Let See The True Love

Let See The True Love
65.



Menjelang sore, mereka masih saja sibuk bermain di pantai. Bukan permainan wahana lagi, mereka malah bermain air di tepi pantai.


Suasana sore yang masih tampak ramai, mereka berkejar-kejaran dan saling simbur air. Seperti anak kecil yang sangat senang saat melihat pantai, mereka juga tak kalah riang saat bermain seperti itu. Sesekali mereka akan berlari menghindari simburan air dari lawan nya, sekujur tubuh mereka sudah basah dan lengket terkena air laut.


Lelah bermain, Joy, Rina dan Siska kini duduk di hamparan pasir dengan beralas tikar yang mereka bawa dari villa. Mereka tampak ngos-ngosan sehabis bermain kejar-kejaran, masing-masing dari mereka mengambil botol minuman dan meneguknya dengan cepat.


Para lelaki masih asyik bermain di tepi pantai, bahkan kadang mereka berenang hingga ke tempat yang lebih dalam. Kelakuan mereka membuat Joy, Rina dan Siska sedikit khawatir, karena ombak yang cukup tinggi serta angin yang semakin kencang.


"Mereka susah di atur ya kalau sudah bertemu seperti ini, hah... semoga saja nggak kenapa-napa" ******* nafas Joy terdengar agak cemas, namun dia segera menepis pikiran buruk yang selalu mengganjal di hatinya.


"Tenang aja Joy, nggak bakalan kenapa-napa kok mereka, percaya deh... Mereka udah biasa seperti itu, itu sudah mereka lakukan sejak SMP dan sekarang mereka bertemu lagi dengan suasana yang lebih berbeda namun masih tampak kekanakannya. Mereka pasti juga merindukan masa-masa seperti ini, dulu mereka bahkan lebih heboh dari ini. Itulah kebahagiaan mereka, saat di pantai seperti ini mereka bisa melepaskan semua beban dalam pikiran mereka, terutama Jhony. Dulu... saat daddy nya baru meninggal dia sangat susah di ajak bicara, namun setelah datang kemari dan berteriak melepas semua kesedihannya, dia pun kembali seperti biasanya bahkan kami jadi sangat dekat sampai-sampai ada mengira kami pacaran hingga saat masuk SMA juga.." Siska berucap sambil memandangi ke tiga sahabatnya yang masih asyik bermain air sambil bergulat di pantai, Joy memperhatikan Siska yang tersenyum memandangi Jhony, Erick dan Harry yang tengah bermain.


Hati Joy merasakan ada yang aneh, dia merasa Siska memiliki perhatian lebih kepada Jhony. Tetapi dia tidak tahu kenapa hatinya tiba-tiba ragu dengan Siska, namun dia menekan semua keraguannya karena kini ia dan Jhony sudah memiliki status dan Siska sendiri sudah dekat dengan Erick. Itu pasti karena mereka dulu satu sekolah sehingga membuat mereka lebih dekat, dan Siska lebih tahu bagaimana Jhony dulunya.


Rina yang berada di dekat sana juga bisa merasakan ada yang aneh dari ucapan Siska, setidaknya ia tak perlu mengatakan sampai sedeteil itu. Tetapi terlambat sudah, Joy tampak sudah menyadarinya dan terlihat sedang berpikir keras di sana.


Saat tidak mendapati respon dari Joy, Siska menoleh ke arah Joy dan mendapati Joy sudah menunduk "Ah... sorry Joy, tidak seharusnya aku mengatakan ini. Ini... aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya keceplosan saja sorry ya.."


"Nggak apa-apa kak aku ngerti, kakak sudah berteman dengan kak Jhony dari kecil jadi pastinya kakak juga tahu bagaimana keadaan kak Jhony waktu dulu" Joy berusaha menyembunyikan kegelisahannya dan mencoba tersenyum agar terlihat seperti biasa.


Namun mata Rina tak dapat di bohongi, dia masih bisa melihat ada yang lain dari wajahnya Joy.


"Bagaimana pun aku harus meminta maaf Joy, sungguh aku tak bermaksud apa-apa tolong maaf..." Suara seseorang menghentikan ucapan Siska.


"Ada apa ini?" Erick sudah berada di depan ketiganya, lalu Jhony dan Harry tampak berjalan mendekati mereka.


"Erick..." Seketika Siska memperlihatkan wajah sedih di depan Erick dan lainnya, perubahan itu sangatlah ketara. Sebelumnya, saat meminta maaf kepada Joy saja dia tidak menampakkan wajah sedih sama sekali.


"Tidak Erick, Jhony mari kita pulang hari sudah semakin sore..." Joy langsung melihat ke arah Jhony, saat Siska mengajak pulang.


Jhony melirik ke arah Joy yang menatapnya dengan raut wajah yang sulit untuk di tebak, namun dia tadi sempat mendengar sedikit ucapan Siska yang terhenti saat Erick sampai di dekat mereka.


"Bagaiman kalau kalian pulang terlebih dahulu jika lelah, aku akan jalan-jalan lagi dengan Joy karena aku sudah janji padanya" Jhony menyunggingkan senyuman kepada Joy, kemudian menatap sahabatnya bergantian.


"Benar, mari kita pulang terlebih dahulu. Biarkan saja mereka berdua menikmati waktu liburan. Aku sudah agak lelah" Sambar Rina dengan cepat, dia yakin Jhony pasti mendengar sesuatu tadi dan dia mau memberi mereka berdua waktu bicara.


"Benarkah kau lelah?" Tanya Harry kepada Rina, dan segera di anggukinya "Kenapa tidak mengajak pulang dari tadi" Rina hanya memberikan senyuman.


"Baiklah kalau begitu, kami akan pulang setelah berganti pakaian" Putus Erick "Kalian tunggu dulu di sini, kami akan berganti pakai dulu" Ia pun segera berlalu ke tempat mengganti pakaian.


"Tunggu aku di sini, aku tidak akan lama hmm.." Jhony meminta Joy untuk menunggu nya, Siska yang melihat kedekatan keduanya pun merasa jengah.


"Joy, ketoilet yuk..." Ajak Rina yang segera diangguki oleh Joy.


"Kak Siska nggak apa-apa kan kita tinggal ke toilet?" Rina sengaja menggunakan kalimat tersebut, yang menyatakan bahwa mereka akan pergi berdua saja.


"Nggak apa-apa kok kalian pergi aja" Sahut Siska.


Rina segera menggandeng tangan Joy dan berjalan pergi dari sana, pergi ke toilet hanyalah alasan saja agar dia bisa berbicara kepada Joy.


Setelah hampir sampai di toilet, Rina mengajak Joy berbelok ke suatu tempat dimana ada kursi yang bisa mereka duduki.


"Sini, duduk dulu Joy" Rina duduk berhadapan dengan Joy saat ini.


"Katanya kamu mau ke toilet, kenapa malah jadi kesini?" Merasa heran dengan tingkah Rina, Joy pun bertanya.


"Itu cuma alasan aja, aku mau ngomong sama kamu Joy. Kalau di sana pasti kita nggak bisa ngomong berdua kayak gini" Rina memperhatikan sahabatnya sejenak "Aku mau tanya sama kamu, dan kamu harus jujur ya!" Rina menatap ke arah Joy yang tampak ragu untuk menjawab.


"Memangnya kamu mau tanya apa Rin?"


"Joy, apa kamu baik-baik aja?" Rina menelisik bagaimana perubahan raut wajah Joy saat mendengar pertanyaan nya, benar saja tebakan Rina. Kini Joy tampak bingung untuk menjawab pertanyaannya "Kamu jangan bingung gitu, aku tahu kamu pasti merasa nggak nyaman dengan perkataan nya. Apalagi saat dia mengatakan bahwa mereka begitu dekat, harusnya dia tidak menyinggung masalah itu di depan pacar kak Jhony kan!" Rina terbawa emosi dan mengeluarkan semua unek-unek yang di rasanya, dia merasa kesal kepada Siska yang tidak menjaga perasaan Joy.


"Aku nggak apa-apa kok Rin, lagian itu kan masa lalu mereka harusnya aku senang bisa dengar kisah kak Jhony, biar aku juga lebih tahu tentang kisahnya dia" Joy mencoba meyakinkan Rina bahwa dia baik-baik saja, namun bukan Rina jika percaya begitu saja.


"Walau begitu, dia ngak perlu terang-terangan bilang kalau mereka dibilang pacaran juga kan Joy.." Kali ini nada suara Rina lebih tinggi di banding tadi, dan tanpa mereka ketahui Jhony sedang mendengarkan pembicaraan keduanya.


Joy hanya tersenyum getir tanpa bisa menjawab perkataan sahabatnya itu, dengan begitu dia membenarkan bahwa hatinya tidaklah baik-baik saja.


Rina berjalan mendekati Joy dan memeluk sahabatnya, dia tahu bahwa hatinya saat ini tidak baik-baik saja.


"Kalau mau menangis, menangis aja ya Joy" Rina menepuk pelan punggung Joy, agar sahabatnya tenang.


Tanpa mereka ketahui, Jhony sedang mendengarkan pembicaraan keduanya. Karena tadi saat keluar dari toilet dia melihat Joy dan Rina sedang duduk dan berbicara di sana, awalnya hanya mau menghampiri mereka namun dia berhenti saat mendengar pembicaraan yang mengarah tentang dirinya dan Siska. Dia memilih bersembunyi dan tetap mendengarkan mereka sampai akhirnya dia tahu apa yang membuat Joy tadi tampak gelisah.


.


.


.


Stay Save Readers😉