Let See The True Love

Let See The True Love
98.



Ujian akhir sekolah datang juga, seluruh murid yang ikut ujian sudah menyiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapinya. Semua kekhawatiran, kecemasan dan ketakutan sudah berganti dengan semangat untuk menyelesaikan satu tingkat pendidikan mereka. Untuk itu para guru pembimbing, sebelumnya sudah memberikan pengarahan agar semua siswa mereka yang akan menghadapi ujian mendapatkan masukan yang positif.


Setidaknya mereka sudah berusaha dengan belajar yang giat, dan juga mereka di beri libur sekolah selama tiga hari sebelum menghadapi ujian. Tiga hari yang di berikan rasanya cukup untuk Jhony dan yang lainnya untuk beristirahat, setidaknya mereka bisa merilekskan pikiran sejenak tanpa harus memikirkan tentang pelajaran di hari itu.


Selain murid yang akan ikut ujian, bagi junior kelas mereka juga di berikan libur meski waktu yang mereka dapatkan lebih panjang mengingat setelah tiga hari itu senior kelas mereka akan masuk dan menghadapi ujian.


Untuk mengisi hari pertama liburan mereka, rencananya Joy akan mengunjungi kediaman Jhony. Mereka sudah membuat janji untuk bertemu di rumah meski belum tahu apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Jadilah Joy saat ini sedang bersiap-siap untuk ke rumah Jhony, karena supir yang di minta Jhony untuk menjemput Joy sudah menuju kerumahnya.


"Kamu sudah siap nak?" mama Silvi bertanya kepada Joy, sebelumnya putrinya itu sudah meminta ijin kepadanya untuk pergi ke rumah sang kekasih hari ini.


Meskipun ada rasa takut saat mereka berdua saja di rumah, namun Joy berusaha dengan keras untuk meyakinkan orang tuanya agar tidak mengkhawatirkannya. Karena mereka akan menjaga diri dan kepercayaan orang tua mereka.


"Iya ma, sebentar lagi jemputan sampai" mama Silvi mengangguk dan melanjutkan kegiatannya.


Joy berjalan keruang keluarga untuk memperhatikan dirinya dari balik pantulan kaca besar yang terdapat di ruangan itu, ia sebenarnya sudah melihat dirinya saat di kamar. Tetapi ia tetap saja merasa harus memeriksanya kembali, mungkin ada yang terlewatkan untuk di rapihkan.


"Ya ampun sayang.. kamu sudah cantik kok enggak perlu bercermin terus hehe" mama Silvi terkekeh melihat tingkah putrinya yang tampak kurang percaya diri.


"Mama, Joy cuma memeriksa kembali. Mana tahu ada yang kelewat" Joy mencebikkan bibirnya.


"Anak mama sudah besar ya, sini mama yang periksa biar lebih jelas." mama Silvi mendekati Joy dan memperhatikan putrinya itu dari atas hingga bawah, dari ujung rambut hingga ke ujung kaki anaknya.


"Cantik.. kamu sangat cantik, kok mama baru sadar kalau putri mama itu cantik ya?" mama Silvi sengaja menggoda Joy, namun Joy tidak mau kalah dan malah meluruskan apa yang sang mama katakan.


"Joy kan anak mama, jadi cantiknya dapat dari mama tentunya" Joy menelengkan kepalanya memandangi sang mama yang tampak terkejut dengan apa yang di ucapkan Joy selanjutnya.


"Sayang, peluk mama sini" membuka lebar kedua tangannya dan bersiap memberi pelukan kepada sang putri yang sudah semakin dewasa.


"Joy sayang sama mama, mama akan selalu menjadi panutan bagi Joy" sedikit aneh karena pengakuan sayang mereka tiba-tiba terucap begitu saja, namun kasih sayang memang sulit di sembunyikan.


Tak lama kemudian, suara klakson mobil sudah terdengar di depan rumah mereka, Joy yang menyadari bahwa itu adalah jemputannya pun segera berpamitan kepada sang mama.


"Itu pasti jemputan Joy. Kalau begitu Joy pergi dulu ya ma, sampai nanti" Joy menautkan kedua pipinya secara bergantian.


"Iya sayang, sampai salam mama untuk Jhony dan mamanya ya sayang"


"Baiklah ma, bye.." Melambaikan tangannya, ia segera berlari keluar dari rumah.


Sampai di teras, ia melihat paman supir yang biasa mengantar jemput mama Jhony yang berdiri di samping mobil. Ia tersenyum sambil menganggukkan kepala kepada Joy yang sudah berjalan menghampirinya.


"Silahkan nona" membuka pintu mobil untuk Joy.


"Terima kasih paman"


Setelah paman supir sudah masuk kedalam mobil, ia bertanya kepada Joy.


"Apa kita akan langsung menuju ke rumah nyonya Riska?" tanya paman supir dengan sopan.


Sebenarnya Joy agak canggung dengan sikap lama supir, namun ia tidak tahu harus bagaimana mengatakannya.


"Iya paman, kita langsung ke rumah momy saja"


"Baiklah, kita akan menuju kerumah nyonya" setelah mendapat persetujuan dari Joy, mobil segera di jalankan oleh paman supir.


kurang lebih dua puluh menit akhirnya mereka sampai juga didepan rumah Jhony, Joy melihat rumah yang tidak asing lagi baginya itu tampak sepi. Sepertinya nyonya Riska sudah berangkat kekantor, mengingat sekarang tidak lagi pagi.


"Silahkan masuk nona, tuan muda pasti sudah menunggu anda"


"Ayo paman"


Keduanya berjalan masuk ke dalam, di dalam rumah Jhony baru saja selesai melakukan olahraga paginya. Meskipun terhitung lengkap, namun Jhony jarang menggunakan ruang olahraga yang di dalam rumah sebab ia tidak memiliki banyak waktu untuk berolahraga. Karena libur sekolah seperti inilah ia bisa menyisihkan sedikit waktunya untuk olahraga, selain untuk kesehatan Jhony juga sedang membentuk tubuhnya agar lebih bagus.


"Selamat pagi nona Joy, tuan muda sedang ada di ruang fitnes di sebelah kolam renang"


"Pagi bi, oh baiklah kalau begitu. Saya kesana dulu ya bi, paman, sampai jumpa"


"Baik non" balas keduanya berbarengan.


Tanpa basa basi lagi, Joy langsung berjalan mengarahkan kakinya ke ruangan yang sudah diberi tahukan bibi tadi. Dia sudah tahu letak setiap sudut ruangan di rumah ini, karena Jhony dan mamanya sudah sering mengajaknya mengelilingi rumah tersebut saat mereka berkumpul.


Saat ini Jhony sedang duduk di kursi sofa tanpa sandaran sambil meluruskan kakinya agar otot kakinya kembali rileks, baju kaos berwarna abu-abu tanpa lengan yang ia kenakan sudah basah. Sambil memandangi air di kolam renang yang berkilau akibat sinar matahari, ia memikirkan Joy yang belum juga sampai di rumahnya. Padahal gadis yang sedang ia pikirkan ternyata sudah berada dirumahnya, bahkan saat ini ia sedang mengendap-endap di dalam ruangan yang sama dengan Jhony saat ini.


Joy berencana memberi surprise kepada Jhony yang kini sedang duduk membelakanginya, namun ia tidak menyadari bahwa Jhony sudah melihatnya masuk melalui pantulan kaca ruangan tersebut. Jhony sengaja pura-pura tidak tahu kedatangan Joy, ia ingin tahu apa yang akan kekasihnya itu lakukan kepadanya. Dengan wajah sumringah Jhony ingin menyambut kedatangan kekasihnya, ketika langkah Joy hampir sampai Jhony segera berbalik dan menarik tangannya yang sudah terulur.


"Akhh... " dengan satu gerakan dari Jhony, Joy akhirnya jatuh terduduk di atas pangkuan Jhony saat ini.


"Hehe.. ekspresimu lucu sekali sayang.." Jhony terkekeh melihat raut wajah kekasihnya yang tampak terkejut dan bingung.


"Ba, bagaimana kau tahu aku akan mengejutkanmu?" kedua bola mata Joy melotot kepada Jhony.


"Aku tidak tahu kau akan mengejutkanku, tapi aku tahu kau di belakangku dan mengulurkan tanganmu ke arahku" tawa Jhony belum juga surut, satu cubitan langsung mendarat di perutnya. "Auchh.. sakit sayang" erangan kesakitan keluar dari mulutnya.


"Siapa suruh menjahili ku, huh.." Joy hendak berdiri dari atas pangkuan Jhony, namun gerakannya di tahan oleh kedua tangan kokoh lelaki itu.


"Mau kemana, hm..?"


"Aku mau berdiri, ini.. sepertinya kita sedang dalam posisi aneh" rona merah tergambar jelas diwajah gadis cantik itu, kebingungan juga melanda dirinya saat ini tatkala mengingat bahwa ia sedang duduk di atas pangkuan Jhony.


"Tidak.. ini tidak aneh, aku suka seperti ini. Karena aku bisa melihat wajahmu dari dekat" kedua mata Jhony tiba-tiba memancarkan keseriusan, membuat Joy terdiam dan tambah bingung.


Lama keduanya terdiam dan masih dalam posisi yang sama, sebelum akhirnya Joy terlebih dulu tersadar dan dengan tergesa-gesa berdiri karena pertahanan dari tangan Jhony yang mulai longgar.


"Panas sekali.." bisiknya sambil memandangi kolam renang di depannya.


"Ehem... Kalau begitu aku mandi dulu"


"I, iya.."


Keduanya masih saja tampak canggung.


"Apa kau mau ikut?" Joy langsung melotot ke arah Jhony "Ma, maksudku itu.. aku akan berenang di sana" menunjuk ke arah kolam renang, agar Joy tidak salah paham.


"Ah.. tidak, aku akan tunggu di sini saja" Joy mengulas senyum tipis di wajahnya, sebenarnya jantungnya kini berdebar kencang dan tidak beraturan.


"Baiklah, kalau begitu. Aku akan berenang sebentar, tunggulah di sini"


Setelah mendapat jawaban berupa anggukan dari Joy,Jhony mulai berjalan ke kolam renang sambil membawa jubah mandi yang sudah ada di ruang olahraganya.


Joy menghela nafasnya berat, kelegaan pun akhirnya ia rasakan setelah Jhony sampai di kolam renang. Namun mata Joy kembali terbelalak saat Jhony melepas kaos yang ia kenakan hingga menyisakan celana boxerny, ia tidak bisa menyangkal bahwa tubuh Jhony kini memanjakan matanya. Tidak ingin tertangkap basah sedang memperhatikan kekasihnya, Joy hanya melirik sekilas tanpa ingin melewatkan pemandangan indah yang ada di depan matanya.


.


.


.


Hai readers, terima kasih untuk readers sekalian yang sudah mau meluangkan waktunya untuk membaca karya ku, yuk bantu aku komen dan like cerita ini kalau berkenan juga boleh di vote atau fav kan kisah Joy dan Jhony ya.


Terima kasih🤗


stay save😉