Let See The True Love

Let See The True Love
51.



Jhony berdiri saat melihat Joy sudah berada di tangga terakhir, secepat kilat dia menyimpan ponsel nya kedalam saku celananya. Dia tidak ingin Joy tahu kalau dia mengecek cctv lab saat kejadian yang membuat tangan Joy terluka, dia hanya ingin memastikan kalau kejadian tadi bukan tanpa sengaja melainkan ada orang yang ingin mencelakai Joy.


"Kak Jhony belum pulang?" Tanya Joy sesaat setelah mereka duduk di sofa, sedangkan mama Silvi sudah ke dapur untuk menyiapkan minuman untuk Jhony.


"Belum, aku masih khawatir sama kamu" Jhony menyelipkan anak rambut yang menjuntai menutupi kening dan pipi Joy.


"Aku nggak apa-apa kak, kakak nggak usah khawatir. Setelah minum obat dan rajin periksa ke dokter juga pasti sembuh, benar kan?" Joy mengucapkan kalimatnya sambil memandangi Jhony dan tersenyum.


Joy tampak berusaha meyakinkan Jhony bahwa dia baik-baik saja, seakan tak ada hal yang perlu di khawatirkan oleh Jhony.


"Tetap saja, aku merasa tidak tenang jika tidak melihat sendiri" Entah mengapa setelah melihat video yang di kirimkan oleh bagian keamanan sekolah tadi, hati Jhony malah semakin mencemaskan Joy. Dia ingin sekali bertanya kepada Joy tentang yang terjadi tadi, namun rasanya tidak tepat menanyakan nya di rumah Joy. Jhony bermaksud menanyakan nya lain waktu saja, meski dia akan terus merasakan khawatir sampai ia sudah menanyakan nya kepada Joy.


di


"Aku udah di depan kakak dan sehat-sehat aja, apa kakak masih merasa khawatir?"


"Em.. em, aku tetap masih cemas Joy" Jhony mengangguk.


Mama Silvi berjalan keluar dari dapur dan membawa nampan berisi minuman untuk Jhony, melihat mama Joy yang akan berjalan mendekati, Jhony pun tidak lagi melanjutkan kalimatnya. Sebenarnya tadi dia hendak menanyakan apakah Joy tahu jika kejadian yang menimpanya berhubungan dengan seseorang yang di kenalnya.


"Kenapa kalian berdiri, ayo duduk ini tante sudah buat kan minuman dan sedikit cemilan. Habis makan siang baru pulang ya nak, sebentar lagi jam makan siang. Tante tinggal ke dapur dulu siapkan makan siang" Jhony pun mengangguk mengiyakan ajakan mama Silvi untuk makan siang bersama.


"Baik tante" ucapnya kemudian.


Setelah mama Silvi kembali ke dapur, Jhony kembali mengingat akan pertanyaan nya yang belum sempat ia tanyakan kepada Joy.


"Ehm... Joy... Aku mau tanya sesuatu sama kamu.." Ada sedikit keraguan dalam nada bicara Jhony saat ini.


"Pertanyaan apa kak, kok wajah kakak jadi serius gitu?" Joy menjadi penasaran melihat perubahan di raut wajah Jhony.


"Begini.. Apa mungkin tadi kamu di tabrak seseorang hingga menjatuhkan tabung zat yang tidak seharusnya?" Jhony tampak berhati-hati menanyakan kepada Joy.


Joy berpikir sejenak dalam hati 'Apa mungkin kak Jhony tahu apa yang terjadi tadi? Tapi... Bagaimana dia bisa tahu, tidak.. kak Jhony tidak mungkin tahu. Biar kan saja, aku hanya perlu mengatakan kalau aku yang ceroboh. Kasihan Dina kalau semua orang tahu apa yang terjadi tadi' Terjadi pergolakan batin Joy, dia tidak mau jika sampai seisi sekolah mengetahui yang sebenarnya, bahwa Dina lah yang sengaja menabraknya hingga zat berbahaya di tangan Joy jatuh di tempat yang salah.


"Ng, ngak kak... Seingat aku memang kecerobohan aku aja sampai menumpahkan cairan zat yang salah" Jawaban Joy menjadi ragu terucap oleh nya.


"Begitukah?" Jhony menatap Joy penuh selidik.


"Em.. Benar... Begitu kejadian nya, tidak ada yang menabrakku kak. Ini benar-benar kesalahan yanh aku lakukan sendiri, kakak nggak perlu khawatir tidak ada orang jahat di kelasku kak. Semuanya baik-baik" Jawab Joy sambil menatap ke dalam mata Jhony.


"Syukurlah kalau begitu" Jhony mengelus kepala Joy saat ini.


Jhony sungguh ketakutan saat ini, entah apa yang di pikirkan wanita di dalam video tersebut sehingga berani mengganggu Joy. Dia tak bisa tenang jika belum mengetahui tujuan gadis yang di ketahui adalah anak pemilik toko kue langganan mama nya itu.


"Oh iya, kakak nggak apa-apa kalau nggak kembali ke sekolah?"


"Tapi tetap aja aku jadi nggak enak, karena aku kakak jadi bolos seharian" Menundukkan kepala nya, Joy tampak cemberut dan merasa bersalah kepada Jhony.


"Kenapa kamu cemberut sayang? Benaran nggak apa-apa, lagian besok juga aku ke sekolah" Jhony mengangkat dagu Joy untuk melihat kepada nya, dia pun mencoba menenangkan Joy yang tampak sedih.


"Tapi kan..."


"Ssttt... Udah nggak usah di bahas, yang penting kamu cepat sembuh dan nggak buat aku khawatir lagi. Ok!" Jhony memberikan senyuman hangat untuk Joy, dia tak ingin Joy merasa bersalah karena dia tidak ke sekolah. Namun akhirnya Joy mengangguk kepada Jhony yang masih menatapnya dengan padangan hangat, seketika Joy mengangguk kepada Jhony dan kembali tersenyum manis.


Mama Silvi yang tak sengaja mendengar pembicaraan Joy dan Jhony pun tersenyum, dia sangat senang mendapati Jhony yang selalu perhatian kepada Joy. Dia berpikir kembali bahwa tidak salah dia membolehkan Joy berpacaran, jika pacar anak nya seperti Jhony yang penyayang, perhatian dan mendatangkan kebaikan dalam sekolah putri nya.


Setelah Joy dan Jhony sudah tampak lebih santai, mama Silvi keluar dari dapur dan mengajak mereka untuk makan siang. Joy dan Jhony pun berjalan ke dapur beriringan, sambil sesekali Jhony masih memperhatikan Joy saat berjalan.


Suasana makan siang di rumah menjadi ramai, karena adanya Joy dan Jhony di rumah. Ketiganya tampak sesekali melontarkan candaan dan tertawa bersama, apalagi melihat Jhony yang kini begitu telaten menyuapi Joy karena tangan Joy yang masih sakit dan belum bisa di ajak untuk beraktifitas.


Seusai makan siang, Jhony pamit pulang ke rumahnya meskipun dia begitu enggan untuk pulang.


"Kalau begitu saya pamit pulang dulu tante, terima kasih makan siang nya" Jhony mengangguk dengan sopan.


"Iya nak, tante juga mau berterima kasih karena sudah membawa Joy ke rumah sakit dan bahkan kamu sudah membayar biaya nya"


"Jangan di ungkit lagi tante, kita ini kan keluarga. Apa tante tidak menganggap saya keluarga?"


"Tidak, tante sudah menganggap kamu seperti anak tante juga" Mama Silvi menepuk pelan bahu Jhony.


"Begitu baru benar, kalau begitu saya jalan dulu" Jhony pun hendak berjalan keluar dari pintu rumah Joy.


"Kak Jhony, makasih ya... dan.. Hati-hati di jalan" Ucap Joy setelah melihat Jhony berhenti sejenak di depan pintu.


"Hmm iya, aku pulang dulu ya" Jhony tersenyum dan segera berjalan ke arah mobilnya dan masuk kedalam, tak lama kemudian mobil yang di kendarai Jhony sudah berjalan cukup jauh di jalan raya hingga tak terlihat kemudian.


Joy segera di tuntun oleh sang mama untuk masuk ke dalam kamar untuk beristirahat, karena mama Silvi tahu anaknya pasti sangat syok dan kesakitan karena luka nya itu.


.


.


.


stay save readers...


thanks😉