Let See The True Love

Let See The True Love
108.



Setelah kembalinya Joy dan Jhony ke tempat barbeque di taman samping kolam renang, mereka segera memanggang makanan yang sudah mereka siapkan. Malam ini mereka benar-benar berpesta hingga cukup larut, untunglah villa tersebut cukup besar sehingga tidak akan mengganggu warga yang tinggal di dekat sana.


Beberapa hari menikmati liburan di puncak cukup membuat pikiran mereka menjadi rileks, baik yang bekerja, yang berada di rumah atau di sekolah semua terasa menyenangkan sekarang.


Hari ini mereka semua berkunjung ke perkebunan teh milik keluarga Jhony, pagi-pagi sekali mereka sudah bersiap dengan pakaian yang cukup tebal mengingat cuaca yang cukup dingin. Apalagi mereka pergi saat masih pagi sekali, matahari pun belum menampakkan diri.


Seorang supir mengantarkan mereka hingga ke sebuah jalan setapak, semua orang turun dari mobil yang tadi mereka tumpangi. Setelah ini, mereka harus melalui jalan setapak untuk melihat perkebunan teh yang cukup luas tersebut.


Beberapa orang yang di pekerjakan untuk memetik daun teh tampak sudah melakukan tugas mereka, dengan pakaian lengkap dan berlapis lapis mereka melengkapinya dengan topi dan sepatu boot karet.


"Suhunya rendah juga ya di sini." suara Joy terdengar sesaat mereka turun dari mobil.


"Benar, jika di musim hujan maka suhunya akan lebih rendah lagi. Beruntung tidak sedang musim penghujan." dengan sabar Jhony menuntun langkah Joy melewati jalan setapak yang berumput dan basah, agar gadis itu tidak terjatuh karena terpeleset.


"Sepertinya yang memetik daun teh itu semua wanita ya?"


"Benar, mereka semua adalah warga setempat."


"Mereka tampak ramah-ramah, dari tadi mereka tersenyum kepada kita." Joy tersenyum melihat hamparan luas hijau kebun teh, yang di dalam nya terlihat beberapa orang sudah memenuhi untuk memetik pucuk daun teh.


"Yapp... di sini memang sudah terkenal akan keramah tamahan warganya, mereka juga hidup saling tolong menolong."


"Iya, aku pernah dengar sih itu. Cuma enggang nyangka aja bisa ketemu langsung begini."


Jhony tersenyum melihat Joy yang sangat bersemangat dan senang melihat hamparan kebun teh yang luas, sebelah tangan nya mengusap puncak kepala gadis nya yang tertutup topi.


"Ayo jalan lagi, di atas sana akan lebih indah nanti." mereka berjalan menaiki bukit yang sedikit menanjak, hamparan kebun teh juga terlihat saat mereka sudah berjalan cukup tinggi.


Joy terkagum saat melihat betapa luas nya kebun teh milik keluarga Jhony, pasti lah karyawan yang bekerja pada mereka juga sangat banyak. Jika mengingat kembali, ini masih belum sampai ke pabrik pengolahan pucuk daun teh yanh di petik tadi.


Sampai di puncak bukit sudah ada sebuah rumah yang cukup luas, itulah tempat pengolahan daun teh yang sudah di petik. Beberapa orang sudah mulai datang, mereka sudah akan melakukan pekerjaannya. Di sebelah pabrik terdapat sebuah kantor, didalam juga terdapat beberapa karyawan yang mengurus administrasi dan lain sebagainya.


"Mereka adalah buruh pabrik teh, benar?" Joy menebak orang-orang yang berdatangan dan masuk ke dalam pabrik yang ada di depan mereka sekarang.


"Benar, mereka lah pejuang-pejuang yang tangguh. Karena mereka semualah, produksi teh bisa terus berkembang." Jhony tersenyum kepada Joy. "Mau lihat kedalam?"


"Apa boleh?"


"Tentu saja, ayo!" menggandeng tangan Joy, Jhony berjalan masuk ke dalam pabrik.


Mereka menemui seorang pengawas yang berada di kantornya, ia baru saja akan memulai pekerjaannya saat mendengar pintu ruangannya di ketuk. Meski Jhony adalah anak pemilik perkebunan dan juga pabrik kebun teh itu, ia tidak mengabaikan sopan santun yang harus ia jaga.


"Silahkan masuk." jawab orang yang ada di dalam.


Pintu kemudian terbuka, dan menampakkan Jhony di sana. Belum juga ia berjalan masuk, orang yang di dalam sudah mengenalinya.


"Tuan muda, and di sini." lelaki itu terkejut melihat Jhony ada di sana.


"Benar, kami ingin melihat proses pengolahan teh. Apa bisa?" Jhony kemudian muncul dari belakang Jhony, karena tadi ia singgah sebentar ketika melewati sebuah ruangan dengan dinding kaca yang menampakkan permulaan proses pengolahan daun teh.


"Tentu, tentu saja bisa tuan!" si pengawas mengangguk cepat, ketika melihat Joy i tersenyum kepada gadis yang ada di samping anak bosnya.


Mulai memasuki tempat-tempat pengolahan, setiap tempat memiliki fungsi masing-masing dalam pengolahan teh tersebut. Saat berhenti disatu tempat, Joy akan mulai bertanya kepada salah seorang buruh tentang proses yang mereka lakukan. Ia mengingat perkataan Jhony, jika masuk ke dalam pabrik akan memakan waktu yang cukup lama karena selain tempatnya yang luas disana juga terdapat beberapa bagian yang mempunyai tugas masing-masing mulai dari pemilihan, pelayuan, oksidasi dan lain sebagainya. Jadi kini dia pun penasaran dengan proses yang di lihatnya sendiri.


Saat Joy sedang bertanya kepada buruh yang sedang bekerja di bagiannya, Jhony juga berbincang dengan pengawas yang tadi. Ia juga ikut menemani mereka untuk menjelaskan apa saja yang di kerjakan buruh saat ini.


Beberapa saat kemudian, Joy sudah kembali ke tempat Jhony dan pengawas sedang berbincang.


"Bagaimana? Apa sudah puas mencari tahunya?"


"Tentu saja, semua bagian punya fungsinya masing-masing ya. Menyenangkan sekali bisa melihat langsung pembuatan teh yang biasa kita minum, aroma tehnya juga menyegarkan." rona bahagi tidak surut dari wajahnya sekarang, rasa puasnya juga sudah terpenuhi.


"Baiklah kalau begitu, ayo kita pulang. Nenek dan yang lainnya pasti sudah menunggu untuk sarapan."


"Kalau begitu, saya permisi dulu pak. Tolong bantu di awasi ya. Sampai nanti"


"Baik tuan muda, anda tenang saja. Saya akan bekerja dengan baik, agar semua bisa berjalan lancar dan sukses." dengan penuh semangat, pengawas tersebut menyahuti perkataan Jhony.


"Saya serahkan semuanya kepada bapak."


"Baik."


Setelah menganggukkan kepalanya pelan, kedua orang tersebut berjalan keluar sambil sedikit membicarakan tentang pekerjaan buruh yang tampak begitu tekun dan bersungguh-sungguh. Joy terkagum melihat semua orang yang ada di sana tetap sopan dan bersemangat menjawab semua pertanyaan darinya yang sebenarnya cukup menyita waktu mereka.


"Apa kau senang?"


"Em... Sangat senang!" senyum yang terkembang di wajah Joy sejak keluar dari pabrik hingga di dalam mobil yang kini sedang dikemudikan oleh seorang supir dari villa.


"Apa kau sebahagia itu? Lihatlah senyumanmu dari tadi selalu mengusik pandanganku Joy?"


"Benar, ini hal baru dalam hidupku. Jika kau tidak mengajakku kemari, tentu aku tidak akan mengetahui pekerjaan pembuatan teh yang bisa kita minum."


"Hanya itu saja?" menatap ke arah Jhony penuh selidik, bingung maksud dari kekasihnya itu.


"Ehmm... sepertinya iya..." ucapan Joy menggantung, berfikir apa lagi yang terlupa.


"Baiklah kalau hanya itu saja." Jhony menolehkan kepala ke arah jendela mobil, sedikit kecewa karena Joy tidak menyebutkan hal yang ingin ia dengar.


Melihat Jhony membuang muka ke tempat lain, Joy akhirnya mengerti bahwa Jhony sedang merajuk. Tetapi ia masih berfikir keras, apakah yang membuat Jhony kesal.


Diingat-ingat lagi, Joy mendapatkan jawabannya sekarang. Sejak tadi ia belum mengatakan terima kasih kepada Jhony karena sudah membawanya kemari, dan yang spesial Jhonylah orangnya bukan lelaki lain.


.


.


.


stay save readers😉