
Usahakan untuk mendamaikan Rina dan Harry kini mulai berjalan, setelah beberapa saat merengek untuk di turunkan di jalan sekarang Rina sudah diam. Bukan karena menerima perlakuan Joy, Jhony dan Harry padanya, tetapi lebih kepada kesal dan tak ingin bicara sama sekali.
Sepanjang perjalanan ke tempat tujuan, Rina hanya diam dan memandang ke luar jendela. Dia sengaja duduk di pojokan di kursi penumpang, karena ingin menghindari kontak dengan Harry yang duduk di samping nya.
Joy sedari tadi menahan senyum melihat Harry yang ragu-ragu, dia tampak ingin berbicara kepada Rina namun dia juga berusaha dengan keras untuk tidak mengganggu nya. Harry hanya bisa memandangi Rina yang memunggungi nya, sungguh Rina tak ingin sedikit pun memandang wajah Harry sekarang.
Beberapa saat kemudian mobil yang di kendarai Jhony berhenti, Rina mengedarkan pandangan nya untuk melihat tempat mobil Jhony berhenti. Dia pun mendapati bahwa mereka sekarang berada di sebuah danau, danau tersebut cukup ramai dengan pemandangan sore hari yang sangat indah. Rina merasa takjub dengan tempat tersebut, namun ia tak berniat untuk turun dari mobil.
Joy dan Jhony membuka pintu mobil dan segera turun, Rina melirik ke arah Harry yang tak juga membuka pintu mobil di sebelahnya. Melihat Harry yang tidak juga keluar dari mobil, Rina segera membuka pintu mobil di sebelahnya agar dia bisa keluar dan jauh dari Harry saat ini.
"Kenapa tidak bisa di buka" Rina bergumam kecil, saat di rasa pintu mobil tersebut tidak bisa di buka.
"Rin... " Harry menahan pergelangan tangan Rina, namun Rina menepisnya dengan kasar namun genggaman Harry tak juga terlepas dari lengannya.
"Lepaskan kak.." Seru Rina.
"Nggak Rin, kita bicara sebentar. Mereka memang sedang memberi kita waktu untuk bicara berdua" Harry menunjuk ke ara Joy dan Jhony yang sedang berjalan di tepi danau, Rina yang mengikuti arah yang si tunjuk Harry pun hanya bisa mendengus kesal
'Apa sebenarnya yang di rencanakan Joy dan kak Jhony, membuat frustasi saja ah..' Batin Rina berteriak tak karuan.
"Rin.."
"Apa mau kakak?" Rina berteriak sembari memalingkan pandangannya ke arah luar jendela.
"Aku mau menjelaskan sesuatu sama kamu, aku belum sepenuhnya menerima perjodohan itu" Ucap Harry.
"Kenapa memangnya, kakak tinggal terima saja kan?" Dengan nada sedikit angkuh Rina berucap kepada Harry.
"Aku nggak bisa menerima perjodohan itu karena.. Aku tidak menyukai gadis itu sama sekali"
"Kakak tidak perlu mengatakan itu padaku, kita tidak punya hubungan yang mengharuskan kakak untuk menceritakan nya padaku" Rina sudah kembali menatap Harry dengam wajah yang terlihat datar, dia merasa bingung mengapa Harry menerima perjodohan itu jika tidak menyukai gadis tersebut.
"Tapi aku merasa perlu mengatakan nya kepadamu Rin, dan juga... Ada satu hal yang harus kamu tahu.." Harry berhenti sejenak "Sebenarnya... Ada seseorang yang aku sukai saat ini" Harry menunggu reaksi Rina selanjutnya, namun tidak di lihatnya perubahan dari wajah dari gadis yang di tatapnya lamat saat ini. Malahan kini wajah Rina berubah menjadi kesal dengan mengerutkan kening nya.
"Sebenarnya apa yang ingin kakak katakan" Sembur Rina mulai menampakkan kemarahan nya, kini Harry lah yang semakin bingung dengan sikap yang di tampilkan Rina padanya.
"Aku ingin mengatakan bahwa aku menyukai seorang cewek... Dia adalah... " Rina semakin mengerutkan keningnya, menunggu Harry menyelesaikan kalimatnya "Aku suka.. Sama kamu Rina" Akhirnya kalimat Harry selesai bersamaan dengan wajah Rina yang berubah pias mendengar kalimat terakhir dari Harry.
"Apa maksudnya kak?" Rina kembali di bingungkan dengan kalimat Harry yang mengatakan bahwa laki-laki tersebut menyukai nya.
"Seperti yang kamu dengar Rin, aku suka sama kamu dan aku nggak bisa menerima gadis tersebut karena aku sudah duluan menyukai kamu" Dengan mata yang masih menatap ke dalam mata Rina, Harry mengungkapkan perasaan nya dengan jelas kepada Rina.
Rina tercenung beberapa detik, sebelum mengembalikan kesadarannya pada ucapan Harry.
Tangan Harry kini sudah menggenggam tangan kedua tangan Rina yang sudah sepenuhnya menghadap ke arahnya.
"Bagaimana dengan perjodohan kakak?" Setelah beberapa saat terdiam, kini Rina mulai mencoba membuka suara nya.
"Seperti yang aku katakan tadi Rin, aku nggak punya perasaan sama sekali kepada gadis itu. Jadi aku mohon jangan pikirkan soal gadis itu, hm...?" Rina kembali menatap kedua mata Harry yang sama menatapnya, Rina merasakan kegelisahannya kembali memuncak saat mata Harry menatapnya lembut.
"Apa... Aku boleh meminta waktu untuk memikirkannya?" Harry menggelengkan kepalanya, karena dia sangat berharap jika Rina memberi jawaban sekarang juga.
"Ta, tapi... " Baru saja Rina ingin menyanggah gelengan kepala Harry, namun selanjutnya suara Harry sudah terdengar kembali.
"Aku harus memastikan nya sekarang Rin, karena nanti malam aku harus memberi jawaban kepada kedua orang tua ku tentang perjodohan itu" Kali ini Harry memberi penjelasan mengapa dia meminta Rina untuk memberi jawaban sekarang juga.
"... "Hening cukup lama, Rina menundukkan kepalanya dan melihat tangan nya yang kini di genggam erat oleh Harry. Entah apa lagi yang di pikirkan olehnya, bukankah tadi saat di cafe dia memikirkan bahwa di tidak yakin jika Harry benar-benar menyukainya. Lantas sekarang Harry sudah menjawab semua pertanyaan dalam pikirannya.
Kemudian Rina kembali menatap Harry yang kini menunggu jawaban darinya, Rina memejamkan matanya sejenak dan kembali membukanya. Lalu dia pun tersenyum kepada Harry dan menganggukkan kepalanya sembari menjawab pertanyaan yang ingin sekali di dengar oleh Harry sekarang.
"Baiklah, aku terima kak.." Setelah memberi jawaban Rina dengan cepat menundukkan kembali kepalanya karena merasa malu, namun Harry kembali mengangkat dagu Rina agar melihat ke arah nya.
"Sungguh?! Apa kau menerima ku sebagai kekasihmu sekarang Rin?" Rina hanya mengangguk dan masih tersenyum kepada Harry yang sudah tampak sangat bahagia, dengan gerakan cepat Harry merangkul kedua bahu Rina dan mendekap nya erat.
Harry saat ini sungguh lah sangat bahagia, sehingga dia tidak lagi memikirkan apa yang Rina rasakan saat ini. Rina merasa dirinya yang berdebar tidak karuan, dia bahkan tidak berani membalas pelukan Harry kepadanya karena takut suara debaran jantungnya terdengar oleh Harry.
Merasakan Rina yang mematung dan tak membalas pelukannya membuat Harry tersadar, bahwa tak seharusnya dia melakukan ini.
"Maaf kan aku Rin, aku terlalu bahagia" Harry menatap lekat ke wajah Rina, namun dari pandangan Rina wajah Harry kini tampak memerah entah karena malu atau kesal karena Rina tidak membalas pelukannya. Namun hal itu membuat Rina ingin sekali tertawa tetapi dia berusaha dengan keras untuk menahannya, karena takut membuat wajah Harry akan semakin tidak terkontrol.
Joy dan Jhony yang memperhatikan mobil Jhony yang masih tenang dan tidak ada yang memanggil mereka kembali berpikir bahwa keduanya masih belum selesai berbicara.
"Apa tidak apa-apa jika kita tinggalkan mereka seperti ini kak?" Joy yang mulai khawatir pun bertanya kepada Jhony yang saat ini menggenggam erat tangannya.
"Tenanglah Joy, mereka pasti sedang menyelesaikan masalah mereka sekarang. Nanti Harry akan menelfonku jika mereka sudah selesai" Jhony mencoba menenangkan Joy yang mulai kalut memikirkan sahabatnya di dalam mobil bersama Harry, benar saja ucapan Jhony, tak lama kemudian ponselnya pun berbunyi dan nama Harry tertera di sana.
Jhony mengangkat ponselnya ke arah Joy dan memperlihatkan nama Harry yang tertera di sana.
"Hallo, benarkah... Baiklah kami kesana sekarang" setelah menutup ponselnya, Jhony mengajak Joy untuk berjalan ke arah mobilnya.
.
.
.
Stay save readers..
Thanks😉