
117
Seharian ini, Rina seperti kehilangan fokus dalam bekerja. Kesalahan demi kesalah ia lakukan dalam pembuatan laporan, untung saja pimpinan langsungnya adalah Joy , setidaknya gadis itu bisa memaklumi apa yang tengah dirasakan oleh sang sahabat.
“Rin, kita makan siang dulu yuk.” Ajak Joy.
Melihat jam yang belingkar indah di pergelangan tangannya.
“Ternyata sudah jam makan siang ya, sebentar ya Joy. Aku rapihin mejaku dulu.”
“Ok, enggak usah buru – buru Rin.”
Beberapa saat kemudian, keduanya sudah berada dilobi kantor dan hendak berjalan keluar untuk mencari makan siang yang berada disekitar kantor.
“Mau makan apa hari ini, Rin?”
“Apa aja deh Joy, yang penting bisa kenyangin aja.”
“Emm... Ok, kaya nya aku belum pernah bawa kamu kesatu tempat yang pasti kamu sangat suka deh.”
Joy menggandeng tangan Rina, keduanya berjalan untuk menyeberangi jalan didepan kantor.
Sampai ditempat makan, Rina terlihat keheranan.
“Enggak apa – apa kan kita makan disini?” Tanya Joy.
“Eng... enggak apa – apa kok. Ini... bagaimana kamu bisa tahu tempat makan ini?”
“Kamu lucu deh Rin, inikan masih derah dekat kantor. Aku sering diajak kemari sama teman di kantor dulu, makanannya juga enak kok, Rin. Kamu harus bangen cobainnya.”
‘Aku harap dia enggak terlihat disini.’ Gumam Rina.
“Rin... Ayo sini duduk.” Joy melambaikan tangannya, karen melihat Rina masih saja berdiri di tempatnya tadi.
“I, iya Joy.”
Kebetulan warung makan belum terlalu ramai, hanya terlihat beberapa orang anak sekolah dan juga pengunjung lain yang sedang menikmati makanan mereka.
Tidak lama kemudian seorang wanita paruh baya berjalan mendekati meja dimana mereka duduk.
“Mau pesan apa neng?” Tanya pemilik warung.
“Kamu mau makan apa Rin?” Tanya Joy kembali.
“Aku mau bakso aja bu.” Ucap Rina tanpa sadar kepada pemilik warung.
Joy mengernyitkan keningnya, bingung dengan jawan Rina kepada pemilik warung yang seakan sudah tahu menu apa saja yang ada disini. Dia tidak ingin ambil pusing, mungkin saja Rina hanya menebak menu yang dia suka.
“Baiklah kalau gitu, baksonya dua ya, bu.” Putus Joy.
“Baik neng, minumnya seperti biasa ya neng?”
“Iya bu, samain aja.” Balas Rina.
“Baik neng, tunggu sebentar ya. Ibu buatin makan dan minumnya dulu.”
Pemilik warung tersebut tersenyum sejenak kepada Joy dan Rina sebelum kembali ke tempatnya untuk menyiapkan makanan dua orang gadis cantik tersebut.
Rina mengedarkan pandangan kesekitar warung, sudah banyak yang berubah dari tempat itu. Sebenarnya dulu ia pernah diajak Harry untuk makan di tempat ini, saat mereka masih SMA dan masih menjalin hubungan. Ia tidak tahu jika di sekitar sini juga berdiri perusahaan orang tua Harry, bahkan kini Harry lah yang akan meneruskan perusahaan tersebut.
Rina terlihat menhela nafas dengan kasar beberapa kali, ia terus mengaduk minuman didepannya sejak mulai dari diantarkan oleh ibu pemilik warung. Sekilas ia juga mengingat wajah wanita paruh baya tersebut.
Flashback
“Aden sekarang datangnya enggak sendiri lagi, sudah ada yang nemenin yah den?”
“Ah. Ibu bisa aja.”
“Aden kan sering datang kesini sendiri, tapi hari ini sepertinya hari yang spesial sampai – sampai aden bawa cewek datang makan di warung ibu.”
“Iya bu, baru jadian kita.” Harry merangkul bahu Rina.
“Yang bener den.” Yang ditanya tersenyum sumringah sambil menganggukkan kepala. “Selamat ya aden, neng.“ Rina tertunduk malu.
“Hahaha... Kenapa memangnya? Aku kan enggak bohong, emang kamu mau aku bilang kalau kamu itu adik aku?” Rina menggeleng pelan.
“Tidak apa – apa neng, kalian masih muda harus nikmati hidup. Jangan malu mengungkapkan perasaan, baik senang ataupun sedih semuanya harus jelas.” Ibu pemilik warung tersenyum kepada Rina yang kini sudah mengangkat wajahnya.“Ya sudah, ibu buat makanan spesial untuk kalian dulu ya.”
“Makasih bu.” Jawab Harry dengan lantang.
Setelah pemilik warung pergi, Harry kembali memperhatikan Rina.
“Kamu dengar kan, apa yang dikatakan ibu tadi? Aku harap, suatu saat nanti jika kamu memilik masalah berat dan sulit untuk dihadapi tolong beri tahu aku terlebih dahulu. Ok!”
Mendapati ungkapan Harry yang begitu tiba – tiba, kedua mata Rina menjadi berkaca – kaca. Ia begitu bahagia saat ini, sehingga air mata kebahagiaan turut ikut ambil andil untuknya.
“Baiklah, Aku akan berbagi semua rasa yang aku punya kepadamu juga.”
Flashback off
Makanan yang mereka pesan datang, Rina kembali sadar dari pikiran masa lalunya. Ibu pemilik warung meletakkan mangkuk bakso didepan Rina dengan perlahan.
“Ini yang spesial untuk orang spesial.” Ibu pemilik warung tersenyum lembut kepada Rina.
“Terima kasih bu.” Jawab Rina dibarengi senyuman sungkan.
“Ah... Ibu tega, jadi punya ku bukan yang spesial nih?” Cebik Joy, ia sengaja mengerucutkan bibirnya agar terlihat kecewa sungguhan.
“Hehehe... bukan begitu neng, ini spesial penyambutan pelanggan baru.” Ibu pemilik warung merasa tidak enak kepada Joy, wajahnya tampak begitu panik.
“Hahaha.. Ibu tertipu, aku Cuma bercanda kok. Makasih ya bu, sudah membuat teman aku tersenyum lagi.”
“Iya neng, sama – sama. Kalau begitu, ibu mau buatin makanan buat yang lain dulu ya neng.”
“Oke bu.”
Keduanya mulai menikmati makanan yang sudah ada didepan mata, rasa lapar sudah menggerogoti perut keduanya. Dengan sangat lahap Joy menyendokkan makanan kemulutnya, senyum senang juga ia perlihatkan saat makanan didalam mulutnya terasa begitu enak.
Sebaliknya yang terjadi kepada Rina, ia begitu sulit menelan makanan didalam mulutnya. Entah mengapa rasa makanan itu masih sama persis saat pertama kali ia kemari bersama Harry, enak dan penuh kenangan indah.
Matanya kembali berkaca – kaca mengingat semua kenangannya bersama Harry, ia berusaha menekan perasaannya yang sangat kacau sekarang. Ia tidak ingin nafsu makan Joy yang begitu lahap, ia mencoba memasukkan makanan tersebut kedalam perutnya.
Selesai makan siang, mereka hendak kembali kekantor. Joy masih memperhatikan raut wajah Rina yang kembali muram, iapun bermaksud untuk mengajaknya jalan – jalan seusai pulang kerja nanti.
“Rin, pulang nanti kita jalan yuk!”
Rina tampak berfikir sejenak.
“Kamu mau beli sesuatu?” Tanya Rina kepada Joy, yang ditanya malah bingung alasan apa yang harus ia katakan kepada Rina.
“Pengen lihat – lihat aja sih, cuci mata gitu Rin. Kan bosen dirumah terus, udah seharian capek kerja.”
“Kamu enggak capek kalau pergi jalan?” Pertanyaan Rina kali ini ada benarnya juga, mengapa ia memilih jalan sedangkan alasannya adalah lelah bekerja seharian.
“Ya... kan lain Rin capek kerja sama capek jalan – jalan, hehehe... “
Rina kembali berfikir, mereka sekarang sudah berada dilobi kantor dan akan segera naik lift.
“Gimana? Mau enggak?” Tanya Joy lagi, sembari menunggu pintu lift terbuka.
“Boleh deh, Joy. Aku ikut.”
Joy merasa senang saat Rina menerima ajakannya untuk pergi jalan – jalan, tujuan utamanya adalah untuk menghibur sahabatnya yang sedang dalam masalah.
“Mau kemana memangnya?”
Menoleh kebelakang, keduanya begitu terkejut apalagi Rina. Wajah gadis itu, menampilkan ekspresi yang sulit di tebak.
“Harry...?”
“Apa aku boleh ikut?” Rina dan Joy saling memandang, dan sesekali menatap Harry dengan kebingungan.
Jangan lupa kasi like komen love dll ya guys
stay save😉