
"Bagaimana perasaan mu sekarang?" Joy dan Rina baru selesai makan malam, mereka memang makan malam di dalam kamar Joy karena kaki Joy yang masih sakit dan susah untuk di bawa berjalan apalagi menuruni tangga.
"Aku sudah lebih tenang, apa kau tak pulang?" Joy bertanya kepada Rina yang sepertinya masih akan lama bersamanya
"Pulang dong, nanti papa sama mama mau datang jenguk kamu juga. Tadi mama kaget banget waktu aku telpon dan minta ijin pulang telat tadi, jadi mama bilang bakal ajak papa ke sini buat liat kamu"
"Oh, kamu nggak bilang aku kan nggak parah amat masih bisa jalan juga. Ya walaupun agak pincang sih" menampilkan senyuman manis kepada Rina
"nggak usah ngaco deh, ini udah parah tahu. Lihat tuh kedua lutut kamu sampe sobek gitu, pasti sakit banget deh" menampakkan wajah yang sedang kesakitan melihat luka yang tadi di bersihkan oleh mama Joy, masih jelas terlihat darah yang masih tersisa di sana
"Ih apa an sih Rin, nggak sampe segitu nya juga kali" memukul pelan bahu sahabatnya itu
"Oh iya, koq bisa si Erick yang kejar jambret itu yah. Padahal kan kemaren kemaren juga dia galak bangat sama kita, eh tetiba aja baik gitu bantuin" merasa aneh dengan sikap Erick yang sebenarnya, hingga mau membahayakan diri sendiri untuk mengambil kembali tas Joy
"Mungkin dia memang orangnya baik kali Rin, karena kemarin juga kita salah udah nabrak dia makanya dia nya agak judes" menghilangkan pikiran buruk mereka terhadap Erick yang sudah membantu mengambil kembali tas Joy yang di rampas.
"Bisa jadi sih, aku jadi nggak enak deh uda marah marah dan kesal sama dia" sedikit merasa bersalah dengan apa yang sudah dia lakukan kepada Erick dulu.
"Udah nggak usah di pikirin, lagian dulu juga memang dia agak nyebelin kan. sekarang kan udah tahu dia gimana, ya kita bersikap lebih baik aja sama dia kalau ketemu" meraih lengan sahabatnya agar kedepannya mereka bersikap lebih baik kepada orang yang sudah menolong mereka tadi.
"Pastinya sih, oh iya Joy tadi kan kak Jhony bantuin kamu juga. Gimana tuh rasanya, di tolongin dua pangeran sekaligus. Kan nih ya, dipikir pikir Erick tuh cakep juga loh benar nggak?" tersenyum cengengesan kepada sahabatnya yang melihatnya dengan gemas.
"Apa an sih kamu Rin, aku bersyukur banget udah di tolongin. Nanti kalau ketemu mereka aku bakalan ucapin terima kasih" ucap Joy sembari menatap sahabatnya itu
"Betul Joy, kamu memang harus berterima kasih sama mereka" lalu mereka pun tersenyum bersama
tok,,tok,,tok,, suara ketuka di luar pintu pun terdengar
"Iya, masuk" jawab Joy
"Halo Joy, bagaimana keadaan kamu sayang?" tanya mama Rina saat baru membuka pintu kamar Joy, diapun langsung berjalan mendekati kasur yang sedang ada Rina dan Joy di sana
"Tante, sudah mendingan koq. Cuma lecet aja di lutut" Joy tersenyum senang saat mendapati mama Rina yang masuk bersama mama nya
"Ini lumayan besar luka nya Joy, pasti sakit banget ya" mama merasa nyeri saat melihat luka yang cukup lebar di kedua lutut Joy
"Iya, lumayan sih hehe" jawab Joy sambil tersenyum
"Bagaimana kejadian nya sih, koq bisa kamu sampai di jambret di daerah komplek kita?" tanya mama Rina penasaran dengan jalan cerita terjadinya penjambretan tadi, yang membuat sahabat anaknya menjadi korban dan terluka pula
Rina pun menceritakan semua nya kepada mama nya dan juga mama Joy yang duduk bersama di atas kasur Joy sekarang ini, semua merasa kasihan kepada Joy. Pasti trauma nya mulai kambuh kembali, karena saat mendengar cerita Rina diapun hanya diam saja seperti melamun.
"Kita mesti meminta bantuan keamanan untuk berjaga jaga, kali ini mungkin masih hanya tas anak anak tapi ke depannya kita nggak tahu kan apa yang akan mereka lakukan. Jadi kita juga mesti berhati hati Silvi, lebih baik anak anak di antar jemput aja dulu" mama Rina memberi saran untuk mengantar jemput anak mereka sementara waktu, karena takut terjadi hal yang di inginkan lagi nantinya.
"Benar juga kata kamu Mila, lebih baik begitu dulu. Nanti aku akan coba bicarakan dengan papa nya Joy, supaya dia antar jemput dulu Joy dan Rina" menyetujui saran mama Rina, yang cukup masuk akal. Untuk sekarang ini memang bagimu lebih baik, kalau di pikir pikir bisa saja kejadian seperti kemarin terulang kembali.
"Kalau papa Joy belum sempat, biar di antar sama papa Rina aja gimana. Jadi nanti gantian antar jemputnya bagaimana?" kembali mama Rina menawarkan untuk bergantian mengatarkan anak mereka ke sekolah
"Boleh juga kalau begitu, mari kita bicarakan dengan para suami kita dulu Mila" mama Joy pun mengajak mama Rina turun kebawah menemui suami mereka dan merundingkan soal saran mama Rina untuk bergantian mengatarjemput anak anak mereka
"Mereka tampak khawatir ya karna kejadian tadi" suara Rina terdengar setelah beberapa saat hanya kesunyian yang ada, Joy tampak mengangguk setuju dengan pendapat Rina
"Iya, kasihan mereka harus pusing memikirkan kita sekarang. Coba aja tadi ngak ada kejadian seperti ini, mungkin sekarang semua masih tenang tenang saja" Joy menyesali kejadian yang menimpa nya tadi, berharap tak terjadi namun tak mungkin. Semua sudah terjadi dan tak bisa kembali lagi
Suara ponsel Joy yang kini berbunyi, Rina melirik ke ponsel Rina yang tergeletak di atas kasur menampakkan nama si penelpon. terlihat nama 'Kak Jhony' di sana membuat Rina tersenyum, Joy melihat Rina yang juga melirik ke ponselnya jadi gelagapan untuk mengangkat nya.
"Udah angkat aja Joy, aku keluar dulu deh. Sekalian mau lihat mama papa kita hehe" mengerti jika temannya malu mengangkat telepon di hadapannya, Rina pun segera keluar dari kamar Joy menuju ke ruang tamu dimana orang tua mereka berada.
"Ha, halo.." jawab Joy gugup, sebenarnya dia masih bingung dan malu sudah terlihat kekanak kanakan tadi dengan menangis sesegukan di depan Jhony
"Halo Joy, bagaimana dengan kakimu. Apa masih sakit?" tanya Jhony sedikit gugup namun di tutupinya dengan beberapa pertanyaan kepada Joy
"Ah, iya kak. Masih se, sedikit sakitnya" jawab Joy namun masih terbata sesekali
"oh, begitu yah.." Jhony tampak bingung mau bicara apa lagi, jadi dia pun sejenak terdiam
"I iya begitu kak,,, ehemm.. kak Jhony" ragu ragu Joy memanggil nama Jhony
"Iya Joy, ada apa?"
"Terima kasih ya kak, kakak sudah membantu ku tadi" mengucapkan kalimatnya dan tersenyum sendiri
"Ahh, tidak perlu berterima kasih Joy. Kita memang harus saling membantu kan"
"Tetap saja saya harus mengucapkan terima kasih kak"
"Baiklah, baiklah.. jadi apa besok kamu ke sekolah?"
"mungkin tidak kak, mama bilang mau bawa Joy ke dokter dulu besok. Soalnya takut lukanya infeksi jadi biar di bersihkan dan di periksa dokter dulu"
"Ah, bernar juga. Lukanya cukup besar jadi harus segera di obati, ah iya maaf sudah mengganggu terlalu lama. Kalau begitu aku matiin teleponnya dulu ya Joy, sampai bertemu lagi"
"Ah, iya kak. Sampai bertemu"
Joy tersenyum senang saat sambungan teleponnya terputus, begitu juga dengan Jhony yang berada di rumah nya. Mereka berdua tampak memandang ke luar jendela dan membayangkan wajah masing masing
.
.
.
stay save readers, yuk bantu di bantu like, vote, fav, ataupun beri hadiah biar aku makin semangat menulisnya.
thank u😉