Let See The True Love

Let See The True Love
47.



Menikmati kolak di sore hari bersama orang-orang yang di sayangi adalah hal yang menyenangkan, seperti saat ini mama Silvi sedang berkumpul bersama Joy dan Jhony yang batu pulang dari sekolah. Ketiga nya tampak harmonis dan bahagia, gelak tawa kadang terdengar di meja makan sehingga membuat papa Joy yang batu saja pulang merasa di dalam rumah nya terdengar cukup ramai.


"Wah... Ada acara apa nih?" Tanya papa Joy saat ia sudah berdiri di bingkai pintu dapur.


"Papa sudah pulang?" Sambut mama Silvi sambil berjalan menghampiri suaminya dan membantu membawakan tas kerja yang sedang di pegang olehnya.


"Hmm... Papa dengar ada yang sedang tertawa tadi, makanya papa sengaja langsung masuk ke dalam. Ternyata ada nak Jhony juga" Papa Joy mengedarkan pandangan nya dan melihat Jhony yang juga ada di sana pun tersenyum.


"Iya om, selamat sore" Jhony berdiri dan memberi salam kepada papa Joy.


Sedangkan Joy kini sudah berhamburan mencium pipi sang papa.


"Papa... Selamat sore" Dengan manja kini Joy sudah bergelayut di lengan papa nya.


"Mama buat makanan ya? Ayo duduk lagi semuanya" Papa Joy sudah berada di depan meja dan mulai duduk.


"Iya pa, bikinin kolak ke sukaan Joy. Ayo pa di coba" mama Silvi sudah mengambilkan satu mangkuk yang berisi kolak dan di letakkan di atas meja di depan papa Joy duduk saat ini.


"Ayo lanjutkan makan nya" Lanjut papa Joy saat melihat mereka masih terdiam.


Semuanya mengangguk dan mulai menikmati lagi kolak yang khusus di buat mama Silvi hari ini.


Selesai menikmati kolak dan berbincang sejenak, Sekarang Jhony hendak berpamitan untuk pulang ke rumah. Sudah puku setengah enam sore, Joy mengantarkan Jhony hingga di depan rumah nya.


"Aku pulang dulu" Jhony berucap kepada Joy, namun enggan rasanya untuk pulang. Dia masih ingin berlama-lama melihat kekasihnya itu.


"Iya kak, hati-hati di jalan dan jangan ngebut" Joy berpesan kepada Jhony, dia pun rasanya enggan untuk melepas Jhony pulang.


Tapi, mengingat besok harus kembali sekolah mereka tidak bisa egois.


"Oke, sayang" Melihat ke arah dalam Jhony tidak mendapati kedua orang tua Joy, maka dia pun berani memanggil Joy dengan sebutan 'sayang'.


"Kakak... Nanti kalau kedengaran papa sama mama kan aku jadi malu" Joy memberengut mendengar Jhony memanggil nya seperti tadi di rumah, rasanya dia malu jika di dengar oleh kedua orang tuanya.


"Haha... aku udah lihat ke dalam dan nggak ada mama sama papa, ya sudah aku pulang dulu" Tertawa ringan mendengar kalimat yang di ucapkan Joy tadi, Jhony kembali mengelus kepala Joy dengan lembut dan terlihat sekali dimata Jhony bahwa dia sangat menyayangi Joy.


"Bye kak..." Jhony sudah melangkah mendekati mobil saat suara Joy terdengar, namun sejenak Jhony berbalik dan membalas Joy dan melambaikan tangan nya.


"Bye sayang... hehe..." Dengan cepat Jhony masuk ke dalam mobil dan melihat Joy yang menampilkan wajah kesalnya.


'Kak Jhony selalu bisa bikin aku deg deg an saat dia mengucapkan kata sayang, tapi juga bikin aku senang'


*****


Kembali ke sekolah dan memulai pelajaran baru, begitulah kegiatan sehari-hati siswa siswi. Mengerjakan tugas adalah kewajiban mereka, begitu pula Joy dan teman-teman nya yang kini sedang berada di ruang lab. Mereka sedang melakukan penelitian tentang unsur zat kimia, semua siswa siswi di minta untuk berhati-hati, sebab ada beberapa zat yang cukup berbahaya di sana.


"Kamu sudah dapat hasilnya belum, kalau ini di tambah ini jadi nya bagaimana Joy?" Joy yang sedang fokus dengan beberapa tabung zat di depannya pun segera melihat ke arah Rina yang sedang memperhatikan tabung di kedua tangannya.


"Yang ini sudah, tapi yang ini belum aku coba Rin. Mau di coba sekarang?" Mengambil sebuah tabung untuk menggabungkan kedua zat berbeda tersebut.


"He emm... "


Joy mengangkat sebuah tabung dan hendak menuangkan nya ke tabung yang agak besar di atas meja, namun tiba-tiba saja seseorang menabrak nya dari belakang sehingga tabung yang di pegang pun terjatuh. Isi dari tabung tertumpah ke zat lain dan menghasilkan uap panas yang mengepul, asap itu pun mengenai tangan Joy yang tidak sempat menghindar membuat telapak tangan nya sedikit terbakar.


"Ahh... Sakit... "Joy mengibaskan tangan nya yang terasa terbakar.


"Apa yang terjadi?" Bapak guru yang di panggil Rina pun sudah bersama mereka di sana, dia tampak memperhatikan tangan Joy yang sudah melepuh saat ini.


"Tangan Joy terkena uap panas dari zat ini" Rina menunjuk ke arah tabung yang masih sedikit mengepulkan asap.


"Apa dia salah mencampur zat nya?" Tanya pak guru.


"Tadi ada yang menabrak nya dari belakang dan cairan nya tertumpah di tabung yang tidak seharusnya" Rina menjelaskan alur cerita bagaimana Joy terkena uap panas tersebut.


"Baiklah cepat bawa dia ke uks dulu, Andre tolong bantu Joy ke uks" Bapak guru pun meminta ketua kelas membantu Rina membawa Joy ke uks.


"Baik pak" Ucap sang ketua kelas.


Di sepanjang perjalanan menuju uks, Joy tak hentinya merintih kesakitan. Telapak tangan nya begitu sakit seperti terbakar api, air matanya kini sudah berjatuhan menahan sakit di tangannya.


"Siapa yang menabrak mu sehingga menumpahkan zat berbahaya tadi?" Suara ketua kelas yang sangat jarang mereka dengar pun menyentak pendengaran Joy dan Rina, dia masih memapah Joy sambil memandang ke depan.


"Em.. Aku tidak melihat siapa yang menabrak ku" Joy menggeleng lemah.


"Sepertinya aku melihat Dina di belakang sebelum seseorang menabrak mu" Ucap Rina sambil berfikir.


"Apa... Kau melihat dengan jelas bahwa itu Dina?" Pertanyaan kali ini sudah pasti di tujukan kepada Rina.


"Entah lah, aku juga tidak mau mengira-ngira Dre. Aku melihatnya saat sebelum kejadian, tapi setelahnya aku tidak melihat siapa orang yang menabrak Joy" Rina tak ingin menuduh dengan sembarangan, dia memang tidak melihat siapa yang menabrak Joy.


Sedang di dalam lab saat ini, semua murid di minta untuk mengaku siapa yang sebenarnya sudah menabrak Joy tadi tetapi tidak ada yang menjawab.


"Mengapa tidak ada yang mengaku? Bapak hanya ingin kalian meminta maaf kepada teman mu yang sudah di tabrak tadi, akibat dari itu tangan Joy bisa saja berbekas. Jadi bapak harap kalian mengaku dan segera meminta maaf, karena perlu kalian ketahui bahwa di dalam ruangan ini ada cctv nya" Penjelasan bapak guru cukup memberi pengertian, bahwa siapa pun yang menabrak Joy tanpa atau dengan sengaja pasti akan segera di ketahui melalui pemutaran cctv.


"Bapak akhiri pelajaran untuk hari ini, jika ada yang ingin di sampaikan kepada bapak silahkan ke ruang guru. Selamat siang semua nya, dan silahkan kembali ke kelas" Seluruh siswa siswi segera keluar dari ruang lab, tampak Dina dan kawan-kawan juga keluar dari sana.


"Gila lo Din, gimana sekarang? Apa lo masih nggak mau minta maaf sama Joy?" Salah seorang teman Dina bertanya kepadanya, saat mereka sudah berjalan agak jauh dari yang lainnya.


"Gua juga nggak sengaja, mana tau gua kalau jadinya kaya gitu" Dina tampak cemas memikirkan masalah tangan Joy yang terbakar, tadinya dia hanya ingin membuat Joy menjatuhkan tabung kaca di tangannya. Tapi dia tidak berpikir bahwa cairan zat yang dipegang oleh Joy terlalu berbahaya.


"Sekarang lo mesti minta maaf sama dia Din, sebelum bapak Tito melihat cctv dan lo ketahuan udah nabrak Joy" Teman Dina yang lain memberi saran kepadanya.


"Huh... sudahlah, aku mau ke toilet dulu. Kalian kembali ke kelas duluan aja" Dina berlalu ke toilet.


Setelah selesai dari toilet, Dina hendak kembali ke kelas namun dia merasa haus sedangkan kantin sudah dekat. Dia pun berjalan ke arah kantin, namun sampai depan uks Dina berhenti karena mendengar suara yang cukup di kenalnya.


"Begini Joy... Di sini hanya kita berdua, aku.. aku mau minta maaf atas nama Dina. Sebenarnya aku tahu kalau dia lah yang menabrak mu Joy, tapi dia tidak sengaja makanya aku yang akan meminta maaf atas namanya" Andre sang ketua kelas sedang meminta maaf kepada Joy, entah mengapa dia melakukan itu untuk Dina. Joy merasa heran dengan yang di lakukan Andre saat ini, Joy terdiam sejenak.


.


.


.


Hai...Hai...Hai... Selamat Hari Minggu


Stay Save and Stay at Home guys...๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Thanks๐Ÿ˜‰