Let See The True Love

Let See The True Love
112.



Setelah beberapa saat gadis itu berdiri, akhirnya ia bisa duduk saat Jhony memberi jalan untuk masuk dan duduk di kursi yang memang sudah di tentukan. Sebenarnya dia masih sedikit kesal dengan gadis yang tadi sudah membuat layar ponselnya rusak, namun Jhony merasa sekarang bukan waktunya untuk memperdebatkan hal itu.


Pesawat sudah meninggalkan landasannya, perjalanan jauh mereka akan dimulai. Jhony tampak tenang dengan bersandar nyaman pada sandaran kursinya, sedangkan gadis di sebelahnya sedang sibuk membolak balikan buku yang ada di kedua tangannya. Sesekali matanya melirik ke arah Jhony, sebenarnya ia bermaksud mengajak Jhony berbicara tapi niatnya di urungkannya sebab ia yakin bahwa Jhony akan sangat marah jika di ganggu. Namun sepertinya gadis itu terlalu penasaran kepada Jhony dan dengan beraninya ia mengajak Jhony untuk berbicara.


"Hai... namaku Jane." Bermaksud mengajak Jhony berkenalan, gadis itu hanya bisa menahan kesal karena tidak ada respon balasan sama sekali dari laki-laki yang adi ajak berkenalan.


Ia pun menarik kembali tangannya dan memaksakan untuk tersenyum, ia mengumpat dalam hati menyesali apa yang sudah ia lakukan.


'Kenapa aku malah mengajaknya berkenalan. Lihatlah betapa sombongnya dia, diajak berkenalan saja tidak di hiraukan sama sekali. ck. sungguh keterlaluan.'


Jane kembali membalikkan bukunya namun tidak benar-benar membacanya.


Beberapa saat ia bertahan untuk diam, tetapi bukan Jane jika tidak mengganggu. Jhony yang menutup kedua telinganya dengan alat untuk mendengar musik, berharap gadis di sebelahnya itu tidak mengganggunya lagi. Tetapi apa yang dilakukan Jhony tidak mengurungkan niatan untuk mengganggunya, bahkan gafis itu semakin penasaran kepada Jhony.


Tangan Jane memegang lengan Jhony yang tertutup jaket yang sedang di kenakan lelaki itu, mata Jhony yang sedari tadi terpejam tiba-tiba terbuka dan menatap tak suka ke arah Jane.


Jhony membuka alat pendengar musiknya dan menjauhkan lengannya.


"Maaf, apa kau mau ini? Sejak tadi kau hanya diam dan tidak memakan makananmu!"


Jhony mengarahkan pandangannya di depannya dan mengisyaratkan bahwa ia juga memiliki makanan yang sama yang di sediakan oleh maskapai penerbangan. Jane terdiam, bingung harus mencari topik apa lagi agar lelaki tersebut mau berbicara padanya.


"Ah... Benar juga, kau juga dapat yang sama." Jane tersenyum kecut, sambil memalingkan wajahnya sejenak membuat Jhony mengambil kesempatan untuk kembali menutup telinganya. Tetapi lagi-lagi gadis itu kembali berbicara kepadanya.


"Apa kau membenciku? Kenapa sejak tadi kau tidak bicara apa-apa sama sekali padaku? Lihatlah... me, mereka bisa berbincang dengan teman disamping mereka." Kali ini, gadis itu berhasil membuat Jhony terkejut. Ia sedikit menaikan nada suaranya, yang tadinya ia hanya berbisik pelan kini mulai ada ketegasan dalam ucapannya.


"Sepertinya kita tidak punya hubungan yang bisa membuat kita berbicara dengan leluasa nona, tolong jangan mengganggu privasi orang lain. Berbicaralah kepada mereka jika kau mau, tetapi jangan padaku karena aku tidak suka kau menggangguku.!" kecewa, sudah pasti di rasakan Jane.


Beberapa orang yang duduk berdekatan pun memandang apa yang terjadi karena suara Jhony cukup keras untuk bisa di dengar oleh mereka, namun Jhony tak acuh dan kembali menutup telinganya dengan alat mendengar musik.


Sikap dingin yng di tunjukkan oleh Jhony akhrinya berhasil membuat gadis itu terdiam, gadis itu diam-diam bahkan menangis. Jhony melirik sekilas kearah Jane, ia mengetahui bahwa gadis itu sedang menangis dan mengusap air matanya saat ekor matanya menangkap gerakan gadis itu.


Beberapa jam berlalu, ketenangan pun menyelimuti perjalanan udara yang di tempuh oleh Jhony. Setelah ia membalas gadis itu dengan lebih keras, tidak ada lagi gangguan selanjutnya yang dilakukan gadia tersebut. Sebenarnya Jhony merasa bersalah, tetapi ia sudah terlanjur kesal kepada gadis yang sudah menabrak nya hingga membuat ponsel yang di pegang terjatuh. Tidak hanya itu, layar ponselnya pun pecah karena menabrak benda keras di bawah.


Melirik ke arah gadis itu, ia tampak tertidur dengan kepala yang menunduk karena posisi sandarannya yang terlalu tegak. Jhony kembali mengalihkan pandangannya kedepan, ia membuka sebuah majalah, mencoba mengalihkan perhatiannya yang mulai bosan.


Beberapa kali membolak-balikan majalah yang ada di tangannya, tetapi ia tidak juga membacanya, ia masih memikirkan gadis di sebelahnya yang tadi ia bentak. rasa bersalah masih menggerogotinya sampai sekarang, melirik kembali kepada sang gadis dan mendapati gadis itu dalam keadaan yang tidak nyaman saat tidur. Jhony bergegas untuk sedikit menurunkan sandaran kursi sang gadis.


Setelah itu, gadia tersebut sudah tampak nyaman dengan posisi setengah berbaring. Jhony kembali membaca majalah yang sempat ia pegang tadi dan di letakkan di pangkuannya saat hendak menurunkan sandaran gadis di sebelahnya. Kali ini ia membaca dengan benar, dan tidak mencemaskan gadis di sebelahnya yang tadi tampak tidak nyaman dengan posisi tidurnya.


Tanpa di ketahui oleh Jhony, gadis itu tersenyum. Wajahnya menghadap kearah kaca jendela pesawat sehingga Jhony tidak dapat melihat senyum yang di tampilkan gadia cantik itu.


Gadis itu hanya pura-pura tidur, ia ingin mencoba mencari tahu apakah Jhony benar-benar lelaki dingin yang tidak peduli dengan sekitar atau karena ketidak sengajaannya tadi yang membuat Jhony kesal kepadanya. Dari apa yang dilakukan Jhony tadi, gadis itu akhirnya menarik kesimpulan bahwa memang Jhony kesal karena kesalahannya tadi.


'Dia peduli, ternyata dia bukan lelaki dingin yang tidak memperdulikan sesama. Hihi... Laki-laki tampan, siapa sebenarnya namamu? Huh... Bagaimana caranya aku bisa mencuri perhatiannya yah...' Jane.


Waktu mkin berlalu, sudah mulai sore hari dan mereka masih belum setengah perjalanan. Jane yang tadinya tidak ingin tidur akhirnya tertidur begitu pulas, hingga tidak menyadari sebuah selimut tebal sudah membalut tubuhnya. Ia meyakini bahwa itu dilakukan oleh Jhony, ia tersenyum dan menggenggam erat selimut itu. Namun senyumnya seketika hilang saat perasaan ingin kekamar kecil melanda dirinya. Sudah beberapa cukup lama ia tidak ke kamar kecil, dan kali ini panggilan alam tersebut sudah harus di ikuti. Ia benar-benar tidak dapat menahannya lagi. tapi ia juga tidak berani meminta ijin kepada Jhony.


Jhony melihat tingkah aneh gadis di sebelahnya, ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya sejenak lalu berdiri dan berjalan menuju ke arah toilet. Kesempatan itu digunakan oleh Jane dengan baik, ia dengan cepat berjalan kekamar kecil dan menuntaskan keinginannya untuk buang air kecil.


Jhony mendengar gadis itu berjalan cepat di belakangnya, lalu kemudian masuk ke kamar kecil. Senyum kecil terbit di kedua sudut bibirnya, sebenarnya ia sengaja ke kamar kecil untuk memberi waktu pada gadis itu. Ia tidak merasa ingin buang air kecil tapi ia tahu bahwa gadis itu sedang menahan diri untuk tidak mengganggunya.


Ia menunggu cukup lama agar gadis itu tidak terburu-buru, setelah merasa gadis itu sudah kembali ke tempatnya. Dengan perlahan Jhony juga keluar dari toilet dan berjalan kembali ke kursinya. Sesuai perkiraan nya, gadis itu sudah kembali duduk di tempatnya.


Jane tidak menghiraukan Jhony yang sudah kembali duduk di kursinya, ia mengambil bukunya dan mulai membaca dengan benar. Ia tidak mau mengusik Jhony lagi, ia berfikir mungkin laki-laki itu akan semakin tidak suka kepadanya.


.


.


.


stay save raders😉