
Beberapa saat setelah mereka duduk, seorang pelayan datang membawa buku menu.
Beberapa orang terlihat memasuki cafe, namun tidak ada yang menempati meja dan kursi yang berada di dekat mereka.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Jhony setelah beberapa kali membolak balik buku menu.
"Em.. kamu pesan yang mana? Samain aja deh" Joy tersenyum ke arah Jhony yang masih memandanginya.
"Ok, kalau begitu saya pesan yang ini dua. Minumnya.. yang ini dua juga mas" putus Jhony dengan menunjukkan pesanan mereka kepada sang pelayan cafe yang adalah seorang laki-laki.
"Baik mas, mba silahkan menunggu" dengan sopan pelayan tersebut meminta Joy dan Jhony untuk menunggu makanan yang sudah mereka pesan.
Setelah itu, pelayan tersebut kemudian meninggalkan Jhony dan Joy kembali.
"Gimana menurut kamu? Apa kamu suka tempat ini?"
"Suka banget, apalagi di bagian sini pemandangan luar nya bagus banget. Makasih ya udah ajak aku kemari" tampak senyum bahagia Joy membuat Jhony ikut merasakan kebahagiaan nya juga.
"Baguslah kalau kamu suka, aku ingat kita udah jarang jalan-jalan. Jadi sebisa mungkin aku mengajakmu jalan hari ini"
"Tapi.. kamu jadi bolos les, apa nggak kenapa-napa kalau ketahuan momy kamu bolos les?"
"Enggak lah, aku juga butuh refreshing juga. Enggak hanya belajar terus-terusan, memangnya kamu enggak bosan kalau hanya belajar terus?"
"Iya juga sih, hehe.. "
Seorang waitress berjalan mendekati meja mereka dengan membawa dua gelas minuman yang tadi mereka pesan, dan meletakkan di atas meja.
"Silahkan menikmati" ucap sang waitress, sambil tersenyum ramah kepada mereka.
"Terima kasih" balas Jhony dan Joy bersamaan.
Mengambil gelas yang ada di depan mereka dan mulai meminumnya, rasa dingin dan manis yang tersaji dalam minuman membuat mata keduanya berbinar.
Setelah melalui perjalanan yang lumayan panjang untuk ketempat tersebut, cukup menguras tenaga dan juga membuat mereka haus. Dengan meminum minuman dingin yang mereka pesan membuat dahaga mereka berkurang.
"Oh iya, bagaiman di perusahaan? Apa masih banyak masalah?" mengingat saat liburan Jhony tampak begitu sibuk dengan perusahaan dan mengatakan terdapat beberapa masalah di sana. Joy jadi teringat untuk menanyakan kepada Jhony.
"Untuk saat ini sudah mulai teratasi, walau masih ada sedikit kendala. Namun itu tidak begitu berarti, jadi momy bisa sedikit bernafas lega akhir-akhir ini" menyandarkan bahunya di sandaran kursi, Jhony menatap ke arah taman yang tampak asri.
"Syukurlah kalau begitu, setidaknya... saat kamu keluar negeri mereka akan baik-baik saja. Terutama momy, pasti beliau sangat pusing menghadapi masalah yang datang terus-menerus"
"Begitulah, pada awalnya aku juga ragu untuk keluar negeri. Karena tidak ingin meninggalkan momy sendiri di sini dan menghadapi masalah perusahaan yang silih berganti, tapi setidaknya nanti aku akan selalu mengecek dari sana" Joy sudah tampak bisa menerima keputusan Jhony untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri, buktinya sekarang raut wajahnya tidak langsung berubah.
Bersamaan dengan selesainya kalimat yang di ucapkan Jhony, makanan mereka pun akhirnya datang di antar oleh waitress yang sama dengan yang mengantarkan minuman mereka.
Lalu mereka juga segera menikmati makanan tersebut selagi hangat, dari yang di lihat Jhony makanan tersebut cukup menggoda selera Joy yang tampak berbinar mendapati makanan yang sudah ada di atas meja saat ini.
*****
Sementara itu, di sekolah saat Jhony dan Joy baru saja keluar dari gerbang sekolah.
"Mau kemana anak itu bersama pacarnya?" Siska bertanya kepada Harry, saat tak sengaja ia melihat mobil Jhony keluar dari gerbang sekolah.
"Siapa?" tanya Harry bingung, Siska hanya menunjuk meja yang biasa di tempati oleh Jhony, dan dengan segera Harry mengerti siapa yanh di maksud Siska.
"Oh.. enggak tau deh kemana, dia cuma bilang mau ajak pacarnya jalan-jalan" memang itulah yang di katakan Jhony ketika Harry bertanya kepadanya sebelum keluar dari kelas.
"Bisa-bisanya gadis itu mengajak Jhony keluar di saat-saat Jhony akan mengikuti ujian, ck... Dasar pembawa pengaruh buruk" baru saja Siska hendak pergi dari hadapan Harry, namun Harry menahan tangannya.
"Eh... kamu salah Sis, Jhony yang mengajak Joy pergi. Joy malah enggak tau kalau Jhony mau membawanya jalan-jalan, lagi pula enggak bagus kalau belajar dipaksakan. Ada kalanya kita harus bersantai juga. Tapi tunggu... kenapa kamu yang sewot Sis?" Harry menatap Siska penuh curiga, pasalnya dia masih tidak mengetahui perasaan Siska kepada Jhony sampai sekarang.
Erick yang sedang membaringkan kepalanya di atas meja masih bisa mendengar percakapan keduanya sejak tadi, namun dia tetap diam dan berpura-pura tidur.
"Apa an sih kamu, teman kita mendapat pengaruh buruk dan kita bukankah sebagai teman harusnya menasehatinya, benar kan?" kesal Siska langsung menepis tangan Harry yang memegang tangannya.
Lalu dia segera berjalan meninggalkan Harry yang dalam kebingungan, karena dia belum pernah melihat Siska sampai kesal begitu dan mengatai Joy membawa pengaruh buruk bagi Jhony.
Di belakangnya, Erick masih enggan untuk membuka mata atau mengangkat kepalanya. Namun dalam diamnya, ia berfikir keras saat ini.
'Bagaimana mungkin sampai saat ini pun, hatimu masih ada dia yang bertahta di sana. Apa sebenarnya yang kau inginkan, dia sudah menemukan orang yang telah menawan hatinya. Sungguhkah hatiku tidak terlihat oleh hatimu, apa sebegitu buruknya aku di matamu?'
Kata demi kata itu terus terulang beberapa kali dalam hatinya, entah mengapa setiap kali Siska memberikan perhatiannya kepada Jhony. Maka rasa sakit itu akan semakin merobek hati Erick, walau pun begitu ia tidak mampu untuk menghentikan hatinya untuk menyukai Siska.
*****
"Makanannya enak banget, enggak nyesel aku ikut jauh-jauh ke sini. Selain makanan dan minuman yang enak, pemandangan di sini juga bagus" selesai menghabiskan makanan di dalam piringnya Joy kembali berceloteh, tanpa menyadari ada saus yang menempel di sudut bibirnya itu.
"Haha.. kamu memang mirip anak kecil sayang..." Jhony mengambil tisu, mencondongkan badannya sedikit ke depan agar dapat menjangkau wajah Joy.
Dengan perlahan Jhony mengelap bibir Joy yang masih di tempeli saus, hal yang di lakukan Jhony membuat Joy merasa malu dengan wajah mulai memerah.
"Bi, biar aku saja yang membersihkan" merebut tisu yang di pegang oleh Jhony.
"Tidak perlu segugup ini, aku bahkan sudah sering melakukannya bukan?"
"Hei... jangan di ingat lagi Jhon" Joy mengalihkan pandangannya, berharap Jhony tidak melihat perubahan wajahnya yang kini pastilah sangat merah.
Dia sudah tidak mampu menahan ekspresi malunya, dan juga kesal yang bersamaan.
"Iya maaf, tapi kamu tambah imut kalau kayak gitu. Aku harap hanya di depan aku saja kamu seimut ini, tolong jangan pernah memperlihatkan sisi menggemaskan ini kepada laki-laki mana pun. Hmm?" Jhony memegang bibir Joy yang tampak mengerucut, dengan wajah yang masih melihat ke arah taman.
Tanpa di sadari oleh Joy, Jhony memang sengaja mengalihkan perhatiannya sesaat. Karena saat ini, seorang waitress sudah membawa sebuah meja yang di dorong ke arah mereka dan tertutupi oleh sebuah kain brukat tipis yang sangat indah.
Setelah meja itu sudah berada tepat di samping meja mereka saat ini, Jhony kembali mengucapkan kata-katanya.
"kita tidak pernah merayakan hari jadian kita, maka hari ini akan aku tetapkan sebagai tanggal jadian kita" Joy menatap ke arah Jhony dengan tatapan tidak percaya, lalu perhatiannya teralihkan ke meja yang berada persis di samping meja mereka.
Waitress tersebut membuka kain yang menutupi bagian atas meja itu, perlahan tapi pasti semua yang ada di atas sana mulai terlihat.
Dan setelah kain tersebut sudah terbuka semua, betapa terkejutnya Joy mendapati foto-foto mereka yang di cetak dan di bingkai dengan indah sudah memenuhi meja. Ada kue anniversary dan juga seikat bunga mawar yang sangat indah, namun dati semua itu ada satu lagi yang membuat Joy lebih terkejut.
Sebuah cincin dengan satu permata di atasnya dan masih berada di dalam kotak beludru berwarna hitam yang terbuka, membuat Joy membulatkan matanya menatap bergantian semua barang yang ada di atas meja dan juga Jhony.
Belum selesai dari keterkejutannya, Jhony berdiri dan menggenggam tangan Joy. Diangkat keatas dengan punggung telapak tangan di atas kemudian di cium nya di sana, sembari mengucapkan kalimat.
"Happy anniversary sayang" Jhony mengambil kotak beludru yang ada di atas meja, mengambil isinya dan segera melingkarkannya di jari manis Joy.
Pas.. kata yang tak dapat di ucapkan oleh Joy yang masih ada dalam rasa bahagia, bingung, haru semua jadi satu. Namun itu semua kemudian membuatnya beekaca-kaca, sedikit lagi bendungan itu akan mengalir deras namun dengan cepat Jhony menghalaukannya.
"Jangan menangis, ini sebagai janjiku padamu Joy.. pada saat nya nanti, aku akan kembali lagi dan membawakan cincin pernikahan untukmu. Jadi untuk sementara, ini hatiku yang ku titipkan padamu. Tolong jaga dia" Jhony mengecup kening Joy yang tidak dapat lagi menahan air matanya, sesegukan mulai terdengar dari gadis tersebut.
Jhony membawanya kedalam pelukan hangatnya, memberikan ketenangan agar Joy segera menghentikan tangisannya.
Bahagia.. itulah perasaan Joy saat ini, air mata yang jatuh juga sebagai tanda kebahagiaan yang sudah menyertainya saat ia mulai di terima di sekolah yang sama dengan Jhony.
.
.
.
Halo readers ๐๐ป๐๐ป
Sudah hampir selesai nih ceritanya, tapi tenang aja.. ada season ke dua nya, mudah-mudahan lancar ya ceritanya. Aku juga lagi sibuk nulis cerita baru, jadi tetap berikan dukungannya ya untuk novel pertama ku Let See The True Love.
Udah kebayang kan ceritanya, sedikit banyak ada cerita real aku yang di tuangkan dalam cerita ini...
Semoga readers sekalian bisa suka sama crita dan alurnya ya, ada kritik atau saran bisa banget tinggalin lewat komen. Ok!!
terima kasih ya๐ค
stay save and stay Healthy๐