Let See The True Love

Let See The True Love
61.



Joy kebingungan sekarang, entah apa yang harus ia katakan supaya Siska tidak lagi kesal dan marah padanya. Apalagi ia mengatakan akan segera pindah dari villa dan mencari hotel di dekat pantai, bukan ini liburan yang ia inginkan.


Semua seakan menjadi kacau, bahkan Rina sedari tadi tidak mencegah Siska dan tidak juga bicara padanya sehingga membuat Joy semakin merasa bersalah.


"Kak Siska dan yang lain jangan pergi, aku janji nggak gitu lagi. Itu juga tadi aku kan sudah..."


"Alahh... udah deh nggak usah alasan lagi, kalian memang dari awal pengen liburan berdua kan, ya sudah biar kami pergi dari sini jadi kalian bisa puas-puasin liburan berdua aja" Sergah Siska, tak memperdulikan Joy yang kini sudah berkaca-kaca.


"Kak Siska jangan ngomong gitu, aku dan kak Jhony nggak punya maksud begitu" Suara Joy sudah bergetar, ia mengalihkan perhatiannya kepada Rina yang tampak bingung di samping Siska "Rin, kamu percaya kan sama aku?" Joy mencoba mencari pembelaan dari Rina.


"Eh, itu.. " Rina bingung dan melirik ke arah Siska yang sedang memelototinya "Benar Joy, aku juga merasa kamu sepertinya.. memang tidak suka kami di sini" Rina langsung menunduk setelah ucapannya selesai.


"Rina~ " Air mata Joy sudah terjatuh bersamaan dengan suaranya yang bergetar tak karuan, ia pun sudah tak dapat mengucapkan kalimat lainnya lagi saat ini.


Joy menerobos Rina dan Siska yang berdiri di depannya, berlari ke arah pintu dan hendak naik ke lantai atas.


Di teras Rina dan Siska sedang tersenyum dan melakukan toss karena rencana mereka telah berhasil, mereka memang sengaja mengerjai Joy karena hari ini ia berulang tahun.


"Ayo kita masuk dan lihat drama selanjutnya" Ajak Rina kepada Siska.


"Benar.. Ayo kita masuk" Ujar Siska, mereka segera berjalan masuk ke dalam.


Saat Joy sudah melewati ruang tamu, di sana lampu sudah di padamkan dan membuat Joy kesusahan berjalan ke arah tangga.


"Apalagi ini, kenapa rasanya semua tiba-tiba memojokkan ku" Joy bergumam lirih bagaimana tidak, saat ini ia sedang merasa sedih dan ingin segera masuk ke kamar dan melampiaskan nya dengan menangis. Tetapi ruangan dimana dia berjalan saat ini gelap, dan sesekali kaki nya pun tersandung sesuatu entah itu kaki meja atau kursi.


Namun belum juga kaki nya menapaki anak tangga pertama, suara seseorang terdengar memanggilnya dan ia pun segera berbalik melihat ke belakang.


"Selamat ulang tahun sayang" Ucapan Jhony terdengar bersamaan dengan sosok nya yang berjalan keluar dari balik pintu dengan membawa sebuah kue ulang tahun beserta lilin yang sedang menyala.


Tiupan terompet terdengar di mana-mana, bahkan rasanya seisi ruangan di penuhi suara tiupan terompet dengan bunyi yang berbeda-beda. Joy mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang sudah mulai terlihat karena cahaya lilin di atas kue ulang tahun, terlihat begitu banyak orang di sana termasuk seluruh pengurus villa juga ada di sana.


"Selamat ulang tahun Joy.." Semua orang berseru, mengucapkan selamat kepada Joy yang masih mematung, dengan lelehan air matanya.


Saat Jhony sudah sampai di depan Joy, ia pun tercenung melihat Joy yang menangis.


"Kenapa menangis?" Diusapnya air mata yang meleleh di sudut mata Joy saat ini


"Kalian... Hiks... Hikss..." Tangisan Joy kembali terdengar, kali ini adalah tangisan kebahagiaan.


Joy seketika berjongkok dan menangis sejadi-jadinya, menandakan bahwa dia sungguh-sungguh sedih tadi. Namun sekarang di balik tangisan nya ada kelegaan, pastinya semua yang mereka lakukan pasti hanya untuk mengerjainya untuk merayakan hari ulang tahunnya.


Jhony menyerahkan kue ulang tahun yang ia pegang kepada Siska, ia pun segera merangkul Joy dan membawanya untuk berdiri.


"Kenapa kau semakin menangis sampai begitu?" Ia menanyakan ini bukan tanpa sebab, sebenarnya Jhony tidak mengetahui rencana Siska untuk mengerjai Joy.


Ia hanya meminta Siska untuk menahannya sebentar agar ia bisa menyiapkan kue yang sudah ia pesan sebelumnya, namun melihat Joy menangis tersedu-sedu tentunya Jhony merasa menyesal sudah membuat acara bahagianya menjadi tangisan seperti ini.


Joy malah menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Jhony, dengan susah payah Jhony menenangkan Joy yang masih menangis.


"Ada apa sebenarnya, kenapa kau malah menangis hingga terisak begini?" Jhony sedikit berbalik dan melihat ke arah Siska, namun Siska hanya mengangkat bahunya menandakan bahwa ia tidak tahu apa yang terjadi kepada Joy.


Rina membantu Jhony mengusap punggung sahabatnya supaya ia cepat tenang, ia saat ini merasa bersalah kepada sahabatnya itu.


"Kau kenapa hmm?" Jhony kembali bertanya kepada Joy yang baru saja selesai mencuci wajahnya yang sembab.


"Ti, tidak ke,napa" Ternyata Joy masih belum bisa berbicara banyak, Jhony tak ingin membuatnya kembali menangis jadi ia mengarahkan nya ke ruang tamu untuk menyelesaikan acara ulang tahun gadisnya itu.


"Ayo Joy kemarilah, tiup lilin ulang tahun mu yang sebentar lagi akan padam sendiri hihi" Ucap Siska sambil tertawa, ia dengan sengaja kembali menggoda Joy.


Joy menatap nya tak suka, ia masih kesal di kerjai hingga seperti tadi. Hati nya tadi sungguh sedih dan bingung mengapa tiba-tiba mereka bersikap seperti tadi, padahal mereka datang dengan kemari baik-baik saja.


Joy berjalan mendekat di tuntun oleh Jhony, Jhony kembali mengambil alih kue ulang tahunnya.


"Make a wish dulu sayang, baru tiup lilin nya" Pinta Jhony saat ia mengarahkan kue ulang tahun di depan Joy, Joy mengangguk dan segera menutup mata.


Selesai membuat permohonan, ia pun membuka mata dan meniup semua lilin yang masih menyala di atas kue.


Joy tersenyum saat wajah yang ia lihat pertama adalah Jhony saat lampu menyala terang, meski menimbulkan rasa silau sejenak namun tak memudarkan pandangannya.


"Happy birthday baby" Jhony mengecup kening Joy yang seketika mengundang sorakan dari teman-teman mereka serta pengurus villa yang ada di sana, membuat rona merah menjalar keseluruh wajah Joy saat ini.


Mereka kini bergantian mengucapkan selamat kepada Joy dan kemudian menikmati makan malam spesial yang Jhony minta siapkan oleh bi Iyem. Siska memilih menjadi yang terakhir memberi ucapan selamat kepada Joy, ia akan meminta maaf kepadanya karena sudah keterlaluan mengerjai nya.


"Maafin aku ya Joy, aku nggak bermaksud membuat kamu menangis kaya tadi loh. Aku pikir ini hanya candaan saja dan nggak bakalan buat kamu sesedih itu" Siska menarik Joy kedalam pelukannya, dan mengusap punggung Joy. Ia merasa bersalah kepada Joy karena membuatnya bersedih, walau akhirnya ada kebahagiaan juga.


"Aku beneran sedih loh kak, kakak tega banget sama aku" Air mata nya kembali terjatuh, mengalihkan pandangan nya kepada Rina "Kamu juga Rin, ikut-ikutan mojokin aku" cecar Joy


"Iya maaf Joy, tadinya kami cuma mau nahan kamu sebentar. Eh malah kak Siska dapat ide cemerlang buat bikin kamu nangis, jadi aku ikut-ikutan deh hehe" Rina terkekeh melihat sahabatnya yang kini kedua matanya membengkak akibat menangis.


"Maafin aku ya Joy, cup..cup.. " Ketiga nya pun kini berpelukan, sambil mencurahkan kasih sayang nya.


Di kejauhan Jhony melihat keakraban ketiganya, ia tahu pasti Siska yang berulah hingga membuat Joy menangis. Namun ia percaya bahwa Siska akan meminta maaf dan menyelesaikan masalah dengan Joy, benar yang ia pikirkan, saat ini ketiga nya sudah berbaikan dan tampak bercanda hingga tertawa.


*****


Seusai acara ulang tahun Joy, Jhony membawa nya ke teras kolam renang. Ia mengajak Joy duduk sejenak di kursi yang ada di sana.


"Coba cerita, mengapa tadi kamu menangis?" Tanya Jhony, ia kini menggeser kursi nya di depan Joy agar dapat melihat wajah gadisnya saat ini.


"Ng, gak kenapa kok" Joy menghindari tatapan Jhony saat ini, sebenarnya dia sedikit malu di perhatikan Jhony saat ini karena matanya yang membengkak dan wajahnya pastilah sembab.


"Apa Siska dan Rina yang membuat kamu menangis?" Selidik Jhony, sebenarnya ia hanya ingin membuat Joy mengatakan yang sejujurnya saja kepadanya.


Lalu mengalirlah cerita bagaiman ia bisa menangis dan apa yang mereka katakan sehingga ia menangis, Jhony pun tersenyum melihat Joy yang kembali banyak berbicara seperti biasa. Inilah yang ia mau, inilah yang ia sukai dari gadisnya itu. Setelah mengalami masalah, ia akan kembali ceria dan bersemangat kembali.


.


.


.


Stay Save Readers


Thanks😉