
Layaknya kesibukan yang dihadapi di sekolah, Jhony juga di sibukkan dengan pekerjaan di kantor yang sesekali ia datangi.
Sebenarnya nyonya Riska sendiri tidak memaksa Jhony untuk membantunya, namun Jhony sudah terbiasa dengan pekerjaan yang membutuhkan keahliannya itu, apalagi kalau bukan berurusan dengan sistem di komputer bahkan kadang dia juga menjadi teknisi dibagian mesin percetakan.
Saat libur sekolah, biasanya dia lebih sering berada di kantor sang mama dari pada di rumah atau pergi bermain dengan sahabatnya.
Hari ini seusai pelajaran terakhir, ia akan langsung mengantarkan Joy pulang ke rumah dan setelah itu ia kekantornya karena ada laporan dari bagian produksi bahwa ada salah satu mesin yang tidak bisa bekerja dengan baik.
"Apa masalahnya sangat serius?" suara Joy terdengar setelah mereka baru saja melaju di jalan raya.
"Aku juga belum tahu, tapi dari laporan salah satu staf di sana sepertinya tidak begitu parah" menjawab pertanyaan Joy tanpa menoleh kepada orang yang bertanya karena ia sedang fokus berkendara.
"Semoga saja.. " Joy menghela nafas "Oh iya, bukankah tadi kamu belum sempat makan siang?" Jhony mengangguk "Kita singgah sebentar di cafe biasa, aku akan membelikanmu makanan" Joy sepenuhnya menghadapkan tubuhnya ke arah Jhony.
"Tidak perlu repot sayang, nanti setelah sampai di kantor baru aku pesan makan ya..?" tidak ada jawaban, namun Joy sudah menatap kecewa kepada Jhony.
Lama tidak mendengar suara Joy, Jhony pun menoleh ke arahnya. Gelak tawa Jhony terdengar seketika saat melihat tampang Joy yang sudah cemberut.
"Oh .. sayang kenapa?" Jhony mulai sedikit mengurangi laju mobilnya dan satu tangannya kini memegang pipi Joy yang masih saja judes. Namun dia masih tetap fokus pada jalanan.
"Kita singgah dulu dan beli makanan hmm..!?" kini wajahnya sudah berganti wajah memelas, dan kali ini sudah dapat di pastikan Jhony akan luluh dengan ucapan Joy.
"Baiklah,, sesuai permintaanmu tuan putri" memandang kepada Joy dan mengedipkan sebelah matanya, Jhony terlihat menggoda gadis yang kini sudah mulai tersenyum kepadanya.
"Gitu dong.." dengan lembut Joy memang tangan Jhony dan membawanya dalam genggaman tangannya sejenak.
*****
Jhony dan Joy sudah sampai di cafe yang di maksud tadi, sebenarnya Joy menyarankan agar Jhony menunggu di dalam mobil. Tetapi bukan Jhony namanya jika dia menolak untuk menunggu dan membuntuti kekasihnya yang super cantik dan manis baginya, dia takut jika ada yang berani menggoda Joy. Alhasil, keduanya kini sedang memilih makanan yang ingin di beli.
"Yang ini saja mas, sama minumnya air mineral saja ya" putus Joy menyelesaikan pesanannya.
"Baik mbak, total semuanya seratus lima belas ribu" ucap kasir yang adalah seorang lelaki yang hampir seumuran mereka mungkin hanya berbeda dua tahun di atas mereka.
"Sebentar mas.." Joy mulai membuka tasnya untuk mengambil dompet, tetapi gerakannya berhenti saat dari belakang Jhony menyerahkan sebuah kartu debit kepada kasir tersebut.
"Pakai ini saja.." suara Jhony terdengar tidak biasa, nadanya sedikit berat dan tidak tampak ramah sama sekali.
"Ehh, biar aku aja yang bayar.. " Joy hendak mengambil kembali kartu Jhony.
"Tidak, pakai itu saja mas" Jhony memegang tangan Joy yang terulur, dan menggenggamnya.
Mas-mas kasir tersebut pun mengangguk da segera melakukan transaksi pembayaran dengan kartu yang diberikan Jhony, sambil sesekali melirik ke arah Joy.
Jhony yang melihat aksi mas-mas tersebut langsung bergerak kembali, kali ini dia dengan sengaja merangkul bahu Joy dalam rengkuhannya dan seperti berbisik kepada Joy.
"Apa nggak terlalu sedikit pesannya? Mau di tambah lagi?" ucap Jhony yang langsung mendapat tatapan tidak mengerti oleh Joy.
"Kamu ngomong apa sih, ngaco deh. Itu kan buat kamu!" Joy mengernyitkan dahinya tidak percaya dengan ucapan Jhony.
Saat Joy mulai mengarahkan pandangannya kepada Jhony, barulah dia menyadari ternyata sedari tadi Jhony mau mengalihkan mas-mas yang berdiri di balik mesin kasir tersebut yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua.
"Bukannya kamu juga suka makanan yang tadi kamu pesan?" masih dengan nada berbisik, kali ini Jhony berusaha menutupi pandangan Joy yang tertuju ke lelaki di depannya.
Setelah mengetahui apa tujuan Jhony sebenarnya, dia pun tidak lagi mengomentari pertanyaan Jhony dan malah tersenyum menatap kekasihnya yang akhir-akhir ini semakin posesif kepadanya.
"Apa an sih kamu, jangan aneh deh hehe.." memukul pelan bahu Jhony.
Lelaki yang adalah seorang kasir dan sedari tadi memperhatikan mereka jadi tidak fokus, dan berkali-kali mengulang untuk mengetik nominal transaksi. Seorang senior yang juga ikut menjaga di sana menggelengkan kepala dan berjalan kearah lelaki tersebut.
"Kamu kenapa sih, sini biar saya yang selesaikan transaksinya" ucap wanita yang sepertinya adalah supervisornya.
"Maaf mbak.." lelaki tersebut menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidaklah gatal, dan memilih pergi mengambilkan pesanan Joy.
Jhony tersenyum melihat lelaki tersebut di tegur oleh atasannya, rangkulan tangannya di bahu Joy pun mulai di longgarkan meski tidak sepenuhnya lepas.
"Ini mas kartunya, terima kasih sudah mengunjungi cafe kami. Maaf atas ketidaknyamanannya ya mas, mbak. Silahkan kembali lagi" seru wanita tersebut, sepertinya dia tahu kelakuan laki-laki yang bekerja sebagai kasir cafe tadi.
"Sama-sama mbak" Joy yang menjawab sedangkan Jhony hanya tersenyum dan kemudian keduanya pun meninggalkan cafe tersebut.
Keduanya sudah berada di dalam mobil dan memasang sabuk pengaman, setelahnya perlahan Jhony mulai keluar dari parkiran cafe.
"Untung aja aku inisiatif buat masuk, tau aja ada cowok yang cari kesempatan kayak gitu" suara Jhony terdengar judes, namun matanya masih fokus pada jalanan cukup ramai.
"Kayaknya ada yang cemburu nih, hihi.." goda Joy.
"Siapa yang cemburu, aku cuma kesal saja. Udah tau kamu datangnya sama aku, malah matanya nggak berhenti lihatin kamu terus. Gimana kalau aku nggak masuk, pasti udah sok kenal dan tanya ini itu" sambar Jhony.
"Hahaha ... kamu imut banget kalau lagi cemburu gini" tangan Joy terarah untuk menekan pipi Jhony. Saat hendak menarik balik tangannya, tangan Joy di tahan oleh telapak tangan milik Jhony yang lebih besar. Jhony membawa genggaman tangannya ke d**a.
"Jangan termakan rayuan lelaki lain, karena aku akan sedih jika kamu berpaling" dengan wajah yang sudah mulai serius, Jhony mengucapkan kalimat yang terdengar ambigu namun cukup di mengerti oleh Joy.
"Kenapa tiba-tiba jadi membahas ini?" bingung dengan alasan Jhony mengatakan kalimat tersebut, Joy coba mencari tahu langsung.
"Tidak.. hanya saja.. kamu cantik dan pastinya akan banyak lelaki di luar sana yang ingin menjadi pacar kamu" jawaban yang sangat klise, namun Joy mengangguk seakan mengerti dengan alasan yang di berikan oleh Jhony.
"Kamu juga.. kamu juga tampan, dan menurut aku.. kamu pacar idaman cewek-cewek, buktinya di sekolah saja kamu jadi cowok populer. Hanya saja, keberuntungan berpihak sama aku karena kamu jadi pacarku" Joy menundukkan kepala, dengan satu tangan masih dalam genggaman Jhony.
"Kita sama-sama beruntung, bahkan aku sangat bersyukur itu kamu" kini tangannya sudah mengelus kepala Joy yang masih menunduk.
Sebenarnya Jhony merasa takut kehilangan Joy, pasalnya setelah kelulusannya, dia akan segera berangkat keluar negeri untuk melanjutkan kuliahnya. Itu adalah janjinya kepada mendiang ayahnya, dan tidak mungkin mengingkari janji itu. Sebab, ayahnya dari dulu sudah memimpikan pendidikan yang terbaik untuk Jhony.
Meski berat untuk menjalani hubungan jarak jauh dengan Joy, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan keinginan sang ayah yang sangat ia cintai.
Joy memperhatikan Jhony yang sepertinya gelisah seakan ada yang mengganjal, namun ia juga tidak mau memaksa Jhony mengatakannya. Sebab jika memang perlu, nantinya juga pasti di bicarakan. Karena mereka tidak pernah merahasiakan sesuatu yang penting kepada pasangannya.
.
.
.
stay save readers, stay health!!
Nah... gimana nih, Jhony bakal keluar negeri. Kira" gimana hubungan mereka nanti?
yukkk dukung karya aku juga dengan like, komen dan lainnya..,😊
thank U😉