Let See The True Love

Let See The True Love
Pesta Sambutan



...Hai👋🏻 readers......


...apa kabar semuanya......


...senang bisa memulai kembali cerita ini....


...mungkin untuk yg pernah baca sudah pada lupa ya sama awal ceritanya, yuk bisa di review ulang. sekilas boleh lah😂...


...ok, ini part baru dari cerita 'Let See The True Love' yg uda lama ngak aku lanjutin. Ternyata memang terlalu syulit membuat sebuah cerita, kalau niatnya setengah-setengah. Ini aja masih ngumpulin serpihan niatku😄...


...Tapi semoga aja kedepannya aku bisa lebih baik lagi dalam menyuguhkan sebuah cerita yang menarik dan layak untuk para readers yang ada di MT dan NT....


Tidak mau berbasa - basi lagi, mari mulai membaca.


Sesuai dengan rencana sehubungan dengan kepulangan Jhony, dikediaman nya diwaktu yang beranjak siang kedua keluarga sudah berkumpul. Bahkan sahabat-sahabat Jhony juga sudah tampak memenuhi ruang tamu dan saling menyapa. Seperti sebuah reuni, dimana mereka sudah cukup lama tidak bertemu bahkan ada yang baru pertama kali bertemu kembali setelah lulus dari sekolah menengah dulu.


meninggalkan keriuhan di ruang tamu, di ruang tidak kalah hebohnya para orang tua yang juga saling bercengkrama dan saling menanyakan kabar. Meski tidak seramai anak - anak di ruang tamu, namun suara tawa sesekali terdengar dari sana.


di sudut lain, di dalam rumah. dekorasi indah menghiasi taman yang luasnya cukup untuk menampung mereka semua. EO terbaik di datangkan langsung oleh ibunda Jhony, nyonya Riska.


Tidak hanya itu, koki terbaik juga di undang untuk menyiapkan sajian istimewa untuk tamu undangan tersebut. Semua menu yang di siapkan termasuk dalam menu restoran bintang lima, cukup menggugah selera. Aroma masakan sudah tercium sampai kemana-mana.


Sungguh pesta yang mewah, meski yang di undang hanya sahabat dan kerabat dekat saja. Namun segala sesuatunya di siapkan dengan sempurna, inilah keroyalan dari keluarga nyonya Riska.


Karena bintang utama tidak tahu tentang ide acara penyambutannya, jadilah acara tersebut surprise untuk Jhony.


Semua dilakukan secara diam-diam, tanpa diketahui pemuda itu sama sekali.


Sebenarnya, nyonya Riska sudah memikirkan untuk membuat acara penyambutan kepulangan putranya tersebut dan jadilah hari ini. Dimana semua sudah disiapkannya secara rahasia.


Kembali pada ruang keluarga, para orang tua yang sedang berbincang.


"Apa kabar perusahaan anda, tuan Andreas?" tanya nyonya Siska sambil mengambil teh yang ada di atas meja dan meminumnya setelah pertanyaan itu diutarakannya.


"Hm.?" Berpikir sejenak "Baik nyonya, sangat baik. Baru-baru ini perusahaan kami mendapat tender baru yang cukup menjanjikan, keuntungannya juga memuaskan sekali." Tutur tuan Andreas.


"Begitukah! Saya tidak terkejut mendengarnya, perusahaan anda memang sangat handal. Saya sudah sering mendengar pujian tentang anda dan nama perusahaan yang anda jalankan, mereka semua selalu mengatakan hal yang baik dan menyanjung kinerja seluruh karyawan dalam naungan perusahaan anda!" Jelas nyonya Riska, sambil tersenyum kepada nyonya Silvi.


Nyonya Silvi membalas senyuman dari nyonya Riska dengan lembut, ia memandang suaminya.


"Benar begitukah? Saya sangat senang jika benar mereka semua berkenan dengan pekerjaan perusahaan kami." Balas tuan Andreas sambil tersenyum kepada nyonya Silvi. " Tetapi ini semua juga berkat dukungan istri dan anak saya, yang selalu memberikan semangat untuk melakukan pekerjaan dengan sebaik mungkin. Tanpa mereka saya juga bukan siapa-siapa." Nyonya Silvi sampai tersipu dibuatnya.


"Ayah bisa saja." Nyonya Silvi tersipu malu.


"Haha... Tapi yang dikatakan tuan Andreas itu benar, nyonya Silvi! Bukan begitu tuan Andreas?" Tanya nyonya Riska yang kini mengerlingkan mata kearah nyonya Silvi.


"Tentu saja nyonya, itu sangat benar!" Tuan Andreas menggenggam tangan sang istri yang duduk disebelahnya, sehingga membuat si empunya tangan makin malu dibuatnya.


Yang lain yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka ikut senyum-senyum sendiri.


Diruang tamu yang ukurannya cukup untuk menampung hingga tiga puluh lebih orang itu, kini sudah dipenuhi suara teman-teman dari Jhony. mereka sudah di suguhkan minuman dan juga cemilan, sebelum nanti masuk pada acara utama.


Joy tampak sedang berbincang dengan Rina, sahabat sekantor tetapi tetap saja jika bertemu ada saja yang bisa mereka bicarakan.


Seperti saat ini, Joy sedang mendengar curhatan Rina tentang...


"Aku bingung Joy, bagaimana nanti kalau kami bertemu!"


"Ya biasa aja Rin, seperti sebelumnya. Bukannya sudah jelas dia ngak ninggalin kamu." Tutur Joy.


"Tapi.."


"Ssttt... Denger ya, kamu cukup percayakan hati kamu. Aku yakin, didalam hati kamu sudah ada Jawabannya." Putus Joy.


Di depan pintu utama, berjalan masuk seorang pemuda sahabat dekat Jhony. Harry.


Sitampan dengan senyuman mematikannya itu berjalan masuk, gadis-gadis yang paling cepat mendekati dan menyapanya. Sedangkan matanya justru tertuju pada satu orang, yang kini malah melengos pergi ke arah taman.


Joy melihat kesamping memastikan keberadaan sahabatnya, tetapi ia malah dikejutkan dengan hilangnya Rina yang tiba-tiba. Padahal tadi mereka masih membicarakan lelaki yang kini berjalan kearahnya sekarang.


"Hai, Joy." Sapa Harry.


"Hai, Harry. Sendirian?"


"Seperti yang kau lihat!" Harry mengangkat kedua tangan dan bahunya.


"Aku tahu dia kemana! Oh iya, dimana Jhony?" Kini Joy yang kaget, ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan nya. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat empat puluh lima menit, ia terperanjat dan beranjak dari tempatnya.


"Oh astaga, aku melupakannya. Maaf Harry, aku tinggal untuk memanggil Jhony. Sampai jumpa nanti."


Sambil berlari kecil, ia melewati ruang keluarga menuju tangga kelantai dua. Namun langkahnya sesaat tertahan oleh sebuah suara.


"Nak, jangan berlari!" Seru nyonya Riska.


"Ah, ya tante. Maaf, aku buru-buru mau membangunkan Jhony." Panik Joy.


"Benar, dia belum bangun sepertinya. Karena dia berpikir ini akhir pekan, naiklah keatas dan bangunkan dia nak." Putus nyonya Riska yang segera diangguki Joy.


Gadis itu berlalu menaiki tangga, dan berjalan kekamar Jhony. Tanpa mengetuk terlebih dahulu, ia menerobos masuk kedalam kamar kekasihnya dengan perlahan-lahan.


Namun sosok yang ia cari sudah tidak ada di atas kasur.


"Sepertinya dia sedang mandi." Gumam Joy.


Tidak mau membuang waktu, ia kemudian masuk kedalam walk in closet Jhony dan mencari setelan untuk kekasihnya. Saking seriusnya memilih pakaian untuk Jhony, ia tidak menyadari ada seseorang dibelakang dan sedang memperhatikannya.


"Warna apa yang cocok dengannya ya? Sudah sangat lama, sejak terakhir aku memilihkannya pakaian. Bagaimana ini?" Gumam Joy.


"Aku suka apa saja yang kau lilihkan sayang." Suara


yang dalam memenuhi telinga Joy, dan membuatnya membeku sesaat dari kegiatannya memilih pakaian untuk Jhony. Bahkan saking dekatnya mereka, sehingga membuat gadis itu menahan nafasnya.


"Hey.. bernafas." Jhony membalik tubuh Joy, dan menangkup kedua pipi gadis itu. Barulah gadis mulai menghirup udara dengan rakusnya.


"Hahh... ma..af, a..ku..." ucap Joy tergagap.


"Normalkan nafasmu dulu sayang, okey." Joy mengangguk, ia mengibaskan kedua tangan kewajahnya yang tampak merah sambil menunduk.


Jhony membawanya duduk dikunsi yang ada didalam walk in closetnya, gadis itu mengikuti arahan Jhony.


"Duduk sebentar di sini, apa kau sudah merasa baikan?" Jhony berjongkok di depan Joy, dengan masih mengenakan piyama mandi.


Joy yang tersadar dengan keadaan Jhony yang kini memperhatikan dada bidang pria itu segera membuanga pandangan kesempatan arah, dengan susah ayah ia menelan salivanya. lidahnya keluh, dan tak bisa berkata-kata lagi. Hanya debaran jantung yang semakin menggila, semoga Jhony tidak mendengar suara jantungku. Gumamnya.


Melihat Joy mengalihkan pandangan ketempat lain, Jhony kembali membawa wajah gadis itu untuk melihat kearahnya.


"Kenapa melihat kesana, aku disini! Lihat aku, ada apa?" Jhony kembali bertanya dan menatap kedua bola mata Joy. Gadis itu segera mengembalikan kesadarannya, dan membalas pertanyaan kekasihnya.


"Tidak apa-apa, oh iya aku sedang memilih pakaian untukmu. Tapi aku bingung warna mana yang cocok, apa kau mau mencobanya?" Gadis itu kini berjalan kembali, ketempat dimana dia sedang memilih setelan untuk kekasihnya itu.


"Sudah aku bilang, aku akan memakai apapun yang kau pilihan untukku." Jhony tersenyum simpul, melihat gelagat Joy.


Terdiam sejenak, Joy menilai kedua pilihan yang ada di tangannya. Ia kemudian berbalik dan menyodorkan pilihan di tangan kanannya.


"Kalau begitu, aku pilih ini. Kau akan terlihat sangat tampan dengan setelan ini." Dengan senyum yang begitu manis, ia menyerahkan pilihannya.


"Nice, pilihan yang bagus. Aku tau kau ingin menegaskan kita sepasang kekasih, bukan?" Jhony tersenyum mengejek.


Melihat Joy yang masih berdiri di tempatnya semula, Jhony kembali menggodanya.


"Apa kau mau sekalian membantuku mengenakan ini? Dengan senang hati aku terima bantuannmu." Ia kemudian mencolek dagu Joy, wajah gadis itu seketika menjadi pias.


"Tidak, kau pakai saja sendiri. A..aku tunggu di luar." Joy bersiap lari keluar, namun tangannya ditahan oleh Jhony.


"Jangan berlari gadis, kau bisa terjatuh! Haha.. Aku tidak akan bertindak segila itu, tunggulah aku didalam kamar. Hmm?"


Joy mengangguk tanpa bersuara. Sebelum gadis itu keluar dari walk in closet Jhony memberi kecupan sayang di puncak kepala Joy.


Setelah pintu walk on closet tertutup, barulah Joy berjalan ke arah sofa dengan gontai sambil memegangi puncak kepalanya yang dikecup Jhony.


"Akk... aku masih merasa ini mimpi." Ia menepuk-nepuk kedua pipinya. ia kemudian beranjak berdiri dan memandangi beberapa pigora yang tertata rapih di atas nakal di samping tempat tidur kekasihnya.


Senyumnya mengembang melihat gambar dirinya bersama Jhony, saat mereka masih diSMA. Kebahagian di dalam pigora segera menular padanya, ia pun sampai mengingat waktu dulu.


"Ternyata bukan mimpi."


See u next chapter👋🏻