan untuk membukanya.


"Aku mohon, kita tidak bisa berpisah untuk pulang masing-masing dengan kondisi kamu yang masih kesal kepadaku Joy" nada lembut sudah Jhony gunakan sekarang, ia tidak bisa bersikeras dengan Joy.


"..."


Melihat Joy yang masih diam saja, Jhony kembali bersuara.


"Aku minta maaf Joy, ayo kita bicara di dalam. Aku akan mengantarkanmu pulang saat pekerjaan ku selesai, jadi... tolong tunggu aku di dalam hmm..?" Jhony memegang bahu Joy, untuk melihat langsung wajah cantik pacarnya yang kini sedang kesal kepadanya. Anggukan kecil terlihat juga dari Joy, membuat Jhony merasa senang dan membelai kepala Joy sejenak. Sungguh ia tidak tahan jika Joy merasa kesal kepadanya, dan berlama-lama tidak bicara kepadanya.


Jhony tersenyum dan segera keluar dari mobil untuk membukakan pintu bagi Joy, setelah itu ia menggenggam erat tangan Joy melewati meja resepsionis sambil memberi senyum sekilas. Begitu pula dengan Joy, ia tidak mungkin menampilkan wajah cemberutnya kepada semua karyawan yang mereka lewati. Akhirnya ia juga ikut tersenyum saat beberapa karyawan menyapa Jhony.


Sampai di ruangan Jhony.


"Duduklah di sini, apa kau ingin minum sesuatu? Katakanlah jika kau ingin cemilan, aku akan melanjutkan sedikit pekerjaan yang tadi ku tinggalkan"


"Tidak, aku tidak ingin minum atau makan apapun. Aku sudah kenyang" Joy tampak kelelahan dan memilih duduk bersandar dengan nyaman.


"Baiklah kalau begitu, aku tinggal untuk kerja ya sayang" sebelum berjalan ke meja kerjanya, ia sempatkan untuk mengecup kening Joy sejenak.


"Ini kan di kantor, bagaimana jika ada yang masuk?" kalimat Joy berhasil membuat Jhony terkekeh.


"Oho... asal kau tahu Joy, tidak akan ada yang berani masuk tanpa mengetuk pintu dulu Joy" sedikit mengacak rambut Joy, dan mulai melangkah kembali ke mejanya.


Ternyata apa yang di katakan Jhony sebagai alasan tidaklah bohong. Karena setelah Joy duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu, ia langsung berkutat dengan berkas-berkas yang ada di atas mejanya.


Entah mengapa Joy tak melepaskan pandangannya kepada Jhony, sejak kekasihnya itu mulai sibuk dengan berkas-berkas dimejanya.


'Dia ternyata sesibuk ini! Apa dia memang seseksi dan setampan ini saat bekerja? Pantas saja pelayan wanita restoran tadi juga menatapnya tidak berkedip. Dia sangat menggoda sih.... oopppss' Joy secepatnya menutup mulutnya yang mulai menganga, saat memikirkan tentang Jhony tadi. Dia memukul pelan kepalanya, mencoba membuang pikiran kotor yang ada di sana tentang pacarnya. Apalagi mengingat saat Jhony tidak mengenakan atasan dan menampakkan perutnya yang kotak-kota, lagi-lagi ia mencoba membuang pikiran nya yang mulai ngaur.


Kelakuan Joy terlihat oleh Jhony yang sedang mengalihkan pandangannya, ia memang sengaja sedikit mengawasi Joy yang tampak bergerak aneh. Ternyata saat dilihatnya, Joy memang sedang mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri dengan anehnya.


"Apa yang kau lakukan dengan kepala kecilmu itu sayang" Jhony yang sudah berada di sebelah Joy menahan pergelangan tangan Joy untuk kembali memukul kepalanya.


"Ka, kau mengagetkanku Jhony, bu-kannya kau sedang sibuk? Mengapa kau menghampiri ku?" Joy tampak seperti tertangkap basah, hingga saat berbicara pun tergagap seketika. Bukan hanya itu, jarak mereka berdua saat ini yang sangat dekat pun menjadi pemicu kepanikannya.


"Hehe.. kau tampak lucu baby.." mencubit hidung Joy perlahan "Aku tahu sejak tadi kau memperhatikanku yang sedang mengerjakan pekerjaan ku di sana" menunjuk ke tempat duduknya yang sedang kosong saat ini "Tapi aku ingin tahu, sebenarnya... apa yang sedang ada di dalam pikiran kekasihku ini, sehingga ia dengan anehnya memukul kepalanya sendiri saat melihat pacarnya yang sedang sibuk" Jhony sedikit berbisik di dekat telinga Joy dan membuat jantung Joy berdegup tidak karuan.


"Tidak, aku tidak memikirkan tentangmu. Aku hanya... hanya kepikiran sesuatu yang tadi lupa aku kerjakan di rumah. Em.. benar, aku teringat kalau aku harus menelpon mama di rumah" Joy hendak berdiri dari duduknya, karena duduk sedekat ini dengan Jhony tidaklah baik bagi jantungnya.


"Benarkah?" Jhony malah menahan tubuh Joy untuk tetap duduk di sebelah nya.


"Kalau begitu, kita bicarakan tentang masalah di cafe. Aku rasa kita harus meluruskan nya sebelum masalahnya menjadi panjang, aku mau minta maaf untuk perkataan ku tadi dan... aku tidak akan melarangmu untuk bekerja. Kau boleh bekerja di mana pun sesuka hatimu, tapi dengan kantor yang benar-benar resmi dan tidak aneh-aneh pastinya"


"Serius? Tapi memangnya ada kantor yang tidak benar dan tidak resmi?"


"Tentu... jadi ingatlah untuk memberi tahukan dimana kau akan bekerja!" Joy tampak mengangguk kan kepalanya.


"Tentu, terima kasih sayang" Joy berhamburan masuk dalam pelukan Jhony.


"Bagus kalau kau mengerti, gadis yang pintar" mengecup puncak kepala Joy cukup lama, tidak tahu mengapa beberapa hari ini Jhony cukup resah memikirkan bahwa dia akan berangkat keluar negeri untuk melanjutkan pendidikannya.


Tidak lama kemudian, keduanya pun mengurai pelukan mereka. Karena berada di dalam perusahaan, mereka harus menjaga sikap agar tidak keterlaluan apalagi jika ada yang tiba-tiba masuk dan mempeegiki mereka sedang berpelukan seperti tadi pastinya tidak akan baik.


"Aku akan segera menyelesaikan pekerjaan ku dan mengantarmu pulang, kau pasti sudah lelah dan bosan menunggu di sini bukan?" Jhony hendak berdiri dan kembali ke meja nya, namun tangan nya di tahan oleh Joy.


"Aku tidak apa-apa, kerjakan lah dengan perlahan dan tidak perlu terburu-buru" setelah mengucapkan kalimatnya, Joy melepas genggamannya, dan anggukan Jhony membuat Joy tersenyum lebar"


.


.


.


lama ya ceritanya? 'Iya banget'


kq aku bertele-tele banget ya? 'begitulah ciri" aku menjelaskan hingga kadang nggak nyambung'


aku juga lagi berusaha, memperbaiki ceritaku...


jadi mohon dukungan nya ya, like dan komennya di tunggu ya shay...


thanks😉


stay save always😘