Let See The True Love

Let See The True Love
93.



Mobil melaju di jalanan dengan kecepatan sedang, jalanan yang dilewati oleh Jhony dan Joy kali ini terlihat sedikit asing. Seperti yang di katakan Jhony tadi siang bahwa hari ini dia berniat bolos belajar dan ingin menikmati waktu berdua dengan Joy.


Saat ini mereka sedang menuju ke tempat dimana mereka akan menghabiskan waktu bersama sore ini. Jhony sengaja bolos les hari ini, ia ingin mengubah suasana hati Joy yang beberapa hari ini tampak murung.


Sebenarnya Jhony tahu apa yang membuat Joy tampak begitu, jadi dia ingin menikmati waktu berduaan yang semakin berkurang.


"Memang kita mau kemana sih, kok dari tadi enggak sampe-sampe juga"


"Sabar sayang.. sebentar lagi juga sampai, nanti kalau udah kesana kamu di jamin enggak ingat pulang"


"Masa sih"


"Percaya deh sama aku.."


Sepotong percakapan Joy dan Jhony saat perjalanan mereka sudah hampir sampai di tempat tujuan, Jhony sengaja merahasiakannya untuk memberi kejutan kepada Joy.


Pasalnya tempat yang akan mereka tuju saat ini merupakan tempat yang sering di kunjungi oleh muda-mudi untuk sekedar bercengkrama bersama teman-teman atau juga yang sedang pacaran layaknya mereka sekarang.


"Kita udah jarang kan bisa jalan bareng, jadi sesekali kita ke tempat yang agak jauh enggak apa kan? Lagi pula, aku udah ijin sama mama tadi untuk bawa kamu kesana" begitulah Jhony, jika akan mengajak Joy jalan saat pulang sekolah maka dia akan meminta ijin langsung kepada mama Joy.


Sifat itu pula yang membuat orang tua Joy percaya kepada Jhony, ia tidak pernah membawa Joy pergi tanpa ijin dari mereka. Dan juga Jhony tampak bisa menjaga putri mereka dengan baik, dengan bukti semenjak bersama Jhony tidak ada hal buruk yang terjadi kepada Joy.


"Benar, waktu kamu banyak di alihkan untuk belajar. Pasti sangat sulit saat harus belajar dengan fokus yang, ini sudah masuk bulan ke dua kalian belajar dengan jadwal yang padat" mata Joy menampakkan kekhawatiran dan kesedihan, ia yakin bahwa Jhony sedikit banyak mengalami stres saat belajar dengan intens seperti itu.


"Hem.. memang cukup sulit, namun aku hanya bisa memberi sugesti bahwa aku bisa dan ini bukan hal sulit. Perlahan itu akan merubah jalan pikiran kita, dan semua menjadi lebih baik lagi"


"Kamu hebat" mengarahkan pandangan nya kepada Jhony, Joy mengangkat kedua tangan dengan bentuk jempol.


"Terima kasih, aku berusaha keras agar semua dapat berjalan sesuai dengan rencana dan tujuanku" masih fokus dengan jalanan di depannya, Jhony mengucapkan kalimatnya itu.


"Sungguh?" tanya Joy, Jhony mengangguk dengan pasti.


"Bolehkan aku tahu, apa rencana dan tujuan kamu?" Joy memandang Jhony dengan mata menyelidik, begitu penasaran apa yang menjadi tujuan dari kekasihnya tersebut. Apakah tujuan Jhony adalah tentang Joy, atau malah tentang hal lain.


"Apa kau benar-benar ingin tahu?" melihat ke arah Joy sejenak, dan mendapati Joy yang mengangguk tanpa bersuara "Aku.. ingin segera menyelesaikan sekolah dan secepatnya di terima di universitas untuk melanjutkan pendidikan, setelah itu tentu aku juga ingin mempercepat massa kuliahku di sana agar aku bisa secepatnya pulang dan bisa bertemu dengan kamu lagi. Setelah itu aku ingin sukses mengurus usaha momy yang selama ini ia usahakan, dan terakhir... ini sebenarnya yang menjadi tujuan utamaku" ucapan Jhony terjeda sesaat sehingga membuat Joy menarik nafas perlahan, ada sedikit kekecewaan dalam raut wajah nya tak mendengar namanya di sebutkan Jhony dalam keinginan lelaki itu.


"Ini yang paling sulit aku gapai jika aku tidak bisa menjalani semua keinginanku dengan baik, maka bisa saja aku akan gagal!" semakin membuat kekalutan dalam hati Joy, saat mendengar kalimat yang selanjutnya Jhony ucapkan.


Kedua alis Joy bertautan, menanti kalimat yang tampak sangat sulit Jhony ucapkan.


"Aku ingin... melamarmu dengan resmi dan menjadikanmu istriku" tidak ada keraguan dalam isi kalimat tersebut, tidak terlihat bercanda juga di wajah Jhony yang masih melihat ke arah jalanan dengan fokus.


Jhony tercengang dengan apa yang di ucapkan oleh Jhony tadi, sungguh ini sebuah pernyataan yang tentunya membuat jantungnya berdetak dengan kencang hingga tidak beraturan.


Mata Joy berkedip beberapa kali, rasanya ini seperti mimpi baginya. Ia mengalihkan pandangan bahkan tubuhnya juga tidak bisa di ajak berkompromi, tubuhnya memaku di sana dan dengan susah payah ia membawanya untuk duduk seperti biasa.


Tidak ada balasan dari Joy, ia sedang menetralkan ekspresinya dan juga detak jantungnya yang tidak seperti biasanya.


Jhony menahan senyuman nya saat melihat ke arah Joy, wajahnya memerah dan tangannya yang di tebak Jhony pasti sedang menahan jantungnya untuk berdetak lebih kencang.


Mobil memasuki area parkiran sebuah cafe dengan dinding kaca besar dan tinggi, Joy masih diam di tempatnya duduk saat ini. Ia masih sibuk mengendalikan ekspresinya, hingga tidak menyadari bahwa mereka sudah sampai di tempat tujuan.


Jhony dengan sigap turun dari mobil, dan berjalan ke arah sebelahnya. Membukakan pintu mobil bagi Joy, saat itu pula Joy tampak kaget melihat Jhony sudah berdiri di sampingnya.


"Ayo kita masuk sayang, apa kau masih ingin duduk di sini?" mengdongakkan kepalanya, matanya dan juga mata Jhony saling bertabrakan namun secepat itu pula Joy mengalihkan perhatiannya.


Jhony tersenyum smirk melihat tingkah Joy, dia begitu gemas melihat kekasihnya itu tampak salah tingkah dan berkelakuan konyol seperti tadi.


"Kenapa kau lama sekali, ayo cepatlah kemari" suara Joy terdengar memanggil Jhony yang masih berdiri di sebelah mobilnya, kakinya baru saja menapak pada anak tangga pertama yang ada di depan cafe.


"Baiklah, tunggu aku" menutup pintu mobilnya dan kemudian Jhony berjalan mendekati Joy.


"Lamban sekali jalanmu, padahal kau kan laki-laki bisa-bisanya berjalan dengan lamban"


"Haha.. iya aku memang lamban, maaf kan aku sayang.." Jhony sengaja menyebutkan kata sayang dengan cukup kencang, saat seorang laki-laki yang menjadi pelayan cafe membukakan pintu untuk mereka.


Pelayan tersebut tampak masih muda namun juga diatas mereka beberapa tahun tentunya, laki-laki tersebut menyambut mereka dengan anggukan juga sebuah kalimat.


"Selamat datang" ucapnya dengan senyum manis yang terhias di wajahnya.


Joy dan Jhony ikut mengangguk dan kemudian berjalan memasuki cafe tersebut.


Jhony menggenggam tangan Joy dan membawanya ke sebuah meja yang terletak sedikit pojok, namun dengan pemandangan taman kecil yang indah dan sangat memanjakan mata.


"Kita duduk di sini saja" menarik sebuah kursi.


"Silahkan duduk tuan putri, saya siap melayani anda" Jhony bergaya bak seorang pelayan istana melayani seorang putri.


"Apa-apa an sih Jhon, ayo cepat duduk. Malu di lihatin pengunjung lainnya" Jhony tersenyum mendengar ucapan Joy.


"Kenapa harus malu?" Jhony memperhatikan sekeliling "Tidak ada siapapun, baru kita berdua yang duduk di pojokan sini"


"Tapi kan bisa saja tiba-tiba ada yang datang" melihat sekeliling, hanya mendapati tirai yang memisahkan dimana tempat mereka duduk saat inu dengan bagian lain.


Memang letak tempat duduk mereka tampak berbeda, dan terkesan privat atau seperti sudah di pesan dengan desain saat ini.


"Tidak akan ada yang datang kemari kecuali pelayan cafe tentunya" ucap Jhony dengan percaya diri, membuat Joy menatap kedua matanya penasaran mengapa lelaki di depannya begitu yakin tidak akan ada pengunjung lain yang mendatangi tempat dimana mereka berada sekarang.


Pikiran Joy tiba-tiba berkelana kemana-mana, tebakan-tebakan bermunculan di otaknya. Namun ia tetap mengikuti alur, meski belum tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


.


.


.


apa nih kelanjutannya kira", penasaran enggak?


Kalau Me, iya. Bagaimana dengan mu?


Kalau sama, tunggu ya cerita selanjutnya ya readers...


sebelumnya bantu like, komen, fav, dan vote yuk... setiap apreasiasi dari kalian sangat membantu buat Me


Terimakasih sudah mau singgah dan membaca karya Me🤗


stay save readers😉