
Diam-diam Rina memerhatikan Siska, ia sengaja bersembunyi di balik pohon untuk mendengar apa yang sedang ia katakan.
Menurut Rina, kini Siska sedang kesal karena Jhony sangat memperhatikan Joy bukan dirinya.
Benar saja apa yang di pikirkan Rina, beberapa saat kemudian Siska tampak berteriak seperti memarahi seseorang. Namun di sana tidak ada seorang pun selain Siska, dari kemarahan yang terdengar, Rina bisa menyimpulkan bahwa Siska memang masih menaruh hati kepada Jhony dan belum sepenuhnya menerima jika Jhony berpacaran dengan Joy.
Tak lama kemudian, Rina melihat Erick yang berjalan menghampiri Siska. Rina terus memerhatikan sikap Siska kepada Erick, Siska tak segan memarahi Erick yang ingin membantunya membawakan barang-barang piknik mereka.
"Ternyata kak Siska benar-benar masih menyukai kak Jhony, tebakan ku tidaklah salah Joy" Rina bergumam sendiri di balik pohon tanpa sadar seseorang sedang mendekatinya.
"Hei ... kenapa ngumpet di sini?" Rina terlonjak kaget mendapati Harry sudah berdiri di sampingnya sambil melihat ke arah dimana ia melihat saat ini.
"Kak Harry bisa nggak jangan kagetin aku, jantung ku rasanya mau copot tau..." Harry terkekeh melihat wajah Rina yang memucat dan tampak kesal sekaligus.
"Tapi kenapa kamu bersembunyi di sini, dan juga... kamu nguping pembicaraan Siska dan Erick?" Tanya Erick saat melihat Erick dan Siska baru saja berlalu dari tempat dimana Rina memandang tadi.
"Eng.. enggak kok, siapa yang nguping pembicaraan mereka! Aku hanya nggak mau mengganggu mereka lagi berduaan aja" Jawaban Rina akhirnya membuat Harry percaya padanya.
"Oh iya, Joy dan Jhony kemana ya? Tadi perasaan Jhony bilang mau duluan buat temuin Joy, apa mereka sudah pergi duluan?" Harry mengedarkan pandangannya mencari sosok sahabatnya dan gadis yang menjadi sahabat pacarnya itu.
"Oh.. Mereka nggak usah di cariin kak, kak Jhony bilang jemputan kita uda mau sampe jadi kita tunggu di depan yuk.." Rina menarik tangan Harry dan menyeretnya berjalan keluar dari daerah pantai untuk menunggu jemputan yanh diminta oleh Jhony untuk menjemput mereka, Harry tersenyum mendapati tangannya yang di tarik oleh Rina karena sangat jarang Rina mau berpegangan tangan dengannya saat di depan umum seperti ini.
Jhony memberi waktu kepada Joy untuk menuangkan kesedihannya dalam pelukannya, sampai Joy benar-benar tenang dan bisa di ajak bicara. Rasanya Jhony tak sanggup mendengar tangisan Joy yang begitu pilu tadi.
"Apa sudah lebih tenang?" Suara Jhony membelah keheningan keduanya.
"Emmm... " Joy mengangguk, namun masih tetap dalam pelukan Jhony.
Jhony hendak memberi jarak pada mereka, agar dia bisa melihat wajah Joy. Namun kedua tangan Joy menahan jaket yang di pakainya.
"Sebentar kak... tolong sebentar lagi, biarkan seperti ini... boleh kan?" Pertanyaan yang lebih mengarah kepada permintaan, Jhony tidak bisa menolak karena sebenarnya diapun enggan melepas pelukannya pada Joy.
"Baiklah... tapi jangan menangis lagi" Tidak ada jawaban, Jhony hanya merasakan Joy menganggukkan kepalanya saja.
Lama keduanya dalam posisi berpelukan, sedangkan suasana kini sudah semakin sore.
Perlahan Joy melepas pelukannya namun masih dengan kepala yang menunduk, ia merasa kelakuannya yang meminta Jhony tetap dalam pelukannya sangat memalukan.
"Ma, maaf kak..." Kedua tangannya kini saling terkait, bingung kini melanda dirinya yang sedang resah.
"Kenapa minta maaf?" Jhony memandangi Joy yang masih menunduk, saat tidak mendapat jawaban Jhony kembali bersuara "Joy... kenapa ragu untuk menjawab? Kita sudah membuat janji melanjutkan hubungan kita untuk ke jenjang yang lebih tinggi, jadi kita harus terbuka ok!" Joy akhirnya mengangkat kepalanya dan memberanikan diri untuk melihat kedua bola mata Jhony saat ini yang sangat dekat dengan wajahnya, bagai terhipnotis Joy meganggukkan kepala.
"Maka dari itu, kita harus saling terbuka benar kan?" Kedua tangan Jhony memegang pipi Joy agar matanya terus menatap mata Jhony.
"I, ya.." Jawaban singkat dari Joy membuat Jhony tersenyum.
"Tapi.." Kalimat Joy terhenti saat jari telunjuk Jhony menempel di bibir nya.
"Tidak ada tapi-tapian, berjanjilah padaku sekarang juga kalau kamu ngak akan sembunyikan masalah kita berdua sendirian hm..." Beberapa detik Jhony menunggu jawaban dari Joy.
"Baiklah kak.."
"Dan... satu lagi permintaanku..." Joy kembali melihat kearah Jhony" Panggil saja nama saat kita berada di luar sekolah, atau kamu boleh memberiku panggilan sayang apa saja dan jangan memanggil kakak.." Jhony memperhatikan reaksi Joy selanjutnya, Joy melihat kearahnya dan sedikit bingung karena Jhony menampilkan senyum geli saat mendapati Joy yang kebingungan.
"Ka..." Joy hendak
"Sstt... ak serius Joy, jangan memanggilku dengan tambahan kakak di depan nya saat kita sedang berdua" Terlihat wajah Jhony kini mulai serius, Joy menelisik untuk mencari kebohongan atau candaan dalam kalimat Jhony namun ia tidak menemukannya.
"Tapi ka... em" Jhony tiba-tiba menarik Joy dan mencium ranum milik Joy yang berwarna merah muda, terlihat sangat segar dan lembut.
Jhony mengecup beberapa saat bibir Joy, si pemilik bibir terbelalak mendapati serangan yang tak terduga itu.
"Ingat kata-kata ku, panggil namaku jangan di tambah kak ataupun kakak di depannya. Ok!" Meski masih syok, Joy perlahan mengangguk kan kepalanya yang menandakan ia sudah mengerti ucapan Jhony.
Lama Joy mematung seolah kepalanya berhenti bekerja, ia kebingungan mencari kata untuk bicara kepada Jhony.
Jari-jari Jhony terangkat untuk menyentuh bibir Joy, ia mengusap dengan lembut bibir Joy yang begitu lembut dirasanya.
Dengan mata yang masih menatap Jhony, Joy masih terdiam dan membisu membuat Jhony merasa geram bagaimana reaksi nya jika ia kembali mengecup bibir tersebut.
Dorongan yang begitu kuat dari dalam diri Jhony tak dapat tertahankan, dengan perlahan ia mendekatkan wajahnya kepada Joy.
"Apa aku boleh menc***m bibir ini lagi?" Tanya Jhony sambil mengusap bibir Joy, Sedangkan si pemilik bibir masih merasa kaget.
Kedua tangan Jhony membelai pipi Joy hingga ia terlena akan belaian lembut laki-laki yang ia cintai itu, Jhony semakin mendekat hingga jarak mereka sudah sangat dekat ia langsung berucap setengah berbisik.
"Jika kamu membolehkan aku, maka kamu hanya perlu diam. Tetapi jika kamu tidak ingin aku melakukannya, maka segeralah dorong aku dengan sekuat tenagamu" Selesai mengucapkan kelimatnya, Jhony langsung kembu merasakan bibir ranum Ku yang begitu lembut dan memabukkan itu kembali.namun kali ini Joy tidak terbelalak tetapi malam menutup kedua matanya.
.
.
.
Stay save readers
Sehat selalu ya😉