Let See The True Love

Let See The True Love
11.



PT. Terbit Surya


Perusahaan yang bergerak di bidang periklanan dan percetakan, yang kini di pimpin oleh mama Riska. Sesuai dengan nama dari papa nya Jhony, Surya Pratama. Usaha yang di rintis dari awal oleh papa Surya dan juga ayah dari Siska teman Jhony, om Ferry. Mereka memulai usaha nya dengan susah payah, jatuh bangun pun mereka rasakan dahulu sebelum mengecap keberhasilan yang sepadan. Perjuangan mereka berbuah manis, keluarga mereka dapat hidup nyaman hingga sekarang pun Jhony dan Siska masih merasakan kenyamanan dari hasil jerih payah orang tua mereka. Di balik ke suksesan para suami tak luput dari dukungan istri mereka, yang selalu memberi semangat kepada mereka di saat saat tersulit sekalipun.


Tiga tahun lalu ayah Jhony meninggal karena komplikasi, saat itu pula ibu Jhony merasa terpuruk dan tak tahu harus berbuat apa. Jhony juga mengalami masa yang sangat sulit saat itu, dimana dia yang sebentar lagi akan menghadapi ujian kelulusan di Sekolah Menengah Pertama nya. Namun disana lah Siska dan ayahnya memberi semangat kepada ibu dan anak yang sedang memerlukan dukungan. Akhirnya, ayah Siska membantu ibu Jhony untuk memegang kendali perusahaan. Karena Jhony yang masih belum bisa untuk memegang suatu perusahaan karena umurnya dan masih harus menjalani pendidikan nya, jadi ibu Jhony harus mengambil alih. Sebenarnya ayah Siska bisa saja menjadi pimpinan sementara, tetapi ayah Siska tidak ingin menduduki jabatan tersebut karena merasa tidak pantas. Usaha sahabatnya harus di lanjutkan oleh keluarganya, begitulah ayah Siska berpendapat.


Sedangkan ibu Siska meninggal saat Siska berada di tahun pertama Sekolah Menengah Pertama nya, ibu Siska meninggal karena kanker payu darah. Begitulah kedua keluarga saling menguatkan, di saat masa masa sulit mereka selalu ada satu sama lain. Dan sampai sekarang pun mereka masih melanjutkan usaha mereka, agar kelak dapat di wariskan kepada anak mereka.



"Pak Ferry, apa desain iklan perusahaan Teknik Baru sudah di buat?" Sambil membuka lembaran kertas yang bertumpuk di atas meja, ibu Jhony bertanya kepada direktur perusahaan nya yang tak lain adalah ayah dari Siska.



"Sudah nyonya, dan dari bagian kami sudah memberitahukan nya kepada pihak Teknik Baru" Pak Ferry masih duduk di kursi yang tersedia di depan meja pimpinan perusahaan.



"Hmm,, kerja bagus" mengangguk dan masih sambil memeriksa beberapa berkas yang masih tersisa.



"Oh iya pak Ferry, ulang tahun perusahaan sudah dekat. Apa panitia penyelenggara sudah di tetapkan?" mengalihkan pandangan nya kepada bawahannya itu dan menanti jawaban nya.



"Ahh benar, saya sedang menunggu konsep apa yang akan mereka terapkan pada acara tersebut. Karena kali ini ulang tahun ke 20 perusahaan kita. Jadi, saya ingin membuat acara yang berbeda nyonya. Bagaimana menurut anda?" Bapak Ferry menjelaskan rencana dan meminta persetujuan dari pimpinan yang adalah istri sahabatnya



"Sebenarnya, tanpa meminta pendapat saya pun bapak Ferry sudah bisa memulai mengerjakan konsep tersebut. Tidak di ragukan lagi, anda memang selalu memiliki pemikiran yang jenius pak!" Puji ibu Riska



Bapak Ferry tersenyum menanggapi pujian tersebut, tapi itu tidaklah membuat nya besar kepala dan selalu mengambil keputusan sendiri "Ini memang tugas saya untuk memberi ide saja nyonya, dan juga tidak lah pantas bagi saya dengan lancang bekerja tanpa arahan dari atasan saya" jawabnya merendah



"Anda selalu begitu, kerendahan hati anda lah yang membuat suami saya menyukai anda" kenang ibu Riska, sambil kembali membereskan berkas yang berserakan di meja dan kembali bertanya "Apa anda sudah memikirkan acara apa saja yang akan di laksanakan?" Menatap ke arah bapak Ferry



"Ini masih garis besar saja, saya ingin menghadirkan acara untuk anak anak dari karyawan kantor maupun teman sekolah dari tuan muda juga dapat di ikut sertakan nyonya" Memberi sedikit penjelasan nya



"Terdengar menarik. Baiklah, segeralah selesaikan konsepnya dan berikan kepada saya. Saya akan merundingkan dengan Jhony juga nanti. Ini berkas berkas nya sudah saya tanda tangani, terima kasih atas bantuan anda" ibu Riska tersenyum



"Baik nyonya, terima kasih. Saya permisi dulu" Pamitnya seraya berbalik menuju kepiting dan keluar kembali ke kantornya.



"Lihatlah mas Surya, sahabatmu sungguh berdedikasi. Kau sungguh menemukan seseorang yang bak malaikat, dia selalu mementingkan perusahaan. Saat perusahaan merugi, dialah orang pertama yang merasa terpuruk. Berbahagialah kamu di sana saat melihat kami yang baik baik saja di sini" mama Jhony berucap sendiri mengingat sang suami dan sahabatnya Ferry.



Di sekolah, bel pulang telah berbunyi. Siswa siswi berhamburan keluar dari kelas dan buru buru untuk pulang, karena sudah sore. Lapar mendera dan lelah yang menghinggapi mereka, membuat mereka begitu ingin secepatnya sampai di rumah. Sebagian dari mereka ada yang di jemput dan sebagian lagi ada yang menggunakan angkutan umum, ada halte bus yang tidak jauh dari area sekolah. Disana lah mereka menunggu angkutan umum tersebut, seraya menunggu merekapun bercengkramah saling mengakrabkan diri. Adapula dari mereka yang menggunakan kendaraan sendiri. Seperti bersepeda, bermotor, dan ada pula yang menggunakan mobil. Tidak masalah memang, karena mereka bersekolah di salah satu sekolah ternama.


Saat ini, tampak Jhony yang sedang menunggu Joy di dalam mobil. Saat jam istirahat tadi Jhony kembali menghampiri Rina dan Joy dan berbincang hingga menawari untuk pulang bersama lagi, karena memang mereka searah. Tidak hanya itu, sebenarnya Jhony juga ingin lebih dekat dengan Joy yang memang sudah menyimpan rasa pada gadis tersebut. Rina yang mengerti bahwa Jhony ingin memiliki waktu berdua pun mengatakan kepada Joy kalau ia akan di jemput oleh papanya, tersisalah Joy sendiri nanti yang di antar oleh Jhony.


"Joy,, aku duluan ya. Papa udah di depan tuh, bye" Rina berpamitan kepada Joy saat berada di gerbang lobi sekolah, dan berlari ke depan sekolah. Saat berpapasan dengan Jhony, Rina sedikit berbisik kepada Jhony "Aku tinggalin kakak sama Joy, jaga dia ya kak. Semoga berhasil PDKT nya hehe, duluan ya kak" ucapannya belum sempat di jawab oleh Jhony dan Rina pun sudah masuk ke salam mobil papanya


Joy berjalan menghampiri Jhony yang baru saja mengalihkan pandangan nya kepada Joy, Joy tampak sedikit ragu namun tetap melangkah ke arah Jhony "Kak Jhony udah lama nunggunya?" tanya Joy saat sudah berada di hadapan Jhony, Jhony pun menggelengkan kepala nya


"Nggak koq, aku juga baru aja sampai."jawabnya dengan masih tersenyum


"Tadi papa nya Rina tiba tiba aja jemput, jadi dia nggak ikut pulang bareng kita" Joy memberi penjelasan kepada Jhony, Jhony hanya mengangguk


"Oh gitu, aku kira ada apa sampai dia buru buru tadi. Ya udah yuk masuk, udah sore nanti mama kamu nyariin lagi" ajak Jhony seraya membuka pintu mobil untuk Joy, dia sedikit khawatir mama Joy akan marah saat anaknya pulang ke sorean.


"Iya" Joy masuk ke dalam mobil saat pintu sudah di buka Jhony


Keheningan terjadi di dalam mobil yang tengah melaju dengan kecepatan sedang itu, keduanya larut dalam pikiran masing masing. Joy teringat akan perkataan Dina pagi tadi yang mengatakan bahwa jangan mendekati Jhony, Joy pun hendak berbicara kepada Jhony.



"Sebenarnya,," Joy


"Kamu,," Jhony




"Kamu duluan,," Jhony


Kakak duluan aja,," Joy



kembali mereka berkata dengan berbarengan, dan mereka kembali terus tertawa hingga sudut mata Joy tampak berair.



"Oke, Ladies First" ucap Jhony sembari melirik kearah Joy, yang masih tampak tersenyum.



Menghembuskan nafas pelan agar bada bicaranya kembali biasa, Joy pun mulai bertanya "Apa nggak apa apa kakak antarin aku pulang gini?" Mata Joy melirik sekilas ke arah Jhony yang tampak masih fokus ke arah jalan raya.



Jhony mengalihkan pandangan sebentar ke arah Joy, dan berkata "Ya enggak lah, memang kenapa? Kamu takut ada yang marahi aku karna antarin kamu?" Berbalik bertanya kepada Joy



"Oh,, eng, enggak. Cuma aku takutnya kakak sudah punya pacar atau lagi deketin seseorang aja gitu" ragu ragu Joy menjawab '*eh koq malah aku yang jawab, kan harusnya kak Jhony yang kasi penjelasan. Gimaba sih ini, bego bego hufhh*...' gumam Joy dalam hati.



Melirik sedikit ke arah Joy, Jhony mendapati wajah bingung Joy dan membuat nya tersenyum "Kalau aku lagi deketin seseorang aku pasti nggak sama kamu sekarang, terus kalau lagi deketin seseorang harus nya aku anterin dia pulang dan perhatian sama dia" Joy mengangguk tanpa mengalihkan tatapan nya kepada Jhony, Jhony memikirkan ide jahil nya



"Benar kan? Kalau aku deketin seseorang pasti aku deket terus sama orang itu contoh ajak makan dan ajak pulang seperti sekarang ini" kode dari Jhony dan Joy kembali mengangguk, namun dengan cepat Joy melempar tatapan kepada Jhony dengan mata membulat. Jhony balas menatap Joy karena mereka sedang berada di lampu merah, jadi Jhony dengan leluasa memandangi wajah Joy yang pias dan kaget. Secepat kilat Joy mengalihkan pandangan nya ke arah lain.



"Joy, kamu pasti mendengar sesuatu dari seseorang ya?" tanya Jhony penasaran, mengapa Joy bisa bertanya seperti itu



Joy menjawab dengan gugup "Tidak, tidak ada. Aku hanya penasaran saja kak" tanpa mengalihkan tatapan nya yang masih melihat ke samping kaca jendela mobil



"Coba lihat kemari, Jawab nya sambil lihat ke sini Joy..." pinta Jhony, namun Joy enggan untuk menatap Jhony karena merasa malu dengan pertanyaannya dan pernyataan Jhony padanya.



"Baiklah, tapi aku harap apa yang aku bilang tadi nggak buat kamu jaga jarak sama aku ya Joy. Kalau nggak, aku bakalan nyesal udah bilang sama kamu" Joy masih diam dan sedikit mengalihkan pandangannya ke arah depan sekarang, Jhony menghela nafas



Di depan rumah, mobil Jhony sudah berhenti namun keduanya belum ada yang ingin turun dari mobil. Sesaat kemudian tampak papa Andreas pulang dan memarkirkan mobil di halaman rumah, membuat Joy dengan cepat keluar dari mobil di sertai Jhony di belakangnya.


"Papa,," Sapa Joy


"Sayang.. Baru pulang? Kenapa nggak masuk?" tanya papa melirik ke arah Jhony sekilas.


"Ah iya baru sampai pa" Joy berkilah, kembali Joy melihat papa Andreas yang melirik Jhony pun segera menjelaskan


"Hmm kenalin pa, ini kakak kelas Joy. Kak Jhony" Joy mengenalkan Jhony ke papa


"Kak Jhony, ini papa ku" Joy menjelaskan kepada Jhony


.


.


.


.


Bersambung...


Selamat membaca ya readers, ini karya pertama aku jadi aku mohon bantuan like nya dan komen membangun ya readers. Semoga kalian suka^•^


stay save all