Let See The True Love

Let See The True Love
59.



Setelah mendapat panggilan telfon dari Jhoni, Joy segera mengganti pakaian dan keluar dari kamar. Sebelum keluar dia terlebih dahulu memberitahukan kepada Rina dan Siska, sebab ia takut nanti mereka mencarinya.


"Rin, kak Siska.. Aku keluar dulu ya" Ucap Joy.


"Mau kemana Joy?" Tanya Siska.


"Nggak tahu kak, kak Jhony yang ajak keluar" Jelas Joy.


Siska pun mengangguk, ia tadinya khawatir jika Joy pergi sendiri "Oh begitu, ya sudah pergi lah"


"Kakak dan Rina nggak mau ikut keluar?" Joy kembali bertanya sebelum keluar dari kamar.


"Nggak..." Rina dan Siska bersama-sama menjawab pertanyaan Joy.


Joy kemudian melihat keduanya bergantian dan tersenyum "Kenapa?" Tanyanya kemudian.


"Capek.." Lagi-lagi mereka begitu kompak memberikan jawaban kepada Joy.


"Haha.. Ok ok, kalian semakin kompak ya. Ya sudah aku pergi dulu ya, bye.." Joy berlalu dari kamar.


Setelah keluar dari kamar yang di tempatnya, Joy berjalan menuju ke arah tangga. Namun langkahnya terhenti ketika ia melihat Jhony yang sudah berdiri di dekat tangga sedang membelakangi nya, Joy tersenyum dan berjalan mendekati Jhony.


"Kak..." Panggil Joy, namun Jhony tidak mendengar karena terlihat dia tidak bereaksi sama sekali. Joy akhirnya tahu kalau Jhony saat ini sedang melamun, dia semakin berjalan mendekati Jhony.


Lalu Joy memegang bahu Jhony "Kak Jhony.." Panggil Joy sekali lagi, membuat Jhony seketika berbalik dan menatap Joy.


"Iya..?" Sahut Jhony, dia mengira Joy tidak mengetahui jika dia tadi sedang melamun. Namun matanya kembali melahap penampilan Joy yang sangat manis, dengan balutan dress pantai berwarna softblue yang senada dengan kemeja bahan yang dikenakan olehnya dan make up tipis yang membuatnya makin cantik dan tampak segar.


"Kak Jhony kenapa? Apa kakak sedang ada masalah?" Mencoba mencari tahu apa yang sedang dilamunkan oleh Jhony, Joy menatap kedalam dua bola mata Jhony.


"Ah.. Tidak, tidak ada apa-apa. Ayo kita pergi" Merasa Jhony tidak ingin membahas apa yang sedang di pikirkan nya, Joy pun hanya diam dan mengikuti Jhony yang sudah menarik perlahan tangan nya dan berjalan menuruni tangga.


Mereka kini sudah berada di halaman, dimana sudah terparkir beberapa mobil mewah yang di yakini oleh Joy itu adalah milik Jhony. Jhony berjalan ke sebuah mobil mewah berwarna hitam, kemudian dia membukakan pintu mobil untuk Joy.


"Silahkan tuan putri" Jhony bergaya ala-ala seorang pangeran yang mempersilahkan putrinya untuk naik ke atas kereta kuda, dengan sedikit membungkuk dan tangan yang di bentangkan ke arah samping nya.


"Terima kasih pangeran" Tak mau kalah dengan Jhony, Joy pun mengangkat dengan sopan dress yang panjangnya di bawah lutut itu, seperti putri yang akan menaiki kereta kuda bersama pangerannya. Keduanya terkekeh geli dengan kelakuan mereka, tak hanya mereka berdua saja tetapi tingkah mereka sedang di lihat oleh beberapa orang yang berada di pintu utama villa yaitu pak Tarno dan sang istri dan juga di lantai atas di sebuah jendela kamar ada Rina dan Siska yang berdiri di balkon sedang tertawa melihat mereka.


"Kita mau kemana kak?" Ketika mereka sudah berada di dalam mobil, Joy bertanya kepada Jhony yang kini sudah duduk di kursi kemudi.


Sejenak mengalihkan pandangan nya kepada Joy "Ra-ha-si-a" Kemudian Jhony tersenyum setelah mengalihkan pandangan nya kembali ke jalan raya, mereka baru saja keluar dari daerah villa yang lebih banyak pepohonan rimbun yang sejuk.


"Ihh kakak main rahasia-rahasiaan, huh..." Joy mengalihkan pandangannya ke depan, dia pun bersedekap dan menampilkan wajah kesalnya.


"Tunggu sampai di tempatnya baru kamu lihat, kamu pasti suka!" Kebiasaan Jhony yang selalu membuat Joy terbuai, mengelus kepala Joy dengan lembut dan itu memang berhasil membuat Joy kembali tersenyum.


"Bernarkah?" Mengalihkan pandangannya kepada Jhony, bahkan kini Joy sudah sepenuhnya mengarahkan pandangan nya kepada Jhony yang masih fokus menatap jalan di depan.


"E em..." Jhony hanya memberi anggukan.


"Baiklah aku akan surprise nya" Seru Joy begitu senangnya, membuat Jhony terkekeh saat melirik sejenak dan mendapati tingkah kekanak-kanakan yang di tampilkan Joy.


Kurang lebih dua puluh lima menit perjalanan mereka tempuh untuk sampai di tempat rahasia yang di sebut Jhony tadi, Joy masih mengedarkan pandangannya ke sekeliling sebelum Jhony turun dan membuka pintu mobil di sampingnya.


Semua nya tampak asing baginya, namun tempat nya cukup indah apalagi dengan sinar matahari yang masih bersinar dengan terang di tempatnya. Sehingga setiap tempat di sana terlihat dengan jelas, namun sayup-sayup Joy mendengar ada suara deru ombak.


"Mari tuan putri" Jhony mengulurkan tangannya untuk membantu Joy turun, setelah membuka pintu mobil di samping nya.


"Ah, terima kasih" Joy meletakkan tangan nya di tangan Jhony yang terulur "Ini dimana kak, kenapa sangat sepi?" Joy masih meneliti tempat mereka saat ini, mobil berhenti di sebuah jalan yang tidak begitu luas.


Joy melihat ke arah tangannya yang kini di genggam erat oleh tangan kekar Jhony, erat namun tak menyakiti tangannya, malahan ada sebuah rasa aman dalam genggaman tangan kekasihnya ini 'Kamu memang selalu penuh kejutan, aku sangat berterima kasih kepada Tuhan yang sudah mempertemukan kita sayang...' Joy melirik sekilas ke arah Jhony. Rasanya ia ingin sekali menahan Jhony dan memeluk tubuhnya, hatinya berdesir hebat menahan dan menekan keinginannya itu mengingat ucapan kedua orang tuanya bahwa mereka tak boleh melewati batas. Namun saat mengingat kembali setiap hal manis dan surprise yang diberikan Jhony padanya, selalu saja hatinya kembali ingin mencurahkan perasaan nya kepada Jhony saat ini juga. Kini Jhony sedang menatap dan memperhatikan Joy yang sedang melamun, kemudian Jhony menjentikkan jarinya di depan wajah Joy.


Trik.. "Apa yang sedang kau lamunkan?" Menarik Joy hingga mereka kini sudah berhadapan.


Saat melihat ke arah Jhony, seketika Joy menatap ke dalam manik coklat gelap milik Jhony yang kini sedang memandanginya. Lama Joy tidak memberikan tanggapan dari pertanyaannya, akhirnya Jhony kembali bertanya kepada Joy.


"Hei... Kenapa masih diam saja?" Kini ia bergantian mengelus pipi Joy.


"Ah.. I, iya.. " Jawab Joy sesaat tersadar dari lamunannya.


"Kau sedang memikirkan apa?" Mendapati pertanyaan dari Jhony, Joy mengalihkan pandangan nya kearah pantai yang ada di balik punggung Jhony.


"Wahh... Pantai... Ayo kita kesa- ah.." Gerakan dan kalimat Joy terhenti ketikan tangan kekar Jhony kembali menarik Joy untuk melihat padanya dengan kedua tangan nya yang sudah di bahu dan menahannya disana.


"Jangan mengalihkan pembicaraan, sekarang hanya ada kita berdua di sini. Ayo bicaralah, katakan apa yang sedang kau pikirkan tadi?" Salah satu tangannya kini melepas pegangan di bahu Joy dan mengangkat dagu Joy untuk melihat nya.


"Ti, tidak ada.." Joy kembali menundukkan kepalanya, kedua tangan nya saling meremas dan jantungnya kini berdebar tak karuan sehingga ia merasa takut jika Jhony mendengar suara detakan tak beraturan itu.


"Jangan bohongi aku, Joy" Sekarang kedua tangan Jhony memegang kedua pipi Joy yang sudah merah padam, entah itu karena perasaan nya kepada Jhony atau cuaca panas matahari "Katakanlah sayang, apa yang kau pikirkan tadi hm..." Joy menggigit bibirnya menahan perkataan nya yang hendak di keluarkan saat ini, namun pertahanan nya runtuh saat mata Jhony menatapnya lembut.


Seketika saja Joy sudah masuk kedalam pelukan Jhony, topi yang tadi di pasangan oleh Jhony terjatuh kehamparan pasir. Seperti yang selalu di bayangkannya pelukan Jhony memang selalu membuatnya merasa tenang serta memberi rasa aman. Kini Joy pun merasakan begitu nyaman berada di dalam dekapan kekasihnya, jantungnya yang berdetak tak karuan sudah di lupakannya meski nanti akan terdengar oleh Jhony diapun tak menghiraukan nya lagi apalagi saat Jhony menepuk pelan punggungnya. Rasanya Joy ingin waktu berhenti sejenak, agar ia bisa lebih lama dalam pelukan Jhony.


Lama keduanya dalam posisi yang sama, bukan tak ingin melepaskan pelukannya namun Joy merasa malu untuk menatap Jhony nantinya. Tetapi tak lama kemudian suara Jhony terdengar, ia melemparkan candaan kepada gadis yang ada dalam pelukannya.


"Apa kita datang kesini hanya untuk berpelukan seperti ini?" Jhony terkekeh kecil di akhir kalimatnya, dan mulai menunduk untuk melihat wajah Joy saat ini.


"Kakak jangan mulai menggoda aku lagi" Joy memukul pelan dada Jhony, namun Jhony membiarkan saja apa yang di lakukan gadisnya itu.


"Baiklah, maaf.. Maaf kan aku, sekarang ayo kita jalan-jalan. Apa kau tak mau melihat surprise untukmu?" Jhony kemudian mengelus kepala Joy, agar gadisnya tenang kembali dan mengajaknya kembali berjalan karena tujuan mereka belum sampai.


Joy kemudian mendongakkan kepalanya "Kak, terima kasih untuk setiap hal indah yang kakak berikan. Mulai dari hal kecil hingga hal besar.. " Joy kembali menunduk dalam posisi masih memeluk Jhony "Aku sayang sama kakak" Mata Jhony membola saat mendengar pernyataan Joy, ia segera melepas pelukannya kepada Jhony.


Jhony tersenyum "Coba katakan lagi sayang?" Jhony membelai puncak kepala Joy.


"Aku sayang sama kamu" Kembali Joy berucap, namun kali ini suara nya lebih nyaring dari yang pertama kali.


"Aku juga sangat menyayangi kamu, sayangku" Sudah mendaratkan kecupan di puncak kepala Joy, dan keduanya kini sudah melepas pelukan mereka.


"I love you, my Joy" Perlahan Jhony membisikan kalimatnya sambil merapihkan rambut Joy yang berantakan.


"I love you to" Balas Joy.


Keduanya saling mengunci tatapannya, beberapa saat meresapi perasaan baru yang menyelinap kedalam hati masing-masing. Rasa saling memiliki yang begitu erat, rasa cinta yang begitu dalam membuat keduanya tak henti menabur senyuman dan membawa kebahagiaan bagi yang melihat.


.


.


.


Stay Save readers terkasih


Me balik lagi untuk memanjakan pembaca setanah air🙊, please doakan aku tetap sehat dan semangat menulisnya ya guys..


Thanks😉