Let See The True Love

Let See The True Love
113.



Sebelumnya kedua orang tua Joy sedang duduk di ruang tamu, karena hari ini adalah akhir pekan ayah Joy tidak berangkat untuk bekerja. Saat Joy baru saja berangkat untuk mengantar Jhony, setelah selesai sarapan keduanya memilih untuk berbincang-bincang.


"Bagaimana menurut mama, apa hubungan mereka akan berjalan seperti dulu?"


"Entahlah pa, mereka masih sangat muda. Mama tidak bisa menebaknya, semua ada di tangan mereka."


"Tapi... Papa melihat adanya keseriusan dari Jhony. Apa lagi setiap dia menatap putri kita, papa bisa melihat dirinya yang begitu menyayangi Joy dan ingin selalu menjaganya."


"Benar pa, mama juga bisa melihat dari pandangan matanya kepada Joy. Seperti yang mama bilng tadi, biarlah mereka yang menentukan. Toh mereka juga yang menjalani, jika merek memang sudah di takdirkan bersama pasti mereka juga akan tetap bersama meski terpisah dengan jarak yang jauh."


"Papa setuju dengan apa yang dikatakan mama, mama nih memang yang terbaik. Hehe... " Papa Joy mengedipkan sebelah matanya, untuk menggoda mama Silvi. Alhasil pukulan pelan di berikan oleh mama Silvi tepat di dada papa Joy.


"Papa bisa aja... "


Sepasang suami dan istri yng selalu harmonis itu saling berbincang seputar hubungan putri mereka, kekhawatiran tentu akan dirasakan oleh setiap orang tua yang anaknya mulai mengenal kata cinta. Mereka tidak mungkin menghalangi hubungan tersebut atau melarang semua itu terjadi, merek hanya akan memberi nasihat dn wejangan-wejangan tentang bagaimana pacaran yang sehat dan tidak merusak sama lainnya.


Ditempat lain sebuah mobil melaju dengan kecepatan sedang, mobil itu dikendarai oleh Erick. Saat ini Erick sedang menuju ke arah rumah Rina, ia bermaksud untuk mengantar Rina dan Harry pulang terlebih dahulu barulah ia akan mengantar Siska ke rumahnya.


Dalam perjalanan pulang tidak ada satupun membuka suara, apalagi Siska dan Erick. Keduanya seakan tidak berada di dalam mobil, membuat Rina dan Harry tidak berani bersuara.


Terlihat jelas dari raut wajah keduanya, mereka sedang memikirkan hal pribadi mereka. Tidak ingin mengganggu keduanya, Harry akhirnya memilih untuk turun di rumah Rina. Lagi pula ia bermaksud untuk memberitahu kekasihnya, perihal keberangkatannya menyusul Jhony minggu depan. Ini mungkin akan menjadi kabar mengejutkan untuk Rina, bahkan ia sudah membayangkan bagaimana ekspresi gadis itu setelah mendengar langsung dari mulutnya. Sampai di depan rumah Rina setelah berpamitan fan mengucapkan terima kasih kepada Erick, ia pun turun dari mobil Erick.


"Aku turun di sini Rick, ada yang harus aku katakan kepada Rina."


"Baiklah kalau begitu, sampai nanti."


"Ya. Sampai nanti... Ah benar, hampir saja lupa. Kalian berdua jangan hanya diam saja, apa kalian tidak merasa suasana tadi agak seperti... Ya... kuburan gitu. Hahaha..."


"Si***n kamu Har."


"Bercanda bro, bye... " Sambil melambaikan tangannya kepada Erick, harry berlari kecil mengejar Rina yang baru saja hendak membuka pagar rumahnya.


Rina menoleh ke belakang saat mendengar suara langkah kaki seseorang yang sedang berlari di belakangnya, keningnya mengernyit saat melihat Harry lah yang sedang berlari ke arahnya.


"Harry... Ada apa? Apa aku meninggalkan sesuatu di mobil?" Rina mencari tahu apa yang ia tinggalkan di mobil, namun ia tidak mendapati ada barangnya yang tertinggal. Sebab ia tidak membawa apa-apa selain ponselnya yang berada di dalam saku celana jeans nya.


"Ah... le, lah-nya." Nafas Harry berburu dengan kata-katanya, ucapannya menjadi terputus-putus akibat berlari tadi.


"Kenapa kau berlari? Rumahku tidak akan pergi kemana-mana."


"Hehehe... Benar juga."


"Kamu tuh ya, bikin kaget tahu." Rina memukul bahu Harry namun tidak dengan tenaga yang kuat.


"Maaf sayang... " Harry mencolek pipi Rina.


"Tapi... Kamu belum jawab, kenapa kamu berlari kemari?" Melihat kebelakang Harry, mobil Erick sudah tidak di tempat ia turun tadi. "Erick sudah pergi?"


"Iya. Aku yang minta di turunkan di sini. Ayo kita jalan-jalan setelah minta ijin sama mama kamu!"


"Ya iya lah, masa besok!" Harry merasa gemas dengan pertanyaan Rina, ia mencubit pipi kekasihnya dengan gemas. Alhasil Rina tertawa lepas.


"Baiklah, aku siap-siap dulu ya. Tunggu di dalam aja, sambil ngobrol sama mama." Setelah Harry mengangguk, Rina kemudian membuka pintu pagar yang sejak tadi ia pegang. Begitu pula dengan Harry, ia juga mengikuti langkah Rina berjalan masuk ke dalam rumah.


Sedangkan di dalam mobil, suasana masih sama seperti sebelumnya. Kedua orang sudah bersahabat sejak mereka kecil masih saja berdiam diri, sesekali Erick melirik ke arah Siska yang masih senantiasa memandangi pemandangan di luar kaca jendela mobil. Erick begitu penasaran dengan apa yang dilihat dan di pikirkan oleh gadis itu.


"Ehem... " Erick akhirnya berdehem bermaksud untuk memancing peegerakan Siska, tetapi gadis itu malah tidak bergeming sama sekali dari posisinya saat ini.


Erick bertambah bingung, harus bagaimana lagi. Tapi itu tidak juga menyurutkan niatnya untuk mengajak Siska berbicara.


"Sis... " Gadis itu akhirnya tersadar juga dan melihat ke arah Erick.


"Ya... " Sangat pelan dan ringan suara yang masuk di pendengarn Erick.


"Kamu mau singgah dulu enggak?" Melihat ke arah Siska, gadis itu mengernyit memberi tanda bahwa ia bingung dengan pertanyaan Erick. "Gimana kalau kita singgah ke cafe dekat sekolah bentar? Ku laper, belum sarapan." Erick mengelus perutnya yang sebenarnya tidaklah lapar, ia hanya ingin menghabiskan waktu sedikit lebih lama bersama Siska.


"Baiklah Rick, tapi kenap tidak bilang dari tadi. Kan kita bisa singgah di tempat makan dekat bandara!" Siska menatap Erick menantikan jawaban lelaki itu.


"Emm... Lagi pengen aja ke sana." Siska mengangguk mengerti, setelah itu suasana kembali sunyi.


Berbeda dengan teman-temannya, Joy malah memiliki waktu yang menyenangkan bersama nyonya Riska yang mengajaknya makan siang dan setelah itu mereka melanjutkan dengan berbelanja. Kedunya tampak begitu akrab, hampir seperti ibu dan anak.


Nyonya Riska sungguh merasa senang mengajak Joy berkeliling di pusat perbelanjaan, tidak ada rasa canggung dari Joy. Bahkan ia lebih antusias untuk memilihkan pakaian untuk nyonya Riska, tidak ada rasa bosan malah mereka beekeliling hingga lupa waktu. Sudah tiga jam lamanya mereka di sana, seorang bodyguard yang menemani mereka pun sudah tampak kualahan membawa barang belanjaan kedua wanita beda usia itu.


"Momy, apa benar ini semua belanjaan kita? Bagaimana bisa sebanyak ini?" Joy terkaget sendiri saat melihat kebelakang dan mendapati kedua tangan bodyguard yang menjaga mereka sejak tadi sudah penuh dengan paper bag dari berbagai toko terkenal di dalam mall.


"Oh sayang, rasanya momy masih belum puas. Apa kita menyuruhnya untuk simpan di mobil dulu barang-barang itu, baru kemudian dia kemari lagi."


"Haha... Sudah mom. Joy rasa ini bukan ide yang tepat, ayo kita pulang dulu mom."


"Hah... Momy malas untuk pulang, di rumah momy akan sendiri lagi!" Nyonya Riska merungut, ia tidak ingin pulang dan sendiri di rumah.


"Baiklah, bagaimana kalau Joy temani momy. Kita belanja bahan-bahan untuk memasak, dan pulang ke rumah."


"Ide yang bagus, ayo kita belanja bahan makanan dulu."


"Em... Ayo mom." Joy mengangguk dan keduanya pun segera berjalan menuju tempat menjual bahan makanan.


.


.


.


Stay Save Readers😉