
Cukup lama Harry menjelaskan mengapa ia melanjutkan pendidikan diluar negeri bersama Jhony. Awalnya Rina tidak mau mendengarkan penjelasan dari Harry, tetapi hatinya tidak bisa mengingkari bahwa ia masih menyukai lelaki yang selama ini berada dihatinya.
“Tolong maafkan aku Rin, aku tidak bermaksud meninggalkanmu di waktu tersulit kamu. Hah... Aku sangat menyesal saat mendengar cerita dari Joy, tentang bagaimana selama ini kamu menjalani hidupmu.” Harry menggenggam dengan erat tangan Rina, seakan tidak mau melepaskannya.
Sedangkan Rina, gadis itu masih saja meneteskan air mata. Rasa sedihnya bercampur aduk dengan rasa bingung sekarang.
“Aku... Sudah memaafkanmu Harry, bahkan sebelum ini pun aku sudah membuka hatiku untuk memaafkanmu.”
Rina mengusap air matanya yang terus mengiringi perkataannya, Harry tersenyum mendengar jawaban dari Rina. Namun untuk selanjutnya, Harry hanya bisa tertegun.
“Tapi... Kita tidak mungkin kembali seperti dulu lagi.” Sambil menundukkan kepala Rina mengucapkan kalimatnya.
“Kenapa?” Harry sedikit terpancing dengan kalimat terakhir yang diucapkan oleh Rina.
“Itu tidak mungkin Harry, aku baru menyadari kalau kita... Tidak bisa lanjut seperti dulu lagi.”
“Apa alasan kamu mengatakan itu Rin?”
“Apa kau masih tidak menyadarinya Harry, lihatlah dirimu sekarang dan bandingkan dengan aku yang hanya seorang karyawan biasa. Bahkan aku baru lulus di usiaku sekarang, itu juga berkat Joy yang membantuku menyelesaikan pendidikanku yang sangat tertunda.” Rina tidak bisa menyembunyi kesedihannya saat ini, ia bahkan tidak berani mengangkat wajahnya untuk memandang wajah Harry.
“Hei... Apa yang kau katakan, tidak ada yang bisa mengatakan itu. Aku tidak akan membiarkan siapapun yang membicarakan tentang dirimu, jangan khawatirkan itu Rin.” Harry mengangkat wajah Rina untuk memandang wajahnya, jejak air mata masih terlihat di kedua pipi gadis itu.
Harry memeluk Rina dengan erat, meski merasa ragu dengan keputusannya saat ini namun Rina terbawa suasana dan membalas pelukan lelaki yang sudah cukup lama ia rindukan. Keheningan mengisi ruangan kantor yang luas itu, keduanya berbagi pelukan dan rindu yang sudah begitu lama terpendam dan sekaranglah waktunya untuk mencurahkannya.
Diruang kantorny Joy sedang kebingungan sambil memandangi ponselnya, karena sampai sekarang Jhony belum juga memberikan kabar bahkan ponselnya pun tidak dapat dihubungi. Jika dulu ia bisa menghubungi Harry untuk mencari Jhony, sekarang Harry sudah pulang dan tidak ada orang lain yang ia kenal untuk bisa mencari tahu tentang Jhony.
Sebenarnya ada seseorang yang ia ketahui berhubungan dekat dengan Jhony, tetapi ia tidak memiliki nomor ponsel orang itu. Jadilah ia sekarang sangat kebingungan untuk menghubungi Jhony.
“Kenapa dia tidak membalas pesanku, ditelpon juga tidak masuk. Ahh... Aku bisa gila.”
Joy meletakkan ponselnya dengan sembarangan, ia bahkan tidak bisa bekerja dengan baik. Semua berkas yang ada diatas meja hanya ia pandangi, dan tidak ada satu katapun yang masuk dalam otaknya.
Akhirnya ia memilih untuk menandatangani berkas yang sudah diperiksa dengan baik oleh Rina, dan ia hanya perlu untuk membubuhkan tanda tangan saja.
Mengambil pulpennya, ia segera menyelesaikan pekerjaan yang terasa berat untuknya saat ini. Pikirannya saat ini sangatlah kacau, tetapi ia mengingat bahwa hari ini ia sudah membuat janji dengan Rina untuk jalan – jalan di mall saat pulang nanti.
Rina kembali keruangannya dengan mengendap – endap, ia begitu takut jika ada yang memperhatikannya. Sampai di tempat duduknya, ia malah senyam – senyum sendiri dan sesekali menuntup wajahnya.
‘Bagaimana ini aku benar- benar tidak bisa melupakannya, semoga ini bukan mimpi dan aku ingin merasakan kebahagiaan ini lebih lama.’ Rina bergumam didalam hatinya, sebuah berkas yang ia pegang terbalik.
“Rina... Kamu enggak apa – apa?” Tanya seorang karyawan wanita yang duduk disampingnya.
“Ehh... A, aku enggak kenapa – napa.” Jawab Rina.
“Tuh, kenapa kamu bacanya terbalik gitu?” Wanita itu menunjuk kertas yang tengah dipegang oleh Rina.
“A, ah... Iya juga, kenapa ini terbalik ya? Haha... Aku salah lihat tadi.” Alasan yang diutarakan oleh Rina membuat rekan kerjanya menggelengkan kepala.
“Ya sudah, kerja cepat. Sudah sore, sebentar lagi jam pulang loh.”
“Benar juga, terima kasih ya sudah mengingatkanku.”
“Enggak perlu sungkan gitu Rin.” Setelah itu keduanya kembali bekerja dengan tenang diwaktu sore hari yang cerah.
Jam pulang kerja Rina menunggu Joy di dalam ruangannya, diruangan tersebut sudah begitu sepi. Joy yang sejak pagi tidak fokus bekerja, membuat kerjaannya terbengkalai dan menumpuk hingga semalam ini.
“Hai, kamu lagi tunggui Joy?”
“Kenapa kamu kemari?” Rina berbisik ditengah keheningan.
“Aku Cuma iseng kemari, aku pikir kamu udah pulang. Kebetulan sekali kamu belum pulang... Bagaimana kalau kita pulang bareng?” Tawar Harry.
“Aku udah ada janji sama Joy, Lain kali aja ya.” Rina menolak dengan halus, benar ia sudah membuat janji dengan sahabatnya untuk pergi ke mall.
“Ehem... “ Joy berdehem, membuat Rina terlonjak kaget.
“Joy... Kamu kagetin aja deh!”
“Siapa suruh mesra – mesra an di kantor, takur ketangkap basah kan hehe...” Joy sengaja mengerjai sahabatnya.
“Eng, enggak kok. Siapa yang mesra – mesra an.” Bantah Rina.
“Iya, iya... Bukan mesra – mesra an, tapi bucin – bucinan.”
“Joy...” Rina memukul pelan lengan Joy yang sudah menyanggahkan tubuhnya di meja Rina.
“Oh iya Rin, kayanya hari ini kita enggak jadi pergi jalan – jalannya. Udah malam juga, kita pulang aja yuk. Lagian... Moodku udah ilang, aku capek banget sekarang.” Joy memijat pelan belakang lehernya yang terasa lelah.
“Oh, ya udah Joy. Kita pulang aja yuk.” Rina mengambil tasnya yang tergeletak di atas meja, dan hendak menarik tangan Joy untuk berjalan meninggalkan Harry disana.
“Tunggu Rin!” Harry menahan lengan Rina. “Kamu pulang sama aku aja yuk, kasihan Joy kalau harus antar kamu pulang dulu. Mukanya udah capek gitu.” Rina berbalik melihat kearah Joy, yang dilihat hanya mengangkat bahunya. Sebenarnya Joy tahu kalau Harry masih ingin berduaan dengan Rina, karena mereka baru bertemu kembali setelah sekian lama.
“Kalau gitu, aku pulang sama Harry deh. Kamu enggak apa – apa kan pulang sendiri?”
“Ya enggak apa – apa dong Rina sayang, kalian juga memang harus saling berkomunikasi lebih banyak.” Joy menepuk bahu Rina, menenangkan sahabatnya yang terlihat mencemaskan dirinya. “Aku duluan ya Rin. Harry, jaga Rina jangan macem – macem sama sahabat aku.”
“Siap boss!” Harry menganggkan tangannya seolah memberi hormat.
“Hati – hati di jalan Joy.” Pesan Rina.
“Tentu, bye... “
Joy berjalan cepat kearah lift, ia begitu lelah hari ini dan ingin segera pulang untuk berendam air hangat menghilangkan rasa lelah yang teramat mengganggu dirinya hari ini.
Masuk kedalam mobil, Joy kembali membuka ponselnya dan memeriksa apakah ada pesan atau panggilan masuk dari Jhony untuknya. Tetapi seperti yang ia lihat seharian ini, tidak ada pesan masuk atau panggilan telepon dari Jhony. Ia memasukkan kembali ponselnya kedalam tas, mencari kunci lalu menyalakan mobilnya.
Mobil yang dibawa Joy melaju dengan kecepatan sedang, sepanjang jalan menuju rumah ia tampak begitu tidak bersemangat. Hingga sampai di depan rumah ia berjalan dengan gontai, pintu dibuka oleh sang mama dan tidak ada rasa curiga sama sekali dari Joy.
“Joy pulang ma...” Suaranya terdengar begitu lemah dan tidak bersemangat seperti biasanya, ia tidak melihat sekitar dan terus berjalan menuju lantai atas dimana kamarnya berada.
Sampai di depan pintu kamar, ia menekan handle dan membuka lebar pintu kamarnya. Ia tertegun mendapati sebuah koper besar disamping kasurnya, ia melihat sekitar namun semuanya masih seperti biasanya.
Joy hendak berbalik sebelum dua telapak tangan menghentikan gerakannya dengan menutup kedua matanya dari belakang.
Joy terdiam sejenak merasakan siapa orang yang menutup matanya, namun indera penciumannya tidak dapat dibohongi. Bau parfum Jhony tercium jelas di hidungnya, ia mengenal dengan jelas telapak tangan yang ia pegang saat ini beserta dengan aroma khas lelaki yang sangat ia rindukan.
“Jhony, ini kamu kan?”
Joy berbalik dengan cepat dan memeluk orang yang bahkan belum ia lihat wajahnya, ia seakan tidak peduli lagi itu Jhony atau bukan. Yang terpenting feelingnya begitu kuat jika laki – laki yang menutup matanya adalah Jhony, Joy menumpahkan semua perasaannya saat ini. Air mata mengalir deras, dan isak kecil mulai terdengar diiringi eratnya pelukan keduanya.
Stay Save readers...
jangan lelah menunggu ceritanya ya, selamat membaca😉