Let See The True Love

Let See The True Love
71.



Sesudah makan siang, mereka benar-benar kembali melanjutkan pencarian oleh-oleh di pasar selanjutnya. Karena sudah hampir semua tempat di pasar sebelumnya sudah mereka jelajahi, namun mereka masih ingin menjejaki tempat-tempat menarik bagi wisatawan lainnya.


Sepanjang perjalanan nengelilingi pasar, Siska tak hentinya memperhatikan interaksi antara Joy dan Jhony. Begitu pula dengan Erick yang selalu mengawasi Siska, dia takut jika Siska kembali melakukan hal yang tidak diinginkan kepada Joy.


Begitu pula dengan Rina, dia juga selalu memperhatikan gerak gerik dari Siska yang selalu melihat kedekatan Joy dan Jhony. Dia juga tidak ingin hal seperti kemarin terjadi kembali kepada Joy, ini adalah liburan yang harusnya menjadi momen menyenangkan dan dia tidak ingin hal tidak menyenangkan terjadi kepada sahabatnya terus menerus.


"Kenapa sedari tadi kamu seperti memikirkan hal lain? Apa ada yang mengganggu pikiran kamu? Katakanlah jika ada!" Jhony membawa Joy sedikit jauh dari rombongan agar lebih nyaman berbicara kepada Joy.


"Oh.. enggak kok kak"


"Ah, lupa lagi kan. Panggil namaku saja Joy, aku mau mulai sekarang kamu biasakan memanggil namaku saja hm?"


"Iya, baiklah.." ucap Joy menggantung, dia masih merasa bingung untuk memanggil nama Jhony.


"Baiklah apa?" Jhony sengaja menggoda Joy.


"Baiklah akan aku ucapkan nanti" Joy menundukkan kepala.


"Ucapkan apa?" Sebaliknya Jhony mengangkat dagu Joy agar melihat kearahnya.


"Namamu.."


"Kenapa nanti, sekarang saja.."


"Tidak.. maksudku nanti saja saat aku ingin berbicara denganmu lagi" Joy sengaja mencari alasan.


"Apa sekarang kau tidak ingin berbicara padaku?" Joy tampak berpikir sejenak.


"Mmm... kurasa tidak" Joy hendak berjalan pergi, namun tangannya di tahan oleh Jhony.


"Tapi aku masih ingin bicara padamu.."


"Jangan seperti ini ka.. maksudku Jhony, jika ada yang melihat kita, mereka akan salah paham"


"Benarkah... tapi aku ingin sekali mereka salah paham pada kita sekarang" Jhony menatap Joy sambil mendekat, Joy tampak sangat gugup sekarang.


"Jhony..." Joy mendorong tubuh Jhony hingga membentur dinding di belakangnya.


"Ah..." Teriak Jhony, namun masih dengan suara yang sedikit pelan. Dia sengaja menampilkan wajah yang kesakitan, namun itu hanyalah akal-akalannya saja


"Maaf kan aku, aku panik tadi... sungguh... maafkan aku" Joy lalu menepuk perlahan punggung Jhony yang tadi terbentur dinding.


"Cup... aku tidak apa-apa, ayo kita kembali mencari oleh-oleh" Tanpa berkata apa-apa lagi, Jhony mengecup pipi Joy yang berada tepat di depan wajahnya. Dengan sedikit menunduk dia dengan mudah menjangkau wajah gadis yang telah mengikat hatinya itu.


"Ka, kamu..." Suara Joy tertahan dan tidak dapat melanjutkan kalimatnya lagi, dengan tangan yang terangkat menunjuk Jhony


"Oh, baiklah... aku akan menggandengmu sayang.." Jhony meraih tangan Joy dan menuntunnya berjalan kembali di lorong-lorong pasar, Joy terlihat linglung dan kehabisan kata-kata mendapat perlakuan Jhony yang begitu tiba-tiba.


*****


Mereka kini sedang menikmati makan malam yang berbeda, karena kali ini mereka menikmati makanan tepat berada diatap villa yang di sulap menjadi seperti sebuah taman yanh cukup luas, hampir setara dengan luas villa.


villa yang berdiri kokoh di sebuah bukit, membuat tempat itu tampak menjulang tinggi dengan tiga lantai. Tak heran jika mereka akan dibuat kagum dengan keindahan yang dapat mereka saksikan jika sudah berada diatas.


Bi Iyem sudah membuat masakan spesial khas Bali yang sangat di gemari oleh Jhony, Joy dan yang lainnya pun tampak menikmati makanan yang sudah di siapkan. Mereka menyelipkan candaan dan tawa di sepanjang acara makan malam tersebut, berbeda dengan Siska yang hanya berbicara seadanya saja jika di tanya. Begitulah hubungan mereka saat ini, Jhony terlihat tidak ingin berhubungan dengan Siska lebih dekat lagi karena takut terjadi kesalahan pahaman lagi dengan Joy.


"Jhony, apa kita bisa bicara sebentar" Saat Jhony baru keluar dari kamar mandi dan Siska langsung menghampirinya, dia memang sengaja menunggu Jhony keluar dari kamar mandi.


"Ada apa, jika bukan hal penting lebih baik kita bicara di atas saja" Tak ingin membuang-buang waktu lagi, Jhony langsung mengemukakan apa yang di pikirkan nya.


"Hanya sebentar, sebentar saja Jhon.." suara Siska terdengar memelas.


"Baiklah, katakanlah dengan cepat karena aku tidak bisa berlama-lama" ucapan Jhony terdengar tidak senang.


"Begini, aku hanya ingin mengatakan... emm.." ragu untuk mengucapkan kalimatnya.


"Eh, kak Jhony sedang apa?" Rina berjalan menghampiri Jhony yang lebih dulu terlihat saat Rina masuk ke dalam dapur, namun setelahnya Rina melihat Siska yang berdiri di depan Jhony "Kak Siska juga ada di sini, apa kalian sedang mendiskusikan sesuatu? Ah sorry kalau aku ngeganggu kalian, kalau gitu.." sebenarnya Rina hanya berpura-pura tidak mengetahui keberadaan Siska, karena sejak tadi dia sudah mengikuti Siska hingga di area dapur saat Siska sedang menunggu Jhony keluar dari kamar mandi.


"Tidak apa-apa Rin, kami sudah selesai bicara. Aku kembali ke atas dulu, Joy pasti sudah menunggu" putus Jhony, dan berjalan meninggalkan Siska dan Rina yang masih berdiri di sana.


"Kalau begitu, aku ke kamar mandi dulu.." Ucap Rina lebih kepada dirinya sendiri.


"Apa mau kamu sebenarnya?" celetuk Siska membuat Rina menoleh kembali ke arahnya "Aku tahu kamu selalu memata-matai aku kan?" Kini mereka sudah saling berhadapan.


"Mau aku, yang harusnya bertanya itu aku dan Joy! Apa yang kak Siska inginkan? Mengapa kakak selalu saja memperhatikan kak Jhony dan juga Joy saat mereka sedang berduaan?" seolah mencari jawaban dari garis wajah Siska yang kini tampak pias, Rina berjalan mendekatinya.


"Aku tidak pernah memperhatikan mereka.."


"Bohong, kakak bisa berbohong kepada kak Erick dan lainnya tapi aku nggak akan bisa kakak bohongi. Lebih baik kakak jangan punya pikiran untuk menghancurkan hubungan kak Jhony dan Joy, itu tidak akan baik bagi hubungan kakak dan kak Jhony yang kudengar sudah sejak kalian masih kecil" Rina tidak ingin bersikap keterlaluan, mungkin lebih baik menyadarkannya sekarang dari pada memusuhinya.


Bagaimana pun juga, perasaan suka kepada seseorang tidak dapat kita atur sedemikian rupa. Walau otak kita mengatakan bahwa tidak boleh menyukai seseorang yang sudah memiliki pasangan, namun terkadang hati kita tidak bisa menghentikan perasaan yang semakin hati semakin bertumbuh dan menyesakkan jika tidak di utarakan.


Siska membeku di tempatnya berdiri, seluruh tubuhnya gemetar menahan rasa kesal bukan karena ucapan Rina melainkan kalimat yang sedari tadi ingin ia bicarakan kepada Jhony harus terhenti sebelum ia menyelesaikannya.


.


.


.


Siska kesel ya.. πŸ˜‚


aku senang lho..πŸ˜‹


stay save ya readers


dan semangatin MeπŸ˜‰