
Melihat anaknya yang tampak kuat, mama Silvi sedikit bernafas lega. Mama Silvi memeluk erat Joy dan mendaratkan kecupan di puncak kepala Joy, tadi nya mama Silvi sungguh takut saat dia di beri kabar Joy yang mengalami musibah saat sedang melakukan praktek di lab kimia.
Tak berselang lama, papa Joy pun datang, dia sama panik nya dengan mama Silvi yang dengan segera meminta perawat mengantarkan nya menemui anaknya. Mendapati istrinya juga berada di sana, papa Joy berjalan mendekati mereka berdua dan memeluk kedua nya sekaligus.
"Bagaimana ini bisa terjadi sayang? Apa luka nya serius?" Suara papa Joy terdengar sedikit bergetar di sana.
"Papa... Joy tidak apa-apa" Melepaskan pelukan kedua orang tuanya, Joy mencoba menatap papa nya saat ini yang sedang memperhatikan nya.
"Bagaimana bisa terjadi sayang, apa ada orang yang mengganggumu?" Suara pala Joy bertanya dan terdapat nada selidik di dalam nya.
"Tidak pa, ini terjadi karena kecerobohan Joy. Joy tidak hati-hati saat hendak mencampurkan zat nya" Joy mencoba menjelaskan bagaimana bisa terjadinya kecelakaan tadi, namun dia berbohong bahwa dia sendiri yang ceroboh dan tidak berhati-hati.
Joy mengatakan demikian supaya masalah ini tidak di perpanjang, karena jika dia mengatakan bahwa Dina yang menabraknya dengan sengaja maka bukan tidak mungkin jika masalah tersebut akan semakin panjang.
"Sayang apa yang kau pikirkan sehingga membuat kecerobohan yang sangat berbahaya ini, papa sangat ketakutan mendengar kabar mu tadi" Papa Joy menangkupkan kedua telapak tangan nya di kedua pipi Joy, seluruh kegelisahan yang di rasakan sepanjang jalan ke rumah sakit membuat nya hampir gila. Semua bayangan buruk berputar di otaknya, membayangkan jika hal buruk terjadi kepada putri satu-satunya yang sangat di sayangi itu.
Kini kedua orang tua Joy merasa lega melihat putri mereka baik-baik saja, meski tangan nya masih terbalut perban. Namun itu tidak menjadi masalah besar, mereka akan mengupayakan yang terbaik untuk kesembuhan tangan putri mereka.
Selesai mengurus administrasi, Jhony segera kembali ke tempat dimana Joy menunggunya sekarang. Jhony terdiam saat melihat pemandangan yang sangat menarik, ketiganya kini berpelukan dan membuat hatinya begitu hangat dari tatapan penuh kasih sayang mereka.
Jhony tak ingin mengganggu waktu ketiganya, sehingga dia pun berjalan keluar sejenak membeli minuman untuk Joy.
Didalam ruang unita gawat darurat di salah satu bilik, mereka bertiga masih berpelukan mencurahkan kasih sayang mereka lewat pelukan hangat.
Beberapa saat kemudian papa Joy teringat satu hal.
"Apa tadi mama yang menjemput Joy di sekolah?" Ucap papa Joy setelah melepas pelukan nya.
"Bukan pa.. " Ucap mama Silvi yang melihat papa Joy dan kemudian beralih kepada Joy.
"Ah... Iya.. Tadi Jhony yang mengantar Joy ke sini" Jawab Joy.
"Lalu di mana nak Jhony sekarang?" Papa Joy mengedarkan pandangan nya mencari sosok Jhony, tetapi dia tidak melihat Jhony di sekitar sana.
"Iya sayang, dimana nak Jhony? Mama lupa bertanya karena terlalu panik!" Ucap mama Silvi yang sama penasaran dan memperhatikan beberapa orang yang berada di ruang tersebut.
"Sebenarnya... Kak Jhony tadi pergi mengurus administrasi rumah sakit ma, pa" Jawab Joy dengan nada ragu-ragu.
"Kenapa kamu biarkan dia mengurusnya sayang, kan mama sama papa bisa datang mengurusnya" Mama Silvi tampak terkejut.
"Iya benar kata mama mu nak, kenapa kamu tidak melarang Jhony. Kalau begitu papa akan ke bagian administrasi dulu" Papa Joy pun segera berjalan menuju ke bagian administrasi rumah sakit.
Sekarang hanya tinggal Joy dan mama Silvi di dalam sana, mama Silvi menuntun Joy untuk duduk di atas ranjang sembari menunggu papa Joy dan Jhony kembali ke sana.
"Apa masih sangat sakit sayang?" Mama Silvi tampak memegang tangan Joy yang di perban.
"Tidak ma, ini sudah tidak sakit sekarang, jangan khawatir ma" Melihat tatapan mata yang penuh dengan kekhawatiran membuat Joy merasa bersalah kepada sang mama.
"Bagaimana mama tidak khawatir Joy, mama sebagai orang tua pasti merasa bersalah jika terjadi sesuatu kepada anak mama sayang" Mama Silvi mengelus perlahan kepala Joy.
"Benar, tapi... mama sekarang jangan cemas lagi ya. Joy tidak apa-apa ma, ok!" Joy menampilkan senyum manisnya, agar mama Silvi tidak terlalu mencemaskan nya.
"Sayang... Kamu memang selalu bisa buat mama tersenyum" Kemudian mama Silvi mendaratkan ciuman di kepala putrinya dan pelukan kepada Joy.
Tak berapa lama kemudian, Jhony berjalan masuk kedalam ruangan bersama papa nya Joy. Mereka berjalan bersama sambil membicarakan sesuatu hal, namun saat sudah hampir sampai di bilik dimana Joy dan mama Silvi masih menunggu di sana mereka pun hanya diam.
"Nak Jhony, darimana kamu nak. Kenapa baru kembali?" Tanya mama Silvi yang terlihat heran menatap Jhony dan papa Joy yang datang bersamaan.
"Em... Tadi saya pergi beli minuman dulu tante, soalnya Joy tampak haus" Jawab Jhony membuat alasan, padahal tadi dia sengaja meninggalkan mereka untuk saling berpelukan.
Papa Joy hanya diam saja melihat istrinya yang bertanya kepada Jhony.
"Kamu sudah bisa pulang Joy, besok tinggal kemari lagi dan ini obat yang harus di minum. Di sana sudah ada keterangan dan aturan minumnya" Jhony menyerahkan obat yang sudah di tebusnya di apotek rumah sakit, tadi saat hendak membeli minuman dia teringat resep obat yang harus di tebus. Jadi diapun sekalian membelinya di sana.
"Em, Terima kasih ya kak" Joy mengangguk dan kemudian tersenyum kepada Jhony.
"Masih sakit nggak tangan kamu?" Dengan perlahan Jhony mengangkat tangan Joy dan memperhatikan setiap sudut yang di perban oleh dokter tadi.
"Nggak kak, udah mendingan sakitnya" Joy menggeleng kan kepalanya.
"Kalau begitu, di minum dulu antibiotiknya. Baru setelah itu kita pulang ya" tanpa sadar Jhony mengelus kepala Joy, dia lupa bahwa di sana ada kedua orang tua Joy.
"Kak Jhony..." Joy yang wajah nya sudah mulai memerah dengan segera memegang tangan Jhony dan membawanya kebawah, sambil melihat kedua orang tua nya yang kini berdiri di belakang Jhony.
Papa dan mama Joy pun tersenyum melihat Joy yang tampak malu atas perlakuan Jhony padanya, karena di lihat oleh kedua orang tuanya Joy pun jadi kebingungan harus bersikap bagaimana kepada Jhony.
"Ayo kita pulang" ucap mama Joy.
"Papa akan kembali ke kantor ya ma, karena masih awal dan pekerjaan papa masih ada yang belum selesai" Sambil melihat istrinya, papa Joy mengatakan bahwa dia akan kembali ke kantor.
"Baiklah pa" Mama Silvi pun mengangguk.
"Om tenang saja, saya akan mengantar tante sama Joy pulang" Jhony berujar kalau dia akan mengantar Joy dan mama nya pulang ke rumah.
"Kalau begitu papa jalan dulu, terima kasih nak Jhony" Papa Joy mencium puncak kepala anak dan istrinya, kemudian dia pun menepuk pelan bahu Jhony dan berlalu dari sana.
*****
Sampai di rumah, Joy di bantu sang mama segera membersihkan diri dan istirahat. Jhony duduk diruang tamu menunggu Joy yang sedang mandi, Jhony melihat ponsel nya dan mendapati email dari pihak keamanan sekolah.
Sebelumnya dia sudah meminta rekaman cctv yang ada di dalam ruangan lab, karena Jhony merasa ada yang janggal dari pernyataan Joy yang mengatakan kalau kejadian yang menimpa nya adalah kesalahan nya semata. Maka dari itu, Jhony pun segera meminta bagian keamanan mengecek cctv yang ada di lab.
Jhony membuka email tersebut, di sana terlihat jelas bahwa Joy di tabrak oleh seseorang dan orang tersebut di kenal Jhony sebagai anak dari pemilik toko kue langganan mama nya. Jhony mengepalkan tangan nya melihat video pendek yang di kirim keamanan sekolah, rahang nya mengeras dan amarahnya mengepul seketika.
Jhony segera mematikan ponselnya saat mendengar suara langkah kaki menuruni tangga, Jhony pun berusaha bersikap seperti biasa saat melihat Joy dan sang mama yang turun dari atas.
"Sudah mandi? Nggak kena air kan tangan nya?" Jhony kembali memegang tangan Joy dan memastikan bahwa tangan nya tidak terkena air saat Joy mandi.
"Nggak kok kak, kan tadi di bantu sama mama mandi nya" Sebenarnya Joy agak malu mengatakan nya, namun dia ingin menenangkan Jhony yang tampak khawatir padanya.
.
.
.
Stay Save readers
Thanks😉